oleh

Ateisme dan Krisis Epistemologi Barat: Dari Modern Hingga Post-Modern

Oleh: Rangga Saptya Mohamad Permana, S.I.Kom., M.I.Kom., Ph.D.

SEORANG psikolog terkemuka, Sigmund Freud, menegaskan doktrin-doktrin bahwa agama adalah ilusi. Agama tidak sesuai dengan realitas dunia dan hanya karya ilmiah satu-satunya yang dapat membimbing ke arah ilmu pengetahuan dan bukan agama. Hal ini menunjukkan bahwa kritik mengenai eksistensi Tuhan telah ada sejak lama dan hal ini pun tidak dapat dipungkiri merupakan salah satu dampak dari sains Barat zaman modern.

Sebelum Freud mengemukakan pendapatnya yang mengatakan bahwa agama adalah ilusi, atau Karl Marx yang berpendapat bahwa agama merupakan candu yang merupakan “sarana” pelarian manusia dari alienasi sosial-ekonomis, terdapat seorang filsuf Jerman yang menanamkan tonggak ateisme di dunia Barat. Dialah Ludwig Andreas Feuerbach, dengan pernyataannya yang terkenal, yakni “Homo homini Deus est” atau “Manusia itu adalah Tuhan untuk Sesama”, karena menurut Feuerbach, makhluk paling luhur adalah manusia. Feuerbach termasuk di antara murid-murid Georg Wilhelm Friedrich Hegel dari “sayap kiri”. Mereka menerima metode dialektis tetapi menolak isi ajarannya. Tonggak ateisme ini merupakan buah dari, paling tidak, dua pikiran pokok Feuerbach, yaitu:

  1. Filsafat Hegel diterjemahkan dalam materialisme. Filsafat Hegel, menurut Feuerbach, adalah “teologi tersamar”. Menurut dia, yang disebut “Tuhan” adalah suatu mimpi dari manusia. Kata “Tuhan” harus diganti dengan kata “hakekat manusia”. Karena manusia sudah terlalu lama diasingkan dari dirinya sendiri, sekarang, kata Feuerbach, manusia harus dikembalikan kepada dirinya sendiri. Feuerbach tetap menghargai agama, tetapi hanya sebagai ajaran tentang manusia.
  2. Teologi harus menjadi antropologi. Feuerbach mengatakan dalam karyanya yang berjudul Das Wesen des Christentums atau Hakikat Agama Kristiani (sering juga disebut Hakikat Agama Masehi) (1841) bahwa tugas filsafat adalah “mengubah sahabat-sahabat Tuhan menjadi sahabat-sahabat manusia, mengubah kaum beriman menjadi pemikir-pemikir, mengubah orang yang beribadat menjadi orang yang bekerja, mengubah calon-calon untuk surga menjadi murid-murid dunia ini, mengubah orang kristiani yang menganggap dirinya “separuh malaikat, separuh binatang” menjadi “manusia seutuhnya”. Feuerbach menolak pendapat seolah teologi tidak berarti. Teologi merupakan hal yang penting, tetapi bukan sebagai ajaran tentang Tuhan, melainkan sebagai antropologi. Teologi mengajarkan banyak sekali hal tentang manusia. Manusia adalah pusat, permulaan, dan akhir agama. Semua hubungan antarmanusia bersifat religius. Karena itu, “teologi” harus dibaca sebagai “antropologi”.   

Menurut penulis, ada satu faktor penting lagi yang menyebabkan paham ateisme begitu pesat merebak dalam pikiran masyarakat Barat sehingga menyebabkan terjadinya krisis epistemologi Barat. Hal ini dimulai ketika filsuf-filsuf zaman modern berpegang pada asas antroposentrisme, di mana manusia menjadi pusat dari segala-galanya. Apabila filsafat zaman kuno atau helenic berasas “kosmosentris” dan filsafat zaman pertengahan berasas “teosentris”, maka pada filsafat zaman modern, kedua asas tersebut ditinggalkan dan berganti menjadi “antroposentris”. Dalam filsafat zaman kuno dicari archè (asal; unsur induk) dari kosmos; Tuhan disebut sebagai asal dari sesuatu. Plato menggambarkan Tuhan sebagai “Ide Kebaikan”, sedangkan Aristoteles menggambarkan Tuhan sebagai “Sebab dari diri-Nya sendiri”. Tetapi, Tuhan pada zaman ini masih merupakan prinsip abstrak.

Pada pikiran para filsuf zaman pertengahan, Tuhan ditunjukkan sebagai archè alam semesta. Tuhan adalah pencipta dan alam semesta itu ciptaan-Nya. Pada zaman ini, Tuhan tidak lagi dipandang sebagai sebuah prinsip abstrak, tetapi telah dipandang sebagai prinsip yang sangat konkret: Tuhan adalah Tuhan dari kitab suci, Tuhan yang dihadapi oleh manusia. Tuhan bukan lagi suatu unsur transenden yang menentukan nasib manusia. Tuhan itu sekarang justru “keberadaan” yang menyelamatkan manusia.

Setelah zaman pertengahan beralih kepada zaman modern melalui rennaissance, para filsuf zaman modern memiliki sebuah pemikiran bahwa pusat kenyataan tidak lagi dicari dalam archè; juga tidak lagi di dalam Tuhan, melainkan dalam manusia itu sendiri. Pada zaman ini, manusia mengalami suatu “kemerdekaan”, yang berarti sekaligus suatu “kekosongan”. Lama kelamaan terjadi suatu keadaan di mana manusia hanya dapat menemukan kepastian di dalam dirinya sendiri. Dan dalam situasi seperti ini dirumuskanlah suatu dasar baru untuk kepastian oleh Descartes: “Cogito, ergo sum” atau “Saya berpikir, maka saya ada”. Titik pangkal untuk semua kepastian itu bukan lagi berasal dari kekuasaan agama, gereja, wahyu, teologi, raja, atau tradisi, melainkan berasal dari subyek itu sendiri, yaitu manusia. Rasio dan pengalaman manusia dijadikan acuan untuk menemukan kepastian akan kebenaran. Antroposentrisme zaman modern berkembang melalui kedua konsep ini, dan mencapai puncaknya pada pemikiran Immanuel Kant dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel.

Dalam buku Roda Berputar Dunia Bergulir (1999) karangan Herman Soewardi dijelaskan bahwa sains Barat tak lain hanyalah sistem kepercayaan semata-mata, sama dengan sistem kepercayaan lain. Bila Muslim harus percaya kepada Allah SWT, maka orang Barat juga dulunya percaya kepada Tuhan YME, tetapi mereka kini telah beralih kepada sistem kepercayaan lain yang disebut sains. Dulu, kepercayaan mereka ini memberikan kepastian, tapi kini ternyata bahwa kepastian itu tiada. Peranan agama bagi banyak orang makin kecil. Perkembangan berbagai ilmu, urbanisasi, dan kontak dengan kebudayaan-kebudayaan dan pendapat-pendapat lain menunjukkan bahwa manusia mulai mempersoalkan kepastian-kepastian tradisionalnya. Bagi banyak orang, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup tidak diharapkan lagi dari agama, melainkan dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknik.

Akhirnya, sains Barat melupakan Ilmu Tauhidullah yang merupakan interaksi antara Fitrah dan Wahyu. Ilmu Islami harus bisa ditalar dengan benar dan bukan mengacu kepada ilmu Barat sekuler lagi karena kita merupakan individu yang mempercayai adanya Tuhan. Saat ini semakin hari orang Barat memang kebanyakan menganut paham ateisme. Mayoritas dari mereka percaya akan adanya Tuhan (namun ada pula yang tidak), tetapi tidak percaya akan agama apapun sehingga disebut sebagai umat ateis. Oleh karena itu dianjurkan untuk kembali kepada pandangan Aristoteles bahwa ilmu dikembangkan untuk mengagumi ciptaan Tuhan, sehingga secara epistemologi ilmu itu bersifat netral dan kembali kepada fitrah.(****

  • BIODATA PENULIS: Rangga Saptya Mohamad Permana adalah dosen tetap di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Penulis biasa berkorespondensi melalui alamat email ranggasaptyamp@gmail.com.