by

Standarisasi Ekonomi di Era New Normal

Oleh: ANYA PEDITHA ASHWA   (Universitas Muhammadiyah Malang Fakultas Ekonomi Dan Bisnis  Jurusan Ekonomi Pembangunan)***

MAHASISWA ekonomi yang kerap di sapa Anya mengatakan bahwa perekonomian indonesia hari ini dapat di pastikan belum mencapai pada titik kestabilan yang memberikan transformasi ekonomi yang signifikan . Indonesia merupakan negara industrial  yang memiliki kompeten dibidang perindustrian dan indonesia dikenal dengan negara agraris yang kaya akan sumber daya alam, namun hal demikian negara sebesar ini masih berorientasi pada negara asing sebagai pembuahan hutang negara.

Upaya yang dilakukan pemerintah indonesia belum tertata secara rapi dalam pengembangan ekonomi negara , ditambah lagi situasi yang sangat mencekam karena dilanda pandemic covid-19. Sehingga menjadi permasalahan dalam perekonomian indonesia baik dari segi kesehatan ,pekerjaan sehingga merebaknya wabah covid-19 perlu benar benar diatasi dengan penuh kejelian dan perlu melibatkan kalangan masyarakat dalam situasi kondisi saat ini.

Dapat kita ketahui bahwa selama adanya covid-19 ini terjadilah kalkulasi ekonomi yang masih dapat ditanggulangi dengan menggunakan suatu sistem yang di keluarkan oleh kebijakan pemerintah. Dengan cara yaitu memulihkan ekonomi masyarakat dengan kebijakan PEN (Penmulihan ekonomi nasional) serta memberikan dana UMKM kepada masyrakat agar dengan kebijakan tersbut masyarakat bisa mengatasi suatu usaha mereka dengan adanya dibantu oleh dana UMKM tersebut.

Pihak pemerintah dan Penguat ekonomi lain nya seperti bank indonesia yang menjunjung tinggi kestabilan ekonomi, serta dengan meluncurkan kebijakan seperti bansos namun perlu harus mendorong solidaritas dunia dan penanganan covid-19 untuk menginisiasi upaya agar pandemi ini tidak terganggu oleh mitra UMKM maka oleh karena itu pemerintah mengeluarkan kebijakan yaitu PEN,bansos dan dana UMKM agar kerjasama antarnegara yang telah dibangun .

Kita perlu harus mencegah atau menghindari resesi ekonomi global,melalui kebijakan fiskal dan moneter dibawah naungan bank indonesia yang terkoordinasi,serta memperluas dan memperkuat jaringan pengaman sosial terutama bagi UMKM, serta masyrakat yang secara langsung masih terdampak covid-19 sehingga membutuhkan standar kebutuhan yang mendasar atau pokok pada masa seperti sekarang ini.

Namun Dampak yang terjadi di masyarakat ketika hadirnya suatu penyakit yang ganas tersebut sangat memberikan dampak besar pada  sector ekonomi dan sosial sehingga ketika dilakukan suatu pengamatan dalam kebijakan public dan pelaku bisnis  dapat kita ketahui  yang terjadi  hadirnya penyakit ganas  bahwa dampak yang pertama yaitu semakin meningkatnya angka kelemahan suatu konsumsi rumahtangga dalam komoditas sector daya beli .

Sehingga ekonomi naik ketika dinyatakan daya belinya tinggi serta daya serapnya namun akan menciptakan regulasi dalam pasar yang sukses karena regulasi daya beli tersebut memberikan pengaruh sekitar 60% terhadap naiknya sebuah ekonomi kemudian dampak kedua menimbulkan suatu kalimat ketidakpastian dalam memperkirakan akan kapan penyakit atau wabah tersebut berakhir sehingga dalam suatu bidang investasi ikut juga melemah dan berimplikasi terhadap suatu UMKM .

Untuk dampak yang terakhir yakni semakin melemahnya ekonomi sehingga sehingga menyebabkan harga suatu komoditas rempah – rempah atau bahan sector lainnya menurun akhirnya akibat dampak tersebut mencul sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menindaklnjuti secara cepat melakukan suatu vaksinasi ,program pemulihan ekonomi nasional ,dana UMKM dan bantuan bansos .

Namun kebijakan untuk menangani suatu melemahnya daya beli sekiaranya perlu digunakan dengan benar atau dimanfatkan dengan baik dan benar selain itu untuk mengatasi dalam situasi pandemic saat ini yakni pemerintah mengeluarkan kebijakan dalam stumulus perekonomian melalui pemanfaatan teknologi dan serta pengawasan sector keuangan hingga juga pengembangan pasar modal domestic.

Tidak hanya berdampak pada perekonomian indonesia tetapi berdampak juga pada nilai tukar asing terhadap perekonomian indonesia dalam situasi pandemi serta tidak stabilnya neraca pembayaran indonesia har ini dikarenakan adanya penghambat ekspor impor diasuatu negara, hal ini berupaya melemahkan ekonomi di setiap negara sehingga perlu kebijakan kongrit dari sentral ekonomi seperti bank indonesia.

Bank Indonesia memperkuat bauran kebijakan yang diarahkan untuk tetap memastikan stabilitas perekonomian dan mendorong pemulihan ekonomi yang tertekan akibat dampak pandemi Covid-19. Dalam konteks ini, arah kebijakan Bank Indonesia diletakkan pada konsepsi adanya hubungan erat yangbersifat saling melengkapi dan saling memperkuat antara pertumbuhan dan stabilitas ekonomi, termasuk stabilitas sistem keuangan.

Pada satu sisi, respon kebijakan tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas perekonomian, khususnya stabilitas eksternal yang sempat mendapat tekanan cukup kuat akibat ketidakpastian pasar keuangan global. Kebijakan juga diarahkan untuk memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, termasuk menjaga ketahanan dan kecukupan likuiditas perbankan.

Sementara itu, inflasi menurun akibat permintaan domestik yang lemah sejalan dengan dampak menurunnya mobilitas perekonomian di periode Covid-19. Upaya menjaga stabilitas perekonomian diharapkan akan mendukung dan menjadi basis pemulihan ekonomi. Pada sisi lain, bauran kebijakan diarahkan untuk secara seimbang mendorong pertumbuhan ekonomi yang menurun tajam di periode Covid-19.

Upaya mendorong kesinambungan pertumbuhan ekonomi menjadi perhatian Bank Indonesia karena pertumbuhan ekonomi yang kuat akan dapat mendukung stabilitas perekonomian. Perbankan akan berdaya tahan dengan permodalan yang baik dan juga dibarengi dengan pertumbuhan dan kualitas kredit yang kuat. Pertumbuhan ekonomi yang baik juga akan meningkatkan persepsi positif terdapat prospek ekonomi Indonesia dan akhirnya dapat mendorong aliran masuk modal asing dan memperkuat stabilitas eksternal. (***

Comment

News Feed