Dinkes Kab.Ciamis Menggelar Konferensi Pres Rilis dari PIK COVID-19

Ciamis, LINTAS PENA

Pada hari Selasa tanggal 24 Maret 2020 sekitar jam 12.45 WIB s/d 14.00 WIB bertempat di Comannd Center PIK Covid-19 (Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis) telah dilaksanakan Press Rilis PIK Covid-19 terkait Update informasi penanganan Virus Corona COVID-19. Hadir dalam kegiatan tersebut, diantara, Kabag Humas Setda, Kepala Dinas Kesehatan, Ketua PIK COVID-19, Unsur Media.

Konferensi Pres Rilis dari PIK COVID-19 disampaikan dr Bayu Yudiawan Ketua PIK COVID-19

Sampai tanggal 24 Maret 2020 hari selasa, pukul 12.00 kita mendapatkan pencatatan pelaporan penataan kasus COVID-19

Hasil dari pelaksanaan penataan kasus mendapatkan klasifikasi1. Orang dalam pemantauan 0DP, orang yang kita pantau sejak Januari 2020 ada 88 orang dari sana 54 orang selesai dilakukan pantauan, Latar belakangnya bermacam-macam dari 54 yang sudah selesai (sudah hilang status ODP).

Untuk Bulan Januari -Februari episentrumnya orang yang telah bepergian keluar negeri dengan kriteria dalam keadaan sehat atau sakit ringan tanpa tanda tana penumonia (ODP)

  1. Untuk Bulan Maret bergeser, sesuaii penyampaian Presiden RI tertanggal 2 Maret 2020 terkait penyampaian Covid positif yang ada di Indonesia dan ada peningkatan covid-19 yang tinggi akhirnya dikonfirmasikan ada transmisi lokal dengan penularan dari penduduk kependuduk. Sehingga ODP diklasifikasi bagi orang yang telah mengunjungi wilayah dengan epidemik Covid-19 atau Zona Merah di wilayah Indonesia maupaun Luar Negeri
  2. Di Indonesia adanya daerah epicentrum Covid-19 diantaranya yang paling merah Jakarta, Depok, Tangerang, Bogor dan Bandung yang menjadi daerah epicentrum, sehingga orang-orang yang pulang dari daerah tersebut masuk klasifikasi odp, Untuk Ciami yang sekarang *dalam pantauan ada 34 orang.
  3. Sedangkan untuk yang klien dari epicentrum tersebut kemudian menderita sakit dan ada tanda pias pneumonianya, kita lakukan pemeriksaan spesifisk, maka klasifikasinya dengan *Pasien Dengan Pengawasan (PDP)
  4. Kasus PDP kita terlalu longgar dalam kriterianya kita tingkatkan lebih selektif lagi, beberapa pengawasan diatas sesek gejala pneumonia cenderung psikosomatik dan diubah statusnya jadi ODP statusnya terbukti dari cek fisik baik rongen serial dan penegcekan C aktif Protein serta Cek darah rutin tidak mengarah kepada covid-19.
  5. Dari penelitian-penilitaian ulang dari dokter paru-paru dinyatakan PDP 2 orang, 1 orang telah pengecekan SWAB dengan hasil negatif. dan masih dalam pengawasan 1 orang
  6. Ciamis masih termasuk daerah Zero Covid19
  7. Media agar mensosialisasikan kepada masyarakat, terkait 1 fasilitas di Kabupaten Ciamis untuk penanganan pasien dalam pengawasan kita memiliki keterbatasan fasilitas, kita hanya memiliki kapasitas 12 bed
  8. Bupati telah meinstruksikan meningkatakan fasilitas baik APD atau perlengkapan kesehatan lainnya sebagai upaya antisipasi peningkatan pasien dengan peningkatan ledakan angka Pasien Dengan Pengawasan (PDP)
  9. Dengan 12 bed kita kerepotan, dikarenakan setelah Jakarta dinyatakan red area dan dilakukan kebijakan social distancing sehingga menimbulkan exsoduse (warga pulang kembali kedaerahnya: mudik) di masyarakat zona tersebut.
  10. Adanya tanggal merah dan libur, dengan distancing menimbulkan adanya peningkatan mobilisasi masa sampai 19 orang ODP dan diantaranya PDP
  11. Dikhawatirkan adanya exsoduse dari kota ke kita, statusnya exsoduse otomatis ODP, dikhawatirkan ada yang sakitnya pneumonia ditakutkan memenuhi tempat isolasi kita
  12. Kepada Temen-temen pers untuk ikut mensosialisasikan agar tidak mudik bagi warga Ciamis yang ada di zona merah tersebut. Karena tatlkla pulang ke daerah Sapras terbatas baik secara kualitas dan kuantitas.
  13. Fasilitas yang bisa mengecek Covid-19 dengan VCR dan genom disecuencing baru bisa dilaksanakan oleh Litbangkes di Jakarta, dan BLK di Bandung dan hasilnya 2-3 hari.
  14. Dari kota exsoduse ke Daerah justru akan memperlambat dan mempersulit layanan mereka sendiri, mereka berbondong-bondong ke rumah sakit untuk memeriksakan positif atau tidak sedengkan belum mampu dan lebih lama prosesnya.
  15. Di jakarta sudah ada fasilitasnya bisa langsung pengecekan di BLK dan litbangkes, karena petugas kita terbatas

Bupati mengintruksikan menambah APD dan sarana prasarana

Kesimpulan

– ODP ada 88 orang yang selesai pemantau 54 orang dalam pemantauan 34

– Dari 54 tidak diketemukan hal serius dan mereka dinyatakan sehat, untuk PDP 1 orang negatif, 1 PDP orang lagi dalam pengawasan isolasi khusus.

– Pasien bersangktan menunjukan kemajuan yang baik dan signifikan

– Pada awal kasus ketika dirujuk Covid-19 pas awal masuk 1 epicentrum dan memilah gejala yang ada, kita masih meragukan

– Sebagai protokol medis kita ambil keadaan terburuk dahulu sebagai PDP, ketika masuk PDP otomatis masuk Isolasi

– Mereka di dalam pengecekannya melalui rongen seria dan pemeriksaan lab darah, dan dipantau C reaktif proteinnya dikaji patologi klinik apakah ada limpo

– Ketika semua negatif dan semakin baik digeser statusnya jadi ODP karena itu berhubungan dengan fasilitas, kalau menunggu hasi lama.

-Ciamis masih zero Covid, tapi Ciamis bisa saja kalau terus menerus exsoduse dari Kota zona merah ke Ciamis,

– Masayrakat dari kota diharapkan jangan dulu mudik, juga pentingnya ketegasan aparatur untuk mengurangi exsoduse

– Kerjasama lintas sektor sudah terjalin dengan baik, karenaada survailence migrasi dari setiap kecamatan dan desa serta bantuan SKPD terkait

– Kita dibantu Disnakertrasn seperti TKI yang akan pulang dan berangkat dan terdata disetiap puskesmas dan kerjasama dengan lainnya sudah terjalin

– Ada beberapa hambatan terkait ODP diantaranya siapa saja yang masuk ke daerah sulit untuk mengecek yang ta terlaporkan

– Di setiap kecamatan ada PIK yang didalamnya ada Camat, Danramil, Kapolesek, kita koordinasikan ke masyrakat untuk mengecek siapa warga-warga yang masuk ke daerah merah.

– Terkait data TKI kita sudah memantau dari tenaga kerja, ada yang pulang dari Singapura luar negeri otomatis kita pantau, karena ada HAC kantor kesehatan pelabuhan, kita tinggal melanjutkan dari HAB tersebut.

– Kemungkinan ada tidak terpantau ada, kita coba untuk mengantisipasi dan meminimalisir lolosnya orang tidak terpantau kita harus aktifkan survailence berbasi masyarakat yang nanti dilaporkan ke Puskesmas mengenai masuk keluarnya orang dari zona yang disebutkan merah.

-Jangan buat kepanikan bahkan sampai membuat stigamsisasi di masyarakat, nanti lapokan kepada gugus tugas di setiap kecamatan terkait ada temuan dan setiap permasalahan mengenai wabah COVID19 ini. (HUMAS CIAMIS/EDIS RUSMANA)***

 

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.