by

Mengenang Tradisi Nganteuran

Oleh: Helatini, S.Pd., M.Si (Kepala SDN Karangtengah  – Ketua PGRI Cabang Kawalu Kota Tasikmalaya)

SALAH satu  tradisi, kebiasaan unik yang sudah dilaksanakan turun temurun oleh masyarakat dari generasi ke generasi, adalah nganteuran menjelang lebaran.  Tradisi nganteuran sangat baik dan sarat makna, tradisi tersebut tumbuh, berkembang dan melekat kuat  menjadi suatu citra yang mencerminkan karakter masyarakat yang memiliki filosofi silih asah, silih asih, silih asuh. Nganteuran atau mengantarkan, artinya mengantarkan makanan berupa nasi berserta lauk pauk dan makanan cemilan khas daerah kepada orang-orang tertentu.

Tradisi nganteuran bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan, tali silaurahmi, tali asih  (ikatan kasih sayang) dan penghormatan kepada orang yang diberi hantaran makanan. Sebagai tanda terimakasih, orang yang menerima hantaran membalasnya dengan memberi  hantaran berupa nasi, lauk pauk dan makanan ringan buatannya sendiri. Ada pilosofi saling berbagi, dengan bertukar makanan, saling mencicipi rejeki, dan saling memberi, walaupun inti dari nganteuran bukan untuk mengharapkan balasan.

Biasanya nganteuran terlebih dahulu  kepada tetangga sekitar rumah sebelum kepada yang lainnya. Nganteuran dilakukan oleh saudara muda kepada yang lebih tua atau dituakan. Guru sekolah, guru mengaji, paraji (orang yang biasa menolong persalinan), ajengan (ustadz), tokoh masyarakat atau orang yang dipandang  berjasa terhadap kemajuan daerah, adalah orang yang mendapat kehormatan menerima hantaran makanan dari masyarakat sekitar.

Saat berkirim makanan yang paling lazim adalah satu atau dua hari menjelang lebaran. Ada juga yang berkirim makanan pada hari Raya Idul Fitri, sekalian berkunjung untuk bermaaf-maafan. Dua hari terakhir itulah menjadi moment bahagia bagi anak-anak usia tujuh sampai sebelas tahun pada zamannya. Hampir semua anak membantu orangtua untuk menjadi petugas nganteuran. Sering ketika nganteuran itu berpapasan dengan teman sebaya atau bahkan berangkat bersama jika kebetulan memiliki tujuan yang searah. Dalam keadaan puasa dan berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh tidak menyurutkan tekad anak-anak untuk mempertahankan puasanya sampai waktu berbuka tiba. Tidak ada gojek seperti sekarang, perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki dan itu membuat tubuh anak-anak yang sedang  berpuasa menjadi bugar.  

Mereka sumringah, karena setiap orang yang menerima hantaran, selalu memberi uang jajan. Uang-uang itu dikumpulkan untuk bekal merayakan hari lebaran, dan sisanya untuk membeli buku dan alat tulis. Ketika masuk sekolah setelah libur lebaran, semua peralatan sekolah baru, dan dengan bangga mereka saling memperlihatkan barang-barang baru tersebut. Selain diupah uang, mereka juga diberi makanan cemilan, kue-kue tradisional atau buah-buahan.

Bagi yang tidak mempunyai anak sebagai petugas nganteuran, maka mereka mengupah orang atau anak-anak tetangga. Ibu-ibu tetap standby di rumah kalau-kalau ada tetangga atau saudara yang memberi hantaran.

Proses menata makanan untuk nganteuran menggunakan rantang susun sebagai wadahnya. Nasi menempati urutan paling bawah. Rantang dalam susunan kedua diisi lauk, bisa berupa goreng ayam, goreng ikan air tawar tapi lebih sering ikan laut, gepuk daging sapi atau daging kerbau. Rantang dalam susunan ketiga berisi sambal goreng  tempe atau kentang, kacang kupas goreng atau kering kacang, yang terbuat dari biji kacang panjang yang sudah tua dan dikeringkan kemudian direbus, digoreng kering ditambah bumbu caramel manis pedas. Rantang susunan terakhir berisi cemilan berupa wajit ketan, tape ketan, kue kembang goyang atau kue seroja, tengteng ketan dan tumpi, semacam gorengan, tapi polos tanpa kacang atau ikan teri medan. Bisa juga disertakan buah-buahan yang sedang musim pada saat itu, tapi yang lebih lazim adalah pisang ambon atau pisang raja yang tak mengenal musim.

Menu nganteuran sebenarnya relatif, tergantung kemampuan. Tak selamanya harus dengan daging, lauk pauknya bisa juga berupa mie goreng dicampur kol dan wortel, ase cabe dan buncis, bahkan semur jengkol atau gudeg nangka. Tetapi kebanyakan ibu-ibu lebih senang menggunakan lauk pauk kering, karena bisa dibuat jauh-jauh hari. Pada saatnya nganteuran, hanya menanak nasi, membungkus lauk yang sudah tersedia,dan menatanya .

Nganteuran kepada saudara tua, biasanya menggunakan wadah yang berbeda, bukan memakai rantang susun tetapi memakai boboko tamaga, adalah wadah seperti tempat nasi terbuat dari bahan tembaga. Boboko tamaga dianggap sebagai simbol penghormatan yang tinggi terhadap orang yang menerima hantaran. Sebelum dipakai, boboko tamaga dicuci, digosok dengan menggunakan abu dari perapian dan sabut kelapa atau daun bambu yang sudah disobek kecil-kecil. Setelah mengkilap, boboko tamaga disterilkan dengan digosok menggunakan batang pohon honje (pohon kecombrang, berasa masam) yang digeprek sampai berbentuk seperti sabut kelapa. Sekarang, untuk membersihkan dan mengilapkan barang dari tembaga cukup digosok dengan menggunakan braso yang dengan mudah dapat dibeli di toko logam.

Seiring dengan perkembangan zaman, tradisi nganteuran semakin tergeser. Dalam moment akhir bulan puasa semakin sedikit orang yang melaksanakan tradisi nganteuran.  Ibu-ibu tidak lagi mood memasak karena berbagai kesibukan yang menyita waktu. Pasangan-pasangan muda yang menikah di era milenial, tidak tertarik melaksanakan tradisi nganteuran. Makanan yang melimpah dengan varian yang sama dari hasil nganteuran, sering tidak habis dimakan, menjadi basi dan dibuang.

Tradisi nganteuran digantikan dengan datangnya kebiasaan baru yang dirasa lebih praktis oleh masyarakat. Nganteuran diganti dengan memberi uang dan kue kering dalam kemasan kaleng, atau parcel lebaran beraneka ragam.  Dengan uang dirasa lebih praktis, kue kering kalengan juga lebih tahan lama dan beberapa bulan kemudian masih layak untuk dikonsumsi sebagai kakaren lebaran (makanan atau kue-kue sisa lebaran).

Hilangnya tradisi nganteuran menyebabkan silaturahmi mengalami pergeseran bentuk. Kesibukan yang tidak dapat dibendung, padatnya acara keluarga untuk traveling, untuk reunian, untuk meeting kantor, atau planning pekerjaan baru, menjadikan moment silaturahmi di hari lebaran pun semakin sempit. Waktu berkunjung kepada saudara, kerabat, tetangga dan sahabat nyaris tidak ada. Apalagi jika harus menempuh jarak yang cukup jauh. Kemacetan menjadi penghambat perjalanan, yang membuat orang berpikir beberapa kali untuk bersilaturahmi.

Media sosial menjadi pilihan, terjadilah silaturahmi zaman now, bersalaman hanya melalui media, bermaaf-maafan melalui kata kata dalam pesan whatsapp, facebook, instagram, twitter atau line. Kerinduan kepada kerabat atau sahabat yang jauh  dapat diobati dengan menelpon dan video call. Kehadiran media komunikasi sangat membantu, seakan mempersingkat jarak, tapi di sisi lain membuat terjadinya pergeseran nilai silaturahmi, membuat pertemuan hanya di dunia maya bukan nyata berhadapan dan berjabat tangan, seperti halnya bentuk silaturahmi zaman old.

Pergantian generasi, meninggalnya orang tua, menyebabkan anak-anak dan keturunannya tidak saling mengenal, orang sunda menyebutnya dengan istilah pareumeun obor (kehilangan jejak persaudaraan) Lagi lagi media sosial yang dapat mempertemukan kawan lama, kerabat jauh, dan menambah kawan. Tapi dapatkah semua itu menggantikan indahnya silaturahmi secara alami, bertemu face to face secara nyata? Dapatkah amplop berisi uang menggantikan nikmatnya berbuka puasa dengan menyantap nikmatnya hantaran dari saudara atau tetangga?

Kepraktisan, efektif, efisien, dan tak mau ribet, itulah yang menjadi acuan hidup zaman sekarang. Silaturahmi dibuat sepraktis mungkin. Hantaran makanan diganti dengan uang, moment berkunjung diwakili media sosial. Tak ada yang salah, karena tuntutan zaman mengharuskannya seperti itu. Generasi penerus, anak dari orangtua masing-masing, harus tetap menjalin silaturahmi seperti yang diamanatkan oleh Nabi Muhammad Sollaloohu Alaihi Wassalam, jika orang tua meninggal, maka bayarlah hutang-hutangnya, bersedekahlah atas nama orangtua, dan pererat silaturahmi dengan kerabat dan sahabatnya.

Nganteuran yang merupakan bagian dari bentuk silaturahmi dan cara bersedekah, sekarang tinggal kenangan. Terasa miris bagi orang-orang yang waktu kecil pernah merasakan bagaimana serunya mengirimkan hantaran dari rumah ke rumah. Bahagianya menghitung uang recehan, senangnya mengumpulkan dan mencicipi aneka kue dan lauk pauk yang berbeda rasa ketika berbuka puasa.

Wabah pandemi Covid 19, mengharuskan masyarakat untuk melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Segala aktivitas sosial dibatasi, aturan tatap muka diperketat dengan prosedur kesehatan yang ketat termasuk aktivitas kunjung mengunjungi.

Hilangnya tradisi nganteuran, wabah Covid 19, aturan PSBB,  bukan berarti hilangnya nilai silaturahmi. Masyarakat yang cerdas memiliki banyak cara yang lebih praktis, efisien, efektif, sesuai dengan tuntutan zaman, sebagai pengganti nganteuran. Silih asah, silih asih, silih asuh, tetap hidup, tumbuh, berkembang dan mengakar dalam kehidupan masyarakat.(****

Comment

News Feed