by

Anton Charliyan: “Bom Bunuh Diri, Bukan Jihad…..!!!”

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono dalam keterangan Persnya Senin 29/3/2021, menyatakan bom bunuh diri di Katedral Gereja Makassar kemarin adalah pasangan suami istri yg baru menikah 6 bulan : ” Betul pelaku pasangan suami istri baru menikah 6 bulan. Pelaku merupakan bagian dari kelompok JAD yg pernah melakukan pengeboman di Jolo Filifina “.

Jamaah Ansharut Daulah ( JAD ) didirikan oleh Aman Abdurrahman pada tahun 2014. JAD berafiliasi dgn ISIS. JAD sendiri akan tegas menolak jika mereka disebut kelompok teroris, mereka dengsn tegas menyatakan bahwa kelompok merekalah yang paling benar berjuang untuk mendirikan negara agama seperti yang diperintahkan Allah. Mereka menyatakan bom bunuh diri   yang   mereka lakukan adalah jihad untuk membunuh orang orang kafir dan itu direstui Allah dlm perjuangan mereka dan jika mereka mati maka mati syahid dijalan Allah, ” Pengantin bom bunuh diri ” adalah jihad dan jika mereka mati maka mereka telah berjihad, hidup mulia, mati syahid, langsung masuk surga.

Mantan Kapolda Jawa Barat Irjen Pol (Pur) Dr.H.Anton Charliyan , yang juga sesepuh Paguyuban Mujahid Anti Kekerasan Arrahman Arrahim ini menegaskan, bahwa  bom bunuh diri bukan jihad, “Jelas, itu adalah ideologi sesat, tafsir sesat oleh kelompok kelompok teroris yang mencita-citakan mendirikan negara islam/khilafah dengan syariat Islam. Halalkan banjir darah karena diluar kelompok mereka semuanya kafir. Mereka bilang negara Indonesia itu Thogut, kafir, demokrasi itu kafir.”jelasnya

, Abah Anton panggilan akrab Anton Charliyan mengatakan, semua itu karena salah belajar agama, salah ngaji, salah masuk ormas agama, karena kebodohan bersedia otaknya dicuci, menjadi budak doktrin, menjadi budak dogma dan pemahaman sesatpun diyakininya yang paling benar bahwa dengan menjadi teroris, dengan membunuh orang kafir meskipun sesama islam maka itulah jihad, hidup mulia dan mati syahid langsung masuk surga.

Kelompok teroris telah memelintir arti perkataan Jihad, kelompok teroris ini mengartikan perkataan jihad dengan ” Perang Suci ” ( Holy War ), mengangkat senjata berperang kepada setiap orang yang dianggap kafir.

Menurutnya, selama ini dikalangan kelompok radikal/teroris kata jihad digunakan untuk melegitimasi perjuangan atas nama agama, mereka mengklaim jihad sebagai ” Perang Suci ” sebagai upaya untuk membela agama, sebagai upaya mendirikan negara agama/khilafah yg diperintahkan Tuhan yang hukumnya wajib, negara agama/khilafah berdasarkan hukum syariah adalah wajib, sedangkan demokrasi adalah hukumnya haram, Polisi adalah thogut dan harus dibunuh, lagu Indonesia Raya haram, Garuda adalah berhala, adapun kematian dalam perang suci tsb dianggap sebagai kematian dijalan Tuhan atau mati syahid, atas nama Tuhan dan kesucian itu para teroris ini boleh membunuh orang lain yang dianggap kafir, yg menghalangi tujuan mereka, para teroris ini dgn boleh membunuh dirinya sendiri dan orang lain dgn bom bunuh diri, mereka mengklaim itu adalah jihad, hidup mulia, mati syahid dan langsung masuk surga.

Seperti bom Gereja di Surabaya tahun 2018 yang dilakukan oleh satu keluarga yang terdiri dari suami, istri dan 4 anaknya, mereka itu dari kelompok JAD juga, mereka berpaham sesat bahwa mereka telah berjihad dgn membom tempat ibadah orang kafir dan mereka sekeluarga akan langsung masuk surga, dgn berjihad seperti itu hidup mereka mulia dan matinya syahid dan itulah yang diperintahkan Tuhan.

Bom bunuh diri bukan jihad, pembunuhan atas nama agama bukan jihad, itu semua adalah ideologi sesat, itu semua tafsir sesat.

“Bom bunuh diri bukan jihad, itu ideologi dan tafsir sesat oleh manusia manusia super jahat yang sudah melebihi iblis.”katanya

Kita tidak bisa menyalahkan jika banyak masyarakat barat mengasosiasikan jihad dengan ekstremisme, radikalisme dan terorisme. Meskipun sudah banyak umat islam berupaya memberikan penjelasan yang benar tentang kata jihad, tetapi masih banyak masyarakat barat yang tetap menganggap jihad dalam islam adalah ajaran tentang kekerasan, terorisme dan ini semua adalah berkat jasa besar dari kelompok : Al Qaeda, ISIS, Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, Taliban, Boko Haram, Al Shabaab, Al Nusra, JAD, JAT, JI dan sejenisnya.

Ayat ayat perang yang keras di dalam Al Qur’an mereka plintir untuk mencuci otak para pengikutnya , padahal ayat ayat perang yang keras tsb harus kita pahami dgn bijak dan sesuai konteks pada saat kejadian tsb dan bukannya sembarangan mempergunakan ayat ayat perang tsb demi kepentingan kelompok teroris mereka.

“Yang lebih tepat sekarang ini kita sedang berperang dengan kemiskinan dan kebodohan, dengan radikalisme dan terorisme, dengan koruptor, dengan narkoba, dengan ketertinggalan dibidang ekonomi dan IPTEK, dengan hoax dan fitnah, dengan tukang provokasi, adu domba untuk memecah belah, dengan nafsu negatif, dengan pendemo bayaran srigala berjubah agama, politikus politikus busuk, dll. Dan bukannya berperang dgn saudara saudara kita yang beda pemahaman agama, dengan  saudara2 kita yang lain agama/beda agama.

Anton Charliyan mengatakan, secara bahasa Jihad berasal dari kata Jahada yang artinya : Mengerahkan upaya, berusaha dengan sungguh sungguh dan berjuang keras.

Didalam bahasa Arab, tidak ada kata yang memiliki istilah yang benar benar cocok untuk menunjukan Jihad sebagai perang suci, kata perang sendiri dalam bahasa Arab adalah

” Harb “, sedangkan kata suci adalah” Muqqoddas “.

Anton Charliyan menegaskan, bahwa radikalisme di kalangan umat beragama itu berawal dari kebencian yg ditanamkan secara terus-menerus oleh para pendoktrinnya. Setelah menjadi radikal maka terorisme adalah cara atau metode yang digunakan dlm mencapai tujuannya.

“Sayangnya aparat keamanan hanya menindak terorisnya saja. Sementara para pendoktrin atau mastermindnya macem moonar-men atau felix siauw yang telah membuat orang orang menjadi radikal dibiarkan bebas bergerak sehinggakerja keras dari Densus 88 seperti sia sia, karena selama pendoktrin radikalismenya tidak ditindak, Jadi ,walaupun100 teroris ditangkap, akan muncul 1000 teroris baru.Ini yang patut kita waspadai,”pungkasnya. (001)***

Comment

News Feed