by

Kondisi Permintaan dan Penawaran Komoditas Jahe di Indonesia Pada Masa Pandemi Covid-19

Penulis :

Carlos Klementino

M Rif’at Raihan

Risa Nur Hidayah

Rahmi Kamilah

Shabrina Ghaissan MF

(Mahasiswa Agribisnis, IPB University )

Kondisi pandemi covid-19 yang telah berlangsung selama satu tahun terakhir sudah menjadi sebuah isu yang tidak lepas dari sorotan pemerintah, media, dan komunitas global. Virus covid[1]19 dapat menyebabkan gejala gangguan pada pernafasan akut misalnya demam hingga diatas 38°C, sesak nafas dan batuk bagi manusia (Aswani, 2020). Berdasarkan data dari Universitas Johns Hopkins (2021) hingga kini sekitar 2.018.113 orang Indonesia telah terserang Virus Corona. Maka dari itu fokus utama pemerintah sekarang adalah menjaga agar dapat menekan penyebaran virus Corona yang semakin meningkat. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dalam menangani situasi pandemi di Indonesia diantaranya peraturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di berbagai wilayah, fasilitas laboratorium untuk tes Covid-19, tes Covid massal di berbagai daerah di Indonesia, mengampanyekan perilaku 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun), dan pemberian vaksin pada masyarakat.

Selain menaati kebijakan pemerintah, masyarakat pun melakukan upaya mandiri agar terhindar dari penularan virus Covid-19. Salah satu upayanya adalah menjaga imunitas tubuh dengan mengonsumsi makanan dan minuman bergizi. Jahe merupakan tanaman biofarmaka unggulan selain kunyit dan kapulaga (Kementan, 2021). Jahe dapat dijadikan sebagai obat herbal yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Di saat pandemi, konsumsi ramuan berbahan dasar jahe dapat menangkal virus corona sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh. Jahe memiliki potensi ekonomi di tengah kondisi pandemi ini. Oleh sebab itu akan sangat menarik untuk menganalisis mengenai perkembangan komoditas jahe di Indonesia dari sisi ekonomi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang diupdate pada Juni 2021, produksi jahe nasional mengalami penurunan pada tahun 2017-2019 dan mengalami kenaikan pada tahun 2020 namun masih cenderung stabil. Pada dua tahun sebelumnya, produksi jahe nasional bahkan mencapai 313.064,3 ton pada 2015 dan 340.341,081 ton pada 2016.

Berdasarkan informasi petugas data dan dinas pertanian provinsi pada Pembahasan Angka Sementara SPH Tanaman Biofarmaka 2020 pada Februari 2021, penurunan produksi jahe di beberapa wilayah disebabkan karena rendahnya produktivitas. Selain itu penurunan juga terjadi karena adanya alih tanam komoditas ke jenis yang lebih komersial yang berumur pendek serta terjadinya alih fungsi lahan (Kementan, 2021). Padahal, permintaan jahe akhir-akhir ini tengah melonjak karena adanya pandemi Covid-19.

Dalam mendukung produksi dan produktivitas jahe di Indonesia, mulai 2021 Kementerian Pertanian mengembangkan kawasan jahe terintegrasi dari hulu sampai hilir melalui program Kampung Tanaman Obat. Kampung ini termasuk dalam program Kampung Hortikultura secara keseluruhan. Target Kampung Jahe pada 2021 seluas 305 hektare, tersebar di 53 kampung/desa dari 47 kabupaten/kota di 22 provinsi. Pengembangan Kampung Obat ini selain dialokasikan di wilayah sentra, juga merupakan pengembangan kawasan baru dan mendukung program Grand Design Alternative Development tanaman psikotropika ke komoditas tanaman obat.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, jahe merupakan salah satu tanaman herbal yang setelah melalui riset menunjukkan bahwa khasiat dalam meningkatkan daya tahan tubuh (Chaudhury, 2015). Adanya pandemi Covid-19 menyebabkan peningkatan permintaan terhadap jahe dalam bentuk segar maupun bubuk untuk dikonsumsi dengan harapan dapat menjaga kondisi tubuh tetap dalam kondisi yang prima. Setelah adanya kebijakan pembatasan perdagangan akibat adanya pandemi ini, Indonesia mampu kembali mengekspor jahe ke beberapa negara di tahun-tahun terakhir ini.

Menurut Badan Karantina Pertanian (Barantan) (2021), Kementerian Pertanian Karantina Tanjung Balai Asahan kembali memfasilitasi ekspor jahe hasil panen para petani di Kabupaten Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara (Sumut) sebanyak 2 ton ke Malaysia setelah sebelumnya tahun 2019 tercatat sebanyak 62 kali kegiatan ekspor jahe dengan total 330,2 ton dengan nilai ekonomi mencapai Rp. 2,1 milyar dengan tujuan negara Malaysia. Sementara di tahun 2020 hanya satu kali dilakukan ekspor jahe dengan total 3 ton dengan nilai ekonomi hanya Rp. 10 juta saja. Akan tetapi, terjadinya ekspor tersebut tidak diimbangi dengan produksi jahe yang tidak mencukupi sehingga terkadang permintaan akan jahe tidak berimbang dengan produksinya (Petrus Selmut Aldensi, 2016). Berdasarkan data BPS 2021, rata-rata impor jahe per tahun sebesar 11 ribu ton dan impor tertinggi terjadi pada tahun 2019 (21,7 ribu ton) kemudian turun pada tahun 2020 (19,2 ribu ton).

 Jahe yang ada di Indonesia dibedakan menjadi 3 jenis yakni jahe merah (Z. officinale var. rubrum), jahe putih kecil (Z. officinale var. amarum) dan jahe putih besar (Z. officinale var. officinale). Di masa Pandemi Covid-19, Konsumsi terhadap jahe sebagai penambah daya tahan tubuh meningkat tinggi, sehingga menyebabkan peningkatan permintaan jahe di Indonesia. Akan tetapi permintaan yang semakin meningkat ini belum bisa diimbangi oleh produksi jahe yang lebih rendah dari permintaan. Produksi jahe yang rendah ini disebabkan oleh rendahnya produktivitas jahe. Selain itu penurunan juga terjadi karena adanya alih tanam komoditas ke jenis yang lebih komersial yang berumur pendek, serta terjadinya alih fungsi lahan menghilangkan lahan pertanian untuk jahe.

Produksi Jahe yang cenderung stabil sejak 2017-2020, mendorong Kementerian Pertanian untuk mengembangkan kawasan jahe terintegrasi dari hulu sampai hilir melalui program Kampung Tanaman Obat. dengan adanya program ini maka peningkatan terhadap produksi dan produktivitas jahe di Indonesia dapat terwujud. Sehingga keseimbangan antara permintaan dan penawaran jahe di Indonesia menjadi seimbang dan stabil.

Peningkatan permintaan jahe yang tinggi menyebabkan Indonesia harus meningkatkan produksi jahe secara berkelanjutan, agar kebutuhan masyarakat akan jahe terpenuhi. Terlebih, saat pandemi Covid ini masyarakat sangat membutuhkan jahe sebagai bahan konsumsi untuk menjaga daya tahan tubuh. Oleh karenanya, Kementerian Pertanian mulai mengembangkan kawasan jahe terintegrasi dari hulu sampai hilir melalui program Kampung Tanaman Obat. Dengan adanya program tersebut, diharapkan adanya perbaikan terhadap peningkatan produksi jahe Indonesia. Maka dari itu terdapat beberapa saran yang diberikan :

1. Pelaksanaan program Kampung Tanaman Obat yang dilaksanakan oleh Kementrian Pertanian harus berjalan dengan baik dan sesuai aturan. keterlibatan masyarakat dalam program ini juga harus diutamakan, sehingga terciptanya integrasi di antara pemerintah dan masyarakat yang menjadi motor penggerak di dalam program tersebut.

2. Pemerintah melakukan penguatan modal kepada petani berupa bantuan pendanaan dengan Kredit Usaha Kecil. Sehingga petani tidak beralih ke tanaman lainnya yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi

3. Dalam meningkatkan pemasaran jahe, pemerintah dapat membantu petani dengan membangun atau memberikan ruang penyimpanan yang baik dan layak, sehingga jahe yang telah dipanen tidak cepat membusuk. Dengan penyimpanan yang baik ini, kualitas jahe tetap terjaga dan harga pun tidak berubah drastic.(***

Comment

News Feed