by

COACHING

Oleh : Dadan Hamdani, M. Pd

(Guru SDIT PERSIS Tarogong Garut)

PENDAHULUAN

Dalam konteks pendidikan Indonesia saat ini, coaching menjadi salah satu proses ‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah terutama dengan diluncurkannya program merdeka belajar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Program ini dapat membuat murid menjadi lebih merdeka dalam belajar untuk mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya. Harapannya, proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dalam belajar. 

Masih terkait dengan kemerdekaan belajar, proses coaching merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dalam  dapat membuat murid melakukan metakognisi. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga membuat murid lebih berpikir secara kritis dan mendalam. Yang akhirnya, murid dapat menemukan potensi dan mengembangkannya.

Murid kita di sekolah tentunya memiliki potensi yang berbeda-beda dan menunggu untuk dikembangkan. Pengembangan potensi  inilah yang menjadi tugas seorang guru. Apakah pengembangan diri anak ini cepat, perlahan-lahan atau bahkan berhenti adalah tanggung jawab seorang guru. Pengembangan diri anak dapat dimaksimalkan dengan proses coaching.

KETERAMPILAN COACHING

Mengingat pentingnya proses coaching ini sebagai alat untuk memaksimalkan potensi murid, guru hendaknya memiliki keterampilan coaching.

Keterampilan coaching ini sangat erat kaitannya dengan keterampilan berkomunikasi. Berikut ini 4 keterampilan dalam melakukan coaching:

  1. keterampilan membangun dasar proses

            coaching

  • keterampilan membangun hubungan baik
  • keterampilan berkomunikasi
  • keterampilan memfasilitasi pembelajaran

keterampilan dasar seorang coach seharusnya dapat dimiliki oleh guru ketika memerankan diri sebagai coach.

PERBEDAAN COACHING, KONSELING DAN MONITORING DALAM KONTEKS PENDIDIKAN

1. Definisi mentoring

Stone (2002) mendefinisikan mentoring sebagai suatu proses dimana seorang teman, guru, pelindung, atau pembimbing yang bijak dan penolong menggunakan pengalamannya untuk membantu seseorang dalam mengatasi kesulitan dan mencegah bahaya..

2. Definisi konseling

Rogers (1942) dalam Hendrarno, dkk (2003:24), menyatakan bahwa konseling merupakan rangkaian-rangkaian kontak atau hubungan secara langsung dengan individu yang tujuannya memberikan bantuan dalam merubah sikap dan tingkah lakunya.

3. Definisi Coaching

Coaching adalah sebuah kegiatan komunikasi pemberdayaan (empowerment) yang bertujuan membantu para coachee dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya dalam mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi agar hidupnya menjadi lebih efektif.

KOMUNIKASI YANG MEMBERDAYAKAN

Ada 4 unsur utama yang mendasari prinsip komunikasi yang memberdayakan:

1. Hubungan saling mempercayai

2.  Menggunakan data yang benar

3. Bertujuan menuntun para pihak untuk optimalisasi potensi

4. Rencana tindak lanjut atau aksi

ASPEK BERKOMUNIKASI

 Untuk mendukung praktik Coaching kita, ada 4 aspek yang mesti kita perhatikan dan kita latih;
A. Komunikasi Asertif

Beberapa tips singkat yang dapat seorang coach lakukan:

1.   Menyamakan kata kunci

2.  Menyamakan bahasa tubuh

3. Menyelaraskan emosi

            B. Pendengar aktif

Berikut ini ada 5 Teknik mendengarkan aktif

1. Memberikan perhatian penuh pada lawan bicara kita

2. Tunjukkan bahwa kita mendengarkan.
3.    menanggapi perasaan dengan tepat

4. penegasan Kembali makna pesan
5. mengajukan pertanyaan yang meyakinkan terhadap perasaannya

C. Bertanya Efektif

Ada dua bentuk pertanyaan yang mesti kita hindari yang akan  menghambat keberhasilan coachee dalam proses coaching.

1. Pertanyaan tertutup

2. Pertanyaan yang mengarahkan

D. Umpan Balik Positif

 Bentuk umpan balik dapat disampaikan dalam beberapa cara dengan aspek-aspek berikut (Pramudianto, 2015):

1.    Langsung diberikan saat komunikasi.

2.    Spesifik – fokus pada apa yang dikatakan

3.    Faktor emosi – mengikutsertakan emosi yang dirasakan

4.    Apresiasi – menyertakan motivasi positif

MODEL TIRTA

Model TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching. Melalui model TIRTA, guru diharapkan dapat melakukan praktik coaching di komunitas sekolah dengan mudah.

TIRTA kepanjangan dari ( T : Tujuan –
I : Identifikasi – R : Rencanaaksi –  TA : Tanggung jawab )

Dari segi bahasa, TIRTA berarti air. Air mengalir dari hulu ke hilir. Jika kita ibaratkan murid kita adalah air, maka biarlah ia merdeka, mengalir lepas hingga ke hilir potensinya. Anda, sebagai guru memiliki tugas untuk menjaga air itu tetap mengalir, tanpa sumbatan.

Comment

News Feed