oleh

Ada Apa dengan “One Piece” Bendera Bajak Laut ?

Oleh: Abah Yusuf Bachtiar Kabuyutan (Tokoh Budaya Jawa Barat)

PADA momen peringatan 80 tahun INDONESIA muncul secara simbolik, berkibar Bendera ONE PIECE, “Bajak Laut”. Ada apa? Mereka punya ceritera. Siapakah mereka? Pada ceritera rakyat , lambang tersebut, merupakan simbol para perompak Bajak Laut, Para Perampok Kekayaan Alam dimanapun mereka berada.

Para pendiri Bangsa, tak rela kejayaan alam Nusantara, dirampok, dieksploitasi oleh para penjajah yg notabene PENJARAH. Sehingga para pendiri Republik, berupaya keras hingga banyak korban, untuk melawan penjajah demi kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Pada generasi muda pasca 1945 , hingga saat ini, pahit getir perjuaangan leluluhur tak sempat berempati, karena generasi muda (GM) tak terlibat saat pergolakan kemerdekaan. GM mereka hanya membaca ceritera, dan mendengar tentantang pergolakan politik dalam dan luar negeri. Dari hasil kajian terhadap literasi dan narasi yang ada, muncul beragam interpretasi, tafsir, hingga sikao dan aksi.

Fitnah politik 1965, tentang PKI, faham, ideologi Komunis masih dirasakan oleh GM yg leluhurnya pernah terlibat. Begitu pun masyarakat yg beragama Islam mendapat kecaman dan diskriminatif, dengan munculnya kelompok Islam Garis Keras. Yang garis lunak terkena dampak. Perseteruan berlanjut antara Islam dan Komunis , Islam dan Agama lainnya. Tentu dalam sebuah skenario politik ada yang dikorbankan, yakni masyarakat Adat, yg menjadi kelompok dimarjinalkan. Para politisi, menggunakan topeng, kedok, yang selalu berubah, mulai dari simbol bendera dan haluan organisasi.

Ketika muncul bendera merah putih disandingkan dengan bendera ONE PIECE. Muncul beragam sikap dan penilaian dari berbagai kalangan.  Bagi yg anti kebijakan politik pemerintah, hal tersebut menjadi daya dorong untuk menyebarkan rasa antinya, agar masyarakat yang sedang goyah, rapuh, secara ekonomi dan ideologi , semakin tumbuh dan kuat kebenciannya.

Seorang pakar politik UMY, Fajarjun,  mengkritisi secara semiotik, tafsir politik. Fajarjun, melihat kemunculan ONE PIECE, ia menangkap kesan ada keresahan dalam berbangsa, bermasyarakat, dan bernegara.

Fajarjun melanjutkan, bahwa karakter-karakter dalam serial ini berfungsi sebagai representasi, dan musuh-musuh mereka berfungsi sebagai oposisi biner dari prinsip-prinsip di atas, maka pertempuran menjadi ideologis dalam teks budaya populer.

Saya merujuk penelitian dari Thomas  Zoth (2011) yang berjudul The politics of One Piece: Political critique in Oda’s Water Seven. Zoth menyebutkan bahwa alur Water Seven menggunakan karakter untuk mengeksplorasi relasi antara individu dan negara, khususnya dalam hal keamanan nasional. Narasi tersebut menyiratkan bahwa mengorbankan hak individu demi peningkatan keamanan yang dirasakan tidak dapat diterima, dan memberikan perhatian pada sikap kritis terhadap isu-isu politik,”tuturnya.

ONE PIECE saat ini , yang tampak dimata adalah para Koruptor , perampok uang Negara. Harapan rakyat pada Pemerintah tentang penyelesaian hukumnya adalah diDOR.

Merah Putih  tak boleh kalah ONE PIECE ,”KORUPTOR.”….”HUKUM MATI KORUPTOR..” MERDEKA!!!..Cag!@Abah Yusuf//Doct-Kabuyutan

Komentar