Pemberdayaan Potensi Peserta Didik “Konsep Pendidikan KH. M. Hasyim Asy’ari”

Oleh : Hendri Hendarsah, M.Si
(Pegawai Kemenag Kota Tasikmalaya/ Staf Pengajar STAI Miftahul Ulum Tasikmalaya)

BERBICARA problematika sosial di masyarakat akhir-akhir ini terutama yang berhubungan pelajar seperti pencurian, pembunuhan, pelecehan seksual, tawuran, dll ini selalu dikaitkan dengan soal pendidikan. Kita semua tidak bisa menutup mata bahwa berbagai persoalan tentang kenakalan remaja saat ini akan bermuara kepada aspek pendidikan. Sehinggga pertanyaan yang muncul apakah semua ini merupakan kegagalan dalam sistem pendidikan kita ? Tentunya untuk menjawab pertanyaan tersebut dapat dianalisis dalam berbagai perfektif.

Tujuan pendidikan nasional kita setidaknya memberikan gambaran yang jelas bahwa pendidikan nasional bertujuan membentuk peserta didik yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia. Ketiga dimensi tersebut tentunya harus menjadi tujuan yang harus dikedepankan oleh semua unsur terkait, sehingga amanat undang-undang sistem pendidikan nasional dapat tercapai sesuai dengan harapan.

Selama ini dalam sistem pendidikan peserta didik dijadikan objek, tetapi pada porsi tertentu peserta didik seharusnya dijadikan subjek pendidikan. Artinya peluang-peluang untuk  pengembangan daya kreasi dan intelek peserta didik dapat dilakukan oleh peserta didik itu sendiri, disamping itu memang harus adanya peranan orang lain yang memberikan corak dalam pengembangannya. Inilah yang kemudian ingin dicari tipologi pengembangannya.  KH. M. Hasyim Asy’ari sebagai ulama besar dalam bukunya Suwendi (2005) memberikan konsep bagaimana pemberdayaan konsep peserta didik agar memiliki karakter yang kuat.

Pertama pemberdayaan peserta didik melalui diri peserta didik. Pemberdayaan peserta didik dapat dilakukan dengan mengembangkan sikap batin dan mental peserta didik yang benar-benar menampakan kesempurnaan dan menjauhi nilai-nilai yang memberikan implikasi negatif terhadap dirinya. Pemikiran KH. M. Hasyim As’ary menyatakan bahwa peserta didik hendaknya membersihkan dirinya dari segala perbuatan dan sifat yang tercela. Penekanan ini dilatarbelakangi oleh anggapan bahwa ilmu adalah ritualitas shalat yang sangat eksklusif, realitas ibadah jiwa dan kedekatan yang sangat erat dengan Allah dalam jiwa seseorang.

Dengan demikian, hal ini dapat dinalogikan bahwa jika shalat sebagai gerakan ibadah yang terlihat dengan jelas oleh mata itu tidak menjadi sah  oleh karena ada bagian jasmani seseorang yang melakukan shalat terdapat kotoran, maka demikian juga dengan ilmu. Ilmu yang merupakan bukti ibadahnya jiwa, tidak akan didapat oleh karena jiwa orang itu tidak bersih. Untuk itu perlu adanya penelurusan niat yang tulus lagi baik.

Niat menuntut ilmu hendaknya didasari oleh motivasi semata-mata demi kepentingan Allah, mengamalkan syariat, meluaskan daya fikir intelek dan kesucian jiwa serta mencari ridha Allah semata. Peserta didik harus memiliki sebuah prinsip yang benar dan suci dengan kebesaran jiwa dan tekad yang utuh untuk senantiasa menampakkan hal-hal terbaik. Segala keinginan dan motivasi yang kurang etis dalam pandangannya tidak boleh terlintas dalam diri peserta didik, sehingga mentalnya senantiasa siap untuk menerima pengetahuan secara terbuka, dengan batasan-batasan kebenaran menurut dirinya.

Menurut  Muhammad Attiyah Abrasyi  bahwa di dalam akhlak yang luhur mengandung unsur filosofis (hikmah) dan makna yang esensial. Setiap pendidikan yang tidak didasarkan atas akhlak yang baik dianggap sebagai pendidikan yang hanpa nilai. Dalam literatur yang lain al abrasyi menyatakan pendidikan akhlak merupakan tujuan pendidikan yang tertinggi. Maka tidak berlebihan konsep pendidikan KH. Hasyim Asy’ari memberikan penjelasan yang sangat terperinci tentang sikap-ikap yang dilakukan peserta didikan dalam berbagai kondisi.

Kedua Pemberdayaan peserta didi melalui pendidik. Dalam rangka pemberdayaan peserta didik agar menjadi manusia yang baik dan tercapainya tujuan pendidikan yang diharapkan pemikiran KH. M. Hasyim Asy’ari menjelaskan tentang penyiapan pendidik terhadap kriteria-kriteria tertentu. Kriteria pendidik menurut pandangan KH. M. Hasyim Asy’ari yaitu : 1) menjaga akhlak dalam pendidikan, 2) tidak menjadi profesi guru sebagai usaha untuk menutupi kebutuhan ekonominya, 3) mengetahui situasi sosial kemasyarakatan, 4) kasih sayang dan sabar,  5) adil dalam  memperlakukan peserta didiknya, dan 6) menolong dengan kemampuan yang dimilikinya.

Secara umum, kriteria-kriteria tersebut diatas menampakan kesempurnaan sifat-sifat dan keadaan pendidik dengan memiliki persyaratan-persyaratan tertentu sehingga layak menjadi pendidik sebagaimana mestinya. Dalam konsep Ibn Sahnun dijelaskan bahwa pendidik harus memiliki keluasaan pengetahuan dan ketahanan tubuh yang kuat disamping memiliki ketaqwaan serta keikhlasan dalam mengajarkan pengetahuannya.

Pemberdayaan selanjutnya adalah membetuk situasi hubungan antara peserta didik dan pendidik yang harmonis, penuh kasih sayang dan dialogis. Pemberdayaan dengan macam ini sangat perlu dalam pencapaian proses pembelajaran. “karena pendidikan adalah masalah perseorangan dalam batas yang luas. Oleh karena itu, seorang guru harus mempunyai hubungan dengan murid, dan murid harus mempunyai kesempatan yang luas untuk mengambil faedah dari gurunya, baik yang menyangkut akhlak maupun ilmu pengetahuan”. Muhammad ‘Athiyah al-Abrasyi menulis: “Terciptanya hubungan personal yang bersifat kasih sayang antara guru dan murid bisa menjadi faktor suksesnya jalannya proses belajar mengajar. Sukses seorang pendidik akan ditandai oleh tertanamnya semangat kepercayaan dan kecintaan antara guru dan murid. Apabila guru menyayangi murid-muridnya, dan mereka merasakan belaian kasih sayang dari gurunya, maka problem-problem kesulitan didalam pengajaran akan mudah diatasi, dan yang sulit menjadi mudah. Seringkali kebencian seorang murid terhadap suatu ilmu pengetahuan disebabkan kebenciannya terhadap guru yang mengajar ilmu tersebut. Demikian juga sebaliknya, seorang murid menyayangi suatu ilmu pengetahuan disebabkan kesenangan kepada guru yang mengajar ilmu pengetahuan tersebut”. Secara lebih mendasar dapat dikatakan bahwa didalam proses pendidikan ssungguhnya perlu ada persinggungan pedagogis (sentuhan pendidikan), yaitu pendidik mampu menguasai atau memasuki dunia kekanak-kanakan (ketidakdewasaan) dari peserta didik yang dihadapinya dan dalam saat yang sama peserta didik juga mampu memasuki atau menjangkau dunia kedewasaan pendidiknya. Dengan demikian, sangat jelas bahwa pembentukan nuansa yang harmonis antara peserta didik dan pendidik sangat signifikan.

Dalam konteks sekarang, kondisi demikian cenderung memprihatinkan . seperti yang diperlihatkan oleh Syed Sajjad Husain dan Syed Ali Ashraf bahwa persoalan murid menyuarakan perasaan-perasaanya bukanlah sesuatu yang mendapat perhatian. Keluhan-keluhan peserta didik aganya lebih banyak dipendam dari pada disampaikan kepada pendidik. Jika memikirkan pemberdayaan yang ditawarkan KH. M. Hasyim Asy’ari patut diperhitungkan.

Ketiga Pemberdayaan Peserta Didik Melalui Kurikulum. Urutan-urutan kurikulum menurut KH. M. Hasyim Asy’ari adalah sebagai berikut: al-Qur’an dan Tafsirnya, Hadist dan Ulum al-Hadist, Ushul al-Din, al-Fiqh, Nahw, dan Sharf. Setelah itu, pengembangan-pengembangan bidang lain dengan tetap mengacu pada kurikulum diatas. Bagi KH. M. Hasyim Asy’ari, kurikulum yang penting dan mulia haruslah didahulukan ketimbang kurikulum lainnya. Ini artinya bahwa peserta didik dapat melakukan kajian terhadap kurikulum diatas secara hierarkis.

Pendapat muhammad Iqbal menyatakan “Ilmu pengetahuan harus dipengaruhi oleh al-Dien, karena jika tidak dipengaruhi al-Dien, maka ilmu pengetahuan itu akan menjadi jahat, murni dan sederhana tetapi jika ia dipengaruhi oleh al-Dien, maka ia menjadi rahmat bagi umat manusia”. Dengan demikian sangat jelas bahwa KH. M. Hasyim Asy’ari memiliki konsep tersendiri tentang pemberdayaan peserta didik melalui kurikulum.             Dengan demikian, kurikulum yang dapat meberdayakan peserta didik diantaranya adalah kurikulum yang senantiasa mengacu pada dimensi keagamaan, terutama berlandaskan pada al-Qur’an.

Keempat Pemberdayaan Peserta Didik melalui Lingkungan. Lingkungan merupakan salah satu aspek yang tidak dapat dipisahkan dari pembicaraan pendidikan. Sebab bagi kalangan konvergensi, misalnya, lingkungan merupakan faktor yang mempunyai andil dalam tingkat keberhasilan kegiatan belajar. Bahkan, para ahli pendidkan sosial umumnya berpendapat bahwa perbaikan lingkungan merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.

  1. M. Hasyim Asy’ari memberi perhatian bahwa lingkungan yang baik adalah lingkungan yang didalamnya mengandung pergaulan dengan menjunjung nilai-nilai etis. Pergaulan yang ada bukanlah pergaulan bebas, tetapi didalamnya ada batasan-batasan tersendiri. Hal ini terbaca dalam anjurannya bahwa peserta didik tidak boleh bergaul dengan lawan jenis. Sebab, itu akan menjadikan sia-sianya kesempatan dan menghamburkan materi. Bergaul dapat dilakukan jika ada nilai-nilai positif. Bahkan, orang yang dapat dijadikan teman adalah mereka yang memenuhi kriteria-kriteria yang menjunjung akhlak dan agama.

Beberapa pemikiran KH. M. Hasyim Asy’ari diatas, jika dimasukkan kedalam kerangka teori bahwa pemikiran pendidikan itu diklasifikasikan menjadi 3 (tiga): pendidikan yang mementingkan hal-hal yang rasional (‘aql), pendidikan yang menekankan pada aspek rasa (qalb) dan pendidikan yang memberi perhatian pada aspek fungsi tubuh (jism) sehingga memiliki keterampilan, maka pemikiran KH. M. Hasyim Asy’ari itu sesungguhnya dapat dimasukan pada teori yang mengkonsentrasikan pada aspek rasa (qalb).

Pola hubungan dengan peserta didik yang dikembangkan oleh KH. M. Hasyim Asy’ari agaknya diasumsikan akan menghasilkan para alumni-alumni pendidikan yang memiliki karakter yang memilii pondasi beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia. Semoga.

 

 

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.