JAKARTA—-Sebanyak 1.636 penulis dari 21 Provinsi di Indonesia memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) melalui penulisan cerpen antikorupsi terbanyak, sebuah capaian yang kini diposisikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai strategi baru memperluas gerakan antikorupsi berbasis literasi.
Rekor tersebut bukan sekadar prestasi simbolik. KPK menilai, capaian ini menandai pergeseran pendekatan pemberantasan korupsi yang selama ini identik dengan penindakan, menuju penguatan budaya integritas melalui partisipasi publik yang masif dan kreatif.
Dalam ‘Peluncuran Buku dan Pemecahan Rekor Menulis Cerpen Antikorupsi terbanyak dari MURI’ di Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi (ACLC) KPK, Jakarta, Kamis (23/4), Wakil Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo, mengatakan kegiatan ini menjadi langkah strategis memperluas edukasi antikorupsi berbasis literasi cerpen antikorupsi.
“Program ini dirancang masif dengan pelibatan para Penyuluh Antikorupsi (PAKSI) dan Ahli Pembangun Integritas (API) sebagai motor penggerak dalam memperluas literasi antikorupsi berbasis aksi kolektif,” tutur Ibnu.
Diawali dengan pelatihan penulisan cerpen yang menanamkan perspektif integritas, lanjut Ibnu, program lalu berlanjut pada proses kreatif hingga pemecahan rekor MURI. Skema tersebut dirancang tidak hanya untuk meningkatkan partisipasi, tetapi juga memastikan pesan antikorupsi dapat dipahami melalui pendekatan yang lebih humanis.
Ibnu menilai capaian ini menjadi bukti bahwa pemberdayaan integritas harus terus diakselerasi melalui aksi nyata dan kolaborasi lintas daerah serta profesi. Dalam hal ini, KPK memanfaatkan peran PAKSI-API sebagai penggerak utama pembangunan nilai integritas di masyarakat melalui komunitas Pena Integritas.
Kolaborasi dengan SIP Publishing dan Yayasan Rumah Indonesia Menulis memperkuat pendekatan tersebut dengan menjadikan karya sastra sebagai medium edukasi yang lebih dekat dan mudah dipahami oleh publik. Pencatatan rekor oleh MURI pun memiliki nilai strategis karena tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi menjadi bagian dari perjalanan gerakan literasi nasional yang mengusung nilai-nilai antikorupsi.
“Apresiasi tak terhingga kami sampaikan kepada Forum PAKSI-API bersama dengan komunitas Pena Integritas, atas inisiatif dan kolaborasi yang menghadirkan capaian prestasi superlatif. Upaya ini tidak hanya mengungkap fakta-fakta yang selama ini tersembunyi, mengedukasi tanpa menggurui, edukasi antikorupsi lintas batas, lintas usia, dan lebih membumi,” ucap Ibnu.
KPK menilai keberhasilan ini mencerminkan pentingnya kerja kolektif lintas sektor dalam melawan korupsi, sekaligus memperluas jangkauan kampanye integritas ke ruang-ruang sosial yang sebelumnya belum tersentuh. Menurutnya, melalui dukungan mitra seperti MURI yang berperan memperluas visibilitas gerakan, sehingga mampu mendorong partisipasi publik yang lebih luas.
Sejalan dengan itu, Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Wawan Wardiana, menekankan bahwa partisipasi publik menjadi fondasi utama gerakan antikorupsi. Ia menilai sinergi antara komunitas, penyuluh, dan pelbagai pemangku kepentingan menjadi modal penting untuk memperluas dampak edukasi.
“Ini menjadi langkah konkret dalam memastikan nilai integritas terus tumbuh dan mengakar di masyarakat. Terlihat dari tingginya partisipasi 1.636 penulis dari 21 Provinsi, menandai tingginya antusiasme publik dalam mengarusutamakan nilai integritas melalui karya tulis,” ucap Wawan.
Seperti diketahui, lanjut Wawan, rangkaian kegiatan diawali dengan tahap publikasi pada 8–28 Februari 2026, dilanjut dengan pelatihan menulis daring yang membekali peserta mengenai pemahaman tentang pesan antikorupsi serta teknik penulisan cerpen. Setelah melalui tahap publikasi, pelatihan, hingga pengumpulan naskah pada 9 Maret hingga 14 April 2026, program mencapai puncaknya dengan ‘peluncuran buku kumpulan cerpen antikorupsi’ pada 23 April 2026.
Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan pada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Adin Bondar, menilai pendekatan literasi memiliki peran strategis dalam membangun karakter integritas, termasuk melalui karya sastra sebagai refleksi nilai dan sikap individu.
“Pendekatan literasi merupakan strategi efektif mencegah korupsi, karena mampu membangun kesadaran kritis sekaligus membentuk kebijaksanaan individu dalam sikap dan komunikasi,” ucapnya.
Sementara itu, perwakilan komunitas Pena Integritas, Ratu Syafitri Muhayati, menegaskan bahwa program ini dirancang sebagai gerakan berkelanjutan.
“Karya-karya terpilih merupakan refleksi berbagai perspektif tentang kejujuran dan perlawanan terhadap korupsi. Harapannya, inisiatif ini dapat meningkatkan kesadaran publik terhadap tindak pidana korupsi, sekaligus memastikan karya-karya yang dihasilkan terdokumentasi sebagai bagian dari jejak kolektif masyarakat,” kata Ratu.
Kegiatan ini turut dihadiri Direktur Marketing MURI, Awan Rahargo; Direktur Pendidikan dan Pelatihan Antikorupsi KPK, Yonathan Demme Tangdilintin; Direktur Jejaring Pendidikan KPK, Dian Novianthi; Direktur Sosialisasi dan Kampanye KPK, Amir Arief; Kepala Sekretariat kedeputian Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Guntur Kusmeiyano; Direktur SIP Publishing, Indra Defandra; Duta Baca Indonesia 2021-2025, Gol A Gong; serta para PAKSI-API dari seluruh Indonesia.
Dengan demikian, KPK menegaskan akan terus memperluas kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan gerakan literasi antikorupsi tidak berhenti sebagai momentum, tetapi menjadi gerakan sosial yang berkelanjutan. Melalui langkah sederhana dari lingkungan masyarakat, KPK berharap terwujudnya Indonesia yang lebih bersih dan berintegritas. (https://www.kpk.go.id )
