by

SMA Plus Padma Pertiwi, Sekolah Berbasis Alam Yang Lestarikan Seni Budaya Sunda

Laporan: REDI MULYADI

SMA Plus Padma Pertiwi merupakan sebuah sekolah lanjutan atas “Berbasis Alam” di bawah naungan Yayasan Padma Pertiwi Nusantara. Kenapa disebut “Sekolah Berbasis Alam” ? Karena letak kampusnya berada di suasana lingkungan alam terbuka, termasuk saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM), tepatnya di Jln. Kawasan Gunung Hampelas – Situsari Kel.Sukalaksana Kec.Bungursari – Kota Tasikmalaya.

Ketika LINTAS PENA berkunjung ke kampus SMA Plus Padma Pertiwi, sempat tertegun saat berkunjung ke lingkungan kampus SMA Plus Padma Pertiwi yang memiliki area luas sekitar 1,5 hektar dan suasana alam pedesaan yang masih asli. Para peserta didik dan staf gurunya sangat kreatif dalam mengembangkan seni budaya, melakukan kegiatan pertanian (tanaman hidroponik,budidaya jamur dll), perikanan, peternakan, kerajinan tangan,  membuat industry kecil seperti keripik jamur, yoghurt dan sebagainya. Dengan salah satu tujuan untuk mencetak para pengusaha muda, maka di SMA ini selain belajar seperti di SMA biasanya, tapi juga dibekali pengetahuan bagaimana caranya menjadi seorang pengusaha sukses.

“Kami mendirikan SMA Plus Padma Pertiwi ini sebagai sekolah yang berbasis alam atau lingkungan hidup yang masih murni, bertujuan membangun kader bangsa (generasi muda) yang memiliki kemampuan ganda dan multi guna, mampu berkarier/berprestasi melalui jenjang akademik atau melalui kemampuan/bakat yang dimilikinya.”ujar Sansan Warsana,SE, Ketua Yayasan Padma Pertiwi Nusantara

LESTARIKAN SENI BUDAYA

Ada hal menarik di SMA Plus Padma Pertiwi ini, karena peserta didiknya memahami sekaligus menguasai berbagai ragam jenis kesenian tradisional khas Sunda, mulai memainkan alat musik (kecapi, suling, degung, angklung, gamelan, kendang dll) hingga melantunkan tembang Sunda dan lainnya.

Hal ini tiada lain karena Sansan Warsana SE yang peduli dan serius untuk melestarikan sekaligus mengembangkan seni budaya Sunda, yang kini hampir  punah akibat tergeser oleh seni budaya modern. Bahkan, dia mendirikan Lingkung Seni Cagar Budaya “PADMA PERTIWI NUSANTARA” memberdayakan peserta didik, dan juga warga sekitar kampus sekolah ini.

Kehadiran  lingkung seni ini tiada lain untuk turut melestarikan dan menghidupkan kembali seni budaya bangsa Indonesia, khususnya Seni Sunda seperti calung, angklung, degung, karawitan, pencak silat dan lainnya.”Lingkung seni yang kami kelola ini sangat peduli akan seni budaya khas Sunda dan berdirinya lingkung seni ini sebagai wadah untuk memberdayakan warga masyarakat yang cinta akan seni budaya.”jelas Sansan Warsana

Dia mengaku prihatin akan siatuasi dan kondisi seni budaya leluhur, sehingga mendirikan lingkung seni cagar budaya Padma Pratiwi Nusantara   “Kami selalu menggelar latihan seminggu sekali, hari Kamis mulai pukul 13.00 – 17.00 WIB di kampus SMA Plus Padma Pertiwi maupun di panggung alam terbuka. Secara rutin tiap bukan, kami menggelar acara Nyawang Bulan pada malam hari, terutama pada malam bulan purnama di alam terbuka ”ujarnya.

LIBATKAN SENIMAN & MASYARAKAT

Acara rutin “Nyawang Bulan” sebulan sekali tepat setiap tanggal 14 ketika bulan purnama itu, tiada lain sebagai  upaya “ngamumule” melestarikan seni budaya Sunda para leluhur, yang melibatkan peserta didik SMA Plus Padma Pertiwi, para seniman dan budayawan se wilayah Priangan Timur (Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Garut, Pangandaran dan Sumedang) serta warga masyarakat sekitar.

Pada acara “Nyawang Bulan” tersebut, suasana malam makin ramai, karena menampilkan berbagai pentas seni budaya dari para seniman dan budayawan bukan hanya dari Tasikmalaya saja, tapi juga dating dari Bandung, Ciamis, Garut, Purwakarta, Sumedang, Banjar, Kuningan, Pangandaran dan kota lainnya. “Tujuan dari acara Nyawang Bulan ini, selain sebagai ajang silaturahmi  para seniman dan budayawan Tatar Pasundan sekaligus tukar pikiran, juga kami peduli untuk melestarikan seni budaya Sunda yang merupakan warisan para leluhur kita.  Alhamdulillah, respon dari rekan rekan seniman cukup bagus diadakannya acara semacam ini,”ujar

Adapun yang menjadi latar belakang digelarnya acara “Nyawang Bulan” ini, menurut Sansan Warsana, di mana pada zaman dulu ketika dia masih kecil, setiap tanggal 14 dimana muncul bulan purnama maka warga masyarakat pada keluar rumah; anak anak biasanya bermain dengan “kaulinan barudak” dan orangtua sambil “nembang” atau “ngahaleuang” melantunkan tembang tembang Sunda buhun, juga ada yang berlatih pencak silat, calung, angklung dan berbagai kesenian itu sambul “nyawang wulan” bulan purnama. Seiring dengan waktu, kebiasaan Nyawang Bulan itu pun sirna.

Pada acara “Nyawang Bulan”   beberapa waktu yang lalu, beragam  kesenian yang ditampilkan antara lain Karawitan dari peserta didik SMA Plus Padma Pertiwi bersama  Lingkung Seni  Cagar Budaya Padma Pertiwi Nusantara , Jaipong  oleh Nazwa Tamalla Khanza dari Mangkubumi, Rampak Karinding oleh Kelompok Galuh Kertabumi Ciamis, Rampak Puisi oleh Cagur UPI dari UPI Kampus Tasikmalaya Musikalisasi Puisi oleh Jaro X Yus Feat Kesannada Universitas Galuh Ciamis, Orasi Budaya oleh H Yusron, Musik oleh Warkop 24 Cipasung,  Baca Puisi dan Gitar dari Singaparna, Nyanyi oleh M Mispraja dari Salawu, Drama Musikal Sunda oleh Grup Saka dari SMK Seni Budaya Tasikmalaya, Baca Puisi Abah Sarjang dari Karawang, Musikalilisasi dan Puisi dari Ciamis Rampag karinding oleh Sekar Pitaloka dan lainnya.

“Pada acara semacam ini, peserta didik SMA Plus Padma Pertiwi bisa unjuk kemampuan di bidang seni sebagai wujud turut melestarikan seni budaya Sunda. Selain itu, mereka sering tampil dalam berbagai event maupun mendapat undangan pada khajatan, terutama resepsi pernikahan,” pungkas Sansan Warsana,SE disela sela acara launching film “Batara Kuncung Putih” Sejarah Berdirinya Kerajaan Galunggung yang diproduksi oleh Yayasan Padma Pertiwi Nusantara bekerjasama dengan PT.LINTAS PENA MEDIA pekan kemarin.(***)

Comment

News Feed