oleh

Cerbung Karhutla — Volume II : KOPERASI PENANGGULANGAN KARHUTLA “Dari Api yang Membakar Menuju Komunitas yang Menjaga”

Oleh: Agus Pakpahan

KATA PENGANTAR

Volume I Tamat, Tetapi Api Belum Tamat

Volume I Cerbung Karhutla telah sampai pada akhirnya.

Paul—orang Amerika yang memilih menjadi warga Indonesia, mencintai Indonesia, tinggal di Sintang, dan menganggap dirinya sebagai anak Sungai Kapuas—telah berjalan cukup jauh bersama api. Ia telah melihat bahwa karhutla bukan sekadar perkara api yang menyala dan air yang disemprotkan untuk memadamkannya.

Ia telah bertemu dengan gambut, perkebunan, masyarakat, perusahaan, pemerintah, dan terutama dengan satu pertanyaan yang terus mengikutinya:

Mengapa bangsa yang sudah puluhan tahun mengalami karhutla masih terus sibuk memadamkan api yang sama?

Paul akhirnya memahami bahwa api mempunyai kebiasaan yang sangat sederhana.

Api tidak membaca peraturan.

Api tidak mengenal batas kabupaten.

Api tidak tahu apakah seseorang seorang pejabat, petani, pengusaha, akademisi, atau warga biasa.

Dan yang paling menyebalkan bagi Paul:

Api tidak pernah menghadiri rapat koordinasi.

Tetapi manusia menghadiri rapat.

Bahkan sangat sering.

Dalam Volume I, Paul mencoba membaca karhutla melalui antropologi, agnotologi, ontologi, epistemologi, aksiologi, serta metafora Koperasi Kuantum. Ia belajar bahwa persoalan karhutla bukan hanya persoalan bagaimana memadamkan api, melainkan bagaimana manusia mengorganisasikan dirinya sebelum api muncul.

Kini Volume I tamat.

Tetapi cerita Paul belum selesai.

Justru di sinilah Volume II dimulai.

Paul sekarang bergabung dengan Credit Union Keling Kumang (CUKK). Ia melihat sesuatu yang sebelumnya tidak terlalu jelas baginya: CUKK bukan hanya memiliki pengalaman mengelola keuangan anggota, tetapi juga memiliki pengalaman membangun organisasi dari bawah, membangun kepercayaan, memperluas jaringan, dan—yang paling penting—melakukan spin-out.

Pengalaman spin-out itu membuat Paul berpikir.

Kalau sebuah organisasi komunitas dapat melahirkan usaha atau lembaga baru untuk menjawab kebutuhan yang berkembang, mengapa pengalaman tersebut tidak digunakan untuk menghadapi karhutla?

Bukankah karhutla juga membutuhkan organisasi?

Bukan organisasi yang datang ketika asap sudah memenuhi langit.

Bukan organisasi yang hanya sibuk menghitung titik panas.

Bukan pula organisasi yang pekerjaannya dimulai setelah konferensi pers.

Yang diperlukan adalah organisasi yang hidup di dalam masyarakat, memahami lanskap, mempunyai anggota, mempunyai modal sosial, mampu mengumpulkan modal ekonomi, mempunyai pengetahuan, dan bekerja sepanjang tahun.

Dari sanalah muncul gagasan baru:

> Koperasi Penanggulangan Karhutla.

Paul membayangkan koperasi ini sebagai salah satu spin-out CUKK—sebuah usaha komunitas inklusif yang dibangun untuk mencegah, mengurangi risiko, menangani secara aman, dan membantu pemulihan akibat karhutla.

Bukan untuk menggantikan pemerintah.

Bukan untuk menggantikan perusahaan.

Bukan untuk menggantikan tenaga pemadam profesional.

Tetapi untuk membangun sesuatu yang sering hilang dalam tata kelola karhutla:

kapasitas kolektif masyarakat.

Dan Paul tahu, perjalanan itu tidak akan mudah.

Sebab membangun koperasi mungkin lebih sulit daripada membangun sekat bakar.

Tetapi membangun kepercayaan mungkin lebih sulit daripada membangun koperasi.

Dan mengubah cara berpikir sebuah masyarakat?

Paul tersenyum.

“Itu,” katanya kepada dirinya sendiri, “mungkin lebih sulit daripada memadamkan satu juta hektare api.”

Maka Volume II dimulai.

Bukan dengan pertanyaan:

“Bagaimana kita memadamkan api?”

Melainkan dengan pertanyaan yang jauh lebih mengganggu:

“Bagaimana kita membangun masyarakat yang membuat api kehilangan kesempatan untuk menjadi bencana?”

EPISODE I

PAUL KEMBALI KE SUNGAI KAPUAS

Pagi itu Sungai Kapuas tampak tenang.

Paul duduk di tepian sungai sambil memegang secangkir kopi.

Ia sudah cukup lama tinggal di Sintang sehingga orang-orang tidak lagi terlalu mempermasalahkan aksennya.

Kalau Paul berbicara bahasa Indonesia, masih terdengar sedikit Amerika.

Kalau ia berbicara bahasa Inggris, orang-orang Sintang sering tertawa karena Paul menyelipkan kata-kata Indonesia.

Kalau ia berbicara tentang Indonesia, orang-orang mulai diam.

Sebab Paul berbicara seperti seseorang yang sudah terlalu lama jatuh cinta pada sebuah negeri.

Ia memandang air Kapuas.

“Kapuas,” katanya pelan, “kau ini sungai atau universitas?”

Seorang pemuda yang duduk tidak jauh darinya menoleh.

“Universitas?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Karena saya sudah belajar bertahun-tahun dari sungai ini, tetapi belum lulus.”

Pemuda itu tertawa.

“Kalau begitu, Pak Paul masih mahasiswa?”

“Betul. Mahasiswa seumur hidup.”

Paul kembali memandang sungai.

Dalam perjalanan hidupnya di Indonesia, ia telah belajar bahwa sungai tidak pernah bekerja sendirian.

Air dari hutan masuk ke sungai.

Hujan masuk ke sungai.

Lahan gambut menyimpan air.

Tanah melepaskan air.

Desa membutuhkan air.

Perkebunan membutuhkan air.

Kota membutuhkan air.

Ikan membutuhkan air.

Manusia membutuhkan semuanya.

Lalu Paul teringat api.

Api juga tidak pernah bekerja sendirian.

Api membutuhkan bahan bakar.

Api membutuhkan oksigen.

Api membutuhkan kondisi yang memungkinkan dirinya membesar.

Dan dalam banyak kasus, api juga membutuhkan kesalahan manusia.

Paul tersenyum pahit.

“Api ternyata lebih pintar daripada kita.”

Pemuda itu kembali menoleh.

“Api pintar?”

“Api tahu cara memanfaatkan kelemahan sistem.”

“Bagaimana?”

“Kalau satu tempat kering, dia masuk. Kalau ada bahan bakar, dia makan. Kalau angin kencang, dia berlari. Kalau organisasi tidak kompak, dia tertawa.”

Pemuda itu tertawa.

“Api bisa tertawa?”

“Kalau tidak bisa, manusianya yang tertawa.”

Paul berdiri.

Ia menerima pesan dari seseorang di CUKK.

Ada rapat.

Paul memasukkan telepon ke sakunya.

Hari itu ia akan berangkat.

Bukan lagi sebagai orang yang hanya mengamati karhutla.

Kali ini ia datang sebagai bagian dari sebuah organisasi.

1. CUKK DAN PELAJARAN DARI SEBUAH SPIN-OUT

Ruang rapat CUKK tidak terlalu besar.

Namun Paul menyukai ruangan itu.

Tidak ada kesan bahwa mereka sedang membicarakan sesuatu yang harus selalu dimulai dengan kata proyek.

Di atas meja terdapat beberapa dokumen.

Paul membuka salah satunya.

“Jadi CUKK sudah pernah melakukan spin-out?”

Seseorang mengangguk.

“Sudah.”

Paul membaca kembali dokumen itu.

Ia kemudian menyandarkan tubuhnya.

“Ini menarik.”

“Apa yang menarik?”

“Selama ini orang membayangkan koperasi sebagai organisasi yang harus melakukan semuanya sendiri.”

Ia berhenti.

“Padahal koperasi yang tumbuh justru mungkin harus belajar melahirkan organisasi baru.”

Ruangan menjadi sedikit lebih sunyi.

Paul melanjutkan.

“Spin-out bukan berarti koperasinya mengecil.”

“Justru?”

“Justru koperasinya membesar secara ekosistem.”

Ia mengambil kertas kosong.

Lalu menulis:

CUKK → PENGETAHUAN → MODAL → KEPERCAYAAN → SPIN-OUT → USAHA BARU → DAMPAK SOSIAL

“Ini bukan sekadar memisahkan usaha,” katanya. “Ini cara membuat kapasitas yang sudah dibangun koperasi dapat digunakan untuk menjawab masalah baru.”

Seseorang bertanya:

“Dan masalah barunya adalah karhutla?”

Paul mengangguk.

“Karhutla.”

Ia berhenti sejenak.

“Lima puluh tahun lagi kita bisa saja masih membuat seminar tentang karhutla.”

Seorang peserta rapat tersenyum.

Paul meneruskan:

“Seminarnya bagus. Makalahnya bagus. Slide PowerPoint-nya bagus.”

Kemudian ia menatap semua orang.

“Tapi kalau apinya tetap menyala, mungkin yang kurang bukan seminar.”

“Yang kurang organisasi?”

“Exactly.”

Ia kemudian tertawa.

“Maaf. Maksud saya—tepat sekali.”

2. GAGASAN YANG AWALNYA TERDENGAR GILA

Paul kemudian menggambar sebuah lingkaran.

Di tengahnya ia menulis:

KOPERASI PENANGGULANGAN KARHUTLA

Di sekelilingnya ia menulis:

– masyarakat desa,

– petani,

– pemilik lahan,

– perusahaan,

– pemerintah desa,

– pemerintah daerah,

– relawan,

– tenaga teknis,

– perguruan tinggi,

– CUKK,

– lembaga pembiayaan,

– dan generasi muda.

“Ini bukan koperasi pemadam kebakaran,” kata Paul.

Seorang peserta bertanya:

“Lalu apa?”

“Ini koperasi yang membuat masyarakat mempunyai kepentingan ekonomi untuk mencegah kebakaran.”

Paul mengetuk meja.

“Itu bedanya.”

Ia menjelaskan bahwa selama ini ekonomi dan perlindungan sering dipisahkan.

Orang menanam untuk memperoleh pendapatan.

Orang memanen untuk memperoleh pendapatan.

Orang berdagang untuk memperoleh pendapatan.

Kemudian ketika api datang, semua orang diminta bekerja sama.

Paul menggeleng.

“Kenapa kerja sama baru muncul setelah masalah terjadi?”

Tidak ada yang menjawab.

“Seharusnya kerja sama dibangun ketika belum ada asap.”

3. KOPERASI YANG BEKERJA SEBELUM API

Paul kemudian menyusun gagasannya.

Koperasi Penanggulangan Karhutla tidak harus menunggu musim kemarau.

Ia bekerja sepanjang tahun.

Pada musim hujan, koperasi dapat melakukan pemetaan risiko.

Pada musim tanam, koperasi membantu praktik pengelolaan lahan yang lebih aman.

Sebelum musim kemarau, koperasi memastikan peralatan, pelatihan, komunikasi, dan rencana kontinjensi tersedia.

Ketika indikator risiko meningkat, sistem peringatan dini bekerja.

Ketika terjadi kejadian kebakaran, koperasi menjalankan fungsi yang sesuai dengan kapasitas dan prosedur keselamatan serta berkoordinasi dengan instansi yang berwenang.

Setelah kebakaran, koperasi membantu pemulihan ekonomi dan ekologis.

Paul menulis enam kata besar:

CEGAH — SIAP — PANTAU — LAPOR — TANGGAP — PULIHKAN

“Kalau koperasi hanya muncul ketika api sudah besar,” katanya, “itu bukan pencegahan.”

Ia berhenti.

“Itu koperasi pemadam kebakaran.”

Semua tertawa.

Tetapi Paul tidak ikut tertawa.

4. PAUL MENEMUKAN MAKNA BARU SPIN-OUT

Malamnya Paul kembali ke tepian Kapuas.

Ia mengingat pengalaman Volume I.

Ia teringat pertanyaan tentang agnotologi.

Pengetahuan ada.

Tetapi sering kali pengetahuan itu tidak menjadi tindakan.

Ia teringat ontologi.

Lahan dianggap sebagai komoditas.

Padahal lanskap adalah sistem kehidupan.

Ia teringat epistemologi.

Masyarakat mengetahui sesuatu. Ilmuwan mengetahui sesuatu. Pemerintah mengetahui sesuatu. Perusahaan mengetahui sesuatu.

Tetapi semuanya mengetahui dalam ruangan masing-masing.

Ia teringat aksiologi.

Apa sebenarnya tujuan pembangunan?

Paul kemudian menyadari sesuatu.

Koperasi dapat menjadi tempat di mana keempat persoalan tersebut bertemu.

Koperasi bukan hanya tempat uang dikumpulkan.

Koperasi dapat menjadi tempat:

pengetahuan dikumpulkan,

kepercayaan dibangun,

risiko dibagi,

modal dihimpun,

dan

tindakan dilakukan bersama.

Paul menulis dalam buku catatannya:

> “Spin-out bukan sekadar memisahkan usaha. Spin-out adalah cara sebuah komunitas memperbanyak kapasitasnya untuk menyelesaikan persoalan.”

Ia memandang Kapuas.

“Kalau begitu,” katanya, “kita coba.”

5. RAPAT PERTAMA: DAN SEORANG PEMUDA BERTANYA

Keesokan harinya rapat dilanjutkan.

Seorang pemuda bertanya:

“Pak Paul, siapa yang akan menjadi anggota koperasi?”

Paul tersenyum.

“Itulah pertanyaan pertama yang benar.”

Ia mengambil papan tulis.

“Petani bisa.”

“Masyarakat desa bisa.”

“Pemilik usaha bisa.”

“Perusahaan bisa menjadi mitra sesuai kerangka hukum dan tata kelola.”

“Pemerintah tentu bukan anggota dalam pengertian yang sama, tetapi dapat menjadi mitra.”

“Perguruan tinggi?”

“Mitigasi pengetahuan.”

“Anak muda?”

“Jangan tanya lagi.”

Paul tertawa.

“Anak muda justru harus menjadi darah mudanya.”

Seorang peserta bertanya:

“Dan CUKK?”

Paul menjawab:

“CUKK adalah induknya pengalaman.”

Ia berhenti.

“Spin-out-nya adalah anak yang harus belajar berjalan sendiri.”

6. DARI MODAL UANG MENUJU MODAL KEHIDUPAN

Paul kemudian mengubah pembicaraan.

“Kalau kita membangun koperasi ini, jangan mulai dengan bertanya: berapa uangnya?”

Semua melihat kepadanya.

“Mulailah dengan bertanya: apa yang ingin kita selamatkan?”

Ia menulis:

HUTAN

GAMBUT

AIR

PANGAN

KESEHATAN

PENDAPATAN

MASA DEPAN

“Kalau semua ini hilang,” katanya, “berapa besar uang yang kita perlukan untuk membelinya kembali?”

Ruangan kembali hening.

“Dan kalau ternyata tidak bisa dibeli kembali?”

Paul meletakkan spidol.

“Berarti kita sedang mengelola modal yang lebih penting daripada uang.”

7. PAUL DAN LIMA PILAR

Paul kemudian menghubungkan koperasi baru itu dengan Koperasi Kuantum.

MEDAN KESADARAN

Koperasi harus memiliki nilai bahwa mencegah karhutla merupakan kepentingan bersama.

KETERJERATAN KUANTUM

Satu desa tidak dapat dipisahkan dari desa sebelah.

Satu perkebunan tidak dapat dipisahkan dari sungai.

Satu perusahaan tidak dapat dipisahkan dari udara yang dihirup masyarakat.

SUPERPOSISI

Api tidak boleh dilihat secara hitam-putih.

Konteks ekologis harus dibaca.

Namun keselamatan dan hukum tetap menjadi batas.

EFEK PENGAMAT

Apa yang diukur akan memengaruhi perilaku.

Karena itu koperasi harus mengukur bukan hanya kebakaran, tetapi juga pencegahan.

KEUTUHAN

Ekonomi dan ekologi harus berada dalam satu sistem.

Paul kemudian menulis satu kalimat:

> “Koperasi Penanggulangan Karhutla harus memperoleh pendapatan karena mencegah kerusakan, bukan memperoleh pendapatan karena kerusakan sudah terjadi.”

Seorang peserta mengangguk.

“Ini agak terbalik dari kebiasaan.”

Paul tersenyum.

“Memang. Kalau tidak terbalik, kita tidak akan pernah berubah.”

8. ANAK SUNGAI KAPUAS MEMBUAT KEPUTUSAN

Sore menjelang.

Paul berjalan sendirian.

Ia tidak lagi melihat Sungai Kapuas hanya sebagai sungai.

Ia melihat jaringan kehidupan.

Hutan.

Desa.

Ladang.

Perkebunan.

Gambut.

Pasar.

Koperasi.

Sekolah.

Anak-anak.

Dan masa depan.

Ia teringat Amerika.

Negeri tempat ia dilahirkan.

Tetapi Indonesia adalah negeri yang dipilihnya.

Ia sudah menjadi warga Indonesia.

Dan Kapuas telah menjadi sungainya.

Paul berkata:

“Kalau saya sudah memilih Indonesia sebagai rumah, saya tidak boleh hanya menjadi penonton ketika rumah ini terbakar.”

Ia berhenti.

Kemudian tersenyum.

“Apalagi kalau rumahnya terbakar setiap tahun.”

9. KEPUTUSAN

Malam itu keputusan awal dibuat.

CUKK akan mengeksplorasi pembentukan Koperasi Penanggulangan Karhutla sebagai spin-out dan usaha komunitas inklusif.

Tetapi Paul memberi satu catatan.

“Jangan buru-buru mendirikan kantor.”

Semua melihatnya.

“Bangun dulu komunitasnya.”

“Bangun pengetahuannya.”

“Bangun sistemnya.”

“Bangun kepercayaannya.”

“Bangun model ekonominya.”

“Baru organisasi.”

Ia kemudian menambahkan:

“Kalau kita mulai dari kantor, kita mungkin akan memiliki kantor.”

“Kalau kita mulai dari kebutuhan masyarakat, mungkin kita akan memiliki gerakan.”

Tidak ada yang tertawa kali ini.

10. KAPUAS DAN API YANG BELUM MENYALA

Malam semakin gelap.

Paul berdiri di tepi Kapuas.

Di kejauhan terlihat cahaya kecil dari rumah-rumah penduduk.

Ia membayangkan suatu hari nanti cahaya-cahaya itu tetap menyala ketika musim kemarau datang.

Tidak tertutup asap.

Tidak ada sekolah yang diliburkan karena udara berbahaya.

Tidak ada petani yang kehilangan sumber penghidupan.

Tidak ada satwa yang melarikan diri dari hutan terbakar.

Tidak ada masyarakat yang saling menunjuk sebagai tersangka sebelum bukti ditemukan.

Dan tidak ada pejabat yang harus mengulang kalimat yang sama:

“Kami akan melakukan penanggulangan.”

Paul tersenyum.

“Lebih baik kita melakukan pencegahan.”

Kapuas mengalir.

Api belum menyala.

Dan untuk pertama kalinya, Paul merasa bahwa belum adanya api adalah sebuah kemenangan.

Ia membuka buku catatannya dan menulis:

> “Peradaban bukan diukur dari seberapa cepat kita memadamkan api, tetapi dari kemampuan kita membuat api tidak perlu dipadamkan.”

Di bawahnya ia menulis:

CUKK → SPIN-OUT → KOPERASI PENANGGULANGAN KARHUTLA

Kemudian satu kalimat terakhir:

> “Kita tidak sedang membangun koperasi untuk menghadapi kebakaran. Kita sedang membangun komunitas agar kebakaran tidak menjadi takdir.”

Bersambung ke Episode II:

“Ketika CUKK Bertanya: Bisakah Pencegahan Menjadi Usaha?”