by

Cara Mengajar Efektif Di Masa Pandemi: Penerapan Siklus Belajar Gagne Pada PJJ Moda Daring

Oleh: Yanti Warlina, S.Pd. (SDN Babakankadu Kota Tasikmalaya)

MUNCULNYA wabah Covid-19 di Indonesia pada awal bulan Maret 2020 kemarin, menyebabkan banyak terjadi perubahan pada sistem pendidikan, tanpa terkecuali gaya mengajar. Guru dituntut untuk dapat berinovasi dalam mendesain proses belajar mengajar yang disesuaikan dengan keadaan saat ini, dimana orang-orang harus saling menjaga jarak guna mencegah penyebaran virus Covid-19 sehingga ditutuplah sekolah dan pembelajaran dialihkan ke rumah (learn frome home) atau yang lebih dikenal dengan istilah Pembelajaran Jarak Jauh (Distance Learning).

Para ahli pendidikan berupaya untuk memberikan sumbangsih ide mengenai alternatif pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan pada PJJ. Beberapa pendekatan pembelajaran pada status zona wilayah yang terjangkit covid-19 pun dikaji. Zona hijau artinya di kawasan tersebut tidak ada kasus Covid-19 namun harus tetap mematuhi protokol kesehatan, zona kuning artinya sudah terdapat kasus Covid-19 namun masih bisa dikendalikan, zona merah artinya di kawasan tersebut terdapat banyak kasus covid-19 dan susah untuk dikendalikan. Sedangkan zona hitam adalah kawasan yang kasus Covid-19 sudah tidak terkendali dan meningkat drastic.

Berdasarkan status kawasan terhadap kasus Covid-19 tersebut, maka perlu diperhatikan pendekatan pembelajaran yang akan diterapkan karena jika salah menerapkan maka penyebaran virus Covid-19 tidak bisa terlaksana dengan baik. Berikut uraian beberapa pendekatan pembelajaran didasarkan pada status kawasan pesebaran Covid-19:

Pertama, metode pembelajaran Project Based Learning (PBL). Metode ini dapat diterapkan di sekolah yang berada di zona kuning atau hijau. Dengan menggunakan metode ini, peserta didik dapat melatih kolaborasi, gotong royong dan empati dengan sesama. Walau pun dalam praktiknya berkelompok untuk menyelesaikan suatu projek, guru harus memperhatikan betul protokol kesehatan peserta didik.

Kedua, metode luring (luring method) yang dapat diterapkan di zona kuning atau hijau dengan tetap mematuhi protokol kesehatan untuk tindakan preventif covid-19. Metode ini memungkinkan peserta didik belajar tatp muka dengan sistem bergantian (shiting).

Ketiga, metode kunjungan (home visit). Metode ini dapat diterapkan bagi peserta didik yang berada di kawasan kuning atau hijau. Pada metode ini guru yang mendatangi peserta didik untuk menyampaikan materi.

Keempat, metode daring (daring method) untuk diterapkan bagi peserta didik yang berada di kawasan zona oranye, zona merah dan zona hitam. Pada metode ini peserta didik memanfaatkan internet untuk terhubung dengan guru dan tugas-tugas sekolah.

Kelima, metode campuran (Blended Learning). Metode ini dapat menjadi alternatif belajar yang berada di kawasan zona oranye, merah dan hitam karena menggunakan sistem daring sekaligus tatap muka melalui video conference. Jadi, pada sistem ini guru dan peserta didik dapat bertemu dan berinteraksi satu sama lain walaupun sedang melakukan pembelajaran jarak jauh.

Pendekatan metode pembelajaran masa pandemic tersebut bersifat opsional. Guru dapat menyesuaikan dengan kondisi wilayah dan bahkan dapat memodifikasi pendekatan pembelajaran masa pandemi agar lebih efektif di lapangan.

Menurut Robert Mills Gagne, seorang Psikolog Pendidikan, pendekatan pembelajaran apapun yang akan diterapkan, hal yang harus diperhatikan oleh guru adalah memastikan peserta didik mengalami peristiwa belajar (instructional events). Dalam hal ini, proses belajar peserta didik penting diperhatikan, karena dengan keadaan darurat seperti ini, biasanya yang menjadi esensi selalu terabaikan. Adapun peristiwa belajar yang dimaksud dirumuskan pada tahapan-tahapan berikut:

  1. Dapatkan Perhatian (Gain Attention)

Pada tahap ini, guru hendaknya dapat menarik perhatian peserta didik. Hal yang dapat dilakukan misalnya memberikan ice breaking di awal, atau memberikan cerita yang mampu memancing pertanyaan atau memberikan pertanyaan yang mengejutkan. Hal yang dapat dilakukan misalnya memberikan permainan tebak gambar yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan, supaya peserta didik penasaran.

  1. Sampaikan Tujuan Pembelajaran (Inform Learner of Objectives)

Pada tahap kedua, guru wajib menyampaikan tujuan pembelajaran kepada para peserta didik sampai mereka mengetahui alasan kenapa mereka harus mempelajari hal tersebut. Oleh karena itu, sebisa mungkin guru harus mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan bagaimana aplikasinya dalam dunia nyata. Hal ini menjadi motivasi internal bagi peserta didik untuk mempelajari materi dengan sungguh-sungguh karena mereka telah mengetahui betapa pentingnya materi yang mereka akan pelajari.

  1. Mengingat Kembali (Stimulate Recall of Prior Learner)

Sebelum memulai kegiatan pembelajaran, guru memfasilitasi kepada peserta didik untuk mengingat kembali materi dan keterampilan yang telah dipelajari sebelumnya agar materi dan keterampilan tersebut dapat berbekas dan masuk kek memori jangka panjang (long term memory) peserta didik. Setelah itu, guru juga memberikan penjelasan materi dan keterampilan apa yang akan dipelajari saat ini. Pertanyaan yang bisa diajukan misalnya: “Anak-anak, coba kalian ingat kembali, kemarin kita sudah belajar apa saja ya?”. Dengan begitu akan terjadi pengulangan yang dapat menguatkan ingatan peserta didik.

  1. Menyampaikan Materi (Present Stimulus Material)

Kegiatan inti ini adalah kegiatan yang memerlukan skill menyampaikan yang baik. Materi dapat disampaikan dengan segala media dan metode. Konten materi dalam pembelajaran daring dapat disampaikan dalam bentuk video (baik yang dibuat sendiri maupun memanfaatkan video dari Youtube), suara (podcast), slide presentasi, infografik dan lain sebagainya. Hal yang harus diperhatikan dalam tahap ini adalah penyusunan konten materi. Konten harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang disampaikan di awal. Guru dapat menyusun satu konten materi untuk 1 tujuan pembelajaran 1 dan seterusnya. Hal ini agar peserta didik fokus untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan tertentu sebelum lanjut ke tujuan pembelajaran selanjutnya. Beberapa tips yang dapat diikuti pada penerapan tahap ini dalam moda daring: a) jaga suasana kelas virtual agar tetap menyenangkan; b) kirim referensi rendah kuota; c) gunakan materi visual untuk menjelaskan materi; d) strategi koreksi: ulang, tanya, beri contoh; e) beri apresiasi, termasuk saat peserta didik menjawab salah; f) tengat waktu pengumpulan tugas jelas; g) buat kesepakatan tata tertib.

  1. Berikan Panduan Belajar (Provide Learner Guidance)

Pada tahap ini, guru dapat memberikan beberapa petunjuk atau clue berbentuk peta konsep, mnemonic, visualisasi, analogi, studi kasus, example and non example (contoh dan bukan contoh) dan lain-lain. Hal ini dilakukan untuk mempermudah peserta didik memahami materi dan menghindari ambiguitas serta miskonsepsi terutama dalam materi yang dianggap sulit.

  1. Memperoleh Penampilan (Elicit Performance)

Pada tahap ini, guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan bahwa mereka sudah dapat menerapkan pengetahuan dan juga keterampilan yang sudah dipelajari. Contohnya adalah memberikan tugas kepada peserta didik untuk menjelaskan kembali apa yang sudah diketahui, mempraktikkan apa yang sudah dilatihkan dan memberikan pertanyaan-pertanyaan penerapan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari dalam konteks kehidupan peserta didik.

  1. Memberikan Umpan Balik (Provide Feedback)

Tugas yang dikumpulkan oleh peserta didik kepada guru sebaiknya cepat diberi feedback, jangan sampai tugas hanya dikumpulkan saja dan peserta didik menganggap sudah selesai. Memberikan feed-back (umpan balik) sangat berguna bagi peserta didik untuk mengevaluasi dirinya sendiri atas kekurangan dirinya dalam mengerjakan tugas. Jika tidak diberi feedback, maka peserta didik akan menganggap dirinya sudah tuntas dan sempurna dalam megerjakan tugas, padahal tidak sedikit yang masih harus diperbaiki dan diperdalam tingkat pemahamannya tentang materi yang disampaikan. Pemberian feed-back ini sangat berpengaruh pada karakter internal peserta didik di masa depan.

  1. Menilai Kinerja (Assess Performance)

Pada tahap ini, guru dapat mengadakan pre-test untuk mengetahui penguasaan materi sebelumnya, post-test untuk mengetahui penguasaan konten atau keterampilan yang dipelajari, atau memberi pertanyaan secara oral/ kuis sederhana di pertengahan penyampaian materi.  Pada asesmen dalam pembelajaran daring ini, guru dapat memanfaatkan platform digital yang menyediakan fitur kuis seperti Google Form Quiz, Quizizz, Oodlu, Educandu dan lain-lain.

  1. Meningkatkan Daya Ingat dan Penyampaian Pengetahuan (Enchane Retention and Transfer)

Pada tahap terakhir, guru mengadakan pengayaan dan pengulangan melalui latihan berkali-kali dalam menerapkan prinsip yang dipelajari dalam konteks yang berbeda sampai pemahaman peserta didik tentang suatu materi benar-benar kokoh dan terinternalisasi dalam dirinya.

Siklus belajar (learning cycle) yang dicetuskan oleh Gagne di atas dalam pembelajaran konvensional sebenarnya hampir sama dengan siklus belajar dalam moda daring (online). Namun, perbedaannya adalah dalam siklus belajar Gagne dalam moda daring dilakukan dengan mekanisme digital baik dengan teknologi tingkat tinggi (high tech) atau teknologi tingkat rendah (low tech), hasil yang diharapkan tentu tetap tinggi (high impact) sehingga terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan agar siklus belajar ini dapat terlaksana dengan baik.

Sesibuk apapun seorang guru, kewajiban tetaplah kewajiban. Kewajiban pertama seorang guru adalah mengondisikan anak untuk belajar. Oleh karena itu, hal-hal yang berhubungan dengan belajar peserta didik perlu diusahakan dengan maksimal. Penting sekali bagi guru untuk meng-upgrade skil dan pengetahuan dalam mengajar sehingga pembelajaran tetap efektif walau dalam masa darurat seperti [email protected]@@

Comment

News Feed