by

Dollar Yang mempengaruhi Perekonomian Indonesia

Oleh : Nova Rizkya Ning Putri (Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang)

Indonesia merupakan negara yang menganut perekonomian terbuka. Perekonomian terbuka ditandai dengan adanya kegiatan perdagangan maupun politik antar negara. Dalam perekonomian terbuka, penggunaan uang dalam memperlancar transaksi tidak terbatas hanya dilakukan antar penduduk, tetapi juga dapat dilakukan antar penduduk suatu negara dengan negara lain dengan menggunakan mata uang yang disepakati. Di masing-masing negara, terdapat banyak nilai tukar atau kurs nominal. Dolar Amerika Serikat dapat digunakan untuk membeli yen Jepang, pound Inggris, rupiah Indonesia, dan sebagainya. Ketika para ekonom mempelajari perubahan-perubahan pada nilai tukar mata uang, mereka seringkali menggunakan indeks yang menyatakan rata-rata dari nilai tukar tersebut.

Kurs atau nilai tukar mata uang adalah harga dari mata uang yang digunakan oleh penduduk negara-negara tersebut untuk saling melakukan perdagangan antara satu sama lain. (Mankiw, 2007). Kurs dapat dijadikan sebagai alat untuk mengukur kondisi perekonomian suatu negara. Pertumbuhan nilai mata uang yang stabil menunjukkan bahwa suatu negara memiliki kondisi ekonomi yang stabil (Salvator, 1997:10). Kurs rupiah di Indonesia mengacu pada dollar Amerika, sebab perdagangan internasional didominasi dengan transaksi menggunakan dollar Amerika. Kurs rupiah yang meningkat menyebabkan nilai rupiah melemah terhadap dollar Amerika.

Namun belakangan ini kurs dolar terus naik , tentu saja ada banyak hal yang mempengaruhi naik nya kurs dollar setiap harinya antara lain:

  • Bank sentral Amerika, Federal Reserve, berencana menaikkan suku bunga acuan. Federal Reserve itu seperti Bank Indonesia-nya Amerika. Karena suku bunga dolar naik, imbal hasil surat utang dolar juga otomatis naik. Maka banyak investor di bursa efek mengalihkan dana investasinya ke Amerika.
  • Permintaan dolar pada semester II tiap tahun umumnya naik karena ada pembagian dividen emiten. Karena sebagian besar investor di bursa efek dari asing, mereka mengalihkan dividen itu ke mata uang dolar AS.
  • Importir lebih banyak memegang dolar AS untuk kegiatan bisnis. Dolar juga banyak dibeli perusahaan untuk membayar utang bermata uang dolar karena takut nilai dolar makin naik. Jika dolar lebih kuat, utang jadi lebih besar.
  • Impor barang konsumsi naik menjelang Lebaran, sehingga defisit transaksi berjalan ikut naik.
  • Pertumbuhan ekonomi belum mencapai target.

 Dari adanya keniakan kurs dolar ini tentu mempengaruhi perekonomian ekspor-impor di Indonesia . Kondisi perekonomian di Indonesia saat ini sedang mengalami penurunan karena kenaikan kurs dollar hingga lima belas ribu rupiah (RP. 15.000), dikarenakan kondisi seperti ini harga barang yang diekspor oleh Indonesia mengalami penurunan harga , sedangkan harga impor barang yang diimpor ke Indonesia mengalamai peningkatan sehingga Indonesia mengalami kerugian dalam perekonomian. Melemahnya rupiah menjadi dilema bagi BI sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas urusan moneter dalam negeri. Bersama dengan Pemerintah, BI terus menstabilkan nilai rupiah yang turun dan menjaga rupiah agar tidak melemah. Menaikkan suku bunga merupakan langkah yang mau tak mau harus dilakukan.

Selain itu harga dollar juga mempengaruhi harga otomotif , obat – obatan . Vincent Harijanto mengatakan bahwa tak akan sanggup lagi menahan harga jika kurs Rupiah menembus 15.000,00 per Dollar. Dari penjelasan ini dapat dikatakan kenaikan kurs Dollar Amerika Serikat sangat berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Tidak hanya itu kenaikan dollar juga berdampak pada utang negara yang membesar dari asumsi APBN. Utang negara Indonesia sebagian besar berbentuk dolar AS, sehingga dengan melonjaknya nilai mata uang tersebut, jumlah utang Indonesia pun otomatis lebih besar dari prediksi sebelumnya. Dalam APBN tahun 2018, pemerintah mengasumsikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp 13.400 per dolar AS. Akibatnya, perkiraan keuangan negara pun banyak yang meleset.

Adapun beberapa pihak yang justru merasa diuntungkan dengan nilai dolar naik ini, misalnya saja eksportir yang target pasarnya adalah konsumen luar negeri. Meskipun mereka menjual barang dengan harga yang sama, selisih dolar terhadap rupiah bisa menjadi keuntungan. Melemahnya daya konsumsi impor juga bisa membuat barang lokal berjaya di negara sendiri. Tak hanya itu, sektor pariwisata juga akan mendulang untung. Biaya hidup yang relatif lebih “murah” di Indonesia, akan mendatangkan turis-turis dari manca negara.

Sebenarnya masyarakat Indonesia sadar akan adanya kita memiliki sifat konsumtif sangat tinggi. Sedikit-sedikit ingin membeli barang yang katanya lebih bagus, lebih hebat, dan lebih-lebih lainnya. Kita gampang sekali termakan iklan hingga akhirnya tabungan harus rela diusik ketenangannya. Saat dolar naik tak terbendung, dengan sangat terpaksa harus berhemat dalam membeli barang-barang. Terutama yang berasal dari luar negeri. Jika terus saja boros, kebutuhan selama sebulan tidak akan mencukupi, bahkan bisa jadi minus. Untuk itu, saat dolar sedang naik daun, anggap saja sedang puasa. Menahan diri untuk tidak membeli ini itu. Hemat tidak akan membuat kita mati, kok. Apa lagi sampai jadi orang yang pelit dan terlalu perhitungan.

Salah satu faktor yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia khususnya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah yang memiliki potensi tempat wisata. Dengan adanya wisatawan ikut membantu perkembangan sektor riil di sekitar tempat wisata dan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar dan pemerintah daerah. Hal ini juga dapat membantu pemulihan perekonomian Indonesia terhadap kenaikan dollar ,

Tak bisa dipungkiri lagi jika dunia internet memberikan dampak besar bagi seluruh orang di dunia. Termasuk kita yang berada di Indonesia. Belakangan ini sebuah peluang bisnis baru banyak bermunculan di internet. Salah satu yang kian tenar adalah internet marketer. Pelaku di bidang ini lebih banyak menggunakan dolar untuk segala transaksinya. Saat dolar naik tentu mereka kebagian untung meski mungkin dampaknya hanya sementara.

Surplus yang diterima dapat lebih besar jika Indonesia dapat menggenjot tingkat ekspor lebih tinggi lagi terutama ke negara-negara mitra dagang utama seperti China, Australia, Malaysia hingga AS. Di antara komoditas ekspor yang dapat dimaksimalkan selain minyak dan gas di antaranya kelapa sawit/CPO. Indonesia bersama Malaysia merupakan pengekspor utama CPO di dunia dengan pangsa pasar hampir 50%. Indonesia perlu memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan nilai tambah dari produk CPO sehingga mampu meningkatkan jumlah surplus yang diterima ke depannya. Dengan ini kita juga dapat mengatasi perekonomian Indonesia terhadap dollar AS.

Referensi

Siti Parida

Comment

News Feed