Oleh: Agus Pakpahan (Ekonom Kelembagaan & Pertanian dan Rektor IKOPIN)
Sebuah Parabel tentang Gula dan Kedaulatan
Bayangkan sebuah negeri yang subur, di mana tebu tumbuh melimpah di bawah matahari tropis. Selama berabad-abad, tanaman ini menjadi sumber kemakmuran sekaligus simbol penindasan. Di era kolonial, ia diekspor untuk memaniskan kehidupan di belahan bumi utara, sementara penduduk lokal hanya mendapatkan ampasnya. Setelah merdeka, negeri ini berusaha menguasai nasib gulanya sendiri, namun terjebak dalam mimpi yang setengah hati.
Seperti dalam parabel kuno, kita diberi pilihan antara dua jalan: satu jalan yang mudah tetapi berujung pada jurang ketergantungan, dan satu jalan yang sulit tetapi mengarah pada kemandirian. Selama 25 tahun terakhir, kita terus-memilih jalan pertama—jalan proteksi jangka pendek, impor massal, dan kebijakan tambal sulam.
Lima Paradoks yang Harus Diatasi
- Paradoks Produksi-Konsumsi: Kita ingin meningkatkan produksi, tetapi harus mengurangi konsumsi demi kesehatan bangsa.
- Paradoks Sejarah: Solusi transformatif telah tersedia sejak 1999, tetapi kita lebih memilih solusi instan.
- Paradoks Agraria: Lahan terbaik untuk tebu justru beralih fungsi, sementara lahan marginal belum dioptimalkan.
- Paradoks Teknologi: Kita mengimpor gula rafinasi canggih, tetapi pabrik gula kita masih menggunakan teknologi era kolonial.
- Paradoks Kesejahteraan: Petani tebu—produsen utama—tetap miskin, sementara industri makanan-minuman yang menggunakan gulanya meraup keuntungan besar.
Visi 2050: Tiga Skenario untuk Indonesia
Skenario 1: Business as Usual (Jalan yang Kita Tempuh Sekarang)
· Tahun 2050: Indonesia menjadi importir gula terbesar dunia
· 70% penduduk dewasa menderita diabetes atau prediabetes
· Lahan tebu di Jawa hampir punah, digantikan perumahan dan industri
· Harga gula sangat fluktuatif, tergantung geopolitik dan pasar global
· Ini adalah skenario kepunahan industri gula nasional.
Skenario 2: Reformasi Parsial (Jalan Tengah)
· Swasembada tercapai tapi tidak stabil
· Petani sedikit lebih sejahtera, tetapi tetap bergantung pada subsidi
· Krisis kesehatan terkendali sebagian
· Industri gula tetap rentan terhadap guncangan eksternal
· Ini adalah skenario survival—bertahan, tetapi tidak berkembang.
Skenario 3: Transformasi Radikal (Jalan yang Direkomendasikan)
· Indonesia menjadi pusat bio-ekonomi berbasis tebu terkemuka di Asia Tenggara
· Petani tebu adalah pemilik koperasi yang mengelola pabrik dan biorefinery
· Gula konsumsi hanya 30% dari produk akhir tebu; 70% adalah etanol, listrik, bioplastik
· Pola konsumsi gula sehat (di bawah 9 kg/kapita/tahun) dengan diversifikasi ke pemanis alami
· Ini adalah skenario regenerasi—lahir kembali dengan identitas baru.
Sebuah Surat untuk Generasi 2045
Untuk anak cucu kami yang akan merayakan 100 tahun kemerdekaan Indonesia,
Kami meninggalkan dua warisan tentang gula: sebuah masalah kronis, dan sebuah solusi yang terbukti. Masalahnya adalah ketergantungan, penyakit, dan ketimpangan. Solusinya ada dalam dokumen tahun 1999 yang kami abaikan, dan dalam praktik sukses negara lain yang kami pelajari tetapi tidak kami tiru.
Jika pada 2045 kalian masih mengimpor gula, ketahuilah bahwa kami telah gagal. Jika petani tebu masih miskin, ketahuilah bahwa kami telah mengkhianati cita-cita kemerdekaan. Jika diabetes masih menjadi epidemi, ketahuilah bahwa kami memilih jalan yang mudah daripada yang benar.
Tapi jika pada 2045 Indonesia menjadi eksportir etanol dan gula spesialisasi, jika koperasi petani tebu makmur, jika konsumsi gula sudah sehat—maka ketahuilah bahwa pada 2024, kami akhirnya memilih untuk berubah.
Pilihan yang Menentukan
Isu gula Indonesia bukan lagi soal teknis agronomi atau efisiensi pabrik. Ia telah menjadi ujian karakter bangsa: apakah kita memiliki keberanian untuk belajar dari sejarah, disiplin untuk menjalankan rencana jangka panjang, dan keadilan untuk membangun sistem yang memakmurkan produsen sekaligus melindungi konsumen?
Dokumen 1999 adalah cermin yang menunjukkan betapa visionernya para pendahulu kita. Krisis 2024 adalah bel sekolah yang memanggil kita untuk bertindak. Model Thailand dan Maharashtra adalah peta yang menunjukkan jalan keluar.
Penutup: Gula sebagai Metafora
Gula, dalam seluruh perjalanannya di Indonesia, adalah metafora yang sempurna untuk nasib bangsa: manis di awal, pahit dalam proses, dan belum pasti di akhir. Ia mencerminkan ketegangan antara warisan kolonial dan cita-cita kemerdekaan, antara kepentingan ekonomi dan tanggung jawab kesehatan, antara keinginan instant dan kebutuhan akan keberlanjutan.
Masa depan gula Indonesia akan ditentukan oleh jawaban kita atas satu pertanyaan sederhana: Apakah kita akan terus menjadi penonton dalam drama global tentang gula, atau akhirnya menjadi sutradara dari nasib kita sendiri?
Epilog ini ditulis dengan kesadaran bahwa setiap kata adalah tanggung jawab, setiap data adalah amanah, dan setiap rekomendasi adalah panggilan untuk bertindak. Sejarah akan mencatat: kita tahu masalahnya, kita tahu solusinya. Tinggal satu yang belum terjawab: apakah kita memiliki kemauan untuk melaksanakan? (****
Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi
Edisi 16 Januari 2026
