Oleh: Master Dang Iwan (Terapis Air Cahaya Bengkulu)
Salam cahaya-Nya
Di dunia ini Allah SWT menciptakan segala sesuatu berpasang pasangan. Ada malaikat, ada iblis. Ada alam yang tidak terlihat mata (ghaib), ada alam yang terlihat mata (nyata). Ada manusia, ada jin. Nah, jin ini posisinya sebagai makhluk yang tak kasat mata, makhluk halus. Mereka menguasai ilmu2 yang ghaib, yang tak lazim. Seseorang bisa melihat jin, maka dalam dirinya pasti ada jin. Begitu pula jika seseorang mampu melihat alam lain, hantu, maka di dalam dirinya pasti ada sesuatu yang ghaib.
Nah, kebanyakan orang belajar ilmu jin, sehingga muncul penyakit-penyakit non medis. Orang yang punya penyakit non medis ini tidak bisa sembuh dengan ilmu kedokteran. Harus dengan paranormal atau dukun yang juga menguasai ilmu jin. Kalau orang yang punya penyakit non medis dipaksakan untuk berobat ke dokter, ia tidak akan sembuh. Ujung-ujungnya malah muncul penyakit baru akibat obat yang diminumnya. Paling ringan cuci darah.
Ham-Ham…?
Sebenarnya ilmu kesehatan itu bisa di kolaborasikan antara medis dan non medis. Tetapi tergantung pada niat. Niat dan prosesnya belajar kepada siapa. Walupun seseorang niatnya baik untuk mengobati orang sakit, tetapi proses belajarnya kepada jin, tetap saja ilmunya adalah ilmu jin. Padahal ia bisa saja tanpa campur tangan jin, yakni dengan doa-doa yang niatnya sempurna karena Allah.
Nah, jin ini ilmu keturunan yang prosesnya tanpa belajar. Turunnya ilmu ini bermacam-macam. Bisa dari lahir, bisa juga mengalami hal-hal yang aneh, seperti mati suri Ia seolah-olah mati, tetapi setelah sadar kembali hidup, tiba2 ia mampu mengobati orang sakit, punya indra keenam. Nah, ini salah satu bagian dari turunnya ilmu dari para leluhur. Ada pula ilmu yang memang diminta atau diturunkan dengan cara membaca wiridan atau mantra-mantra.
Semua ilmu itu berasal dari Tuhan. Tetapi tetap saja ada yang diperuntukkan untuk manusia dan ada yang diperuntukkan untuk jin. Kita manusia jangan belajar ilmu yang diperuntukkan untuk jin. Karena ilmu ini akan nuntut diwariskan kepada anak cucu kita. Pelajarilah ilmu yang diperuntukkan bagi manusia. Karena ilmu untuk manusia ini masih banyak. Hari ini kita belajar teknologi yang canggih, tiga puluh sampai lima puluh tahun ke depan apa yang kita pelajari ini akan menjadi sampah. Akan muncul lagi ilmu-ilmu teknologi yang lain yang lebih canggih. Dan kita sebagai penikmat ilmu jangan bangga, apalagi sombong. Kita boleh saja bangga apabila kita bisa menciptakan ilmu-ilmu yang baru.
Orang yang pikirannya diam di tempat, tidak mau belajar ilmu baru, ia pasti memiliki sifat sombong dan angkuh. Merasa lebih tahu dan mengerti dari orang lain. Padahal apa yang diketahuinya belum seberapa. Masih sedikit dibandingkan luasnya ilmu Tuhan. Maka pelajarilah ilmu Tuhan yang luas ini. Jangan merasa pintar. Tetapi pintarlah dalam merasa.
Ilmu Tuhan itu bukan hanya berupa ilmu agama yang tertulis di kitab. Teknologi juga termasuk ilmu Tuhan. Semua ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang ada di dunia ini semua bersumber dari Tuhan. Tuhan tidak beragama dan tidak punya agama. Agama Tuhan itu tidak ada. Tuhan itu universal. Jadi jangan mengklaim berTuhan kalau bisanya itu-itu saja. Jangan menghina kafir kepada orang yang menciptakan teknologi. Jangan-jangan yang tidak mau mengikuti perkembangan zaman termasuk kafir. Karena kafir itu artinya tertutup. Orang yang tertutup dari perkembangan zaman bisa juga dibilang kafir. Begitu juga dengan orang-orang yang tidak mau belajar sesuatu yang baru bisa dikatakan kafir. Agar tidak dibilang kafir maka dari itu pelajarilah perkembangan ilmu.(****
