by

Jason Tjakrawinata Si Penganiaya Perawat RS Siloam Sriwijaya Palembang Akhirnya Ditahan Polisi

Jakarta,LINTAS PENA

Pada hari Jum’at (16/04/2021) di medos sempat viral video penganiayaan seorang pria terhadap seorang perawat di RS Siloam Sriwijaya Palembang dan mendapat kecaman dari warganet yang menyaksikan video tersebut, terutama dari kalangan pewawat dan khususnya yang tergabung dalam wadah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).

Setelah mendapat laporan dari korban, Polrestabes Palembang bergerak cepat dengan mencari keberadaan pelaku bernama Jason Tjakrawinata alias JS (38) pengusaha suku cadang mobil dan motor di Kayuagung, Ogan Komering ilir (OKI).  Pria yang menganiaya perawat di RS Siloam Sriwijaya Palembang itu akhirnya diamankan polisi pada Jumat (16/4/2021) malam.

Jason Tjakrawinata alias JT (38) ditetapkan jadi tersangka kasus penganiayaan perawat  RS Siloam Sriwijaya, Palembang, Christina Ramauli Simatupang (28). Dia juga ditahan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Kapolda Sumsel Irjen Eko Indra Heri kepada wartawan membenarkan adanya kasus penganiayaan tersebut yang sempat viral di medsos”Saat ini yang bersangkutan sudah ditahan di Polrestabes Palembang,”jelasnya

 

Kapolda Sumsel menjelaskan, bahwa Jason Tjakrawinata dijerat Pasal 351 KUHPidana dengan ancaman hukuman 2 tahun 8 bulan penjara karena menganiaya perawar RS Siloam   Selain itu, Jason dijerat pasal perusakan karena merusak ponsel milik perawat inisial AR yang pada saat kejadian merekam aksi keributan tersebut.

Kapolda Irjen Eko menyebut Jason seorang wiraswasta. Jason diketahui merupakan pengusaha suku cadang mobil dan motor di Kayuagung, Ogan Komering ilir (OKI). Dia sebelumnya mengakui perbuatannya dan meminta maaf. Dia mengaku menganiaya   tersebut karena emosi sesaat.

“Mendengar anak saya menangis pada saat hendak pulang dari RS Siloam, saya emosional hingga nekat mendatangi perawat tersebut di RS tersebut,” kata Jason di Mapolrestabes Palembang, Sabtu (17/4/2021).

“Anak saya sudah empat hari dirawat di sana dan saya harus bolak-balik untuk menjenguknya. Mendengar infus anak saya dilepas hingga anak saya menangis, saya tidak terima,” tuturnya.

Sambil menundukkan kepala dengan terbata-bata, Jason menyesali perbuatannya. Dia meminta maaf kepada korban dan pihak RS Siloam.”Saya emosi sesaat dan saya menyesali perbuatan saya. Saya benar-benar minta maaf kepada korban dan pihak RS Siloam,” jelasnya.

JT ditangkap polisi setelah menganiaya seorang perawat RS Siloam pada Kamis (15/4/2021) sekitar pukul 13. 40 WIB. Polisi telah menetapkannya sebagai tersangka atas kasus penganiayaan. JT ditetapakan tersangka seteleh polisi mengantongi keterangan sejumlah pihak dan barang bukti yakni rekaman Closed Circuit Televisions (CCTV).

“Hasil pemeriksaan tersangka sudah mengakui seluruh perbuatannya,” kata Kombes Pol Irvan Prawira Satyaputra Kapolrestabes Palembang saat gelar perkara di Mapolrestabes Palembang, Sabtu (17/4/2021) pagi.

Atas perbuatannya, pelaku disangkakan Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan. “Tersangka diancam penjara selama dua tahun. Hasil pemeriksaan tersangka sudah mengakui seluruh perbuatannya,” tegasnya.
Sementara itu, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) juga turut mendampingi kasus penganiayaan yang dialami perawat  bernama Christina Ramauli Simatupang itu.

Saat mengetahui adanya kasus penganiayaan terhadap korban, DPW PPNI Sumsel dan Komite Keperawatan RS Siloam Sriwijaya Palembang langsung melakukan investigasi kinerja korban sebelum penganiayaan.

“Setelah dilakukan investigasi, korban sudah bekerja sesuai Standar Prosedur Operasional (SPO),” ujar Subhan Haikal  Ketua DPW PPNI Sumsel kepada Liputan6.com, Minggu, 18 April 2021.

Dia pun menjelaskan tentang penanganan pencabutan selang infus dari pasien, yang sudah dilakukan korban sesuai SPO.Menurutnya, tindakan pemasangan infus di tangan pasien, yaitu memasukkan selang berukuran kecil ke dalam pembuluh darah balik atau vena.”Ketika terpasang, jarumnya tidak ada lagi (di pembuluh vena). Yang ada tinggal selang kecil. Ketika dicabut dan ditekan, harus segera diplester. Untuk memastikan tidak terjadi lagi pendarahan,” kata Subhan.

Setelah plester di bekas pemasangan selang dipasang, lanjut Subhan, pasien tidak boleh bergerak. Namun karena pasien adalah anak-anak, pascaselang infus dilepas, pasien tersebut bergerak dan digendong oleh orangtuanya.”Ketika dia bergerak, ada tekanan dari pembuluh vena. Ketika tertekuk, plester jadi longgar dan terjadi pendarahan. Tapi korban sudah bekerja sesuai SPO,” papar Subhan.

Apapun yang terjadi, Subhan menyayangkan adanya kekerasan terlebih penganiayaan yang dilakukan orangtua pasien. Jika merasa dirugikan atau tidak puas, Subhan menilai jika bisa orangtua pasien bisa melayangkan komplain ke pihak rumah sakit.”Bisa juga melapor polisi atau ke Ombudsman, jika merasa dirugikan atau tidak puas dengan pelayanan itu. Tidak boleh melakukan kekerasan, apalagi penganiayaan,” kata Subhan.

PPNI  Sumatera Selatan mengkampanyekan aksi pita hitam sebagai simbol penolakan kekerasan terhadap perawat Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang Christina Ramauli (28). Kasus ini menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk peduli sesama.

Ketua DPW PPNI Sumsel Subhan Haikal mengungkapkan, aksi solidaritas pita hitam juga berlaku secara nasional sebagai perjuangan menolak kekerasan terhadap tenaga kesehatan. Hal ini juga sebagai seruan damai bagi teman sejawat di Indonesia.”Kami kampanyekan aksi solidaritas pita hitam, tak hanya di Sumsel, tapi se-Indonesia,” ungkap Subhan, Sabtu (17/4).

Menurut dia, kampanye tersebut terus berlangsung hingga tersangka menerima hukuman setimpal. Aksi itu juga sebagai dukungan kepada penegak hukum untuk berlaku adil dan profesional.”Kampanye damai ini tidak akan selesai sampai tersangka mendapat hukuman sesuai undang-undang. Sementara aksi turun ke jalan tidak dilakukan karena kami nilai kasusnya on the track,” ujarnya.

Menurut dia, pengorbanan perawat dalam menjalankan tugas bukan berharap mendapat pujian. Itu sudah menjadi sebuah kewajiban sebagai tenaga kesehatan.”Di saat pandemi seperti ini kami berjuang di garda terdepan, tapi kekerasan malah terjadi. Kami bukan minta dipuji atau meminta imbalan untuk profesi ini tetapi setidak-tidaknya hargai profesi kami,” tegasnya.

Dikatakan, kasus kekerasan terhadap tenaga kesehatan bisa saja masih terjadi jika tidak ada tindakan tegas dari penegak hukum dan kesadaran masyarakat. Pelaku dapat diberikan sanksi yang adil agar berdampak efek jera bagi yang lainnya.”Kami minta kejadian ini tidak terulang lagi kepada dan oleh siapapun. Kami bekerja sesuai SOP demi semua orang,” pungkasnya

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Pusat menegaskan akan meneruskan proses hukum terhadp pelaku penganiayaan perawat atau tenaga kesehatan di Rumah Sakit Siloam Sriwijaya, Palembang, yang terjadi pada Kamis (15/4/2021).

Dalam keterangan resmi yang ditandatangani Ketua Umum PPNI Harif Fadhillah dan diunggah di akun Instagram resmi organisasi tersebut, Jumat (16/4/2021) malam, PPNI menegaskan menyesalkan peristiwa tersebut. Dia menyatakan pihaknya mengambil langah hukum terhadap pelaku. “Atas peristiwa tersebut, Ketua Umum DPP PPNI atas nama seluruh perawat Indonesia mengutuk keras kepada pelaku tindak kekerasan dan memerintahkan DPW PPNI Sumatera Selatan DPD PPNI kota Palembang DPK PPNI RS Siloam Sriwijaya bidang hukum dan pemberdayaan politik DPP PPNI dan badan bantuan hukum PPNI untuk melakukan langkah-langkah hukum terhadap pelaku kekerasan bersama pihak RS Siloam Sriwijaya Palembang,” demikian tertulis pada keterangan resmi yang diunggah ke Instgram resmi DPP PPNI.

PPNI menegaskan bahwa tindak kekerasan terhadap perawat yang sedang menjalankan tugas profesinya merupakan ancaman terhadap keamanan di tempat kerja dan sistem pelayanan kesehatan. “Kekerasan ini juga sangat dikecam komunitas perawat seluruh dunia,” demikian tertulis rilis tersebut.

Dalam keterangan unggahan di Instagram, PPNI menyatakan bahwa pihaknya sudah menemui Christina Ramauli (28 tahun), perawat yang menjadi korban dalam tindak kekerasan tersebut, dan juga pimpinan RS Siloam. “Kita sepakat bahwa kasus ini akan diteruskan sampai pelaku menerima sangsi [red. sanksi] hukuman sesuai dgn Undang undang. Kami juga sudah bertemu dengan Pihak Polrestabes Palembang, beliau berkomitmen akan mengusut kasus ini dengan Tuntas…Jadi harap bersabar, semoga Pelaku segera dapat ganjaran yg setimpal,” demikian tertulis pada keterangah unggahan itu.

Seperti diketahui, aksi penganiayaan terjadi kepada perawat yang sedang menjalankan tugas terjadi di RS Siloam Sriwiaya, Palembang, Kamis (15/4/2021) sekitar pukul 13.40 WIB. Christina dianiaya oleh anggota keluarga pasien yang diduga terjadi melalui pukulan, tendangan dan jambakan oleh pelaku.(001)***

Comment

News Feed