oleh

Dikalahkan Sang Sapurba, Dibangkitkan Suara Tanah

Oleh: Agus Pakpahan (Ekonom Kelembagaan & Pertanian dan Rektor IKOPIN)

Prolog: Pemanggilan

Semesta menulis kisah dengan dua pena: yang satu menorehkan kronik kemenangan di batu nisan raja-raja, yang lain mengukir tangisan terkubur di sungai yang diam. Dikalahkan Sang Sapurba, novel karya Ediruslan Pe Amanriza, adalah nyanyian yang kedua. Ia bercerita bukan tentang pahlawan yang menang perang, tetapi tentang rakyat yang hidup dalam bayang-bayang kekalahan. Kekalahan kepada mitos, kepada takdir, kepada struktur kuasa yang telah berurat-berakar sebelum mereka lahir.

Kini, setelah dua puluh lima musim berganti pasca Reformasi, kita datang ke ladang-ladang perkebunan Indonesia dengan membawa buku tua berjudul Membangun Perkebunan Abad 21. Seolah-olah penulisnya, di tahun 1999 yang penuh lara, sedang membaca novel yang sama. Ia melihat “Sang Sapurba” bukan sebagai raja Melayu purba, tetapi sebagai metafora dari arus sejarah yang telah dikalahkan sejak awal—arusi kesadaran kolektif yang menerima begitu saja takdir sebagai pemetik karet, pemetik teh, pemetik sawit di tanah sendiri yang tidak lagi dimiliki. Buku itu berteriak lirih: kita harus membalik arus ini.

Bagian I: Kekalahan yang Diturunkan Sebagai Takdir

Dalam novel itu, rakyat dikalahkan bukan oleh pedang, melainkan oleh narasi. Oleh cerita bahwa Sang Sapurba adalah titisan dewa, bahwa garis keturunan dan takhtanya telah ditakdirkan. Dalam perkebunan Indonesia pasca-1998, kekalahan yang sama berlangsung dalam bahasa ekonomi: narasi tentang “skala ekonomi”, tentang “efisiensi global”, tentang “investasi yang tak terbendung”.

Reformasi 1998 seharusnya menjadi pemberontakan terhadap narasi takdir ekonomi Orde Baru. Namun, di perkebunan, takdir itu hanya berganti kostum. Konglomerat-konglomerat yang selamat dari krisis dan hutang luar negerinya—yang uang rakyat yang dipakai untuk menyelematkannya—justru bangkit lebih perkasa. Mereka menjadi Sang Sapurba baru. Mereka menguasai tanah dengan izin-izin yang seolah takdir administratif, membangun pabrik yang seolah takdir industrialisasi. Petani ditempatkan kembali sebagai “rakyat” dalam narasi itu: pihak yang harus menerima kemitraan, menerima harga, menerima garis batas kebunnya.

Kebijakan otonomi daerah yang lahir dari Reformasi, alih-alih memutus rantai takdir, malah melahirkan banyak Sapurba-Sapurba kecil. Bupati-bupati sebagai tuan tanah baru, memberikan restu pada perluasan kebun dengan cap dinas. Kekalahan rakyat menjadi dua lapis: kepada konglomerasi nasional, dan kepada kekuasaan lokal yang seharusnya membela mereka. Arus sejarah ini mengalir deras: dari masa tanam paksa Cultuur Stelsel, ke PIR Orde Baru, ke kemitraan plasma-inti pasca-Reformasi. Bentuknya berubah, intinya tetap: rakyat dikalahkan oleh narasi bahwa model inilah satu-satunya jalan.

Bagian II: Upacara-upacara Semu dan Ilusi Pembalikan

Sang Sapurba, dalam mitos, mungkin dikalahkan dalam satu pertempuran. Tapi kuasanya tetap hidup dalam adat, dalam tata cara, dalam penerimaan. Di perkebunan modern, upacara-upacara semu digelar untuk memberi ilusi pembalikan arus.

Upacara itu bernama “sertifikasi”. RSPO, ISPO, sertifikat berkelanjutan. Sebuah ritual dimana perusahaan besar menyatakan diri telah bertobat, telah adil, telah hijau. Mereka membayar konsultan, membuat laporan tebal, mendapat cap halal dari pasar global. Tapi di kebun plasma, di gubuk petani, “keberlanjutan” sering hanya berarti daftar larangan baru: jangan menanam ini, jangan pakai pupuk itu. Sementara harga TBS tetap ditentukan di ruang rapat yang jauh. Upacara sertifikasi adalah pengakuan global bahwa Sang Sapurba industri telah bertakhta secara sah dan beradab. Petani hadir dalam upacara itu hanya sebagai statistik, sebagai bukti “pemberdayaan”.

Upacara lain bernama “teknologi”. Drone, IoT, satelit. Alat-alat yang konon akan mendemokratisasi akses. Tapi teknologi, seperti mantra dalam novel, hanya efektif di tangan yang memahami bahasanya. Teknologi perkebunan presisi lahir dari logika efisiensi skala besar. Ketika sampai di tangan petani gurem, ia menjadi alat asing. Bukan membebaskan, malah membuat mereka merasa lebih kecil, lebih tertinggal. Teknologi menjadi jubah baru Sang Sapurba untuk menunjukkan keunggulan takdirnya: bahwa hanya yang besar, terhubung, dan berkapital yang berhak memanen masa depan.

Hilirisasi pun adalah janji pembalikan arus yang megah. Negara berkata: kita tak lagi akan jadi pengekspor bahan mentah. Tapi pabrik-pabrik biodiesel dan oleokimia yang berdiri itu adalah kuil-kuil baru Sang Sapurba industri. Petani tetap menjual buah, bukan nilai tambah. Mereka tak diajak memiliki saham di kuil itu. Hilirisasi menjadi upacara nasional yang merayakan kedaulatan di atas kertas, sementara di akar rumput, ketergantungan justru menguat.

Bagian III: Suara-suara dari Bawah Tanah dan Tanda Kebangkitan

Namun, seperti dalam setiap mitos, selalu ada ruang untuk penafsiran ulang. Selalu ada suara dari bawah tanah—suara yang dikalahkan, tetapi tidak dimusnahkan.

Dua puluh lima tahun ini juga menyaksikan kebangkitan narasi tandingan. Ia tidak lagi bersifat satu suara heroik, tetapi menyebar seperti rizoma:

  1. Narasi Agraria:

Gerakan-gerakan petani muda tak lagi hanya menuntut ganti rugi tanah, tetapi menuntut pengakuan atas wilayah kelola rakyat. Mereka membaca peta, menggunakan drone sendiri untuk mendokumentasikan kebun, menggugat di pengadilan dengan bahasa hukum yang tajam. Mereka menulis ulang narasi “pembangunan” dengan narasi “kedaulatan”.

  1. Narasi Ekologi Komunal:
    Di beberapa tempat, petani sawit mulai menyelipkan pohon karet, buah-buahan, atau kayu keras di sela-sela kebunnya. Itu bukan sekadar strategi ekonomi, melainkan perlawanan halus terhadap monokultur—sistem pertanian Sang Sapurba industri. Mereka membangun “hutan pangan” kecil sebagai benteng terakhir biodiversitas dan ketahanan.
  2. Narasi Digital yang Dimiliki:
    Jika teknologi adalah senjata Sang Sapurba, kini ada upaya merampasnya. Koperasi-koperasi mulai menggunakan platform digital sederhana untuk pooling produk, mendapatkan harga yang lebih baik. Konten-konten di media sosial memperlihatkan wajah asli perkebunan rakyat, memutus monopoli citra oleh korporasi. Mereka membuat arsip digital sendiri tentang sejarah konflik lahannya.

Reformasi telah memberi satu hal yang tak ternilai: ruang untuk bersuara. Ruang itu penuh risiko dan kekerasan, tetapi ia ada. Suara-suara inilah yang sedang menulis babak baru. Mereka tidak lagi berusaha “mengalahkan” Sang Sapurba dalam pertempuran frontal—sebab Sang Sapurba adalah sistem, bukan orang. Mereka sedang mengikis legitimasinya dengan membangun realitas alternatif: perkebunan yang kolektif, adil, dan berakar pada ekologi lokal.

Epilog: Menulis Sejarah dengan Pena yang Berbeda

Novel Dikalahkan Sang Sapurba mungkin berakhir dengan kekalahan. Tetapi sejarah selalu merupakan novel yang belum selesai ditulis. Buku Membangun Perkebunan Abad 21 dari tahun 1999 adalah draft awal bab pembuka.

Dua puluh lima tahun kemudian, draft itu sedang ditulis ulang bukan oleh satu penulis di Jakarta, tetapi oleh banyak tangan di pinggiran kebun, di ruang rapat koperasi, di meja pengadilan agraria, dan di linimasa media sosial. Mereka menggunakan pena yang berbeda: pena keberanian untuk menolak takdir yang dipaksakan, pena pengetahuan untuk membongkar narasi yang menindas, dan pena solidaritas untuk merajut kekuatan dari bawah.

Membalik arus sejarah perkebunan bukan lagi soal membangun model bisnis yang lebih produktif. Ia adalah pekerjaan kebudayaan: mengubah mentalitas “yang dikalahkan” menjadi mentalitas “yang berdaulat”. Dari narasi dikalahkan menjadi narasi mengelola. Dari takdir sebagai pemetik, menjadi pilihan sebagai penjaga dan pengembang nilai.

Sang Sapurba—dalam wujud mitos kolonial, konglomerasi, atau birokrasi—mungkin tak akan pernah mati. Tapi kekuatannya bisa dipatahkan ketika rakyat berhenti mempercayai takdir yang diwartakannya, dan mulai mempercayai nyanyian kebunnya sendiri. Di sanalah arus sejarah benar-benar mulai berbalik: bukan dengan gemuruh revolusi, tapi dengan desahan akar yang perlahan mendorong batu besar, dan dengan kuncup-kuncup baru yang bersikeras tumbuh di tanah yang dikatakan telah tandus. (***

Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi
Edisi 20 Januari 2026