Guru Zaman Now Harus Pandai Bersyukur

Oleh: Helatini, S.Pd., M.Si.

 

GURU adalah profesional seperti halnya dokter, pengacara, arsitek, dan profesi lainnya yang memerlukan keahlian khusus. Tak ada alasan untuk memandang sebelah mata terhadap profesi guru. Dulu, guru mendapat julukan Umar Bakri, bahkan diilustrasikan naik sepeda butut, kalang kabut, kentut, dan kata-kata lain yang bikin kuping memerah dan tidak tega mendengarnya. Dalam sinetron, guru sering diolok-olok dengan peran konyol atau peran lain yang memelas, yang menunjukkan kesengsaraan hidup.

Sekarang, kehidupan guru jauh lebih baik. Tak pantas rasanya jika guru tetap dianggap sebagai golongan kelas bawah. Dari segi keilmuan, mulai guru TK  sampai SMA minimal berijazah S1. Guru-guru SD banyak yang berpendidikan S2, bahkan doktor. Jangan ada lagi sentilan kepada guru bahwa pengetahuan dan ilmu yang dimiliki guru hanya beda semalam dengan pengetahuan siswa. Guru adalah kurikulum dengan berbagai ilmu siap pakai. Guru tidak lagi teks book atau terpaku kepada buku yang dipegangnya ketika mengajar.

Berbagai upaya ditempuh pemerintah agar ilmu yang dimiliki guru semakin bertambah. Pelatihan ,diklat, bimtek, workshop, seminar, lokakarya,  studi banding dan uji kompetensi guru diadakan untuk meningkatkan mutu guru. Guru-guru banyak mengukir prestasi dalam berbagai  bidang. Guru berprestasi dan berdedikasi, juara inobel, juara OGN, juara karya tulis, juara inovasi literasi, dan lain-lain.

Dari segi ekonomi, guru mendapat gaji yang cukup besar ditambah tunjangan sertifikasi sebesar satu kali gaji pokok setiap bulan. Pemenuhan kebutuhan hidup bukan lagi memenuhi kebutuhan primer dan sekunder tetapi kebutuhan tersier atau kebutuhan barang mewah. Motor keluaran terbaru, mobil juga tak ketinggalan musim, rumah bagus dengan perabot yang tak kalah bagus.  Gaya hidup guru mengikuti perkembangan zaman, handphone keluaran terbaru, tas merk terkenal, pakaian pun berkelas. Guru bukan  manusia yang usahanya  koreh-koreh cok, dalam bahasa sunda, seperti ayam mengais makanan kecil, yang hanya cukup untuk saat itu dan tak ada lagi untuk makan esok hari.

Guru bisa menabung dalam bentuk deposito bank, memiliki kartu ATM gold bukan hal aneh. Sekarang bisa dipastikan dalam setiap dompet guru terselip kartu ATM, gaji dibayar oleh pemerintah melalui rekening pribadi, diambil melalui kartu ATM, demikian juga tunjangan sertifikasi, tunjangan hari raya, gaji ke-13 dan tunjangan lainnya. Guru juga melek teknologi, hampir setiap andriod yang dipegangnya ada aplikasi e-banking, untuk mengecek transaksi uang di rekeningnya. Tidak perlu lagi guru antri di bank hanya untuk menanyakan apakah tunjangan sertifikasi sudah cair atau belum. Semua bisa dicek melalui HP, tak ada lagi manuk kuntul dina jambe, manuk ekek jeung caladi, ting suruntul ka BJB, arek ngecek duit serti.

Guru selalu kelihatan awet muda, karena setiap hari bermain dan belajar dengan anak-anak yang memberinya kelucuan, kehangatan, keceriaan, sehingga guru selalu bahagia. Jika ada perilaku murid yang kurang berkenan maka kewajibannyalah untuk memperbaikinya dengan ikhlas penuh kasih sayang dan tanggung jawab. Guru dan murid melalui hari demi hari dalam kebersamaan yang penuh kehangatan dan keceriaan, sehingga bahagia dinikmati sepanjang waktu.

Kebahagiaan guru makin bertambah ketika melihat murid-muridnya sukses, karena guru turut andil meletakkan dasar pendidikan, keterampilan dan perilaku murid. Tak berharap balas jasa, guru merasa senang jika murid masih mengingatnya.

Guru harus lebih banyak bersyukur dan bertafakur. Dengan menjadi guru, banyak sekali hal-hal yang dapat dilakukan sebagai nilai tambah dan tidak dapat dilakukan oleh profesi lain. Selain pemenuhan kebutuhan lahiriah, juga banyak hal yang mendukung kehidupan akherat. Contoh, seorang guru mengajar selama satu tahun di kelas satu dengan jumlah murid dua puluh lima orang. Minimal, guru tersebut telah mengamalkan ilmunya setiap hari kepada dua puluh lima orang. Ilmu yang diamalkan adalah jaminan menjadi pahala yang tiada henti walaupun telah meninggal dunia. Setiap hari didoakan oleh murid-muridnya, dan yakin satu diantara duapuluh lima itu ada yang menarik tangan sang guru ke surga kelak. Tahun berikutnya guru mendapat murid lagi, dan begitu seterusnya. Maka berapa banyak ilmu yang telah diamalkan, berapa banyak doa yang diberikan untuknya. Kebahagiaan guru sangat berlimpah, moril, meteril, spiritual. Kepuasan lahir dan batin diperoleh ketika guru semakin bersyukur kepada Sang Pemberi kebahagiaan.

Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?

@@@Penulis adalah Kepala SDN Karangtengah Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya. Kepala Sekolah Inspiratif versi Gerakan Menulis Buku Indonesia (GMBI) tahun 2018. Email helatini.1968@gmail.com

 

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.