Oleh: Agus Pakpahan ( Ekonom Kelembagaan/ Rektor Universitas Koperasi Indonesia)
Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi,Edisi 15 Juli 2026
Pendahuluan: Di Bawah Pohon Rindang
Di sebuah sore yang tenang di pedalaman Kalimantan Barat, di tepi Sungai Kapuas, seorang tua duduk di bawah pohon rindang. Di hadapannya, sebuah ruangan kayu berukuran 4×4 meter—tempat tiga puluh dua tahun lalu, dua belas orang meletakkan kepercayaan mereka di atas meja. Rp 291.000. Itu semua yang mereka miliki. Hari ini, dari ruang kecil itu, lahir sebuah kerajaan ekonomi rakyat yang melayani 232.200 anggota dengan aset Rp 2,3 triliun.
Seribu kilometer di sebelah barat, di ruang-ruang rapat ber-AC di ibu kota, para pemimpin bangsa sedang merancang program besar: 80.000 koperasi desa dalam satu gerakan nasional. Sebuah proyek ambisius dengan anggaran triliunan rupiah, gudang-gudang megah, dan gerai-gerai modern.
Dua jalan. Dua cara berpikir. Satu pertanyaan: jalan mana yang akan membawa kita pada kemerdekaan ekonomi yang sesungguhnya?
Dua Kebijaksanaan dari Sejarah
Abraham Lincoln: Kebebasan dan Pendidikan
Abraham Lincoln berdiri di tengah perang saudara yang merobek-robek bangsanya. Pada 1 Januari 1863, ia menandatangani Proklamasi Emansipasi— membebaskan mereka yang terbelenggu. “Jika perbudakan bukanlah kesalahan, maka tidak ada yang salah,” katanya. Baginya, kebebasan adalah fondasi; tanpa itu, semua yang lain hanya bangunan di atas pasir.
Namun Lincoln tidak berhenti di situ. Pada 2 Juli 1862, ia menandatangani Morrill Act—Undang-Undang Land-Grant College. Ia memberikan tanah publik kepada setiap negara bagian untuk membangun perguruan tinggi yang mengajarkan pertanian dan teknik. Ia percaya bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan, bahwa pengetahuan adalah senjata paling ampuh melawan penindasan.
Lincoln mengajarkan kita satu hal: kebebasan dan pendidikan adalah dua sisi dari koin yang sama. Yang satu tanpa yang lain hanya akan menghasilkan kebebasan yang hampa.
Franklin D. Roosevelt: The Forgotten Man
Franklin Delano Roosevelt menghadapi Amerika yang hancur oleh Depresi Besar. Jutaan pengangguran. Bank-bank gulung tikar. Petani kehilangan tanah. Para “pemimpin” di Washington sibuk berdebat tentang teori ekonomi, sementara rakyat kelaparan.
Pada 7 April 1932, Roosevelt berbicara tentang “the forgotten man” —mereka yang terlupakan di dasar piramida ekonomi. Napoleon kalah di Waterloo karena ia melupakan infanterinya—ia terlalu mengandalkan kavaleri yang spektakuler tetapi kurang substansial.
Roosevelt mengingatkan: pembangunan yang hanya berfokus pada yang spektakuler—gedung-gedung megah, proyek-proyek raksasa, angka-angka besar—akan gagal jika melupakan rakyat kecil di akar rumput.
Dua Model Koperasi
CUKK: Bukan Sekadar Koperasi Simpan Pinjam
Banyak pihak masih memandang CUKK sebagai sekadar koperasi simpan pinjam biasa. Pandangan ini keliru dan meremehkan transformasi yang telah terjadi. Memang, CUKK memulai perjalanannya sebagai credit union dengan modal Rp 291.000 dari 12 orang. Namun, perjalanan 32 tahun telah mengubah CUKK menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
CUKK bukan lagi sekadar koperasi simpan pinjam. Ia telah bertransformasi menjadi konglomerasi koperasi melalui strategi spin-off yang sistematis. Seperti diungkapkan Ketua CUKK Dr. Stefanus Masiun, “Anggota koperasi ini kebutuhannya beragam, mereka berharap Koperasi pada Credit Union (CU) bisa menjawab kebutuhan anggota, dan simpan pinjam hanya salah satu dari CU.”
Transformasi ini didorong oleh filosofi bahwa kesejahteraan anggota berarti mencakup seluruh aspek kehidupan: pendidikan, kesehatan, pangan, hingga akses pasar. Dari satu koperasi simpan pinjam, CUKK telah berkembang menjadi Jaringan Gerakan Keling Kumang (JGKK) dengan berbagai entitas usaha:
1. Pendidikan: Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK), SMK Keling Kumang, Keling Kumang English Course
2. Perhotelan dan Pariwisata: Ladja Hotel, Keling Kumang Agrowisata
3. Ritel dan Perdagangan: Keling Kumang Mart, Koperasi 52/K52, Gudang Unilever
4. Pertanian dan Produksi: Keling Kumang Agrotani, demplot pertanian, target pembangunan Pabrik Kelapa Sawit
Dengan demikian, CUKK telah menciptakan ekosistem ekonomi yang utuh—dari pendidikan, pertanian, perdagangan, hingga pariwisata dan perhotelan. Semua ini lahir dari kebutuhan anggota yang disampaikan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT).
KDKMP: Model Instruksi Pembangunan
KDKMP adalah anak dari tradisi yang sama dengan KUD—koperasi yang dibangun dari instruksi pemerintah, bukan dari kesadaran rakyat. Ia dirancang secara top-down, dengan desain yang seragam untuk semua desa. Dalam satu bangunan seluas 600 meter persegi, direncanakan: kantor koperasi, toko sembako, layanan simpan pinjam, apotek desa, gudang logistik, dan cold storage.
Karakteristiknya:
· Seragam: Desain sama untuk semua desa, tanpa mempertimbangkan keragaman karakter dan potensi ekonomi setiap daerah
· Fokus pada Infrastruktur Fisik: Anggaran besar untuk pembangunan fisik; total kebutuhan modal mencapai Rp 240 triliun atau Rp3 miliar per unit koperasi
· Instruksi dari Atas: Dibentuk melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025
· Sentralisasi Peran: Pemerintah menempatkan diri sebagai “motor penggerak”
Landasan Berpikir: Dua Paradigma yang Berbeda
Landasan Berpikir CUKK: Evolusi dari Gotong Royong Leluhur
CUKK lahir dari kesadaran kolektif masyarakat Dayak. Landasan berpikirnya bersumber dari nilai-nilai budaya yang telah hidup turun-temurun:
1. Handep (Gotong Royong) — semangat kerja sama dan saling membantu
2. Hidop Barentin (Hidup Beraturan) — keteraturan dan disiplin kolektif
3. Rumah Panjang (Betang) — simbol kebersamaan yang menjadi inspirasi bagi semangat simpan-pinjam kolektif
Pendekatan CUKK adalah bottom-up: lahir dari kebutuhan nyata masyarakat, tumbuh secara organik, dan berkembang sesuai dengan aspirasi anggota yang disuarakan dalam RAT. Inisiatif datang dari tokoh masyarakat lokal dan aktivis keagamaan yang melihat penderitaan akibat utang dan ingin menawarkan solusi berbasis keadilan dan solidaritas.
Landasan Berpikir KDKMP: Model Instruksi Pembangunan
KDKMP merupakan kelanjutan dari tradisi Koperasi Unit Desa (KUD) yang diterapkan pada masa Orde Baru. KUD dibentuk dari instruksi pemerintah, dirancang secara top-down, tanpa fondasi nilai yang kokoh. Model yang sama diulang dengan KDKMP, hanya dengan skala dan anggaran yang lebih besar.
Landasan berpikirnya: beri uang dan infrastruktur, niscaya koperasi akan tumbuh. Ia mengulang pola yang sama yang telah gagal dengan KUD.
Perbedaan Hakiki
Sumber Ide: Akar vs. Instruksi
Bayangkan sebuah pohon. CUKK tumbuh seperti pohon yang akarnya menembus tanah sejak awal. Ia tidak ditanam oleh siapa pun dari luar; ia lahir dari benih yang sudah ada di dalam tanah itu sendiri. Benih itu adalah kesadaran kolektif masyarakat Dayak—nilai-nilai handep (gotong royong) dan hidop barentin (hidup beraturan) yang telah hidup turun-temurun.
Pada tahun 1993, di sebuah ruangan 4×4 meter di Tapang Sambas, dua belas orang tidak menunggu instruksi dari mana pun. Mereka tidak bertanya, “Apa yang diperintahkan pemerintah?” Mereka bertanya, “Apa yang kami butuhkan sebagai komunitas?” Dan dari pertanyaan itulah CUKK lahir.
Sebaliknya, KDKMP adalah pohon yang ditanam dari atas. Ia lahir dari Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025. Ia adalah buah dari keputusan di Jakarta, dari ruang-ruang rapat para pemimpin bangsa yang ingin membangun 80.000 koperasi dalam satu gerakan nasional.
Perbedaan ini bukanlah hal kecil. Pohon yang tumbuh dari akarnya sendiri akan memiliki sistem perakaran yang kuat. Ia akan mampu bertahan dalam badai dan kemarau. Pohon yang ditanam dari atas—yang tidak memiliki akar yang dalam—akan tumbang ketika badai datang.
Filosofi: Membangun Manusia vs. Membangun Gedung
CUKK percaya pada urutan yang benar: bangun kesadaran dan kepercayaan terlebih dahulu; modal akan mengikuti. Filosofi ini adalah tentang membangun manusia—tentang menanamkan nilai, membentuk karakter, dan menumbuhkan kesadaran kolektif.
CUKK tidak memulai dengan uang. Ia memulai dengan pendidikan. Seperti slogan Credit Union: “dimulai dari pendidikan, dikembangkan melalui pendidikan, dikontrol melalui pendidikan.” Pendidikan bukan pelengkap; ia adalah fondasi. Dan dari pendidikan itulah modal datang.
KDKMP menganut filosofi yang berbeda: beri uang dan infrastruktur, niscaya koperasi akan tumbuh. Filosofi ini adalah tentang membangun gedung—tentang gerai-gerai yang megah, gudang-gudang yang besar, dan angka-angka yang mengesankan.
KDKMP mengalokasikan lebih dari 99% anggarannya untuk infrastruktur fisik. Hampir tidak ada untuk pendidikan dan penguatan kapasitas manusia. Ia seperti membangun rumah tanpa fondasi—megah di luar, rapuh di dalam.
Penggerak: Kesadaran Kolektif vs. Instruksi Negara
Siapa yang menggerakkan CUKK? Masyarakat dan tokoh lokal. Pada tahun 1993, inisiatif datang dari tokoh masyarakat dan aktivis keagamaan yang melihat penderitaan akibat utang dan ingin menawarkan solusi berbasis keadilan dan solidaritas. Mereka tidak menunggu instruksi dari Jakarta. Mereka bertindak karena mereka peduli.
Siapa yang menggerakkan KDKMP? Pemerintah pusat. Ia adalah anak dari tradisi yang sama dengan KUD—koperasi yang dibangun dari instruksi, bukan dari kesadaran rakyat.
Perbedaan ini penting karena penggerak menentukan kepemilikan. Ketika masyarakat yang menggerakkan, mereka merasa memiliki. Ketika pemerintah yang menggerakkan, koperasi menjadi “milik pemerintah”—sesuatu yang asing, yang tidak benar-benar menjadi bagian dari hidup mereka.
Fondasi: Nilai Budaya vs. Anggaran Negara
CUKK dibangun di atas nilai-nilai budaya—handep dan hidop barentin yang telah hidup selama berabad-abad. Fondasi ini bukanlah sesuatu yang dibangun dalam semalam. Ia adalah warisan yang dihidupkan kembali, yang ditanamkan melalui pendidikan dan ritual kolektif.
KDKMP dibangun di atas anggaran dan infrastruktur fisik. Fondasi ini dapat diukur dalam rupiah, tetapi tidak dapat diukur dalam jiwa.
Di sinilah kita menemukan perbedaan yang paling dalam. Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dihayati; anggaran adalah sesuatu yang dibelanjakan. Nilai-nilai budaya menciptakan ikatan; anggaran menciptakan ketergantungan.
Pola Pertumbuhan: Organik vs. Instruktif
CUKK tumbuh secara organik dan evolutif. Ia tidak memiliki cetak biru yang kaku. Ia merespons kebutuhan yang muncul dari bawah—kebutuhan anggota yang disuarakan dalam Rapat Anggota Tahunan. Dari sinilah lahir spin-out di berbagai bidang: pendidikan (ITKK, SMK), pertanian (Agrotani), perdagangan (Mart), perhotelan (Ladja Hotel). Semua tumbuh secara alami, seperti cabang-cabang pohon yang menjulur ke arah matahari.
KDKMP tumbuh secara instruktif dan seragam. Semua desa mendapatkan desain yang sama—20×30 meter, dengan gerai, gudang, cold storage, apotek, dan layanan simpan pinjam. Tidak peduli apakah desa itu di pegunungan atau di pesisir, apakah potensinya pertanian atau perikanan. Semua seragam.
Kepemilikan: Dihayati vs. Dipaksakan
Pada akhirnya, perbedaan paling mendasar adalah tentang rasa memiliki.
Di CUKK, rasa memiliki lahir dari partisipasi. Anggota tidak hanya menyetor uang; mereka hadir dalam rapat, mereka memberikan usulan, mereka mengawasi pengurus. Mereka adalah pemilik sejati, bukan karena mereka memiliki sertifikat, tetapi karena mereka terlibat.
Di KDKMP, rasa memiliki dipaksakan. Kepala Desa didorong untuk menjadi aktor utama. Masyarakat diinstruksikan untuk bergabung. Namun instruksi tidak pernah bisa menciptakan rasa memiliki. Ia hanya menciptakan kepatuhan.
Ukuran Keberhasilan: Jiwa vs. Angka
CUKK mengukur keberhasilannya dari kesejahteraan anggota dan ketangguhan sistem. Ia tidak bertanya, “Berapa besar aset kita?” Ia bertanya, “Seberapa banyak anggota yang telah keluar dari kemiskinan? Seberapa kuat kepercayaan di antara kita? Seberapa tangguh kita dalam menghadapi krisis?”
KDKMP mengukur keberhasilannya dari jumlah koperasi dan aset fisik. Ia bertanya, “Berapa banyak koperasi yang telah kita dirikan? Berapa banyak gudang yang telah kita bangun? Berapa banyak anggaran yang telah kita serap?”
Perbedaan Pikiran, Perbedaan Model, Perbedaan Perilaku
Model Gotong Royong Leluhur → CUKK
CUKK lahir dari kesadaran kolektif masyarakat Dayak, dari nilai-nilai yang telah hidup turun-temurun. Ia adalah evolusi budaya, bukan rekayasa teknokrat.
Pendekatan CUKK adalah bottom-up: lahir dari kebutuhan nyata masyarakat, tumbuh secara organik, dan berkembang sesuai dengan aspirasi anggota yang disuarakan dalam RAT. Inisiatif datang dari tokoh masyarakat lokal dan aktivis gereja yang melihat penderitaan akibat utang dan ingin menawarkan solusi berbasis keadilan dan solidaritas.
Model Instruksi Pembangunan: KUD dan KDKMP
KDKMP merupakan kelanjutan dari tradisi KUD yang diterapkan pada masa Orde Baru—dibentuk dari instruksi pemerintah, dirancang secara top-down, tanpa fondasi nilai yang kokoh. Model yang sama diulang, hanya dengan skala dan anggaran yang lebih besar.
Landasan berpikirnya: beri uang dan infrastruktur, niscaya koperasi akan tumbuh. Ia mengulang pola yang sama yang telah gagal dengan KUD.
Urutan Prioritas: Q → Alpha → M
Perbedaan paling mendasar antara CUKK dan KDKMP terletak pada urutan prioritas dalam membangun koperasi.
CUKK: Q → Alpha → M
CUKK membangun Q (Energi Sosial) terlebih dahulu: nilai, kepercayaan, solidaritas, dan kesadaran kolektif. Kemudian ia membangun Alpha (Kapasitas Kelembagaan): sistem akuntabilitas, ritual kolektif, teknologi partisipatif, kaderisasi, dan sistem sanksi. Baru kemudian M (Modal Material) mengikuti.
CUKK membuktikan bahwa urutan yang benar adalah Q → Alpha → M. Tanpa Q, Alpha tidak memiliki energi untuk dikonversi. Tanpa Alpha, Q tetap menjadi energi potensial yang tak pernah menjadi energi kinetik. Dan tanpa Q dan Alpha, M hanya akan menjadi beban.
KDKMP: M → Alpha → Q (atau bahkan M saja)
KDKMP membalik urutan ini. M mendominasi (>99% anggaran), Alpha mendapat porsi kecil (<1%), dan Q hampir tidak tersentuh (0%). Ini seperti membangun rumah tanpa pondasi—megah di luar, rapuh di dalam.
Implikasi: Apa yang Terjadi Jika KDKMP Mengadopsi Model CUKK?
Jika KDKMP mengadopsi model CUKK, implikasinya sangat besar dan transformatif:
1. Perubahan Urutan Prioritas: Q → Alpha → M. Pendidikan dan pembangunan kesadaran menjadi prioritas utama, bukan gedung dan gerai.
2. Pendidikan sebagai Fondasi: Setiap rupiah yang dihabiskan untuk pendidikan anggota adalah investasi dengan pengembalian jangka panjang yang tak ternilai. CUKK membuktikan bahwa pendidikan adalah mesin penggerak utama.
3. Spin-off sebagai Strategi Pertumbuhan: Alih-alih membangun semua layanan dalam satu bangunan seragam, KDKMP harus mendorong lahirnya unit-unit usaha baru secara organik sesuai kebutuhan anggota. Setiap spin-off adalah “foton” baru yang dipancarkan ketika energi sosial mencapai titik kritis.
4. Konglomerasi, Bukan Gudang: CUKK berkembang menjadi konglomerasi yang terintegrasi—pendidikan, pertanian, perdagangan, perhotelan. KDKMP saat ini masih berorientasi pada gudang dan gerai.
5. Keberlanjutan Melampaui Program: Koperasi yang lahir dari kesadaran kolektif akan bertahan melampaui masa program. Koperasi yang dibangun dari instruksi akan mati ketika subsidi dan proteksi dicabut.
Sintesis: Dua Kebijaksanaan, Satu Tujuan
Lincoln mengajarkan bahwa kebebasan dan pendidikan adalah fondasi kemerdekaan sejati. Roosevelt mengingatkan bahwa the forgotten man—rakyat kecil di akar rumput—adalah ukuran keberhasilan sebuah bangsa.
CUKK adalah perwujudan dari kedua kebijaksanaan ini. Ia memberi kebebasan dari belenggu kemiskinan melalui kepercayaan dan solidaritas. Ia membangun pendidikan sebagai fondasi gerakan. Dan ia tidak pernah melupakan mereka yang paling lemah—petani, nelayan, ibu rumah tangga—karena dari merekalah kekuatan sejati berasal.
KDKMP memiliki potensi untuk menjadi hal yang sama. Tetapi untuk itu, ia harus bertransformasi: dari membangun gedung menjadi membangun manusia; dari instruksi dari atas menjadi kesadaran dari bawah; dari fokus pada infrastruktur menjadi fokus pada nilai dan kepercayaan.
CUKK telah membuktikan bahwa bukan gedung yang membuat koperasi besar, tetapi jiwa yang menghidupinya. Dari ruang 4×4 meter, dari kepercayaan 12 orang, lahirlah sebuah ekosistem yang melayani 232.200 anggota. Probabilitas anggota keluar dari kemiskinan meningkat dari kurang dari 10% pada 1993 menjadi lebih dari 90% pada 2025.
Pertanyaannya sekarang: akankah kita belajar dari CUKK? Akankah kita memiliki keberanian seperti Lincoln untuk membebaskan dan mendidik? Akankah kita memiliki kepedulian seperti Roosevelt untuk tidak melupakan the forgotten men and women di desa-desa kita?
Atau akankah kita terus mengulang kesalahan yang sama—membangun koperasi tanpa jiwa, memberi ikan tanpa mengajari memancing, dan pada akhirnya menyaksikan mereka mati ketika bantuan berhenti?
Jawabannya tidak ditentukan di Jakarta. Ia ditentukan di ribuan desa, oleh jutaan rakyat yang energi sosialnya sedang diuji. CUKK telah menunjukkan jalannya. Sekarang giliran kita untuk memilih.
Penutup: Dari Kalimantan untuk Indonesia
“Cooperative minds are quantum minds.”
Dengan pikiran kuantum itu—pikiran yang menghubungkan, yang memberdayakan, yang tidak pernah melupakan—mari kita bangun peradaban baru yang lebih adil, berkelanjutan, dan bermartabat.
Dari Kalimantan untuk Indonesia, dari Indonesia untuk dunia.
“Bukan gedung yang membuat koperasi besar, tetapi jiwa yang menghidupinya. “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”…
seperti pesan dalam Indonesia Raya, lagu kebangsaan kita.(****
