by

Resistensi Perempuan Dalam Politik

Oleh: Dian Rahmat Nugraha (Pascasarjana UIN  Sunan Gunung Djati Bandung)

E-mail: [email protected]

Dalam surat Al Hujurot ayat 13 di katakana bahwa paling mulianya manusia adalah ayang paling bertaqwa

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Terjemahan

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

Realitasfakta empiris di lapangan  secara umum terutama dalam sekup kecil disekitar kita  keberpihakan kepada perempuan masih dianggap sebelah mata ndonesia hingga saat ini masih memiliki pekerjaan rumah mengenai kesetaraan gender. Meskipun masih tinggi, Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Indonesia mengalami tren membaik sejak 2015. Pada 2015, IKG Indonesia sebesar 0,466 poin. Empat tahun kemudian pada 2019 IKG Indonesia membaik menjadi 0,421. Salah satu indikator yang mengalami perbaikan adalah persentase keterwakilan di parlemen. Pada 2015, keterwakilan perempuan hanya 17,3%, sedangkan laki-laki 82,7%. Pada 2019 keterwakilan perempuan meningkat menjadi 20,5%. [1]

 Oleh karena itu adanya kesenjangan yang sangat signifikan dan perlua adanya pemahaman yang mendalam kepada masyarakat di Indonesia dan penulis menginginkan setelah adanya informasi ini menjadikan kaum lakii- laki sadar akan dominasinya yang begitu kuat dan bagi perempuan supaya tersadar pula karena kita pun bisabmaju asalkan adanya kemauan yang keras dan disisi alloh yang mulia adalah yang paling bertaqwa


[1] https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/11/23/keterwakilan-perempuan-di-parlemen-masih-lebih-rendah-dari-laki-laki-pada-2015-2019

Arti Resistensi

Bagian ini menguraikan dua konsep utama yang dapat di gunakan untuk membahas masalah perempuan dalam dunia politik , khususnya resistensi perempuan di lembaga legislative. Sebagaimana di ketahui , kajian tentang peran , fungsi dan posisi perempuan dalam dunia public (baca: politik ) senantiasa saling mengait dan sulit dipisahkan dari isu gender.

            Apa yang sebenarnya dimaksud dengan resistensi ( resistance ). Ia adalah pasangan biner dari dominasi yang merupakan bentuk kekuasaan  (power) relative tetap dan terlembagakan. Pada dasarnya resistensi adalah oposisi terorganisasi terhadap kekuasaan yang dilembagakan. Namun demikian, oposisi biner dominasi dan resistensi menjadi subjek yang kerap diperdebatkan. Dalam sejumlah tulisan , Michel Foucault, seorang filsuf prancis , sejarawan ide , teoretikus social, ahli bahasa, dan kritikus sastra,misalnya,  memperhatikan konsep kekuasaan dalam tindakan sebagai hubungan antara individu dan masyarakat, khususnya institusi-institusi yang ada. Melalui “analisis kekuasaan “ (analysis of power )” Foucault mengkaji bagaimana institusi-institusi tersebut menjalankan kekuasaan terhadap kelompok dan individu serta bagaimana kelompok dan individu menegaskan identitas diri dan resistensi terhadap efek dari kekuasaan.

            Foucault memandang kekuasaan bukan “sesuatu” yang dimiliki , tetapi lebih sebagai “sesuatu “ yang bergerak dan mewujud dalam diri sendiri dengan jalan tertentu. Itu lebih merupakan sebuah strategi ketimbang pemilikan. Menurut Foucault , hubungan kekuasaa meresap melalui susunan relasional dalam masyarakat. Selain itu, di tempat terdapat kekuasaan akan selalu ada pelbagai bentuk resistensi atau pembangkangan. Dengan kata lain , Foucault membangun sebuah model yang berawal dari cara sederhana dan tampak sehari-hari tempat kekuasaan itu diserap dan di kontestasi  serta merupakan sebuah analisis yang berpusat pada individu manusia sebagai objek aktif , bukan sekedar objek kekuasaan :

            “ power must be analyzed as  something which circulates, or as something which only functions in the form of a chain….power is employed and exercised through a net like organization….individuala are the vehiclesof power , not its points of application.  ( kekuasaan harus di analisis sebagai sesuatu yang berputar, atau sebagai sesuatu yang berbentuk rantai ….kekuasaan di gunakan dan dilaksanakan melalui jejaring organisasi …individu menjadi alat kekuasaan , bukan sebagai titik pelaksanaan kekuasaan )

            Sementara itu, james scott, guru besar ilmu politik-cum-antropolog Yale University, Amerika Serikat, banyak memperhatikan “ bentuk resistensi sehari-hari “ ( every day forms of resistance) yang cenderung kurang terorganisasi, namun meluas . hal tersebut membuat resistensi  menjadi sebuah persoalan yang tidak bisa begitu saja I sederhanakan . bagaimana dengan dominasi ?

            (Kondisi tempat idea tau praktik yang biasanya menyenangkan bagi sekelompok minoritas dalam sebuah masyarakat , tampak terus menerus bergerak di seluruh anggota mayarakat dan mereproduksi kondisi yang sama. Dominasi dapat dilaksanakan dengan menggunakan tindakan memaksa yang tidak didasarkan pada persetujuan masyarakat yang di dominasi , namun dilandasi prinsip-prinsip ideologis dan diskursus yang mendasarinya. Yang menentukan konstruksi subjek dan pengakuan dari subjek itu atau pernyataan-pernyataan yang di buat oleh kelompok dominan. )

Jika kita hendak mencoba memperjelas konsep dominasi dan resistensi, maka yang pertama bisa di katakan tentang dominasi adalah idea tau hal-hal yang praktis . dominasi terhadap ide dan praktik yang berlaku di masyarakat tentu lebih banyak menguntungkan pihak yang lebih dominan, apalagi disini ada semacam proses reproduksi terus menerus atas ide dan praktik. Merujuk Daniel Miller , ide dan praktik yang mendominasi ide dan praktik lainnya selalu berlandaskan budaya. Dominasi di sertai dengan kekuatan tertentu membuat kelompok yang menjadi objek dominasi akan terpengaruh serta mengakui klaim kelompok yang mendominasi. Karena itu, dominasi atau penguasaan oleh pihak atau kelompok yang lebih kuat terhadap pihak atau kelompok yang lebih lemah cenderung bersifat hegemonic , menyebar, eksklusif, dan konservatif . dalam teori-teori social tentag dominasi ada semacam penekanan yang dinamis dan diakronis, namun pada kenyataannya sebagian besar karya-karya akademis tidak banyak member tempat bagi “perubahan”  bila dibangun tanpa mempertimbangkan  “ keberadaan” dan keterbatasan dominasi.

            Bagaimana dengan resistensi ? para ahli mendefinisikan resistensi dengan beragam konsep untuk menunjukkan adanya pelbagai tindakan dan tingkah laku di semua tingkat kehidupan manusia ( individual, kolektif dan institusional ) dalam pelbagai latar yang berbeda, termasuk dalam system politik, dunia hiburan, sastra dan dunia kerja. Karena itu , resistensi memiliki cakupan yang sangat luas mulai dari berbagai gerakan dan aksi –aksi revolusioner hingga gaya dan tata rias rambut. Deskripsi serta keragaman ekspresi sedemikian luas itu menunjukan betapa sulit atau bahkan membuat kita tidak mungkin memperoleh semacam kesepakatan bulat mengenai yang dimaksud dengan resiitensi.

            Namun demikian, ada beberapa definisi atau konsep resistensi yang merujuk pada “ tindakan otonom yang dilakukan untuk kepentingan diri sendiri “ upaya aktif untuk melawan, menentang, dan menolak untuk bekerja sama , terlibat dalam tindakan menentang, mempertanyakan dan menolak , perlawanan diam-diam kelompok atau komunitas yang powerless dan subordinated terhadap komunitas yang powerful dan superior. Sementara pakar lainnya melihat resistensi sebagai setiap upaya menentang pengawasan yang di desakkan secara kelembagaan dan hadir dalam bentuk hubungan dinamis antara pengawasan dan perlawanan yang saling memperkuat. Tidak mengherankan , dengan sekian banyak definisi dan konsep tentang resistensi membuat istilah ini kerap digunakan secara “ longgar”. Bahkan banyak karya tulis memakainya  taken for granted  .

            Penelitian ini mengunakan konsep resistensi sebagaimana dikemukakan james Scott, yakni perlawanan yang tidak dinyatakan secara langsung, “perlawanan diam”. Yang tidak di utarakan secara langsung dalam konteks itu adalah pesan ( messenger ). Karena pesan yang di sampaikan berwujud symbol, maka diperlukan pemahaman tertentu tentang kondisi yang ada dalam rangka memahami kehendak komunitas yang tersubordinasi. Perlawanan pihak yang tersubordinasi cenderung bersifat khusus dan local, sehingga untuk peristiwa tertentu di wilayah tertentu akan berbeda dengan peristiwa lain di wilayah yang berbeda. Dengan kata lain setiap bentuk perlawanan memiliki makna yang hanya dapat dipahami dengan menelusuri  para pihak yang melakukan resistensi. James scott memaparkan hubungan dinamis antara pihak yang mendominasi dengan pihak yang di dominasi sebagai berikut :

            “ Confrontations between the powerless and the powerful are laden with deception –the fowerless feign deference and the powerful subtly assert their mastery .peasants,serfs, untouchables,slaves,labourers,and prisoners are not free to speak their minds in the presence of power. These subordinate groups instead create a secret discourse that represents a critique of power spoken behind the backs of the dominant. At the same time , the powerful also develop a private dialogue about  practices and goals of their rule that cannot be openly avowed .

            Konfrontasi antara pihak yang tidak berdaya dn yang berkuasa sifatnya seperti tipuan- yang tidak berdaya berpura-pura tidak berdaya dan yang kuat secara halus menegaskan kekuasaan mereka, petani, hamba sahaya, kaum paria, budak, buruh dan tahanan tidak bebas mengungkapkan pikiran di hadapan kekuasaan. Sebaliknya, kelompok bawahan ini malah membuat wacana rahasia yang merepresentasikan  kritik terhadap kekuasaan yang  di ucapkan dibalik panggung kelompok dominan. Pada saat bersamaan pihak yang berkuasa jug mengambangkan dialog pribadi tentang praktik dan sasaran peraturan mereka yang tidak dapat diakui secara terbuka.

            Menurut  Scott, pihak yang memiliki kekuasaan dan pihak yang tidak memiliki kekuasaan akan memainkan peran public yang sama. Namun dibalik pertemuan kedua belah pihak tersebut berkembang  “cerca maki “ dan “ sindiran” yang di sebut “ public and hidden transcripts .” hideen transcripts yang di tampilkan kelompok-lkelompok powerless dan subordinated berupa resistensi dan perlawanan sebagai ideological resistance.

Bentuk resistensi bersifat continum dari tindakan yang bersifat verbal dan non-verbal , bias berupa rentang waktu panjang yang di tunjukan oleh pelbagai aktivitas seperti desas desus, gossip ,dongeng ( folktales ) . lagu dan nyanyian, cerita lucu, dan teater yang di ungkap tanpa nama dan ambigu, serta sindiran dan ujaran keras, mengutip Moya liyod, penyebab pihak subordinated melakukan perlawanan adalah :

“movement of reversal are culturally embedded because there is no place outside of their historical location from which to work , which means that the discursive formations that structure those location also inform the kinds of resistance  that are possible. It might also be argued that it is because there is no outside from which to operate politically that such extraordinary labour is required to delineate and sustain all contestatory movements, since they can be all the more easily reabsorebed.”

berbagai gerakan perlawanan tertanam secara budaya karena tidak adanya tempat selasin tempat mereka melakukan perlawanan , yang berarti bahwa formasi yang menyusun perlawanan itu juga menunjukan jenis perlawanan yang dapat di lakukan. Dapt di tegaskan pula bahwa perlawanan tersebut terjadi karena adanya pihak luar yang mengupayakan secara politis, sehingga upaya yang luar biasa itu diperlukan untuk menggambarkan dan mempertahankan semua gerakan kontestasi , karena semua gerakan tersebut dapat dengan mudah diserap kembali).

            Tidak jauh berbeda , Prasad dan kawan-kawan mengatakan bahwa penyebab munculnya  resistensi kelompok-kelompok subordinated , atau minoritas , adalah karena tidak adanya ruang untuk menyampaikan aspirasi . marshall menambahkan, resistensi dilakukan karena kelompok atau pihak minoritas butuh perhatian khusus ( special attention )serta diperlakukan berbeda ( differential treatment) . selain itu, dick dan cassell menyambut resistensi bias muncul ketika kelompok-kelompok minoritas dan subordinated “are oppressed relative to so-called organizational dominants.”. senada dengan itu, robyn Thomas mengatakan resistensi bersifat “ alive and kicking” untuk menunjukan adanya kekuatan di dalamnya . walaupun efeknya mungkin saja tidak revolusioner, resistensi merupakan praktik mikro-politik yang kerap di abaikan . sayangnya , banyak  akademisi serta aktifis politik cenderung tidak menaruh perhatian pada resistensi yang memiliki peran dan pengaruh cukup menentukan dalam proses ( perubahan) social politik, baik tingkat masyarakat  maupun institusi politik .

Gender dan resistensi

Perbincangan mengenai resistensi, perempuan , dan politik, terjalin berkelindan dengan bahasan tentang gender . gender adalah sebuah konsep budaya berkaitan dengan peran, fungsi, serta pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. Karena merupakan fenomena budaya, maka pembagian kerja tampil

Beragam dalam berbagai komunitas manusia. Secara umum, pembagian kerja disusun berdasarkan anggapan tertentu mengenai laki laki dan perempuan sebagar pelaksanaan aktifitas kemasyarakatan. Namun, anggapan tertentu itu, dalam benak sebagian besar anggota masyarakat, lebih didasarkan pada perbedaan fisik laki laki dan perempuan yang di amsumsikan berimpikasi pada karakteristik psikit dan intelektual-laki laki memiliki sejumlah keunggulan komparatif di banding perempuan menurut Louise Ricklander :

“historically, the extermal word has been the bussines of men. Women took care of the internal world. Politics traditionally is external, but not necessary the business of men—often only the few.

 (menurut sejarah, kehidupan luar rumah adalah dunia laki-laki. Perempuan menjaga kehidupan dalam rumah tangga. Politik secara tradisional adalah kehidupan luar rumah, tetapi tidak selalu merupakan dunia laki-laki hanya beberapa laki-laki yang  terlibat  didalamnya). Sementara itu, feminis Kate Millets menegaskan hal serupa terkait perbedaan antara laki-laki dan perempuan, yakni perempuan memiliki “mental minor” dan lebih mengutamakan aktifitas di sektor domestic yang sarat dengan maintenance, love work, dan emotional work. Berdasarkan anggapan-anggapan tersebut, wajar bila sebagian anggota masyarakat kemudian “mengatur” pembagian kerja berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Bahkan, beberapa kelompok masyarakat menekankan dan menetapkan pembagian kerja tersebut dalam skruktur social mereka. Dalam konteks itu, struktur social yang dimaksud adalah lembaga-lembaga yang menetapkan serta “mengatur” peran dan fungsi anggota sebuah komunitas atau masyarakat tertentu.  Struktur  social dalam kehidupan berbagai  masyarakat di dunia umumnya mengacu pada kepentingan  dan sangat di dominasi  nilai-nilai tertentu mengenai sebuah hubungan social yang menganggap laki-laki dan perempuan berbeda dalam segala hal. Dengan kata lain, pembagian  kerja  di beberapa masyarakat  dunia sebagian besar lebih didasarkan pada perbedaan jenis kelamin.

Dengan imaji bahwa secara biologis  lebih “kuat”, maka seorang laki-laki dipastikan menyandang nilai-nilai  maskulinitas. Karena itu, semua pekerjaan di luar rumah yang bersentuhan dengan banyak orang atau bersifat “publik” dianggap lebih tepat dikerjakan oleh laki-laki-ruang public  lebih terbuka dan mengandung resiko tinggi. Sementara itu, perempuan yang secara biologis dinilai memiliki imaji lemah, lebih tepat mengambil peran dan aktifitas yang mencerminkan nilai-nilai feminitas .pekerjaan yang sesuai untuk perempuan adalah semua pekerjaan yang “aman” dan terlindungi.dengan demikian ,semua pekerjaan di dalam serta demikian rumah—lazim di sebut  “aktivitas domestik”—merupakan “tempat” yang  tepat bagi perempuan.imaji tentang perempuan dan laki-laki yang dikonstruksi seperti itu di pertahankan dan di lestarikan dari masa ke masa.pembedaan dalam pembagian kerja tersebut jugamenyentuh seluruh aktivitas,baik ekonomi,politik,hokum,maupun keagamaan.sebagaimana ekspresi budaya,struktur social akan tampak dalam seluruh proses social.

Struktur social mengait dengan (perbedaan) jenis kelamin itulah yang di sebut gender.Sebagai srtruktur social,gender menekankan peran dan fungsi ideal laki-laki dan perempuan dalam suatu masyarakat. Pada dasarnya,gender memilah-milah peran dan fungsi mereka; laki-laki diidealisasikan berperan di ranah publik,sedangkan perempuan di ranah domestik.ranah public pun di beri makna sebagai ranah produktif,sementara ranah domestic adalah ranah reproduktif.karena merupakan bagian dari struktur social,makaperan gender di anggap taken for grantend.  Urusan domestic kerumah-tangaan merupakan peran yang harys di jalankan perempuan dan seolah tidak dapat melintas ke ranah publik.Sebaliknya,laki-laki tidak mungkin “menyebrang” ke ranah domestik.Dalam konteks seperti itu bias di maklumi kesulitan perempuan ketika memasuki usia ranah public, khususnya bidang polotik.

Frederick George Bailey menyebut politik sebagai “a competitive game”. Walaupun para pemain saling bersaing atau bahkan bermusuhan,mereka telah menyepakati aturan pemain.persaingan senantiasa menghasilkan pihak yang memenangi permainan dan pihak yang kalah.Bahkan,persaingan,tersebut tidak jarang melebar menjadi perselisihan dan perkelahian.Dalam koneks seperti itu ,perempuan dinilai tidak pantas  atau tidak tepat beraktivitas di ranah politik.Namun, dengan sudut pandang berbeda,Charles Kingsley menegaskan bahwa perempuan tidak boleh dibatasi dalam rangka imaji budaya yang menganggap perempuan tidak mampu berperan dalam bidang politik.Perempuan justru memiliki kemampuan yang memungkinkan tampil dan berpatisipasi dalam politik.Apalagi ,bila telah “dibekali”hak politik dan tingkat pendidikan yang cukup memandai ,tak di ragukan lagi perempuan mampu meraih prestasi cemerlang di bidang politik.

Seiring berjalannya waktu,proses belajar budaya yang membuat di terimanya nilai-nilai baru tak pelak menumbuhkan kesadaran waktu di kalangan perempuan dan juga laki-laki. Hal tersebut berasal dari proses interaksi social nilai-nilai “lama” dengan  nilai-nilai “ global “ yang memang berbeda dengan adat istiadat atau budaya masyarakat setempat. Nilai-nilai baru yang tumbuh berkembang itu  diperkukuh pada aras kebijakan formal yang memungkinkannya di terima secara massal .

kondisi tersebut dimungkinkan karena seluruh kebijakan Negara merupakan factor penguat dalam setiap proses penanaman nilai-nilai. Salah satu diantaranya yang di dukung dan diperkuat oleh Negara serta di masukkan dalam aturan perundangan adalah kesetaraan laki-laki dan perempuan untuk berkiprah di ranah public, khususnya bidang politik.  Tak pelak, masuk dan terlibat di bidang politik membuat perempuan harus menghadapi nilai-nilai budaya “ asal” dan “baru”. Yang belum tentu berjalan seiring . nilai-nilai budaya asal merupakan nilai yang pada umumnya senantiasa di rujuk dan menjadi landasan bertindak sebuah masyarakat. Sedangkan nilai-nilai baru  adalah  nilai yang coba di perjuangkan oleh kaum perempuan. Namun demikian, nilai-nilai budaya  asal telah sekian lama menjadi mainstream sangat kuat dan seolah-olah mendominasi nilai-nilai lainnya.

Nilai-nilai yang sarat mengandung unsur dan kuasa itu, meminjam istilah Antonio Gramsci,  di sebut “ ideology hegemonis “ . dengan kata lain, anggapan bahwa sebagian besar perempuan yang bergiat di bidang politik lebih banyak menyandang peran deskriptif atau sekedar pelengkap kuota tampaknya masih tetap merupakan gagasan yang dominan. Ideology hegemonis bekerja dengan memperlakukan pihak tersubordinasi ( the subordinated ) sebagai objek yang harus selalu mengikuti kehendak superior . dalam kerangka itu, jamesc scott  memasukkan dan menjelaskan gagasan yang menarik tentang  public transcipt  dan hidden transcript  . menurut scott , dalam suatu relasi kekuasaan tempat individu  atau kelompok  dalam masyarakat menjadi subordinat dari dominasi tertentu. Akan muncul suatu hubungan terbuka antara pihak subordinat dan pihak dominan. Hubungan itu disebut public transcript. Semakin besar perbedaan kuasa  antara pihak, public transcript akan menciptakan kedok berlapis-lapis. Transkrip tersebut tidak hanya mencakup perkataan, tetapi juga tindakan ataupun perilaku tertentu. Dengan kata lain public transcript  atau transkrip formal  merupakan suatu manajemen impresi dalam sebuah hubungan kekuasaan.

Sementara itu, hidden transcript ( transkrip tersembunyi ) adalah perkataan,tindakan ataupun berbagai praktik yang dikembangkan pihak subordinat untuk “melawan” pihak  superior / dominan. Semakin tinggi dominasi akan memunculkan bentuk-bentuk perlawanan yang semakin tinggi dan kuat pula. Transkrip formal semakin menjadi sesuatu yang ritualistik dan stereotifikal. Dalam kondisi semacam itu ada celah perbedaan yang sangat lebar antara transkrip formal dan transkrip tersembunyi. Bagaimanapun juga, resistensi berbasis jenis kelamin akan selalu muncul dalam setiap komunitas. Pencetus resistensi dapat berupa politik serta ekonomi. Pencetus bersifat politik antara lain terkait dengan di tetapkannya aturan perundangan yang mengubah imaji masyarakat tentang sesuatu, sementara pencetus bersifat ekonomi terkait dengan perubahan system produksi maupun distribusi.

Kevin J O’Brien memperluas konsep mengenai resistensi yang dikemukakan James Scott, sehingga dapat digunakan untuk membaca realitas terorganisasi suatu atau sebuah lembaga.  Dia menyebut gagasannya sebagai  “ Rightful resister “ yakni resistensi dapat muncul karena hubungan antara the superior dan the subordinated yang sangat politis, berkait dengan hokum dan tata aturan, serta ideology rightful resister atau pelaku perlawanan senantiasa berusaha menggunakan saluran resmi untuk melawan dan berkeyakinan bahwa upaya yang di tempuh dapat mengubah suatu atau sejumlah kebijakan . gagasan O’Brien itu sangat dengan konteks “ perlawanan “ perempuan anggota parlemen, karena oprientasinya adalah mengubah kebijakan agara tersusun kebijakan yang responsive gender.

Ada hal lain yang juga perlu diperhatikan bila kita hendak menelaah soal resistensi yang pertama adalah tindakan ( action ) dan oposisi ( opposition ) dalam berbagai konsep tengtang resistensi ditemukan keterkaitannya dengan tindakan yang “ is not a quality of an actor or a state of being , but involves some active behavior, whether verbal, cognitive, or physical “ sementara itu oposisi dinyatakan sebagai  “ appears in the use of the words ‘ counter’, contradict’ social change’, ‘reject’, challenge, ‘opposition’, ‘subversive’, and ‘damage’ and/or disrupt’. Hal berikutnya yang juga perlu diperhatikan adalah tentang recognition dan intent ( pengakuan dan niat ), setidaknya hal-hal tersebut dapat dijadikan titik-pijak awal dalam memahami keberagaman resistensi yang berlangsung dalam sebuah konteks.

Kajian mengenai resistensi perempuan di ranah politik mengarahkan kita pada beberapa penelitian dan karya tulis sebelumnya tentang cara memandang perempuan, upaya perempuan menggapai aktivitas dan kehidupan diranah politik. Serta resistensi perempuan. Untuk kajian awal tentang perempuan , Margaret Mead merupakan salah satu pakarnya. Sebagian besar kajian antropolog itu tidak hanya focus pada perempuan , namun juga berbagai persoalan terkait gender dan peran gender. Misalnya, Mead mengkajikehidupan remaja perempuan samoja usia belasan taun,populasi yang cenderung di abaikan oleh para antropolog era sebelumnya.Di situ,mead “menguji” sebuah teori pesokologi tentang remaja yang di katakana selalu akan melalui periode kegelisahan,tetapi ternyata tidak di temukanya di kalangan remaja laki-laki maupun perempuan Samoa.Hasil penelitian Mead menunjukan bahwa anak-anak remaja tidak harus selalu melalui “periode” kegelisahan

Penelitian Margaret Mead berikutnya,yang kemudian di terbitkan dengan judul Sex and temperament in tri three primitive societies,memuat pertanyaan kritis mengenai apakah peran gender,sebagai mana konsep budaya barat,bersifat biologos dan tidak dapat di pertukarkan atau social budaya yang dapat di ubah dan di pertukarkan.selain mengelaborasi hal tersebut dan menjadi tema utama dalam kajian yang berjudul male and female: A study of the sexes in a changing wordl,Mead menekankan bahwa gender adalah sebuah “konstruksi”budaya.Gender sebagai konstuksi budaya kemudian di pertegas oleh,antaralain,michelle Zim balist Rosaldo,Louise Lamphere,dan Sherry Ortner. Bahkan ortner menganggapnya sebagai temuan sangat berharga yang dapat menjawab pertanyaan, “mengapa dominasi laki-laki bias menjadi fenomena yang berlaku universal?”

Konsekuensi dari pernyataan kritis ortner itu adalah jika gender merupakan realitas budaya,maka ketidakadilan gender juga merupakan buah dari realitas budaya. Secara budaya perempuan diasosiasikan dengan “nature” dan laki-laki dengan “culture” dengan sendirinya menjadikan perempuan kurang di hargai di bandingkan dengan laki-laki.namun,menurut ortner,karena penilaian simbolik tersebut adalah konstruksi budaya yang dapat berubah setiap saat maka,baik laki-laki maupun perempuan bias di katakan sama-sama “cultural”.

sementara itu,rosaldo dalam sebuah kajian juga memakai perspektif gender terfokus pada pemisahan laki-laki dan perempuan dalam setiap bidang kegiatan.karena kerja perempuan diasosiasikan dengan kewajiban bersifat reproduktif di wilayah domestic,maka ia di anggap lebih rendah di banding kerja laki-laki yang di asosiasikan dengan wilayah public.walaupun analisis rosaldo menitipberatkan soal ekonomi,penyebutan “wilayah”domestic dan public tetap berorientasi simbolik.

Sementara itu,menurut perspektif fungsionalisme,pembagian kerja dalam suatu masyarakat terbentuk karena adanya tujuan “for maintaining social solidarity”.dalam konteks itu, “solidaritas social” bermakna kebersaman antar angota masyarakat dalam sebuah ikatan yang harmonis dan seimbag—pokok yang melandasi solidaritas social adalah keseimbangan dan harmoni.solidaritas social sebagai dasar pembagian kerja itulah yang di kembangkan oleh sejumlah pakar aliran fongsionalisme structural,seperti Talcott parsons dalam di siplin ilmu sosiologi dan Bronislaw Malinowski serta AR Radcliffe Brown dalam di siplin ilmu antropologi.masyarakat adalah sebuah system merupakan gagasan kunci dari teori fungsionalisme-struktural.setiap unsure dalam sebuah sistemsaling mengit secara fungsional.karena itu,perubahan pada salahsatu unsure akan menyebabkan terjadinya perubahan dalam system secara keseluruhan.perubahan sistemik akan selalu menimbulkan kekacauan (chaos) takberarti.stastus quo menjadi kondisi yang paling di inginkan. Untuk mencapai kondisi itu semua unsur dalam masyarakat di tentukan fungsi dan perannya.

Salahseorang sarjana yang mengunakan status,fungsi,dan norma social untuk memahami pembagian pekerjaan menurut jenis kelamin ialah Ratna Megawati. Ketiga unsure saling mengait itu terpatri dalam setting budaya tentang pembagian kerja.

Sangat kuatnya realitas tersebut dapat di amati dalam potret sebuah rumah dengan ruang dapur yang selalu di asosialisakikan dengan perempuan,sedangkan ruang yang bisa di gunakan untuk menyimpan kendaraan (garasi) kental berasosiasi dengan laki-laki.dari kenyataan tersebut dapat di simpulkan bahwa kerja rumahan, misalnya,memasak,menjaga kebersihan,mengasuh anak,dan memelihara ketentraman rumahtanga adalah pekerjaan perempuan,sementara kerja di luar rumah yang dapat menghasilkan uang dan berhubungan dengan orang banyak dan mengandung risiko tinggiadalah pekerjaan laki-laki. Mengenai posisi subordinated peremuan dalam masyarakat secara budaya tidak serta-merta dapat di pahami sebagai berdiam diri dan tidak melakuakan apapun.Dalam kajian Kusujiarti di tegaskan bahwa perempuan menempuh berbagai cara dan berupaya melawan kondisi  yang ada akibat dari konsep budaya yang mensubordinasikan mereka.Begitu pula Lloyd yang menyatakan “women are not passive”            dalam menghadapi setiap kondisi yang “menindas” mereka, baik dalam konteks kemasyarakatan maupun budaya.Dengan memakai Perspektif pasca strukturalisme,Kusujiarti mengupas relasi gender dalam batasan ideologi dan kekuasaan.

Adanya pihak superior dan subordinated   akan memunculkan fenomena hegenomik,sebagaimana juga di temukan dalam kajian ortner. Ideologi tersebut menghegenomi hamper semua proses social kemasyarakatan,termasuk relasi antara laki-laki dan perempuan.Dengan meminjam kerangka teori james schott, Kusujiarti mengatakan bahwa posisi subordinated  cenderung membuat perempuan tidak kritis,namun jika dicermati akan selalu tampak resintesi mereka terhadap hegemoni pihak superior.

Sarjana lain yang secara spesifik meneliti tentang resistensi perempuan ialah annete davies dan robyn Thomas. Setting kejian mereka berbeda dengan setting kajian james scotte. Davies dan Thomas mengamati pola resistensi 2 orang propesi yang juga berbeda, yaitu seorang perwira polisi dan seorang kepala sekolah. Dengan pendekatan foucauldian, kedua feminis peneliti itu mencoba membuka ruang baru bagi terkamnya suara alternatip, bentuk bentuk subjektivitas baru, narasi yang sebelum nya di pandang marginal, serta interpretasi, makna, dan nilai nilai baru. Mereka menemukan bahwa kedua perempuan tersebut –sang perwira polisi dan kepala sekolah –melakukan penegasan identitas diri dalam menghadapi pila kerja “laki-laki” yang mensyaratkan komitmen terhadap pekerjaan dan profersi dengan bersedia untuk  bekerja dalam waktu yang lebih lama.Peran gender tetap di jalankan dengan kesadaran tingi sekaligus menegaskan bahwa perempuan bertanggung jawab merawat dan memelihara anak yang berbeda dengan laki-laki, sehingga mereka menolak untuk mengidentifikasi diri sebagai “orang” yang profesional.

Beberapa penelitian mengenai presistensi perempuan dengan focus pada pekerja perempuan di pabrik di lakuakan oleh Anna pollert serta Mahmoud Ezzamel dan kawan-kawan ;pekerja perempuan di bidang administrarif dan pelayanan oleh Theodore Mark Gottfried; kaum professional perempuan oleh Deborah Keerfoot; pekerja perempuan migrant portugis di London oleh Welona Giles : perempuan di Asia dan Negara-negara berkembang oleh Dorinne K Kondo ;dan sebagainya.Hal yang muncul dalam kajian penelitian-penelitian tersebut adalah perempuan selalu menunjukan registensi dalam telbagai bentuk tergantung kondisi tempat registensi itu berlangsung.Penekanan registensi yang di perlihatkan perempuan dalam kajian-kajian tersebut adalah keinginan untuk menunjukan kemampun dalam melaksanakan tugas “formal”yang tidak mengabaikan tugas “tradisyonal” sebagai perempuan.

Bentuk registesi yang muncul dalam kajian-kajian tersebut memang sangat beragam; tergantung konteks masing-masing resistensi.Bentuknya dapat berwujud sikap ataupun tindalan. Menurut Hollander dan Erachel I Ein wohner, (tindakan registensi paling keras berupa gerakan social,protes,dan perselisihan politik,yang dapat muncul dalam beberapa phenomena sepeerti pawai akbar, pemogokan,dan pembentukan organisasi. Tindalan lain yang memiliki efek dramatis serupa tindak kekerasan adalah pelambatan kerja,berpura-pura sakit,mengenakan busana “asing”,mencuri dan lain-lain.Resistensi juga bias di tampakan dalam bentuk verbal dan aksi simbolik, sebagai mana di tunjukan oleh sekelompok perempuan Hawaii.Resistensi dalam bentuk tingkah perangai,misalnya,di tunjukan dalam bentuk penolakan sebagai “seorang” professional,bahkan berdiam diri seperti di lakukan oleh beberapa perempuan di Irlandia Utara ketika menghadapi dan melawan razia polisi.

Resistensi umumnya berlangsung dalam rupa perseorangan ataupun kelompok dalam semua kondisi serta hubungan yang hegenomik. Sebagaimana di ketahui,kajian-kajian mengenai resistensi berkembang pesat sejak tahun 1980-an.Bahkan,brown mengatakan kajian soal resistensi, “has become a central,perhaps even a dominan theme in the study of social life.Dampak pergolakan politik internasioanal saat itu menjadi penyebab utama karena “to some extent theory mirrots the political struggles of our time’.Di sini dapat di sebutkan kajian lain mengenai masuknya teknologi baru kedalam suatu komunitas yang “mengancam” komunitas bersangkutan dan serta-merta memunculkan resistensi. Resistensi juga muncul dalam tatanan social yang cenderung terlalu membatasi hubungan laki-laki dan perempuan, baik dalam komunitas agama maupun ras, serta perlawanan perempuan terhadap  green farming techniques .hasil berbagai penelitian memperlihatkan bahwa resistensi dapat saja terjadi di semua konteks, “ resistance came only at specific times in their life cycles and coinciding  with wider historical events or changes “ dan fragmented resistance informs us of the power of structures of subordination.” Karena struktur semacam itulah resistensi dilakukan dengan teknik-teknik simbolik. Selain untuk mencapai tujuan yang di inginkan, teknik tersebut dipakai untuk mencegah konflik terbuka. Jadi, resistensi merupakan ekspresi perlawanan dengan mempertimbangkan serta mencegah konflik.

Dengan demikian, politik sebagai arena public sphere dan dianggap merupakan dunia kaum lelaki menjadi medan yang sangat berat untuk dimasuki kaum perempuan. Dalam sejumlah kajian para antropolog , seperti Meyer Portes dan Evan Pritchard serta Edmund Leach, arena tersebut di gambarkan sebagai medan perjuangan laki-laki dalam meraih kekuasaan dengan menafikan sama sekali peran perempuan didalamnya. Setidaknya ada enam penyebab yang menghambat perempuan masuk serta terlibat dibidang politik. Pertama, watak dan system kepartaian yang sangat maskulin, kedua, fragmentasi aktivis perempuan berbasis kepentingan , aliran, dn kelompok. Ketiga, secara ekonomi perempuan dinilai sebagai individu “the have not”. Ke empat, tidak ada dukungan dari lingkungan. Kelima , media massa cenderung mendiskreditkan perempuan. Keenam, kepercayaan public yang rendah . semua itu menunjukan tertanam kuatnya budaya patriarki dalam merawat imaji “tradisional “ perempuan agar tetap berada dan bergiat hanya di wilayah domestic.

Beberapa penelitian dengan menggunakan “pendekatan gender” menemukan bahwa rendahnya  partisipasi perempuan diranah politik disebabkan oleh antara lain, kentalnya budaya patriarki, proses seleksi dalam lingkup internal partai politik yang di atur dan ditetapkan oleh sekelompok kecil pimpinan partai ( sebagian besar laki-laki ), pengaruh ideology dan fsikologis  serta kurangnya motivasi dan rasa percaya diri perempuan. Karena itu, dapat dimengerti bahwa sejak proses rekrutmen hingga partisipasi dlam setiap aktivitas kepartaian , perempuan menemui berbagai kendala untuk dpat mengekspresikan kemampuan diri secara penuh. Bahkan dengan pendekatan gender serta menggunakan item-item parameter keadilan gender –akses, partisipasi, control, dan manfaat keterlibatan perempuan masih terlihat sangat rendah.

Penelitian tentang partisipasi perempuan di bidang politik dapat dikatakan merupakan kajian yang sangat penting. Sayangnya, pendekatan gender yang dipakai dalam beberapa penelitian tersebut tidak dilakukan secara mendalam , sehingga nilai-nilai dasar yang menyebabkan rendahnya partisipasi perempuan di bidang politik tidak terungkap secara terang-benderang .dalam menerapkan parameter keadilan gender pun. Penelitian-penelitian tersebut memakai tolak ukur yang sulit di pahami dalam konteks  tertentu. Berbeda dengan sapiro dan Rosenwasser yang meneliti fenomena rendahnya partisipassi perempuan di ranah politik dari “ perspektif para pemilih” . dengan menggunakan parameter psikologi politik dan beberapa kriteria. , para pemilih cenderung memilih bakal calon perempuan , namun prilaku mereka jelang pemilihan belum tentu di tujukn kepada perempuan . hasil kajian Rosenwasser senada dengan temuan  Sapiro.

Hal tersebut menunjukan persepsi awal para pemilih lebih positif tertuju pada perempuan karena penelitian itu dilaksanakan dikalangan mahasiswa yang dinilai memiliki pemikiran lebih terbuka. Meski, sekali lagi perilaku mereka jelang pemilihan berbeda dengan persepsi semula. Dalam konteks Indonesia, kajian tentang perempuan yang terjun dan aktif dalam dunia politik , baik di lembaga eksekutif maupun legislatif , telah banyak di lakukan. Namun sangat sulit menemukan bagaimana sikap dan perilaku perempuan yang “menekuni” aktivitas politik di lembaga-lembaga tersebut.  Namun demikian, dapat ditarik benang merah bahwa penelitian tentang resistensi perempuan anggota parlemen daerah (merupakan sebuah kajian sama berbeda dengan kajian-kajian sebelumnya. Dan semoga  diperoleh gambaran lebih utuh mengenai resistensi perempuan dalam fungsi mereka sebagai anggota legislatif.

PENUTUP

Posisi perempuan yang subordinasi merupakan hasil kontruksi patriarki dan kapitalis baik secara sosial maupun budaya. Posisi perempuan yang subordinasi memiliki kesempatan untuk mendominasi laki-laki ketika perempuan mampu untuk memanfaatkan potensi diri dan kecerdasannya. Kesempatan perempuan untuk merekonstruksi posisi perempuan akan terjadi ketika perempuan memiliki posisi tawar yang kuat terhadap dominasi patriarki. Posisi tawar perempuan akan memunculkan negosiasi ulang dari patriaki. Perjuangan perempuan untuk keluar dari hegemoni patriaki dan kapitalis harus dilakukan secara kolektif. Di samping itu keberhasilan perlawanan dan negosiasi perempuan harus ditunjang pula oleh kesadaran perempuan bahwa mereka adalah kaum tertindas sehingga secara kolektif mereka melakukan perlawanan terhadap p

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah ed, Dr. Irwan. 1997. Sangkan Paran Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Misbah Zulfa Elizabeth , 2019 , Resistensi perempuan parlemen , Depok,  LP3ES

A. G, Ridwan. 2006. Kekerasan Berbasis Gender. Purwokerto: PSG (PusatStudiGender).

Anwar, Dessy.2001. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Karya Abdi Tama.

Djajanegara, Soernajati. 2003. Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.

Djajasudarma, T. Fatimah. 1993. Metode Linguistik Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung: PT Eresco.

Djajasudarma, T. Fatimah. 2006. Metode Linguistik Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung: PT Refika Aditama.

Fakih, dr. Mansour. 1999. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Handayani, Trisakti. 2001. Konsep dan Teknik Penelitian Gender. Malang: Pusat Studi Wanita dan Kemasyarakatan Universitas Muhammadiyah Malang.

Luxemburg, Jan Van, Mieke Bal dan Willem G Weststeijn. 1986. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Mosse, Julia Cleves. 2003. Gender dan Pembangunan. Yogyakarta: PustakaPelajar

Mabruri, Zuniar Kamaluddin. 2010.”Resistensi Klara Akustia terhadap Ketimpangan Sosial dalam Kumpulan Sajak Rangsang Detik:Tinjauan Semiotik”,

Universitas Muhammadiyah, Surakarta (belum diterbitkan).

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2005. Kamus Besar bahasa

Indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Ratna S.U, Prof. Dr. Nyoman Kutha. 2009. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa Sudaryanto.1992.

Metode Linguistik kearah Memahami Metode Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sudjiman, Panuti. 1986. Kamus Istilah Sastra. Cetakan II. Jakarta: Gramedia.

Suharto, Sugihastuti. 2002. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suyanto, Bagong dan Emy Susanti Hendrarso. 1996. Wanita: Dari Subordinasi

Comment

News Feed