Pembelajaran dan Virus Corona

Oleh: Nana Suryana

(Ketua Prodi PGMI Suryalaya Tasikmalaya)

Virus corona (COVID-19) menjadi “konsumsi” kita hari ini. Kedahsyatan penyebarannya pun dianggap melampaui penyakit lain. Hal itu juga yang mendasari para pengambil kebijakan pendidikan untuk mengelurkan surat edaran tentang upaya mengantisipasi penyebaran virus corona di dunia pendidikan. Satu diantaranya edaran Gubernur Jawa Barat (Ridwan Kamil). Seperti dikutip media online Sukabumi Update.com (15/3/2020).  “Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerbitkan surat edaran mengenai kebijakan pelaksanaan Ujian Nasional dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pada satuan pembelajaran di Jawa Barat. Minggu Surat amat segera dengan nomor 443/3302-Set”.

Dalam surat edaran tersebut, Pemprov Jabar melalui Dinas Pembelajaran Provinsi Jawa Barat memberikan beberapa imbauan:  Pertama, KBM dilaksanakan di rumah masing-masing terhitung 16-29 Maret 2020. Kemudian, para kepala satuan pembelajaran diminta tmenugaskan setiap Pendidik dan tenaga kepembelajaran untuk memberikan tugas dan atau pembelajaran jarak jauh. Para Pendidik dan tenaga kepembelajaran tetap hadir di hari dan jam kerja. Dalam pemberian tugas kepada siswa, Pendidik diharapkan menyampaikan materi yang berhubungan dengan edukasi COVID-19. Selanjutnya, orang tua diimbau memastikan putra-putrinya untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran di rumah. Bukan justru berkeliaran di luar, atau bahkan berwisata, dan atau kegiatan lain yang tidak selaras dengan upaya pencegahan penyebaran virus corona. Gubernur juga mengimbau satuan pembelajaran untuk tidak dulu menyelenggarakan dan menghadiri kegiatan yang mengundang banyak orang seperti seminar, studi wisata, berkemah dan jenis kegiatan lainnya.

Lahirnya surat edaran tersebut memberikan konsekuansi kepada para pendidik untuk mampu melakukan pelajaran atau perkuliahan jarak jauh (PJJ). Pembelajaran jarak jauh  (bahasa Inggris: distance education) adalah pembelajaran formal berbasis lembaga yang peserta didik dan instrukturnya berada di lokasi terpisah sehingga memerlukan sistem telekomunikasi interaktif untuk menghubungkan keduanya dan berbagai sumber daya yang diperlukan di dalamnya.

Ada banyak pendidik yang dulu “alergi” terhadap penggunaan teknologi pembelajaran dengan telekomunikasi interaktif, sekarang “dipaksa” harus mampu melakukannya. Sebuah perubahan dan inovasi pembelajaran yang menantang.  Ada beberapa alternatif media pembelajaran jarak jauh (PJJ) yaitu;  Pertama melalui grup WA mata kuliah. Dosen bersama mahasiswa membuat grup wa sesuai mata kuliah yang diampunya. Dosen dapat mengirimkan materi perkuliahan kepada mahasiswa sesuai topik-topik yang telah disusun dalam RPS dalam berbagai bentuk diantaranya : bahan belajar mandiri yang dibuat dalam format pdf, sumber belajar online yang dapat diakses oleh mahasiswa, video pembelajaran atau video tutorial (jika materinya praktikum), kuis atau soal-soal latihan yang harus dijawab oleh mahasiswa. Selanjutnya dosen dapat melalukan interaksi dengan mahasiswa dalam bentuk sharing pendapat, tanya jawab, problem solving dsb. Dosen dapat menilai keaktifan mahasiswa berdsarkan kontribusinya dalam diskusi di grup wa tersebut.

Kedua media Teleconfrence. Dosen dapat mengunduh aplikasi teleconfrence yang dapat diperoleh secara gratis di google play. Melalui aplikasi ini dosen dapat melakukan interaksi dengan mahasiswa secara virtial : menyampaikan materi perkuliahan dan dialog interaktif. Alat yang bisa digunakan untuk menjalankan aplikasi ini adalah smartphone atau laptop. Ketiga media E-Learning. Melalui media E-Laarning dosen dapat menyiapkan materi perkuliauan yang disimpan di blog atau di sistem yang sudah disiapkan oleh lembaga seperti Sistem Informasi Akademi (SIAKAD). Bahan-bahan dapat diakses mahasiswa secara online dan mempelajarinya secara mandiri. Keempat Sistem Modul. Dosen menyusun bahan belajar mandiri yang dibuat dalam bemtuk modul (cetak atau elektronik). Dengan sistem modul ini mahasiswa dapat belajar secara mandiri tanpa harus tatap muka dengan dosen. Evaluasinya dapat dilakukan secara online misalnya melalui e-mail.

Faktor terpenting yang menentukan efektif dan efisiennya PJJ adalah faktor manusia (pendidik). Prakteknya tentu tidak semudah membalikan telapak tangan. Pendidik adalah orang yang langsung bersentuhan dengan pembelajaran. Pendidik pula yang mendesain perencanaan, pelaksanan dan penilaian hsail pembelajaran. Tanpa sosok Pendidik mustahil proses pembelajaran berjalan efektif dan efesien.  Faktnya masih banyak pendidik yang belum mampu beradapatasi bahkan tidak mau beradaptasi.

Secara teori ada beberapa katagori pendidik dalam mensikapi sebuah inovasi pembelajaran. Pertama inovator, Pendidik berani menerima, gesit, bergairah dalam mencoba ide-ide baru, Kedua pelopor, Pendidik memiliki kemampuan bersosialisasi yang tinggi, tanggap, dan bertanggungjwab. Ketiga pengikut dini, Pendidik lebih enjoy menjadi pendengar, suka bergaul, dan responsif), Keempat pengikut kemudian, dia kadang ragu-ragu untuk menerima perubahan dan lebih banyak, menunggu kebanyakan orang) (Roger, 1993).

Pendidik memiliki pola pikir dan cara pandang yang berbeda terhadap adanya inovasi dan perubahan dalam pembelajaran. Untuk menyetuh pola pikir dan cara pandang Pendidik, maka sentuhan terhadap maidset menjadi sebuah keniscayaan. Perubahan mindset merupakan faktor pertama yang harus disentuh sebelum sebuah inovasi dipraktekan. Carol Dweck (2012) menyatakan bahwa pola pikir merupakan sumber kekuatan kemampuan seseorang menerima sebuah inovasi.(**)

 

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.