oleh

Dengan Duit Setriliun Warga Bisa Dapat Apa?

Oleh:  Drs.Andre Vincent Wenas,MM.MBA (Pegiat Media Sosial, Kolomnis, Pemerhati Ekonomi-Politik ,dan Jubir DPP PSI)

SETRILILUN itu duit semua, bukan uang crypto atawa check-kosong!

Bayangkan saja, dengan duit cash-keras sebanyak itu, Anda bisa bikin apa saja?

Mau kampanye mobil listrik dengan bikin perhelatan Formula E alias balapan mobil listrik? Untuk itu duit rakyat yang mesti digelontorkan katanya sekitar 4,4 triliun rupiah.

Bahkan belum mulai balapannya, cuma untuk rencana (angan-angan) perhelatan mobil listrik itu Pemprov DKI Jakarta sudah menggelontorkan duit beneran (sekali lagi bukan crypto) segede satu triliun itu tadi.

Mungkin bagi kita (paling tidak bagi saya), rada susah ya mencerna makna duit setriliun itu. Lantaran boro-boro pegang, liat aja belum pernah. Boro-boro liat, mengangankannya aja udah keder duluan.

Jadi supaya lebih gampang dicerna oleh benak khalayak, mungkin kita coba saja bikin perbandingan paralelnya.

Kalau maksud (atau tema besar)nya adalah untuk mengampanyekan penggunaan energi listrik, maka kita akan coba bikin komparasi paralelnya sekitar produk dengan energi listrik.

Berapa sih harga Pembangkit Listrik Tenaga Surya (Panel Surya) rumahan yang bisa langsung dirasakan faedahnya oleh warga? Atau untuk anak-anaknya yang perlu belajar di malam hari? Atau untuk menyalakan laptop-nya dalam rangka belajar via daring?

Tinggal berselancar saja di internet, ada tawaran paket paling murah dengan spesifikasi starter-kit 1KWP Panel Surya. Hanya dengan 3,8 jam efektif matahari, kamu dapat menyalakan: 1 unit AC (1 PK), 1 unit Kulkas (300 Watt), dan 5 pcs Lampu Led (10 Watt). Harganya Rp 17,9 juta per paket. Supaya mudah (plus biaya lain-lain) kita bulatkan saja jadi Rp 20 juta per paket.

Maka dengan duit setriliun (Rp 1.000.000.000.000,- angka nolnya ada dua belas ya), Pemprov DKI Jakarta bisa memberi solusi memasang panel surya di 50 ribu rumah warga kurang mampu. Kalau 1 rumah dihuni sekitar 4 orang, maka ada 200 ribu warga kurang mampu yang bisa langsung merasakan faedahnya.

READ  Wabup Meranti H.Asmar Sambut Kedatangan Wabup Inhil di Meranti

Kalau Pemprov mau pakai skema subsidi, katakanlah setengahnya (50%) saja, maka ada 100 ribu rumah warga kurang mampu yang bisa dibantu. Kalau 1 rumah dihuni sekitar 4 orang, maka sudah 400 ribu warga DKI Jakarta yang kurang mampu bisa langsung merasakan manfaat anggaran setriliun itu tadi.

Itu ilustrasi sederhana dengan cerita soal panel surya. Kita bisa ambil berbagai contoh lain. Misalnya untuk dibelikan Laptop komputer yang saat ini sangat dibutuhkan siswa sekolah yang belajar dari rumah via daring.

Harga laptop yang spesifikasinya cukup baik untuk pelajar misalnya, ada di kisaran katakanlah Rp 5 juta (katanya bisa lebih murah lagi sih). Maka Pemprov bisa menyalurkan lebih dari 200 ribu laptop kepada para siswa kurang mampu di DKI Jakarta.

Atau diberikan saja subsidi atau paket internet gratis langsung kepada para siswa. Atau Pemprov bisa pasang Wi-Fi gratis di berbagai titik strategis yang mudah dijangkau warga (utamanya pelajar). Misalnya di balai desa (kelurahan), atau ruang publik tertentu dengan tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat.

Itu jelas solusi dengan manfaat langsung bagi warga di 44 kecamatan dan 267 kelurahan di seantero DKI Jakarta.

Atau bisa untuk subsidi BPJS warga saja misalnya. Atau untuk bantuan modal usaha mikro warga, misalnya dengan bantuan modal Rp 5 juta,- saja sudah bisa bergulir 200 ribu unit usaha mikro.

Jadi ternyata dengan duit 1 triliun itu banyak sekali yang bisa dipakai untuk langsung membantu warga Jakarta sekarang ini, saat ini. Here and now!

Apalagi dengan total anggaran Formula E yang kabarnya mencapai 4,4 triliun itu.

Maka supaya persoalan setriliun duit rakyat ini jadi jelas dan terang benderang, artinya tiada dusta (kebohongan) di antara kita, mari kita tanyakan bersama-sama kepada Gubernur Anies Baswedan?

READ  Hence Mandagi : “Dewan Pers Tidak Jujur Dan Tendensius Saat Membuat Surat Siaran Persnya”

Sesi tanya-jawab soal ini di parlemen namanya INTERPELASI.

Tanpa perlu pakai undangan makan malam-malam, kita bisa titipkan pertanyaan kita lewat para wakil kita di DPRD DKI Jakarta.

22/09/2021

Komentar