by

Inovatif, Guru di Kepulauan Meranti Ciptakan Soal Ujian Gunakan Scan Barcode

Meranti , LINTAS PENA

Penerapan teknologi pendidikan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas sudah dilakukan di sekolah di daerah yang berbatasan dengan Negara Malaysia.

Inovasi ditengah keterbatasan dengan menciptakan media pembelajaran digitalisasi menggunakan smartphone itu diciptakan oleh seorang guru bernama Syaiful yang mengajar di salah satu Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Tasik Putripuyu, Kepulauan Meranti, tepatnya SDN 14 Bandul.

Walaupun berada di sekolah yang aksesnya jauh dari pusat ibukota kabupaten, namun tidak mematahkan semangatnya untuk berinovasi.

Ide kreatif itu muncul berawal dari tidak terpakainya perangkat smartphone tablet bantuan pusat melalui dana BOS Afirmasi.

“Berawal dari melihat tablet bantuan pusat yang tidak terpakai menjadikan ide saya untuk membuat sesuatu inovasi digital yang saya anggap mampu diterapkan di sekolah untuk mendukung tercapainya pembelajaran yang menyenangkan,” kata Syaiful.

Dikatakan, di era seperti saat ini sebagai seorang guru dituntut bisa memanfaatkan digitalisasi untuk diinovasikan pada pembelajaran. Dimana guru dituntut berpikir kreatif demi menciptakan pembelajaran asyik bagi kaum milenial.

“Dengan sedikit ilmu di bidang IT, saya mencoba memanfaatkan gawai tablet yang ada untuk digunakan bagi anak dalam pembelajaran, akhirnya dengan usaha dari membaca di google dan mencari referensi di youtube, saya coba melaksanakan ujian di kelas dengan memanfaatkan google form yang dijadikan kuis. Akan tetapi saya terkendala pada pendistribusian link kepada anak didik, karena anak harus mempunyai akun google sebagai penerima email dan ataupun WhatsApp,” ujarnya.

Inovasi yang dikembangkan tidak hanya sampai disitu, Syaiful terus mengembangkan aplikasi tersebut sehingga dengan mudah bisa digunakan oleh siswa.

“Usaha tidak berhenti sampai disitu, saya kemudian mempelajari lagi di google dengan mencoba pemanfaatan scan kode QR dan saya coba terapkan pada pendistribusian link soal yang dikirim kepada siswa. Akhirnya dengan izin Allah itu berhasil, kode QR yang saya buat dengan menggunakan program QR Generator kemudian ditambahkan desain grafis berbentuk kartu soal, akhirnya apa yang saya angan-angankan selaku guru di daerah yang termasuk terpencil berhasil, begitu di scan soal langsung keluar dan itu telah saya coba pada ujian kelas 4 semester pertama kemarin dengan hasil yang sangat memuaskan,” ungkapnya.

Syaiful menjelaskan ada beberapa keuntungan dengan menggunakan metode pelajaran dan penerapan menggunakan barcode ini. Sehingga pelaksanaan ujian sudah secanggih seperti diluar negeri.

Diantaranya guru tidak lagi harus mem print out soal dan sekolah tidak perlu menggandakan soal dengan biaya yang besar, dengan tampilan yang menarik siswa juga lebih berkonsentrasi mengerjakan soal ujian, selain itu metode ini juga membuat siswa tidak bisa mencontek karena soal dibuat secara acak dan siswa juga merasa senang karena setelah mengerjakan soal skor atau nilai langsung ditampilkan.

Sementara itu remedial bagi siswa yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) langsung bisa di laksanakan, dan yang terakhir guru tidak perlu mengoreksi secara manual karena skor atau nilai langsung terekap otomatis di drive guru.

“Meskipun sekolah kami di pelosok, Alhamdulillah pengawas SD dan Korwil Tasik Putripuyu sangat tertarik dengan inovasi yang saya buat, akhirnya mereka merencanakan untuk memberikan inovasi itu dan mengajarkannya kepada guru guru yang lain terutama yang mendapatkan bantuan tablet. Alhamdulillah juga beberapa sekolah di perbatasan ujung Kepulauan Meranti sudah menerapkan e learning dalam pelaksanaan ujian kelas 6 berbasis Form scan QR Code. Diantaranya SDN 14, 7, 1 Bandul, SDN 3 Mengkopot, SDN 11 Mengkirau, SDN 4 Mekar Delima SMP 1 dan SMP 5 Tasik Putripuyu,” kata Syaiful.

Dia juga menyadari sangat banyak kendala yang dihadapi sebagai daerah yang terletak di ujung pulau dan jauh dari akses ibukota.

“Saya juga menyadari sangat banyak kendala yang akan di hadapi daerah terutama seperti di daerah saya, baik sarana prasarana ataupun seperti jaringan internet, tapi minimal dengan usaha yang sudah saya coba minimal ini adalah suatu usaha di daerah sulit yang menjadikan tantangan bagi saya untuk berusaha berinovasi dalam menyampaikan ilmu ke anak didik, tentunya saya sangat mengucapkan terimakasih kepada pemerintah dan dinas setempat sudah memfasilitasi kami dengan bantuan bos afirmasi berbentuk tablet, meskipun belum semua sekolah tapi kami sangat terbantu untuk membuat anak-anak kita generasi meranti tersenyum dalam belajar,” harapnya.

Syaiful juga berharap kepada dinas terkait dan pemerintah daerah untuk mendukung program yang telah dijalankan dan dianggap berhasil sehingga penerapan pembelajaran mengikuti perkembangan zaman.

“Saya sangat berharap kepada dinas pendidikan dan tentunya bupati mendukung program yang saya coba terapkan ini. Mudah-mudahan pelaksanaan pembelajaran di Kepulauan Meranti sudah bisa menyesuaikan dengan digitalisasi dan akhirnya Meranti bisa membuktikan dengan daerah lain bahwa kita bisa menerapkan pembelajaran digital sesuai perkembangan zaman seperti yang di harapkan oleh Nadiem Makarim menteri pendidikan kita,” ujarnya lagi.

Kepada pemerintah pusat, sang guru juga berharap penyebarluasan jaringan internet juga sampai pada wilayah terdepan, terluar dan tertinggal. Dengan demikian akan muncul guru dan siswa yang terampil, berkualitas karakter dan berkualitas pengetahuan, serta, bisa berinovasi dalam mengintegasikan teknologi ke dalam pembelajaran meskipun berada di wilayah pelosok.

“Untuk pemerintah pusat kami juga berharap Kominfo sebaiknya jangan sibuk memikirkan rencana tentang perubahan transformasi digital seperti perubahan kualitas jaringan internet dari 4G ke 5G tetapi melakukan aksi nyata atau implementasi. Dimana guru-guru di pelosok harus dipastikan merdeka belajar, dan merdeka mengajar, serta, harus merdeka dari koneksi internet,” pungkasnya. (PONIATUN)

 

 

 

Comment

News Feed