by

PEMBERDAYAAN BAKAT DAN MINAT MELALUI EKSTRAKURIKULER TEMATIK BAHASA

PROGRAM BAKMI ENDOLITA

Oleh Hendra Permana, S.Pd.,M.Pd. CGP Jenjang SMA Kabupaten Garut

Setiap anak atau peserta didik di sekolah memiliki kodrat alam dan kodrat zaman yang berbeda dan bervariasi satu sama lain. Jauh-jauh hari Ki Hajar Dewantara telah menegaskan bahwa karena perbedaan kodrat mereka, maka setiap siswa memiliki minat dan kemampuan yang berbeda dalam meraih cita-citanya melalui pembiasaan dalam proses pembelajaran. Bagi seorang guru yang mendarmabaktikan pekerjaannya untuk mendidik siswa di sekolah, sudah barang tentu harus menjadi prioritas utama bahwa korat alam siswa harus di optimalkan melalui kegiatan-kegiatan yang medorong bakat dan minat siswa untuk mengembangkan potensinya sebagai bekal mereka meraih kedewasaan dan kebahagiaan hidupnya.

Dalam keseharian siswa belajar, terkadang kita melewatkan bahwa walaupun setiap anak diajarkan ilmu atau kecakapan Bahasa yang sama, tetapi terkadang bakat siswa mengarahkan siswa untuk menyukai hal yang lebih khusus atau spesifik dari ini kecakapan Bahasa yang diajarkan atau dipelajari oleh mereka melalui proses pembiasaan. Sebagaimana halnya pembelajaran kecakapan Bahasa terkadang guru tidak bisa memaksakan mereka harus pintar semua kecakapan Bahasa yang diajarkan.

Dalam proses pembelajaran Bahasa yang mengasah keterampilan berbicara ada beberapa divisi atau bagian yang sering diajarkan dan dipraktekan oleh guru di dalam atau di luar kelas, di dalam proses pembelajaran intrakurikuler ataupun dalam kegiatan ekstrakurikuler. Kecakapan tersebut diantaranya adalah kecakapan Berpidato (Speech), Berdebat Parlementer (Parliamentary Debate), deklamasi puisi (Poetry Reciting), membaca berita (News Anchor), Reportase (News Reporting), dan Bercerita (Story Re-telling)

 Dapat dipastikan, berdasarkan kodrat alam siswa, mereka seringnya tidak bisa menguasai secara komprehensif setiap kecakapan (Skill) yang diajarkan. Apabila mereka tetap mempelajari keseluruhan skill yang diajarkan, terkadang siswa malah tidak fokus terhadap apa yang mereka pelajari. Ada kecenderungan yang ditemukan biasanya siswa hanya bisa satu saja dan yang lainnya mereka banyak yang mengakui bahwa yang lainnya adalah sulit. Begitu pula pemilihan Bahasa yang mereka gunakan terkadang mereka mau berlatih tetapi dalam Bahasa yang mereka anggap mampu untuk melakukannya. Mereka terkadang mau memilih salah satu kecakapan misalnya debat atau pidato tetapi mereka seringnya memilih media Bahasa Indonesia sebagai media latihnya. Banyak alasan yang dikemukakan oleh mereka untuk memilih apakah Bahasa yang digunakan untuk media belajaranya itu Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, ataupun Bahasa Jerman yang notabene di SMAN 11 Garut adalah sebagai salah satu Bahasa yang diajarkan sebagai muatan lokal ciri khas sekolah kami.

Berdasarkan latar belakang yang disampaikan, maka atas nama kepentingan siswa di sekolah, saya mencoba menggagas sebuah program yang dapat mengakomodir keinginan dan harapan siswa untuk belajar kecakapan berbahasa dengan program pemilihan kecakapan yang akan mereka lakukan dalam proses pembelajaran sesuai bakat dan minat mereka. Program tersebut dinamakan Program Bakmi Endolita . Akronim dari program ini adalah PRogram BAkat dan MInat Ekstrakurikuler INDOnesia dan Literasi Inggris yang Tertata Apik yang mengakomodir keinginan siswa untuk menguatkan dan memantapak bakat yang mereka miliki dalam berbicara melalui media Bahasa Inggris (English) dan Bahasa Indonesia.

Proses penerapan aksi nyata dari Program Bakmi Endolita  dilaksanakan dengan memperhatikan kondisi sekolah di masa pandemi dan melalui proses tahapan sebagai berikut:

  1. Melalui wakil kepala urusan kesiswaan, meminta izin untuk membimbing siswa melalui penguatan program ekstrakurikuler Bahasa yang telah tersedia yaitu Ekstrakurikuler English Club dan Ekstrakurikuler Debat Bahasa
  2. Menyampaikan program Bakmi Endolita kepada guru pembina ekstrakurikuler tersebut.
  3. Menyampaikan visi misi program kepada pengurus English Club dan Perkumpulan Debat tentang tujuan Program Bakmi Endolita.
  4. Melakukan penelusuran bakat dan minat secara sederhana melalui diskusi-diskusi terbatas di sekolah terkait program yang lebih diminati dalam proses belajar Bahasa melalui ekstrakurikuler apakah mereka memilih Berpidato (Speech), Berdebat Parlementer (Parliamentary Debate), deklamasi puisi (Poetry Reciting), membaca berita (News Anchor), Reportase (News Reporting), dan Bercerita (Story Re-telling)
  5. Mengajak rekan guru Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia untuk turut serta menjadi sukarelawan dalam proses pengajaran konsep setiap jenis kecakapan yang dipilih oleh siswa
  6. Mengajar kecakapan yang diminati oleh siswa oleh para sukarelawan guru yang bersedia pula untuk membidangi salah satu kecakapan yang diminati oleh siswa
  7. Program ini alhamdulillah tahap pertama telah bisa memetakan keinginan dan harapan siswa untuk memilih program yang sesuai dengan harapan mereka dan mau memulai konsen dalam bidang yang mereka sukai. Kedua guru-guru sudah mulai memilih kecakapan yang mana yang kira-kira lebih dikuasai agar Ketika mengajarkan skill tersebut kepada siswa guru pun merasa mampu dan dapat berkontribusi positif terhadap peningkatan kemampuan siswa dalam bidang yang berbeda-beda sesuai dengan pilihannya.Ketiga walaupun kami berkeiinginan bahwa setiap siswa dapat memilih sesuai dengan bidang kecakapan yang disediakan yaitu Berpidato (Speech), Berdebat Parlementer (Parliamentary Debate), deklamasi puisi (Poetry Reciting), membaca berita (News Anchor), Reportase (News Reporting), dan Bercerita (Story Re-telling). Tetapi pada tahap awal ini bidang kecakapan yang dipilih oleh siswa adalah Berpidato (Speech), Berdebat Parlementer (Parliamentary Debate), membaca berita (News Anchor), dan Bercerita (Story Re-telling). Selain itu siswa masih ingin mempertahankan kegiatan yang telah dijadikan sebagai ajang berkumpul dan berkolaborasi dalam mengasah berpikir kritis (critical thinking) yaitu kegiatan Menonton Film (watching movie) dan Scrabble.

Setiap program yang digulirkan tentu saja akan membawa dampak yang berbeda-beda dalam proses implementasinya, begitu pula Ketika Program Bakmi Endolita  ini digulirkan banya ragam pendapat dan asumsi. Namun secara khusus dampak yang muncul dari proses ini adalah:

  1. Siswa dalam ekstrakurikuler Bahasa menemukan bidang kajian baru dimana mereka dituntut untuk memiliki kecakapan berbicara tetapi melalui bidang kecakapan yang sesuai dengan minat dan bakat mereka
  2. Siswa dapat memilih dengan bebas program yang ditawarkan kepada mereka tanpa harus terbebani untuk tetap belajar kecakapan yang dianggap oleh mereka tidak disukai atau tidak cukup mampu pada bidang tersebut, contohnya terkadang anak yang memilih bidang puisi, kurang tertarik untuk menekuni bidang debat. Karena karater dua kecakapan ini berbeda satu sama lain.
  3. Siswa merasa lebih siap untuk mengikuti lomba yang ditawarkan oleh pihak penyelenggara di luar atau universitas, karena mereka merasa dibekali kecakapan yang akan digunakan oleh mereka Ketika mereka mengikuti kegiatan perlombaan sesuai bidangnya masing-masing
  4. Guru mata pelajaran Bahasa dapat garapan baru untuk mengajarkan kecakapan sesuai dengan bidang yang diminati atau dikuasai oleh mereka, sehingga ada Kerjasama dalam mengajarkan siswa bidang keahlian yang dipilihkan oleh siswa.
  5. Sekolah dapat dengan mudah memilih delegasi yang akan diikutsertakan dalam berbagai kegiatan karena keahlian yang diajarkan mendukung untuk menjadi siswa yang memahami bagaimana mereka berpartisipasi dalam perlombaan yang ditentukan oleh pihak penyelenggara dari luar sekolah.

Tak ada gading yang tak retak, demikian peribahasa mengisyaratkan bahwa setiap program tentu saja memerlukan evaluasi agar setiap Langkah yang dijalankan terukur dan terarah. Begitu pula Ketika Program Bakmi Endolita  digulirkan penulis menemukan bahwa masih banyak proses dan Langkah yang harus direformulasi dan direka ulang agar kedepannya program ini berjalan dengan pengayaan dari setiap evaluasi yang dilakukan. Evaluasi program ini terkait dengan kendala-kendala yang ditemukan Ketika grand design program ini bertemu dengan hal yang tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan. Adapun kendala-kendala tersebut diantaranya adalah:

  1. Pandemi telah memposisikan seluruh civitas yang terlibat untuk melakukan kegiatan dengan kendala keterbatasan seperti a) guru-guru belum semuanya mendukung program tersebut karena kekhawatiran akan efek kegiatan terkait dengan pandemic covid-19 yang semakin mengkhawatirkan, sehingga beberapa diantaranya berjanji membantu apabila pandemi sudah sedikit mereda sehingga sampai tulisan ini disajikan, baru dua guru Bahasa Inggris yang bersedia untuk membantu proses jalannya program ini; b) Siswa yang aktif dan terlibat dalam kegiatan ini cukup terbatas, karena siswa diwajibkan untuk BDR (belajar dari rumah) sehingga Ketika proses penerapan program hanya beberapa yang dilibatkan dengan sesuai dengan prokes dan izin orang tua.
  2. Sesuai dengan pilihan siswa, program yang dikerjakan belum menyeluruh sesuai dengan rencana. Tetapi program yang dipilih sudah cukup mewakili siswa yang dapat hadir dalam sesi pembelajaran dan sesi simulasi. Mereka baru memilih Berpidato (Speech), Berdebat Parlementer (Parliamentary Debate), membaca berita (News Anchor), dan Bercerita (Story Re-telling). Hal ini karena keterbatasan jumlah peserta yang mengikuti kegiatan. Ditahap selanjutnya, ditahun ajaran baru harapan besarnya adalah pandemic sudah selesai dan banyak siswa yang menggunakan waktu terbaiknya untuk mengasah bakat yang dimiliki sesuai bidang yang ditawarkan
  3. Fokus guru yang mengajar dan fokus siswa yang belajar menjadi bahan kajian selanjutnya bagi sekolah agar siswa tetap semangat dan guru tetap semangat mengajar, yakni dengan merancang pembiayaan yang dapat membantu proses bergulirnya Program Bakmi Endolita kemudian penjadwalan yang lebih jelas, agar sama-sama guru dan siswa tidak bentrok waktu Ketika program digulirkan. dan masih banyak kendala yang muncul, meskipun pada dasarnya program ini tetap berjalan dengan semangat karena beberapa siswa yang telah memilih program yang ditawarkan adalah tanggung jawab moral yang harus dibina dan dijaga semangatnya agar mereka mendapatkan pelayanan yang semestinya dari kami guru-guru mereka.

Dokumen Program

Simulasi Debat Bahasa Indonesia
Simulasi Debat Bahasa Indonesia
Praktik Sambil Belajar Debat Bahasa Inggris
Praktik Sambil Belajar Debat Bahasa Inggris
Praktik Membaca berita
Praktik Membaca berita

Comment

News Feed