oleh

Bupati H. Muhammad Adil, SH., MM Berjuang Dengan Resiko Apapun Demi Rakyatnya Yang Rentan Dengan Kemiskinan Termasuk Pembangunan Di Meranti

Meranti, LINTAS PENA. Kabupaten Kepulauan Meranti terdiri dari 101 desa dan 9 kecamatan serta 4 pulau besar yaitu, pulau rangsang, pulau tebing tinggi, pulau merbau, dan pulau padang, mayoritas masyarakat termasuk miskin.

Pulau Rangsang dan Pulau Merbau termasuk pulau terluar di Meranti dan juga berhadapan langsung dengan negara tetangga, Malaysia, Singapura, dan Thailand yang sama-sama tinggal di alur Selat Malaka.

Sudah berpuluh-puluh tahun runtuhnya tebing di Pulau Merbau dan Pulau Rangsang tersebut dihantam ombak Selat Malaka, Malaysia karena Pulau Merbau dan Pulau Rangsang menjadi garda terdepan melindungi pulau-pulau yang ada di Meranti. Sehingga pulau tersebut sudah menipis terkikis oleh abrasi saking mengganasnya ombak di Selat Malaka.

Hasil pantauan Ramli Ishak pendiri Lembaga Ikatan Pecinta Kedaulatan Rakyat mengatakan kepada Media Lintas Pena di Selatpanjang, “potensi penghasilan di Meranti kita semua sudah tahu, daerah penghasil minyak bumi di Pulau Padang dan di Pulau Tebing Tinggi Barat, Selatpanjang termasuk hasil hutan alam dan hutan kayu bakau, serta penghasil sagu yang di bawa ke cirebon pulau jawa dan juga di ekspor ke luar negeri. Termasuk di Riau, Blok Rokan Riau penghasil minyak dan gas terbesar di Indonesia!

Sebenarnya Kabupaten Kepulauan Meranti kabupaten termuda di Riau harus mendapat prioritas pembagian hasil dari pusat maupun dari Provinsi Riau, karena masyarakat di 101 desa 9 kecamatan rentan dengan kemiskinan di Meranti, dan banyak masyarakat yang bekerja di Negara Tetangga, Malaysia dan ada juga masyarkat dari Desa Mengkopot yang menjadi Warga Negara Malaysia. Oleh sebab itu, Bupati Meranti H. Muhammad Adil, SH.,MM bernada keras memperjuangkan pembagian hasil (DBH) karena diplomasi yang tidak sejalan. (PONIATUN)

Komentar