by

Kakek miskin Melapor 11 Tahun Tidak Proses, Ketika Sikaya Melapor Hitungan Hari langsung di Proses..!!

Duri, LINTAS PENA.

H. Jubahar Rasta (74 th), warga Jalan Jawa, Kelurahan Gajah Sakti, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau, merasa di Zolimi oleh Mardianto keponakannya sendiri dari 20 tahun silam. Lahan milik orang tuanya yang di serobot dan dikuasai oleh Mardianto (50), anak ke 4 dari Adnis Rasta, Adnis Rasta merupakan adik kandung dari H Jubahar Rasta. Mardianto yang hanya anak dari PENERIMA WARIS tidak ada lagi rasa persaudaraan dan tak lagi memandang susunan silsilah keluarganya.

Mulai dari dugaan Perampasan, menjual, menyewakan warisan dan menggelapkan sertifikat tanah dan Kios atas nama Rasima (neneknya), serta mengenyampingkan hak hak Ahli waris dan penerima waris lainnya. Menurut Jubahar Rasta di tahun 2010 ia pernah melaporkan Penyerobotan namun tidak diproses, lalu melaporkan Mardianto melakukan penganiayaan pemukulan terhadap Alm pamannya yang bungsu dengan menggunakan Sekop dan sempat divisum namun tidak ada proses hukumnya, kemudian di tahun 2018 kembali Jubahar Rasta melaporkan penyerobotan, juga tdk diproses, terkesan kebal hokum.

Lebih kurang 20 tahun hak warisan yang seharusnya dikelola dan dibagi oleh H. Jubahar Rasta Pewaris tunggal tetapi tetap dikuasai oleh terlapor (Mardianto) dengan menyewakan kepada pedagang pedagang, diduga sudah meraup keuntungan lebih kurang 1 milyar selama 20 tahun, sekarang ahli waris atau pelapor malah terkesan dicari-cari kesalahannya dan dilaporkan sebagai penipuan oleh Bambang Irwanto (Toko Berkat) calon Pembeli yang diduga telah main mata dengan Terlapor. Jubahar Rasta,” Semenjak Rasima ibu saya Meninggal, kemudian Adnis Rasta adik saya meninggal dan Tasril adik saya yang bungsu juga meninggal, lebih kurang 20 thn sampai hari ini saya tidak pernah melihat surat sertifikat asli Tanah Rumah kios yang terletak di Simpang Empat Jalan Obor deretan Pasar Sartika kelurahan Duri Barat tersebut, bahkan saya pernah mengatakan kepada Mardianto akan menjual tanah tersebut untuk dibagi kepada keponakan keponakan semua, saat itu Mardianto baru keluar dari penjara, kemudian saya tanya mana surat tanah itu, surat tidak ada, tapi surat ada sama Uwan (Paman) tanyanya balik.

Berdasarkan itulah saya menganggap surat itu benar benar hilang dan mengurus surat baru kemudian balik nama ke nama saya karena saya satu satunya ahli waris yang masih hidup.” ujarnya. “Setelah melalui proses yang panjang maka terbitlah surat Sertifikat yang baru, dan salah seorang pegawai BPN berpesan kalau ditemukan surat yang lama tolong kembalikan kepada Kami dan surat yang lama sudah tidak berlaku lagi karena sudah di vakum kan pesannya.” papar Jubahar.

“Celakanya saat Bambang Irwanto (Toko Berkat) akan membeli lalu ketika diukur ulang oleh Tim BPN tiba tiba Mardianto melarang untuk di ukur dia mengaku surat sertifikat dasar ada sama saya katanya, anehnya Tim BPN langsung percaya lalu pergi tanpa melihat dan mempertanyakan surat yg ada pada Mardianto.” Ulas Jubahar

Karena dihalangi oleh Mardianto maka Kami mengadukan mempertanyakan Kepada BPN di Bengkalis, Bahwa surat sertifikat yang lama sudah di temukan oleh keponakan saya, tapi dia tidak mu mengembalikan, kami mohon kepada BPN untuk menariknya, takut nanti disalah gunakan, maka Pihak BPN berjanji akan menyurati dan turun akan menarik Sertifikat yang lama tersebun. Disaat menunggu proses penarikan sertifikat yang lama oleh BPN, Bambang Irwanto tidak sabar menunggu lalu melaporkan Jubahar Rasta kepolsek Mandau dengan tuduhan Penipuan, langsung diproses.

Jubahar heran,” hanya hitungan hari saya langsung di panggil dan diperiksa bahkan penyidikpun bilang saya langsung dipenjara, sementara laporan saya dari tahun 2010, laporan Penganiayaan dan laporan tahun 2018 tidak diproses sampai sekarang, apakah karena saya miskin.” Rintihnya dengan mata berkaca kaca. Kemudian yang sangat mengherankan lagi pada hari Jum’at (02/07/2021) sekira jam 11 pagi setelah pemeriksaan saya dihentikan, karena saya pusing dan akan di sambung hari Senin, lalu setelah saya keluar dari ruangan penyidik unit 2, saya di kasih amplop warna Kuning 2 sekaligus oleh penyidik Unit 4 yang isinya sangat aneh ternyata laporan perkembangan kasus hasil penyelidikan tertanggal 25 maret 2018 dan 16 september 2018 lalu baru di kasi sekarang,” terang Jubahar heran.

Ketika dikonfirmasi Kepada Humas Polsek Mandau melalui WA (Whatsapp) (02/07/21) belum ada jawaban, lalu saat dikonfirmasi kepada Iptu Firman Fadilla Kanit Reskrim polsek Mandau pada tanggal 08/07/2021 melalui pesan WA (Whatsapp) tidak ada jawaban, Kemudian dikonfirmasi kepada Kapolsek Mandau AKP J.L. Toruan melalui WA (Wabshap) Kapolsek menjawab “Saya pelajari dulu” ujarnya.

Dalam hal tersebut sangat disayangkan kinerja oknum penyidik Polsek Mandau diduga ada bermain dalam hal penanganan kasus kasus yang tidak kunjung selesai, membuat masyarakat semakin krisis kepercayaan kepada penegak hukum. Dalam proses panjang yang tidak kenal lelah, meski terseot seot diusia yang sudah 74 Tahun, ia berharap disisa umurnya ia bisa menuntaskan pembagian harta warisan kepada keponakan keponakannya, agar kelak tidak ada perebutan dan jangan sampai terjadi pertumpahan darah pada anak cucunya kelak. Salah seorang Penasehat Presiden yang enggan disebut namanya dari Sumut saat berkunjung ke Kota Duri (02/07/21) terlihat Geram mendengar kinerja oknum Polsek Mandau Polres Bengkalis “Polsek Mandau Layak dikasih Bintang” Sindirnya sambil memoto Laporan Tahun 2018. (Tim)

Comment

News Feed