by

Penggalian Parit Bersumber Dari Dana Desa Dengan Pola PKTD di RT 01 RW 08 Desa Diduga Langgar Permendes No.13 Tahun 2020

Bengkalis..LINTAS PENA

Parit berfungsi untuk saluran air.Saluran air dapat juga difungsikan sebagai drainase untuk mengalirkan air yang tergenang dari elevasi permukaan yang lebih rendah, seperti didaerah permukiman masyarakat.Saluran air didaerah permukiman salah satunya berfungsi untuk mencegah terjadinya banjir pada waktu hujan.

Pada gari Rabu (28 April 2021) wartawan LINTAS PENA konfirmasi dengan salah seorang warga yang ikut bekerja menggali parit di RT 01 RW 08 Desa Pematang Obo. Mereka mengerjakannya berjumlah 4   orang dan menerima upah Rp 25.000/m   dengan ketentuan lebar 70cm x 70cm, sedangkan dipapan kegiatan tertera ukuran kegiatan 1m x 1m x 300m dengan total biaya Rp 26.171.400,-

“Khusus upah untuk membobol jalan aspal, karena penggalian parit melintasi jalan Tegal Sari km.4 ujung, mereka memborongnya sebesar Rp 1.500.000,-/ ± 5m. Seiring penggalian parit, jalan aspal yang dibobol akan dibangun box culver ukuran 6,5 m x 1,4 m x 1,2 m dengan biaya sebesar Rp 43.843.000,- dari sumber Dana Desa, tapi polanya tidak tertera di papan kegiatan.”ujarnya

Ini sudah melanggar ketentuan dari Permendes No. 13 Tahun 2020 yang seharusnya mereka terima di atas Rp 43.000/m mengikut ketentuan 50% dari total anggaran satu kegiatan,  upah harus dibayarkan setiap hari kepada pekerja dan itupun tidak diperbolehkan dengan sistem borongan.

LINTAS PENA menghubungi TPK kegiatan penggalian parit melalui telepon selulernya di no.081275xxxxxx untuk komfirmasi, karena beliau sedang bekerja didaerah desa lain,   ia mengatakan ” Nantilah sore hari saya turun ke lapangan”, lalu ia bertanya, “Apakah pekerjaan penggalian parit sudah dimulai?”

Aneh tapi nyata memang, seorang TPK tidak mengetahui apakah kegiatan telah dimulai atau belum, sejauh mana tanggung jawab seorang TPK, Karena dimasa pandemi covid-19 ini, menurut Permen No. 13 Thn 2020 para pekerja harus mematuhi protokol kesehatan yaitu memakai masker dan menjaga jarak minimal 2 meter.

Sore hari dihari yang sama, LINTAS PENA mendapat telepon dari nomor TPK, tapi anehnya yang berbicara adalah Kepala Desa Pematang Obo dan ia menyebutkan bahwa upah yang desa berikan kepada pekerja adalah sebesar Rp 50.000/m.

            Kades dengan nada agak keras, “Kalau ingin turun ke  lapangan komfirmasi dululah keDesa, kalau memang kurang senang laporkan saja saya ke Kejaksaan,”ucapnya

Tidak lama kemudian pembicaraan terhenti karena terdengar telepon selulernya berdering dan ia langsung mengangkatnya tanpa ada kata-kata tunggu sebentar atau kata-kata yang lainnya ( ZUL )

Comment

News Feed