oleh

Bias-Bias Diplomatik Kerajaan Sunda Dalam Naskah SSK

Oleh: Undang Ahmad Darsa  (Filologi pada Departemen Sejarah & Filologi FIB Universitas Pdjadjaran)

Naskah SSK ini berangka tahun dalam sengkalan (candrasangkala) nora catur sagara wulan (0-4-4-1), yakni 1440 Śaka (+78 = 1518 Masehi). Naskah tersebut telah diusahakan ditransliterasi kembali oleh Atja tahun 1973 ke dalam huruf Latin. Delapan tahun kemudian, sebuah edisi lengkap disertai terjemahan, pengantar, komentar, dan glosari pertama kali disajikan dalam sebuah bentuk stensilan selesai dikerjakan oleh Atja dan Saleh Danasasmita (1981), dan diterbitkan kembali dalam bentuk buku oleh sebuah tim terdiri atas Saleh Danasasmika, Ayatrohaédi, Undand A. Darsa, dan Wartini (1987:73-118). Apabila dilihat dari perspektif masa pemerintahan, naskah Sunda Kuno tersebut muncul pada masa Kerajaan Sunda diperintah oleh Prabu Jayadewata alias Sri Baduga Maharaja Ratuhaji di Pakwan Pajajaran (1482-1521 M), salah seorang Raja Sunda yang dikenal dengan sebutan Prabu Siliwangi (Darsa, 2012).

Nilai Pragmatis Naskah SSK dalam Bentang Waktu

Teks naskah SSK yang sampai kepada kita selesai ditulis (dalam arti disalinkembali) pada tahun 1518 M, namun dari berbagai sumber lain dapat diketahui bahwa konsepsi kandungan nilai-nilai itu sendiri sudah jauh lebih awal dikenal dan diamalkan orang. Ini berarti bahwa sebelum dibuat kompilasi (salinan) pada tahun 1518 M itu, konsepsi-konsepsi kandungan teks SSK ini sudah lama dikenal. Gambaran yang dimaksud setidak-tidaknya secara jelas pernah diungkapkan oleh tokoh Maharaja Trarusbawa (669-723M) sebagaimana tercatat dalam teks naskah Fragmen Carita Parahyangan (FCP) lempir 4b-5a berikut ini:

Na jagat kreta di sang resi dijieun lemah putih, lemah pasartan husireun wong kapanasan; jagat darana di sang rama; jagat palangka di sang prebu. Kéh mulah dék paala-ala, palungguh-lungguhan. Haywa pamali pangmeunang dék paala-ala. Carék Maharaaja Trarusbawa, “Mulah mo yatna, anaking! Samadaya saréréa ingetkeun Sanghyang Siksa.

‘Maka dunia kesentosaan tanggung jawab Resi yang dijadikan sebagai tempat suci, tempat mengadu orang yang kegerahan; dunia bimbingan tanggung jawab Rama; dunia kursi pemerintahan tanggung jawab Prebu. Nah janganlah saling berebut kedudukan. Hendaklah jangan saling berebut rezeki karena hal itu pamali (tabu). Maharaja Trarusbawa berkata, “Hendaklah jangan tidak bersungguh-sungguh, rakyatku! Kalian semua hendaklah berpegang teguh pada Sanghyang Siksa ‘ketentuan aturan.

Ada pula keterangan dalam teks naskah Carita Parahyangan (CP; 1580 M), misalnya, mengarah kepada adanya hal tersebut. Tercatat sekurang-kurangnya empat orang raja Sunda yang dikatakan berpegang kepada ajaran Sanghiyang Siksa, yaitu:

  1. Ketika membicarakan Rahyang Sanjaya (723–732 M), teks naskah CP mencatat: Pun Rahyang Sanjaya, Rahyangtang Kuku tu meunang tapana, mikukuh Sanghyang Darma kalawan Sanghyang Siksa ‘Mohon ketahuilah Rahyang Sanjaya bahwa, Rahyangtang Kuku itu berhasil dalam tapanya, karena menaati Sanhyang Darma dan Sanghyang Siksa’;
  2. Salah seorang raja Sunda yang cukup lama memerintah adalah Sang Manisri (783–799 M) diberitakan: Sang Manisri lawas adeg ratu genep puluh tahun, kéna iseus di Sanghyang Siksa ‘Sang Manisri menjadi raja selama 60 tahun karena ia menguasai Sanghyang Siksa’;
  3. Berita berikutnya sehubungan dengan Prabu Darmasiksa (891–895 M) yang memerintah justru sangat lama (150 tahun menurut CP), dinyatakan: Ti sang wiku nu ngawakan jati Sunda, mikukuh Sanghyang Darma ngawakan Sanghyang Siksa ‘Dari para pendeta yang menjalankan ajaran Sunda asli, berpegang teguh kepada Sanghyang Darma dan mengamalkan Sanghyang Siksa’;
  4. Akhirnya, ketika memberitakan Prabu Jayadewata alias Sri Baduga Maharaja Ratuhaji di Pakwan Pajajaran (1482-1521 M), yang berkuasa selama 39 tahun, CP mencatat: Tan kreta ja lakibi dina urang réa, ja loba di Sanghyang Siksa ‘Tidak sejahtera kehidupan rumah tangga kebanyakan masyarakat karena mereka banyak yang melanggar Sanghyang Siksa’.

Jejak-jejak Hunungan Kerajaan Sunda dengan Negeri Asing

Jika dicermati berdasarkan adanya profesi Jurubasa Darmamurcaya ‘ahli penerjemah’ sebagaimana diuraikan dalam redaksi teks naskah SSK diperoleh gambaran jelas bahwa, masyarakat Sunda sejak masa lampau telah memiliki jaringan diplomatik, baik regional maupun internasional dengan masyarakat atau bangsa-bangsa kawasan lain. Hal ini terbukti dalam bahasa Sunda yang dipergunakan, terhitung dari bukti tertuanya sebagai bahasa tulis. Dapat disimpulkan bahwa dalam beberapa hal bahasa Sunda yang dipergunakan itu memperlihatkan adanya saling pengaruh dengan bahasa lain. Pengaruh yang nampak agak menonjol dibandingkan dengan bahasa lain, berasal dari bahasa Sanskerta, Jawa, Melayu, dan Timur Tengah. Teks naskah SSK ini menyebutkan, antara lain:

Kitu upamana urang leumpang ka Jawa, hamo nurut carékna deungeun carana, mangu rasa urang. Anggeus ma urang pulang deui ka Sunda, hanteu bisa carék Jawa, asa hanteu datang nyaba. Poos tukuna beunang tandang, ja hanteu bisa nurut carékna.

‘Demikianlah umpamanya kita pergi ke Jawa, tidak mengerti bahasa dan adatnya, termangu-mangu perasaan kita. Setelah kita kembali ke Sunda, tidak dapat berbicara bahasa Jawa, seperti yang bukan pulang dari rantau. Percuma hasil jerih payahnya sebab tidak bisa berbicara bahasanya’.

Selain Jawa, yang dianggap memiliki peranan penting oleh orang Sunda adalah Cina, walaupun peranan penting itu tidak begitu berbekas dalam bahasa. Teks naskah ini mencatat:

Ini ma upama janma tandang ka Cina. Heubeul mangkuk di Cina, nyaho di karma Cina, di tingkah Cina, di polah Cina, di karampésan Cina, katemu na carék teulu: kanista, madya, utama.

‘Ini mengumpamakan seseorang pergi ke negeri Cina. Lama tinggal di negeri Cina, paham tradisi orang Cina, perilaku orang Cina, masakan orang Cina, ketertiban orang Cina; dapat memahami tiga tingkatan bahasanya: yang rendah, sedang, dan tinggi’.

Berdasarkan bidang kebahasaan yang tercatat dalam redaksi teks naskah SSK ini dapat diketahui bahwa sebenarnya di wilayah Kerajaan Sunda telah dikenal bermacam-macam bahasa. Dicatatnya profesi jurubahasa yang bertugas sebagai penerjemah di dalam pergaulan antarbangsa, antara orang Sunda dengan orang-orang dari negeri luar yang sering mengunjungi bandar-bandar Kerajaan Sunda untuk keperluan berniaga dan sebagainya. Adapun bahasa-bahasa asing yang dikenal ketika itu seperti bahasa dari kawasan berikut. 

  1. Nusantara, yaitu: Samudra, Makasar, Bangka, Buwun, Bétén, Tulangbawang, Pasay, Parayaman, Andeles, Tégo, Maloko, Badan, Pégo, Malangkabo, Burétét, Lawé, Sasak, Sembawa, Bali, Ngogan, Kanangen, Kumering, Simpangtiga, Gumantung, Manumbi, Babu, Nyiri, Sapari, Patukangan, Surabaya, Lampung, Jambudipa, Séran, Solot, Solodong, Baluk, Indragiri, Tanjungpura, Sakampung, dan Jawa.
  2. Asia tenggara, yaitu: Pahang, Kalantan, Gedah, Cempa, Jenggi, Sabini.
  3. Asia Timur dan Selatan, yaitu: Cina, Keling, Banggala, Séla, Nagara Dékan.
  4. Timur Tengah, yaitu: Parsi, Mesir, Dinah, Meukah.

Namun demikian, berdasarkan daftar nama bahasa tersebut nampaknya pengertian “bahasa” pada waktu itu masih rancu antara daerah atau tempat asal para penuturnya. Hal ini antara lain terlihat dengan disebutkannya Malangkabo ‘Minangkabau’ yang tentunya ditujukan, baik kepada nama bahasa maupun nama daerah yang luas, di samping dikenalnya bahasa Parayaman ‘Pariaman’ yang sebenarnya hanya merupakan sebuah daerah yang terletak di Minangkabau. Kerancuan seperti ini pun nampak dari disebutkannya Andeles ‘Andalas’ di samping nama-nama daerah bagian dari Andalas (Pulau Sumatera).

Daftar Pustaka

Atja & Saleh Danasasmita. 1981a, Sanghyang Siksakanda ng Karesian: Naskah Sunda Kuno Tahun 1518 Masehi. Bandung: Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.

Danasasmita, Saleh & Ayatrohaédi, Tien Wartini, Undang A. Darsa. 1987. Sewaka darma, Sanghyang Siksakandang Karesia, Amanat Galunggung: Transkripsi dan Terjemahan. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi). Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Darsa, Undang A. 1998. Sang Hyang Hayu: Kajian Filologis Naskah Bahasa Jawa Kuno Di Sunda Pada Abad XVI. Bandung: PPS Universitas Padjadjaran.

—-. 1999. Fragmen Carita Parahyangan: Naskah Sunda Kuno Abad XVI Tentang Gambaran Sistem Pemerintahan Masyarakat Sunda. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran.

—-.  2012. SÉWAKA DARMA: Suntingan Teks disertai Kajian Intertekstual dalam Naskah Tradisi Sunda Kuno Abad XV-XVII Masehi (SÉWAKA DARMA: Text Edition with Intertextual Studies in the Manuscript from the Old Sundanese Tradition (15th-17th Centuries). Bandung: PPS FIB Universitas Padjadjaran.

—-. 2017. Perspektif Nilai Universal Naskah Sanghyang Siksakanda’ng Keresian. Disampaikan pada acara Focus Grouop Discussion (FGD) Komite Ikon dalam Pengusulan Register Memory of the Word tahun 2018, pada 23 November 2017 di ruang Serbaguna Lantai 4 Perpustakaan RI Jl. Medan Merdeka Selatan No. 11 Jakarta Pusat.

—-. 2018. Perspektif Nilai Sejarah (Ensiklopedis) Naskah Sanghyang Siksakanda’ng Keresian. Disampaikan dalam acara pertemuan Komite Ingatan Kolektif Nasional (IKON) dalam pengusulan Register Memory Of The Word Tahun 2019 pada hari Senin tanggal 15 Oktober 2018 di Gedung Teater Perpustakaan Nasional RI, jl. Salemba Raya No.28 A Jakarta Pusat.

—-. 2019. Sejarah dan Makna Naskah Sanghyang Siksakanda’ng Keresian. Disampaikan pada acara FGD Komite Ingatan Kolektif Nasional (IKON) dalam pengusulan nominasi Memory Of The Word yang diselenggarakan PNRI pada hari Rabu s.d. Kamis, tgl. 9-10 Oktober 2019 di The 101 Dago Hotel, jalan Ir. H. Juanda No. 3 Tamansari Kec. Bandung Wetan, Bandung, Jawa Barat 40142.

—-. 2021. Peluang Naskah “Siksakanda’ng Karesian” sebagai Memory of the World (MoW) UNESCO. Disampaikan pada acara Konferensi Internasional Budaya Sunda III, hari Kamis tanggal 2 Desember 2021. Zoom meeting.

Ekadjati, Edi S. 1995. Kebudayaan Sunda:  Suatu Pendekatan Sejarah. Jakarta:  Pustaka Jaya.

Ekadjati, Edi S. & Undang A. Darsa. 1999. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 5A: Jawa Barat Koleksi Lima Lembaga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia & École Française d’Extrême-Orient.

Noorduyn, J. & A. Teeuw. 1999. “A panorama of the world from Sundanese perspective”. Archipel 57 II L’horizon nounsantarien, Mélanges  en homage à Denys Lombard: 209-221.

Toynbee, Arnold J.1935.  A Study of History. Vols. I-XII. New York: Oxford University Press.

Vlekke, BHM. 1965. Nusantara; a History of Indonesia. The hague: W van Hoeve.

Vogel, J. Ph. 1925. “The Earliest Sanskrit Inscriptions of Java”. Publicatie. Batavia: Albrecht & Co Weltervreden.

Wang Gungwu. 1981. “China and Southeast Asia 1402-1424”. Community and Nation: Essays on Southeast Asia and the Chinese. Singapura: Heineman Educational Books (Asia) LDT. (****