oleh

CERPEN TESTIMONI BEKATUL #2 : “Ketika Tidur Tidak Lagi Terputus”

Penulis: Agus Pakpahan

Malam itu sebenarnya Pak Rahmat sudah mengantuk.

Tubuhnya ingin beristirahat.

Ia mematikan lampu.

Berbaring.

Menutup mata.

Beberapa saat kemudian ia tertidur.

Tetapi masalahnya bukan hanya sulit tidur.

Masalah yang selama ini mengganggunya adalah tidur yang terputus.

Ia sering terbangun di tengah malam.

Kadang tanpa alasan yang jelas.

Matanya terbuka.

Ia melihat jam.

Masih terlalu pagi untuk bangun.

“Masih malam.”

Ia mencoba tidur lagi.

Tetapi justru di situlah persoalannya dimulai.

Tubuhnya sudah lelah.

Tetapi pikirannya kembali aktif.

Memejamkan mata.

Berbalik ke kiri.

Berbalik ke kanan.

Menarik selimut.

Mencoba tidak memikirkan apa-apa.

Tetapi tidur tidak segera datang.

Akhirnya ia tertidur lagi.

Kemudian terbangun lagi.

Begitu seterusnya.

Pagi hari datang dengan rasa lelah yang sulit dijelaskan.

Ia memang tidur.

Tetapi rasanya seperti tidak benar-benar beristirahat.

Hari demi hari keadaan itu berlangsung.

Sampai kemudian Pak Rahmat mulai mengonsumsi Fermented Rice Bran Cap 3Ikan (FRB 3Ikan).

Pada awalnya ia tidak mempunyai harapan khusus.

Ia hanya mengonsumsinya sebagai bagian dari kebiasaan makan.

Namun setelah beberapa waktu, ia mulai menyadari adanya perubahan.

Suatu malam ia terbangun.

Tangannya secara refleks mencari jam.

Tetapi kali ini berbeda.

Ia tidak merasa gelisah.

Tidak lama kemudian ia kembali tertidur.

Pagi harinya ia baru menyadari:

“Semalam saya terbangun, tetapi bisa tidur lagi.”

Ia mulai memperhatikannya.

Malam berikutnya.

Dan malam berikutnya lagi.

Tidurnya terasa lebih menyambung.

Kebiasaan terbangun kemudian sulit tidur kembali yang selama ini mengganggu mulai dirasakannya berkurang.

Ia tidak lagi terlalu sering mengalami malam yang terpotong-potong.

Pagi pun terasa berbeda.

Ia bangun dengan perasaan lebih siap menjalani aktivitas.

Bukan berarti setiap malam menjadi sempurna.

Tidak juga berarti ia tidak pernah terbangun lagi.

Tetapi menurut pengalamannya, kemampuan untuk kembali tidur setelah terbangun menjadi lebih baik.

Ia kemudian bercerita kepada keluarganya.

“Sekarang kalau terbangun malam, saya bisa tidur lagi.”

Salah seorang keluarganya bertanya,

“Karena FRB?”

Ia tersenyum.

“Yang saya tahu, sejak mengonsumsi FRB saya merasakan perubahan itu.”

Jawaban tersebut sederhana.

Tetapi justru penting.

Ia menceritakan pengalaman.

Bukan memberikan diagnosis.

Bukan pula mengatakan bahwa pengalaman tersebut akan terjadi pada semua orang.

Karena setiap tubuh berbeda.

Ada orang yang mudah tidur.

Ada yang sulit tidur.

Ada yang sering terbangun.

Ada pula yang terbangun tetapi dapat langsung tidur kembali.

Pengalaman manusia memang beragam.

Namun pengalaman yang dirasakan seseorang tetap dapat dicatat.

Dan jika pengalaman yang serupa muncul pada banyak orang, pertanyaan yang lebih besar mulai muncul.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Apakah perubahan itu berkaitan dengan pola makan?

Apakah berkaitan dengan FRB?

Apakah ada komponen tertentu dalam bekatul yang difermentasi yang berperan?

Ataukah ada perubahan lain dalam pola hidup konsumen yang terjadi bersamaan?

Belum ada jawaban dari satu testimoni.

Tetapi sebuah pertanyaan sudah muncul.

Dan mungkin itulah nilai sebuah pengalaman.

Bukan untuk buru-buru membuat kesimpulan.

Melainkan untuk membuka pintu penyelidikan.

Malam kembali datang.

Ia mematikan lampu.

Berbaring.

Memejamkan mata.

Dan kali ini ia tidak terlalu takut ketika terbangun.

Sebab ia tahu bahwa ia mungkin bisa tidur kembali.

Beberapa saat kemudian matanya tertutup.

Pikirannya menjadi tenang.

Dan malam berjalan tanpa banyak gangguan.

Pagi kembali datang.

Ia membuka mata.

Hari baru dimulai.

Ia tersenyum kecil.

Ternyata tidur yang baik bukan hanya tentang bisa tertidur.

Kadang yang sama pentingnya adalah:

ketika terbangun, kita dapat kembali tidur.

CATATAN TESTIMONI

Cerita #2 merupakan pengembangan naratif dari pengalaman konsumen FRB 3Ikan yang dilaporkan oleh Pak Rahmat (nama samaran) bahwa kebiasaan sulit tidur kembali setelah terbangun pada malam hari menjadi lebih normal setelah mengonsumsi FRB 3Ikan.

Ini merupakan testimoni individual, bukan bukti klinis bahwa FRB 3Ikan mengatasi insomnia atau gangguan tidur.

Kualitas tidur dipengaruhi oleh banyak faktor. Karena itu, pengalaman ini lebih tepat ditempatkan sebagai observasi yang dapat menghasilkan hipotesis penelitian, misalnya mengenai kemungkinan hubungan antara konsumsi fermented rice bran, pola tidur, metabolisme, mikrobiota usus, dan kualitas istirahat.

Testimoni memberi kita cerita. Penelitian diperlukan untuk mengetahui sebabnya.