oleh

Agus Yosep Abduloh Raih Gelar Doktor dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung “Perjalanan Ilmiah Pengabdian dan Ikhtiar Membangun Peradaban Qur’ani”

Kab.Tasikmalaya LINTAS PENA—-Perjalanan panjang di dunia akademik berbuah manis. Dr. Agus Yosep Abduloh, M.Pd.I., MBA. resmi menyandang gelar doktor setelah melewati Sidang Senat Terbuka Ujian Promosi Doktor di Program Studi Pendidikan Islam (S3) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung Rabu, 5 Agustus 2026.

Gelar tertinggi ini diraih bukan sekadar pencapaian seremonial, melainkan wujud dedikasi nyata terhadap dunia pesantren yang menjadi benteng pertahanan moral umat.Di tengah dinamika zaman yang kian kompetitif, Agus mengangkat disertasinya untuk membedah bagaimana pesantren menjaga mutu tanpa kehilangan jati diri keislamannya.

Merawat Tradisi Pesantren

Dalam sidang akademiknya, Agus memaparkan riset mendalam berjudul “Implementasi Manajemen Mutu Terpadu Pondok Pesantren dalam Mewujudkan Mutu Lulusan (Penelitian pada Pesantren Salafiyah dan Pondok Modern Alam Tahfidz Al-Qur’an Hamalatul Qur’an Kabupaten Tasikmalaya).”Penelitian ini memotret dua kutub pesantren yang berbeda, yakni tradisi Salafiyah yang kokoh dengan kitab kuningnya dan Pondok Modern Alam Tahfidz Al-Qur’an yang adaptif.

Melalui pendekatan Total Quality Management (TQM), ia menawarkan cetak biru tata kelola agar pesantren mampu melahirkan lulusan berdaya saing global tanpa kehilangan akar spiritualnya. “Pesantren adalah benteng peradaban umat yang harus terus berkembang. Kita tidak boleh menutup diri dari sistem manajemen yang baik, selama nilainya sejalan dengan akhlakul karimah dan tradisi keilmuan para ulama,” ujar Ustadz Agus kepada LINTAS PENA Kamis 6 Agustus 2026 di Kota Tasikmalaya.

Menurutnya, penceramah yang dikenal dengan panggilan Ustadz AYA ini, manajemen mutu di lingkungan pesantren bukan berarti mendegradasikan nilai keikhlasan, melainkan bentuk pertanggungjawaban profesional agar lembaga pendidikan Islam mampu menjawab tantangan zaman secara terukur.

Makna Sebuah Amanah

Bagi Ustaz AYA , pencapaian ini tidak lepas dari jalan terjal penuh liku. Mulai dari mengumpulkan data lapangan di Tasikmalaya, membaca tumpukan literatur, hingga membagi waktu antara tugas akademik dan pengabdian di tengah masyarakat.Semua proses itu ditempuhnya dengan kesabaran dan tawakal.

Dukungan penuh dari kedua orang tua, istri, serta anak-anak tercinta menjadi bahan bakar utama yang menguatkan langkahnya melewati setiap fase melelahkan tersebut.”Gelar doktor bukanlah garis akhir perjuangan, melainkan awal dari amanah yang jauh lebih besar. Ilmu yang sejati adalah ilmu yang melahirkan akhlak, menghadirkan solusi, serta menjadi cahaya bagi kehidupan,” ucapnya penuh haru.

Ia berharap hasil riset doktoralnya tidak hanya berhenti sebagai tumpukan kertas di rak perpustakaan universitas. Lebih dari itu, ia ingin gagasan tersebut diimplementasikan langsung di lapangan untuk mendongkrak kualitas tata kelola lembaga pendidikan Islam di berbagai daerah.

Komitmen Peradaban Qur’ani

Ke depan, Ustaz AYA berkomitmen untuk mendedikasikan keilmuannya guna memperkuat ekosistem pendidikan Islam yang bermutu.Fokus utamanya mencakup

peningkatan kualitas guru dan dai, pengembangan lembaga tahfizh Al-Qur’an, serta memperkuat sinergi antara pesantren, perguruan tinggi, dan pemerintah.

Sebagai akademisi sekaligus praktisi pendidikan, ia meyakini bahwa kebangkitan umat Islam sangat bergantung pada keseriusan dalam mengelola lembaga pendidikan secara profesional.

Sinergi antara keikhlasan tradisi pesantren dan keteraturan manajemen modern diyakini mampu melahirkan generasi Qur’ani yang unggul, berkarakter, dan membawa kemaslahatan luas.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Pesantren harus hadir sebagai solusi atas berbagai persoalan umat, mencetak pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual,” jelasnya.(ADE BACHTIAR ALIF)*