oleh

Anak Yang Paling Berhasil


Oleh : Dede Farhan Aulawi

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah dan kebun bambu, hiduplah pasangan suami istri sederhana, Pak Hasan dan Bu Aminah. Rumah mereka hanya berdinding anyaman bambu, beratap seng tua yang bocor di sana-sini. Namun, di rumah reyot itulah tumbuh lima anak yang menjadi harapan hidup mereka.

Pak Hasan hanyalah seorang buruh bangunan. Bila tidak ada proyek, ia mencari rumput untuk dijual atau menjadi kuli angkut di pasar. Bu Aminah menjahit pakaian tetangga hingga larut malam, sementara siang harinya ia membuat keripik singkong untuk dititipkan di warung.

Setiap butir nasi yang mereka makan selalu didahului dengan doa.

“Anak-anak kita harus sekolah setinggi mungkin,” kata Pak Hasan suatu malam.

“Walaupun kita harus hidup lebih susah?” tanya istrinya.

Pak Hasan tersenyum.

“Orang tua memang diciptakan untuk mengorbankan dirinya.”

Tahun demi tahun berlalu.

Empat anak pertama tumbuh menjadi kebanggaan keluarga. Mereka memperoleh beasiswa hingga ke universitas-universitas ternama di luar negeri.

Anak pertama menjadi pejabat tinggi kementerian.

Anak kedua menjadi direktur perusahaan multinasional.

Anak ketiga menjadi profesor di luar negeri.

Anak keempat menjadi konsultan bisnis internasional dengan penghasilan miliaran rupiah.

Rumah mereka megah, mobil mereka mewah, dan nama mereka dikenal banyak orang.

Tetangga selalu berkata,

“Pak Hasan berhasil mendidik anak-anaknya.”

Namun setiap kali orang memuji, Pak Hasan selalu menghela napas ketika memandang anak bungsunya.

Namanya Abdullah.

Sejak kecil Abdullah tidak pernah bercita-cita menjadi orang kaya.

Ia hanya berkata,

“Ayah… kalau boleh, aku ingin belajar di pesantren.”

Pak Hasan terdiam.

Ia sebenarnya ingin anak terakhirnya juga menjadi dokter, profesor, atau pejabat seperti kakak-kakaknya.

Tetapi Abdullah tetap memilih pesantren.

Setelah bertahun-tahun belajar agama, ia kembali ke sebuah pelosok desa. Ia hidup sederhana bersama istri dan dua anaknya.

Pekerjaannya hanyalah mengajar mengaji di majelis taklim. Penghasilannya bahkan tidak cukup untuk membeli sepeda motor baru.

Rumahnya kecil.

Pakaiannya sederhana.

Tidak ada tabungan.

Tidak ada jabatan.

Tidak ada kemewahan.

Suatu malam Bu Aminah berkata lirih,

“Pak… apa kita gagal mendidik Abdullah?”

Pak Hasan menatap langit-langit rumah.

“Mungkin… kita kurang berhasil membuatnya mengejar dunia.”

Kalimat itu membuat hati Bu Aminah ikut sedih.

Suatu sore yang hujan deras, musibah datang.

Pak Hasan mengalami kecelakaan ketika pulang dari pasar.

Tubuhnya mengalami benturan keras.

Dokter berkata pelan,

“Kondisinya kritis… bahkan bisa saja tidak sadar lagi.”

Pak Hasan koma.

Bu Aminah gemetar.

Telepon segera dilakukan kepada keempat anaknya.

Jawaban mereka hampir sama.

“Bu… kami sedang ada rapat penting.”

“Bu… saya harus presentasi dengan investor.”

“Bu… tiket penerbangan baru ada besok malam.”

“Bu… klien sudah menunggu. Saya usahakan secepatnya.”

Tidak ada yang bermaksud mengabaikan.

Mereka memang sangat mencintai ayahnya.

Namun dunia mereka begitu sibuk.

Sementara itu, ribuan kilometer dari kota besar, Abdullah sedang mengajar anak-anak mengaji.

Begitu mendengar kabar itu, ia langsung menutup kitabnya.

“Anak-anak… kita cukupkan sampai di sini.”

Tanpa menghitung biaya.

Tanpa memikirkan pekerjaan.

Tanpa bertanya apa pun.

Ia langsung berangkat.

Perjalanan belasan jam ditempuh dengan bus tua, lalu berganti angkutan desa, kemudian ojek.

Ketika tiba di rumah sakit, wajahnya dipenuhi debu perjalanan.

Ia langsung memegang tangan ayahnya.

“Ayah… Abdullah pulang.”

Air mata Bu Aminah langsung jatuh.

“Sejak tadi ayahmu belum membuka mata.”

Abdullah duduk di samping ranjang.

Ia membisikkan kalimat-kalimat suci.

Membacakan ayat demi ayat Al-Qur’an.

Mengusap kepala ayahnya.

Mencium dahinya.

Menenangkan ibunya.

Sepanjang malam ia tidak tidur.

Yang terdengar hanya lantunan Al-Qur’an yang begitu lembut memenuhi ruang ICU.

Perawat berkata,

“Belum pernah kami melihat anak yang menemani orang tuanya seperti ini.”

Hari kedua…

Hari ketiga…

Abdullah tetap berada di sana.

Matanya merah.

Suara tilawahnya mulai serak.

Tetapi ia tidak berhenti.

Menjelang fajar, napas Pak Hasan mulai melemah.

Abdullah mendekat.

Dengan suara yang bergetar ia membimbing,

“Laa ilaaha illallah…”

Ia terus mengulanginya.

Sampai akhirnya bibir ayahnya bergerak sangat pelan.

“Laa… ilaaha… illallah…”

Satu tetes air mata mengalir dari sudut mata Pak Hasan.

Lalu napas itu berhenti.

Ruangan menjadi sunyi.

Abdullah memeluk tubuh ayahnya sambil menangis.

“Selamat pulang, Ayah…”

Pemakaman berlangsung sederhana.

Abdullah sendiri yang memandikan jenazah.

Ia sendiri yang mengafani.

Ia sendiri yang turun ke liang lahat.

Ia sendiri yang menaburkan tanah terakhir.

Barulah beberapa jam setelah semuanya selesai, empat kakaknya datang.

Mereka berlari menuju pusara.

Tangis mereka pecah.

Namun ayah telah lebih dahulu beristirahat.

Tak ada lagi kesempatan mencium tangan terakhir.

Tak ada lagi kesempatan mendengar suara ayah.

Yang tersisa hanyalah gundukan tanah merah.

Malam itu, setelah semua tamu pulang, Bu Aminah duduk sendirian di teras.

Pandangannya kosong.

Matanya sembab.

Ia mengingat setiap kejadian beberapa hari terakhir.

Empat anaknya memang sangat sukses.

Mereka memberi uang dalam jumlah besar.

Mereka membangun rumah.

Mereka mengirim hadiah.

Tetapi…

Pada saat paling menentukan dalam hidup seorang ayah…

Yang hadir hanyalah anak yang selama ini dianggap paling gagal.

Yang menemani napas terakhir.

Yang membisikkan kalimat tauhid.

Yang mengaji semalaman.

Yang mengantarkan hingga ke liang lahat.

Air mata Bu Aminah kembali jatuh.

Ia berbisik pada dirinya sendiri,

“Ya Allah… ternyata selama ini aku yang keliru menilai keberhasilan.”

Keesokan paginya, keempat anaknya berkumpul.

Mereka memeluk ibu mereka bergantian.

“Kami harus kembali, Bu.”

“Pekerjaan tidak bisa ditinggalkan lebih lama.”

“Ada sidang direksi.”

“Ada kontrak yang harus ditandatangani.”

Mereka berpamitan dengan hati berat.

Rumah kembali sunyi.

Tinggallah Bu Aminah bersama Abdullah.

Sore harinya Abdullah berkata,

“Bu… izinkan kami tinggal di sini.”

Bu Aminah terkejut.

“Tapi rumahmu?”

“Saya akan menjual yang sederhana itu kalau perlu. Yang penting Ibu tidak sendirian.”

Tak lama kemudian istri dan kedua anak Abdullah benar-benar pindah ke rumah peninggalan Pak Hasan.

Garasi yang dulu dipenuhi perkakas tua dibersihkan.

Disapu.

Dicat.

Dipasangi rak Al-Qur’an.

Dibentangkan tikar.

Tempat itu berubah menjadi majelis taklim kecil.

Setiap sore terdengar suara anak-anak membaca iqra.

Setiap malam terdengar lantunan Al-Qur’an.

Anak-anak yatim mulai berdatangan.

Mereka belajar mengaji, belajar akhlak, dan makan bersama di rumah itu.

Rumah sederhana yang dulu menjadi saksi perjuangan Pak Hasan kini kembali hidup oleh cahaya ilmu dan kasih sayang.

Suatu malam, Bu Aminah duduk di sudut ruangan, memperhatikan Abdullah mengajari seorang anak yatim mengeja huruf hijaiyah dengan penuh kesabaran.

Tanpa sadar air matanya menetes.

Ia menatap foto almarhum suaminya yang tergantung di dinding.

Dengan suara lirih ia berkata,

“Pak… sekarang aku mengerti.”

“Empat anak kita berhasil membangun kehidupan mereka.”

“Tetapi anak bungsu kita… berhasil membangun bekal untuk kehidupan kita setelah mati.”

Bu Aminah kemudian memejamkan mata.

Di dalam hatinya, untuk pertama kalinya, tidak ada lagi penyesalan.

Yang ada hanyalah rasa syukur.

Karena akhirnya ia memahami bahwa kesuksesan bukan hanya tentang seberapa tinggi jabatan seseorang, seberapa besar rumahnya, atau seberapa banyak hartanya.

Kesuksesan sejati adalah ketika ilmu melahirkan bakti, harta tidak mengalahkan cinta, dan seorang anak tetap memilih hadir di sisi orang tuanya ketika seluruh dunia sedang memanggilnya ke tempat lain.

Dan di rumah sederhana itu, di antara lantunan ayat-ayat suci dan tawa anak-anak yatim, pengorbanan Pak Hasan dan Bu Aminah akhirnya menemukan buah terbaiknya.(****