oleh

#6 SERI CERPEN KARHUTLA : Paul Bertanya, “Siapa Yang Menyalakan Api?”

Penulis: Prof. Dr. Ir. Agus Pakpahan, M.S.

20 Oktober 2026

1. PERTANYAAN YANG PALING DISUKAI MANUSIA

Pagi itu asap kembali terlihat di kejauhan.

Paul sedang minum kopi ketika seorang pemuda datang tergesa-gesa.

“Paul!”

“Ya?”

“Ada kebakaran.”

Paul meletakkan cangkir.

“Di mana?”

“Dekat kampung sebelah.”

“Siapa yang menyalakan?”

Pemuda itu terdiam.

“Belum tahu.”

Paul mengangguk.

“Bagus.”

Pemuda itu heran.

“Bagus bagaimana?”

“Berarti kita belum tahu.”

“Bukankah itu masalah?”

“Masalah.”

“Lalu mengapa bagus?”

“Karena kita belum membuat kesimpulan sebelum mengetahui faktanya.”

Pemuda itu mengangguk pelan.

Paul kemudian bertanya:

“Sekarang pertanyaan kedua.”

“Apa?”

“Siapa yang harus kita hubungi?”

Pemuda itu segera mengambil telepon.

2. API MEMANG MEMPUNYAI KEBIASAAN BURUK

Mereka tiba di lokasi.

Api terlihat di kejauhan.

Tidak besar.

Belum.

Paul memperhatikan arah angin.

Ia melihat vegetasi.

Ia melihat kondisi tanah.

Ia melihat kanal.

Ia melihat jalan masuk.

Kemudian ia bertanya:

“Kenapa api ini bisa menyebar?”

Seorang warga menjawab:

“Karena ada yang membakar.”

Paul mengangguk.

“Benar.”

“Jadi pelakunya yang harus dicari.”

“Benar.”

“Tangkap.”

“Kalau terbukti melanggar hukum, proses sesuai hukum.”

Warga itu tersenyum.

“Berarti selesai.”

Paul menggeleng.

“Belum.”

“Kenapa lagi?”

“Karena kita baru menjawab siapa yang mungkin menyalakan.”

“Lalu?”

“Belum menjawab mengapa api menjadi kebakaran.”

3. MENYALAKAN API DAN MEMBESARKAN API ADALAH DUA HAL

Paul mengambil ranting.

Ia membuat gambar di tanah.

Sebuah titik.

“Ini penyalaan.”

Kemudian ia menggambar lingkaran besar.

“Ini kebakaran.”

Ia menghubungkan keduanya.

“Yang pertama menjelaskan bagaimana api dimulai.”

“Yang kedua menjelaskan bagaimana api berkembang.”

Seorang pemuda berkata:

“Bukankah sama?”

“Tidak.”

Paul menunjuk tanah.

“Api kecil dapat mati sendiri.”

Ia menunjuk vegetasi kering.

“Api kecil dapat menjadi besar.”

Ia menunjuk gambut.

“Api kecil dapat masuk ke bawah.”

Ia menunjuk angin.

“Api dapat berpindah.”

Ia menunjuk kanal.

“Api dapat mengikuti lanskap yang telah berubah.”

Kemudian Paul berkata:

“Mencari orang yang menyalakan api penting. Tetapi memahami sistem yang membuat api menjadi bencana sama pentingnya.”

4. KETIKA SEMUA ORANG MENCARI SATU ORANG

Siang harinya, rapat kampung dimulai.

Seseorang berkata:

“Pasti orang luar.”

Yang lain:

“Pasti petani.”

Yang lain:

“Pasti perusahaan.”

Yang lain:

“Pasti ada yang sengaja.”

Yang lain lagi:

“Pasti karena El Niño.”

Paul mencatat semuanya.

Ketua rapat bertanya:

“Paul, menurutmu yang mana?”

Paul melihat catatannya.

“Saya belum tahu.”

Semua orang tertawa.

“Paul, kamu sudah tinggal di sini bertahun-tahun.”

“Justru karena itu.”

“Karena apa?”

“Saya belajar bahwa hutan tidak suka menjawab pertanyaan yang terburu-buru.”

5. EL NIÑO DUDUK DI BANGKU TERDAKWA

Seseorang berkata:

“Jangan lupa El Niño.”

Paul mengangguk.

“Ya.”

“Berarti El Niño penyebabnya?”

Paul bertanya:

“Kalau ada El Niño, apakah semua hutan terbakar?”

“Tidak.”

“Kalau tidak ada El Niño, apakah kebakaran tidak pernah terjadi?”

“Tidak juga.”

Paul tersenyum.

“Kalau begitu, El Niño bukan terdakwa tunggal.”

“Lalu?”

“Dia mungkin memperbesar risiko.”

“Jadi?”

“Cuaca dapat membuat lanskap lebih mudah terbakar.”

Paul menunjuk gambut kering.

“Tetapi manusia menentukan banyak hal tentang kondisi lanskap itu.”

6. GAMBUT MASUK KE RUANG SIDANG

Paul membuat permainan.

Ia berkata:

“Sekarang kita adakan pengadilan.”

Seorang anak bertanya:

“Siapa terdakwanya?”

“Gambut.”

Semua tertawa.

Paul menjadi hakim.

“Gambut, kamu dituduh mudah terbakar.”

Seorang anak yang menjadi pengacara gambut berdiri.

“Keberatan!”

“Alasannya?”

“Gambut tidak bersalah.”

Paul mengetuk meja.

“Kenapa?”

“Karena gambut yang basah tidak sama dengan gambut yang kering.”

Paul tersenyum.

“Diterima.”

Kemudian seorang anak bertanya:

“Jadi siapa yang mengeringkan?”

Paul menjawab:

“Nah.”

Semua tertawa lagi.

Paul kemudian berkata:

“Permainan selesai.”

Ia menjadi serius.

“Dalam dunia nyata, pertanyaan seperti ini harus dijawab dengan data.”

7. SIAPA YANG MENCIPTAKAN KERENTANAN?

Paul menulis tiga pertanyaan:

SIAPA MENYALAKAN?

SIAPA MEMBUATNYA MUDAH MENYALA?

SIAPA MEMBUATNYA SULIT DIHENTIKAN?

Ia menjelaskan:

“Ketiganya dapat mempunyai jawaban berbeda.”

Seorang warga berkata:

“Contohnya?”

“Penyalaan bisa berasal dari satu sumber.”

“Ya.”

“Lalu kondisi kering bisa merupakan hasil perubahan tata air.”

“Ya.”

“Lalu penyebaran bisa diperparah oleh bahan bakar yang menumpuk, angin, akses yang buruk, atau keterlambatan respons.”

Semua mulai memahami.

Paul berkata:

“Karena itu, sistem pengendalian risiko harus melihat seluruh rantai.”

8. KOPERASI MEMBUAT PETA TIGA LAPIS

Koperasi kemudian membuat peta baru.

Lapisan pertama:

SUMBER PENYALAAN.

Lapisan kedua:

KONDISI KERENTANAN.

Lapisan ketiga:

KAPASITAS RESPONS.

Paul berkata:

“Kalau kita hanya memetakan titik api, kita melihat masa lalu.”

“Kalau kita memetakan kerentanan?”

“Kita melihat kemungkinan masa depan.”

“Kalau kapasitas respons?”

“Kita melihat apakah organisasi mampu bertindak.”

Ketua koperasi berkata:

“Berarti peta kita bukan hanya peta kebakaran.”

Paul mengangguk.

“Peta risiko.”

9. RAPAT KOPERASI BERUBAH

Sebelumnya rapat koperasi biasanya membahas:

berapa simpanan anggota,

berapa pinjaman,

berapa SHU,

berapa tunggakan.

Sekarang agenda rapat bertambah.

Berapa titik air yang tersedia?

Berapa kanal yang perlu diperiksa?

Berapa anggota yang sudah dilatih?

Berapa alat yang siap?

Berapa waktu yang diperlukan untuk mencapai lokasi rawan?

Siapa yang memegang informasi?

Siapa yang mengambil keputusan ketika indikator risiko meningkat?

Seorang anggota berkata:

“Paul, koperasi kita sekarang seperti posko.”

Paul menjawab:

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Posko hanya salah satu fungsi.”

“Lalu koperasi kita menjadi apa?”

Paul menjawab:

“Sistem pencegahan berbasis masyarakat.”

10. UANG KOPERASI TIDAK BOLEH MEMBAKAR

Seorang anggota bertanya:

“Kalau koperasi mendapatkan keuntungan dari usaha, apakah sebagian bisa digunakan untuk pencegahan?”

Paul menjawab:

“Bisa, sepanjang sesuai aturan dan keputusan koperasi.”

“Berapa?”

“Ditentukan berdasarkan risiko, kebutuhan, kemampuan, dan tata kelola.”

“Jadi bukan angka ajaib?”

“Tidak.”

Paul tersenyum.

“Kalau ada orang berkata semua koperasi harus menyisihkan tepat sekian persen tanpa melihat kondisi, saya akan bertanya: mengapa?”

Ia menunjuk peta.

“Lanskap berbeda.”

“Risiko berbeda.”

“Kapasitas berbeda.”

“Kebutuhan berbeda.”

“Yang penting adalah pencegahan benar-benar dibiayai dan dipertanggungjawabkan.”

11. KETIKA PERUSAHAAN DATANG

Suatu sore, seorang manajer perkebunan datang ke kantor koperasi.

“Saya dengar koperasi membuat peta risiko.”

“Betul.”

“Apakah kami boleh melihat?”

“Tentu.”

Manajer melihat peta.

Ia menemukan sesuatu.

“Ini wilayah kami.”

Paul mengangguk.

“Ya.”

“Di sini ada kanal.”

“Ya.”

“Di sini ada masyarakat.”

“Ya.”

“Dan di sini ada hutan.”

“Ya.”

Manajer mulai memahami.

“Kalau terjadi kebakaran di salah satu bagian…”

“Bagian lain bisa terkena dampaknya.”

Manajer menghela napas.

“Jadi kita memang tidak bisa bekerja sendiri.”

Paul tersenyum.

“Selamat datang di ekosistem.”

12. TETAPI KOPERASI BUKAN TEMPAT MENCUCI TANGGUNG JAWAB

Paul kemudian mengatakan sesuatu yang membuat suasana rapat berubah.

“Kita harus berhati-hati.”

Manajer bertanya:

“Dengan apa?”

“Jangan sampai koperasi dijadikan alasan untuk memindahkan tanggung jawab.”

“Maksudnya?”

“Kalau perusahaan mempunyai kewajiban menjaga lahannya, kewajiban itu tetap berada pada perusahaan.”

“Ya.”

“Kalau pemerintah mempunyai kewenangan tertentu, tetap pemerintah.”

“Ya.”

“Kalau ada orang melakukan pembakaran melanggar hukum, tanggung jawab hukumnya tetap harus diperiksa.”

“Ya.”

“Dan koperasi?”

“Kami membantu bagian yang memang menjadi peran kami.”

Paul mengangguk.

“Kerja sama bukan penghapusan tanggung jawab.”

Malam itu seorang mahasiswa bertanya kepada Paul:

“Apakah agnotologi berarti ada orang yang sengaja menyembunyikan fakta?”

“Kadang-kadang bisa.”

“Selalu?”

“Tidak.”

“Lalu?”

Paul menjawab:

“Bayangkan sebuah kantor.”

Ia mengambil beberapa kertas.

“Data ada di sini.”

Ia menunjuk kertas pertama.

“Pengalaman petugas ada di sini.”

Kertas kedua.

“Pengetahuan masyarakat ada di sini.”

Kertas ketiga.

“Data perusahaan ada di sini.”

Kertas keempat.

“Data pemerintah ada di sini.”

Kertas kelima.

“Semua orang mempunyai sebagian pengetahuan.”

“Lalu?”

“Tidak ada yang menyatukannya.”

Mahasiswa itu mengangguk.

Paul berkata:

“Ketidaktahuan dapat lahir bukan karena informasi tidak ada, tetapi karena pengetahuan tidak bertemu.”

14. KOPERASI SEBAGAI TEMPAT PENGETAHUAN BERTEMU

Koperasi kemudian membuat Buku Lanskap.

Isinya bukan laporan yang hanya dibaca ketika ada pemeriksaan.

Isinya:

riwayat kebakaran,

kondisi kanal,

tinggi muka air,

perubahan vegetasi,

akses jalan,

sumber air,

lokasi rawan,

kontak penting,

hasil patroli,

kejadian hampir terbakar,

dan pelajaran dari setiap kejadian.

Paul berkata:

“Jangan hanya mencatat ketika ada kebakaran.”

“Lalu kapan?”

“Setiap kali kita belajar sesuatu.”

Seorang anggota bertanya:

“Termasuk kegagalan?”

“Terutama kegagalan.”

“Kenapa?”

“Karena kegagalan yang tidak dicatat akan kembali menjadi kebakaran.”

15. PAUL MENULIS SATU PERSAMAAN

Di papan tulis Paul menulis:

RISIKO = BAHAYA × KERENTANAN × KETERBATASAN KAPASITAS

Seorang pemuda bertanya:

“Ini rumus ilmiah?”

Paul tertawa.

“Bukan. Ini alat berpikir.”

Ia menjelaskan:

“Bahaya dapat meningkat karena cuaca dan kondisi bahan bakar.”

“Kerentanan?”

“Kondisi lanskap yang membuat api mudah menyebar atau sulit dipadamkan.”

“Kapasitas?”

“Kemampuan kita mencegah, mendeteksi, merespons, dan memulihkan.”

Paul menghapus tanda sama dengan.

“Jangan menganggap angka ini sebagai hukum alam.”

Ia menggantinya dengan:

CARA BERPIKIR.

16. SIAPA YANG MENYALAKAN API?

Keesokan harinya Paul mendapat kabar.

Pelaku penyalaan di satu lokasi akhirnya ditemukan.

Orang-orang bersorak.

“Sudah ketemu!”

Paul mengangguk.

“Bagus.”

“Berarti masalah selesai.”

“Tidak.”

Mereka mulai kesal.

“Paul!”

Ia mengangkat tangan.

“Saya tidak mengatakan penegakan hukum tidak penting.”

“Lalu?”

“Pelaku harus diproses berdasarkan bukti dan hukum yang berlaku.”

“Lalu apa yang kurang?”

Paul menunjuk seluruh lanskap.

“Sekarang kita harus bertanya lagi.”

“Pertanyaan apa?”

“Mengapa satu api kecil dapat menjadi bencana besar?”

17. PERTANYAAN KEDUA LEBIH SULIT

Tidak ada jawaban tunggal.

Mereka menemukan:

sebagian lahan sangat kering,

beberapa kanal perlu diperbaiki,

alat pemantauan tidak selalu tersedia,

informasi tidak selalu cepat diterima,

akses ke lokasi tertentu sulit,

dan koordinasi antarpihak belum sempurna.

Paul berkata:

“Sekarang kita mulai menemukan sistemnya.”

Seorang anggota koperasi berkata:

“Jadi kita tidak boleh berhenti pada mencari pelaku?”

“Boleh.”

“Lalu?”

“Jangan berhenti di sana.”

18. DARI MENCARI SALAH KE MENCARI CELAH

Paul mengubah istilah dalam rapat.

Bukan lagi:

SIAPA YANG SALAH?

Tetapi:

DI MANA CELAH PENCEGAHAN?

Mereka membuat daftar.

Celah informasi.

Celah tata air.

Celah pengawasan.

Celah kapasitas.

Celah koordinasi.

Celah pembiayaan.

Celah pengetahuan.

Celah tanggung jawab.

Paul berkata:

“Kalau kita menemukan satu celah dan menutupnya, kita memperkecil kemungkinan bencana berikutnya.”

Ketua koperasi bertanya:

“Apakah itu berarti kita tidak mencari kesalahan?”

Paul menggeleng.

“Kesalahan tetap diperiksa.”

“Lalu?”

“Namun organisasi yang sehat tidak hanya menghukum kesalahan.”

Ia berhenti.

“Organisasi yang sehat belajar agar kesalahan tidak berulang.”

19. KOPERASI MEMBUAT KONTRAK DENGAN MASA DEPAN

Dalam rapat anggota, mereka membuat keputusan.

Sebagian surplus usaha koperasi dialokasikan sesuai keputusan anggota untuk mendukung kegiatan pencegahan dan ketahanan lingkungan.

Mereka menetapkan:

pemeliharaan alat,

pelatihan,

pemetaan,

pengumpulan data,

pemantauan,

dukungan bagi kegiatan ekonomi alternatif,

dan kerja sama lintas desa.

Seorang anggota bertanya:

“Kenapa kita melakukan semua ini?”

Paul menjawab:

“Karena kita hidup di lanskap yang sama.”

“Kalau kita pindah?”

“Anak-anak kita masih di sini.”

Paul menunjuk anak-anak yang sedang bermain di luar.

“Dan mereka tidak ikut menandatangani kontrak apa pun.”

“Kontrak apa?”

Paul berkata:

“Kontrak dengan masa depan.”

20. API TIDAK PERNAH MENJADI ANGGOTA KOPERASI

Malam itu Paul kembali ke tepi Kapuas.

Ia menulis:

API TIDAK MEMPUNYAI KTP.

API TIDAK MEMPUNYAI SERTIFIKAT.

API TIDAK MEMPUNYAI BATAS KABUPATEN.

API TIDAK MEMPUNYAI ANGGARAN.

API TIDAK MEMPUNYAI RAPAT.

Ia berhenti.

Kemudian menulis:

MANUSIALAH YANG MEMPUNYAI SEMUANYA.

Paul menutup buku.

Kemudian ia menambahkan satu kalimat:

«Karena itu, kebakaran bukan hanya menguji kemampuan kita memadamkan api. Kebakaran menguji apakah kita mampu mengorganisasi pengetahuan, tanggung jawab, sumber daya, dan tindakan sebelum api datang.»

Sungai Kapuas tetap mengalir.

Paul memandang air.

Ia tahu besok mungkin akan ada api lagi.

Tetapi ia juga tahu sesuatu yang lain.

Di beberapa desa, orang-orang sudah mulai mengubah cara berpikir.

Mereka tidak lagi hanya bertanya:

“Siapa yang menyalakan api?”

Mereka mulai bertanya:

“Apa yang harus kita lakukan agar api yang kecil tidak menjadi bencana?”

Dan bagi Paul, pertanyaan kedua itulah awal sebuah peradaban.

CATATAN PENULIS

Cerpen ini merupakan karya fiksi-satire. Tokoh Paul adalah tokoh rekaan.

Cerita mengembangkan gagasan bahwa penyebab penyalaan, kondisi yang menciptakan kerentanan, dan kapasitas respons merupakan persoalan yang berbeda tetapi saling berhubungan. Penegakan hukum terhadap pembakaran yang terbukti melanggar hukum tetap penting; namun pencegahan karhutla memerlukan analisis yang lebih luas terhadap kondisi ekologis, tata air, pengelolaan lahan, informasi, organisasi, dan koordinasi.

Dalam cerita ini, Koperasi Kuantum diterjemahkan menjadi tindakan konkret, terutama pengumpulan dan integrasi pengetahuan lokal-ilmiah, pemetaan risiko, pemeliharaan sarana yang menjadi kewenangannya, pelatihan, pengelolaan sumber daya bersama, pembentukan jaringan antarwilayah, serta pembelajaran kelembagaan.

Pesan satirnya sederhana:

Mencari siapa yang menyalakan api adalah pekerjaan penting.

Mencari mengapa api dapat menjadi bencana adalah pekerjaan yang lebih besar.

Membangun organisasi agar bencana itu semakin sulit terjadi adalah pekerjaan peradaban.

Bersambung ke #7: Paul dan Desa yang Menjual Asap