BANDUNG—- Lumbung padi , yang orang Sunda bilang “Leuit” adalah bangunan atau tempat penyimpanan hasil panen berupa padi yang berfungsi untuk menjaga persediaan pangan, mengantisipasi masa paceklik, melindungi padi dari hama, dan mengeringkannya agar dapat disimpan dalam waktu lama sebelum digiling menjadi beras.
Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung Abah Yusuf Bachtiar sudah beberapa kali mengusulkan ke Gubernur Jawa Barat mulai dari Danny Setiawan, Ahmad Heryawan (Aher), Ridwan Kamil hingga Dedi Mulyadi agar tiap petani di pedesaan dianjurkan membangun ”Leuit” lumbung padi. Namun sayangnya, usulan tersebut tidak digubris alias tidak mendapat respon sama sekali.
“Terakhir, beberapa saat setelah dilantik Gubernur Jawa Barat, Abah pun mengusulkan ke Kang Dedi Mulyadi agar menganjurkan kepada para petani memiliki Leuit untuk menyimpan padi hasil panennya, minimal tiap desa ada Leuit Desa. Bahkan jika perlu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat membantu membangunkan leuit -leuit tersebut.”ungkapnya
Abah Yusuf Bachtiar mengaku kembali mengusulkan agar KDM panggilan akrab Kang Dedi Mulyadi menganjurkan para petani membangun lumbung padi, karena Gubernur Jawa Barat kali ini lebih kental ke-SUNDA-annya. Abah Yusuf lagi lagi kecewa, karena gagasannya itu tidak mendapat respon KDM sama sekali. “Harapannya sih ada respon dan terwujud, yang semata mata demi ketahanan pangan masyarakat Jawa Barat,” tuturnya.
Kepada setiap Gubernur Jawa Barat, Abah Yusuf Bachtiar mengusulkan agar segera dibangunkan ”Leuit( lumbung padi), minimal di tiap desa dengan kapasitas 11 ton padi khusus (pare ranggeuy).”Gubernur gaduh kawenangan marentah ka kepala desa nu jumlahna aya 6000 desa sa Jawa Barat. Tos dicontoan ku Adat Cipta Gelar gaduh 59 leuit, kangge 60 tauneun. Janten pami Jabar gaduh 66.000 000 kg x 70% =. 462.000.000 kg beas.Rahayat Jabar tos teu kedah ngemutan deui beas. KDM kantos nyarios beas tur cai teu kenging dijualan, dibagikeun wae , eta dina pidatona. Urang silih elingan wae…pami geus dipapaes ku gantungan pare, sakali kali dina Agustusan mah kahartos..ulah salamina..nilai seni sareng budaya kedah dibentenkeun… Pun tabe pun”papar tokoh masyarakat Jawa Barat ini.
Sebagaimana diketahui, bahwa lumbung padi , yang orang Sunda bilang “Leuit” adalah bangunan atau tempat penyimpanan hasil panen berupa padi yang berfungsi untuk menjaga persediaan pangan, mengantisipasi masa paceklik, melindungi padi dari hama, dan mengeringkannya agar dapat disimpan dalam waktu lama sebelum digiling menjadi beras. Bangunan ini bervariasi bentuk dan desainnya di setiap daerah, seperti bentuk bakul raksasa di beberapa wilayah, atau memiliki fungsi ganda seperti balai untuk beristirahat.
”Leuit bukan sekadar tempat menyimpan hasil panen, melainkan juga simbol kearifan lokal yang mencerminkan filosofi hidup orang Sunda. Bangunan berbahan kayu dan bambu ini biasanya berdiri di halaman rumah atau di area sawah. Atapnya terbuat dari ijuk atau rumbia, dirancang agar tahan lama dan menjaga padi tetap kering.Leuit adalah simbol ketahanan pangan sekaligus rasa syukur kepada alam. Padi yang disimpan tidak hanya untuk kebutuhan sehari-hari, tapi juga untuk menghadapi musim paceklik. Tradisi ini erat kaitannya dengan upacara adat seperti “Seren Taun”, yaitu ritual tahunan masyarakat adat Sunda Wiwitan yang dilaksanakan untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen. Dalam upacara tersebut, padi hasil panen dimasukkan ke dalam leuit secara simbolis.”jelas Abah Yusuf Bahchtiar
Meski kini banyak petani beralih menggunakan karung plastik dan gudang modern, menurut Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung ini, sebagian masyarakat adat masih menjaga keberadaan leuit. Pemerintah daerah bersama komunitas budaya pun terus mendorong pelestariannya. Bahkan, beberapa desa wisata di Jawa Barat mulai menjadikan leuit sebagai daya tarik edukasi bagi wisatawan.”Semoga Gubernur KDM mendengar usulan abah ini demi ketahanan pangan masyarakat nasional, khususnya masyarakat Jawa Barat,”pungkasnya.(REDI MULYADI)****
