by

Milangkala Ke 6 Tahun Universitas Perjuangan Tasikmalaya Sederhana Penuh Makna

” Ulah nutur-nutur kalangkang heulang, tapi kudu nyaho ngabelesatna heulang newak mangsa”

Kota Tasikmalaya,LINTAS PENA

Pada hari senin 19 oktober 2020 keluarga besar civitas akademika Universitas Perjuangan (UNPER) Tasikmalaya telah menyelenggarakan syukuran milangkala yang ke 6 tahun secara sederhana penuh makna

Turut hadir Pada acara tersebut Ketua Umum Yayasan Universitas Siliwangi Brigjen TNI (Purn) H.Eko Irianto S.IP,pengawas yayasan, Rektor UNPER Prof.Dr.H.Yus Darusman Drs.M.Si,warek 1,warek 2 ,para dekan,kepala biro,ketua lemvaga, ketua UPT,wakil dekan,para dosen,ketua BLM, BEM Unper,UKM dan tamu undangan lainnya hal itu di sampaikan humas unper tasikmalaya depy Muhamad Fauzi kepala lintas pena.

Rektor UNPER Tasikmalaya Prof. Dr.H.Yus Darusman Drs.M.Si menyampaikan dalam kata sambutannya, bahwa setiap Perguruan Tinggi  memiliki visi yang khas dan berbeda dengan PT yang Iain. Visi UNPER adalah “Dengan berbasis kearifan Lokal, UNPER unggul dalam membentuk karakter kejuangan tahun 2035. Dalam rangka merealisasaikan Visi, UNPER memiliki mata kuliah Budaya daerah dan kearifan lokal yang isinya menanamkan nilai-nilai keunggulan daerah Jawa Barat agar mahasiswa UNPER mengetahui dan menyadari bahwa dirinya, sebagai orang sunda yang Iahir dari keturunan sunda dan hidup di tatar sunda, memiliki keunggulan budaya daerah Sunda. Orang Sunda tidak boleh kehilangan jati diri sebagai orang Sunda dan harus hidup nyunda walaupun zaman sudah modern. Modern bukan berarti Inggris atau Amerika, orang sunda juga dapat modern yaitu modern orang sunda, bukan modern seperti yang Iain.

Karakter kejuangan yang kita bentuk adalah karakter kejuangan yang lahir dari Jawa Barat, kita anak kandung rakyat Jawa Barat, tetapi kita berjuang bukan hanya untuk menjungjung tinggi Jawa Barat saja, namun juga menjungjung tinggi nilai nilai Indonesia merdeka; bersatu, berdaulat, cinta bangsa, cinta tanah air, semangat Indonesia bersatu, berani untuk mempertahankan Indonesia medeka, serta memiliki daya juang untuk mengisi kemerdakaan Republik Indonesia.

“Dalam kesempatan ini saya akan menyampaikan 3 (tiga) kearifan lokal Jawa Barat yaitu; satu, semboyan UNPER diambil dari nilai kerifan lokal masyarakat sunda, yaitu Cageur, bageur, bener, Pinter tur singer. Kearifan lokal tersebut melebihi ranah dalam teori belajar dari Benyamin Bloom yaitu cognitij; afektif dan psykomotorik atau pengetahuan, sikap dan perilaku atau cageur, bageur,bener, Pinter tur Singer. Lebihnya adalah cageur atau sehat, maknanya kita bisa mencari pengetahuan, membentuk sikap dan membentuk berperilaku yang baik apabila kita sehat, Olah karena itu Ki sunda menempatkan sehat atau cageur pada domain Yang pertama.

Kearifan lokal yang ke dua adalah wangsit Siliwangi, isinya adalah: Sing saha wae anu ngagunakeun ngaran siliwangi atawa  ngarasa jadi sekeseler siliwangi, manehna bakal nanjung hirupna, bakal mulya gumelarna, kawangikeun sabuana panca tengah; lamun manehna jujur, sinatria, teuneung, gumati kanuleutik, nyaah ka rakyat sarta wibawa ka sasama. Sabalikna hirupna moal panggih jeung kasenangan, bakal lara balangsak saindengna lamun ingkar tina patokan anu tadi.

Nilai karakter kejuangan yang terkandung di dalamnya yang harus ditanamkan adalah; jujur, sinatria, teuneung, gumati kanu leutik, nyaah ka rakyat dan wibawa ka sasama. Nilai itu berupa petunjuk hidup, tuntunan yang harus dilakukan, kewajiban moral yang harus dipatuhi, pedoman perilaku, wasiat karuhun yang harus dipatuhi.

Kearifan lokal yang ke Tiga yaitu; Dalam sejarah kerajaan Galuh Padjadjaran dikenal ada Nilai kepemimpinan yang disebut Tritangtu di buana tiga level pemimpin yaitu; PRABU, RAMA, dan RESI. Masing-masing memiliki tugas dan kewenangan yang berbeda. Level yang paling bawah adalah PRABU; prinsipnya; ngagurat batu yaitu pemimpin terdepan yang memiliki prinsip dan aturan yang tegas dan keras seperti batu, pengkuh, kukuh dalam menetapkan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Level kedua RAMA; prinsipnya ngagurat lemah (taneuh); lemah atau taneuh lebih lunak dari pada batu, Pada guratan tanah ada bekas yang agak dalam dan lebar lebih dari guratan batu. Level ini lebih atas dari kepemimpinan Prabu sifatnya; adil dan bijaksana landung kandungan laer aisan; leuleus jeujeur liat tali. Taneuh memberi dasar untuk kehidupan bagi masyarakatnya. Level yang ke tiga adalah RESI lebih atas dari Rama, prinsipnya ngagurat cai; Cai leuwih lunak ketimbang taneuh, bekasnya lebih besar dan lebih dalam tetapi mudah Sima, mudah kembali ke asal seperti tidak terjadi apa-apa. Sifat air yang dingin dan damai, dapat digunakan untuk menyiram amarah, memberi minum kepada yang dahaga,  membangunkan o…

“paparnya. (ADE BACHTIAR ALIF)*

Comment

News Feed