oleh

Esai #17 Trust— Layar dan Jiwa: Paradoks Digital Kepercayaan

Oleh: Agus Pakpahan (Ekonom Kelembagaan & Rektor Universitas Koperasi Indonesia)
Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi,Edisi 24 Mei 2026

Kita hidup di zaman yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Homo sapiens. Untuk pertama kalinya, mayoritas interaksi sosial tidak lagi dimediasi oleh ruang fisik—oleh tangan yang bersalaman, oleh mata yang bertatap, oleh suara yang terdengar langsung dari mulut ke telinga—melainkan oleh layar. Layar kaca di genggaman. Layar laptop di meja kerja. Layar besar di ruang keluarga yang menyala bisa dua puluh empat jam dalam sehari.

Zaman ini telah melahirkan paradoks yang belum sepenuhnya kita pahami. Di satu sisi, teknologi digital memungkinkan φ (kepadatan relasional) mencapai skala yang tak terbayangkan sebelumnya. Seorang manusia kini bisa “terhubung” dengan ribuan orang lain melalui media sosial, grup WhatsApp, dan platform video. Dalam satu detik, sebuah pesan bisa menjangkau lebih banyak manusia daripada yang bisa dijangkau oleh seorang pengkhotbah abad pertengahan seumur hidupnya.

Di sisi lain, kedalaman dari koneksi-koneksi itu sering kali setipis kertas. Kita memiliki seribu “teman” tetapi kesepian merajalela. Kita menerima ratusan notifikasi setiap hari tetapi merasa tidak benar-benar didengarkan. Kita bisa mengirim emoji hati kepada seseorang yang tidak pernah kita temui, tetapi kita tidak tahu nama tetangga sebelah rumah. Seperti yang dituliskan Sherry Turkle dalam Alone Together, kita kini hidup dalam masa di mana orang justru mencari keintiman di layar, padahal yang paling mereka butuhkan adalah tatap muka, suara, dan keheningan bersama. Jaringan media sosial yang sangat luas belum mampu mereproduksi jenis jaringan, norma, dan kepercayaan yang diperlukan untuk membangun dan memelihara modal sosial yang sehat.

Inilah paradoks digital kepercayaan: teknologi telah memberi kita jangkauan, tetapi dengan mengorbankan kedalaman. Ia telah melipatgandakan kuantitas interaksi, tetapi mereduksi kualitasnya. Dan dalam kerangka Koperasi Kuantum, ini adalah masalah yang sangat serius—karena kepercayaan sejati, seperti yang telah kita buktikan dalam enam belas esai sebelumnya, tidak bisa dibangun hanya dari kuantitas. Ia butuh φ yang padat, ν yang koheren, μ yang dalam. Ia butuh kehadiran.

Mari kita bedah apa yang sebenarnya terjadi ketika interaksi sosial bermigrasi ke ruang digital.

Yang hilang pertama: tubuh.

Dalam interaksi tatap muka, tubuh berbicara. Postur, gestur, nada suara, kecepatan napas, pupil yang melebar atau menyempit—semuanya adalah fonon yang merambat dalam medan kesadaran. Ketika seorang pengurus berdiri di depan RKM dan berkata, “Kita akan selesaikan ini bersama,” anggota tidak hanya mendengar kata-kata. Mereka melihat rahang yang kokoh. Mereka merasakan getaran suara yang stabil. Tubuh pengurus itu sendiri adalah instrumen pengukuran yang mengkolaps fungsi gelombang.

Dalam interaksi digital, tubuh lenyap. Yang tersisa hanyalah teks, atau paling baik, gambar dan suara yang dikompresi oleh algoritma. Penelitian menunjukkan bahwa sentuhan sosial —kontak fisik yang mengekspresikan dan membagi sinyal afektif antara dua pihak—memiliki kekuatan terbatas dalam membangun kepercayaan ketika dimediasi oleh teknologi. Sebuah studi eksperimental juga menemukan bahwa perbandingan antara negosiasi tatap muka dan negosiasi berbasis video menunjukkan bahwa media komunikasi secara tidak langsung memengaruhi kepercayaan melalui kehadiran sosial (social presence), di mana negosiasi tatap muka cenderung menghasilkan persepsi kehadiran sosial yang lebih tinggi dan jarak psikologis yang lebih rendah dibandingkan pertemuan virtual. Artinya, fonon-fonon tubuh —yang paling jujur karena tidak bisa dikendalikan sepenuhnya—tidak dapat sepenuhnya disampaikan melalui layar. Akibatnya, kepercayaan harus dibangun di atas fondasi yang lebih sempit. Satu kalimat yang dimaksudkan netral bisa dibaca sebagai sindiran; satu pesan yang dimaksudkan serius bisa dianggap bercanda. Risiko misinterpretasi membesar secara eksponensial.

Yang hilang kedua: ruang sakral.

RKM, sebagaimana telah kita tetapkan sejak Esai #3, adalah ritual. Ia membutuhkan ruang sakral —tempat di mana aturan dunia luar ditangguhkan, di mana hirarki pasar dan politik tidak berlaku, di mana yang ada hanyalah handep dan hidop barentin. Ruang sakral ini secara fisik dimanifestasikan oleh aula pertemuan, lingkaran kursi, lilin, dan doa pembuka. Dalam masyarakat adat Kalimantan, nilai handep hapakat yang menekankan kerja sama, musyawarah, tanggung jawab kolektif, dan kepedulian sosial menjadi fondasi moral yang hidup.

Dalam dunia digital, ruang sakral sangat sulit diciptakan . Sebuah penelitian tentang peralihan dari ruang sakral ke ruang siber berargumen bahwa kesakralan tidak secara ontologis terbatas pada lokasi fisik, tetapi dibentuk secara relasional melalui mediasi simbolis, interpretasi komunal, dan orientasi etis. Namun, penerapan ini tidak otomatis terjadi: layar ponsel yang sama yang digunakan untuk RKM daring adalah layar yang sama yang digunakan untuk membaca berita buruk, menerima notifikasi pekerjaan, dan melihat iklan yang dirancang untuk memanipulasi hasrat. Tidak ada pemisahan. Tidak ada “pintu masuk” yang menandai perpindahan dari dunia profan ke dunia sakral. Akibatnya, kualitas ritual merosot. RKM daring mudah terganggu. Perhatian terbagi. Kehadiran menjadi parsial—secara teknis hadir, secara kesadaran tidak.

Yang hilang ketiga: waktu yang melambat.

Kepercayaan dibangun dalam kelambatan. Ia butuh percakapan yang tidak diburu-buru. Ia butuh keheningan di antara kalimat. Ia butuh duduk bersama tanpa agenda. Ritual Kolektif Bermakna di Tapang Sambas tidak pernah dijalankan dengan stopwatch.

Dunia digital, sebaliknya, hidup dalam kecepatan. Survei tahun 2024 mengonfirmasi bahwa penggunaan media digital terkait erat dengan emosi negatif dan kesenjangan kepercayaan yang semakin melebar. Notifikasi menuntut respons segera. Algoritma memberi hadiah pada konten yang memancing reaksi instan. Waktu untuk merenung, untuk mencerna, untuk merasakan—semua direnggut. ν (koherensi naratif) yang membutuhkan ketenangan untuk meresap ke dalam kesadaran kini harus bersaing dengan banjir informasi yang datang setiap detik.

Lalu, apakah ini berarti kita harus menolak teknologi? Kembali ke zaman pra-digital? Menutup semua layar?

Tentu tidak. Itu adalah romantisme yang naif dan tidak mungkin. Sebuah proyek penelitian lintas negara di Kanada, Prancis, Polandia, dan Inggris saat ini sedang menyelidiki apakah dan dalam kondisi apa komunikasi digital dapat memperkuat atau justru merusak kepercayaan—terutama komunikasi melalui surel, media sosial, chatbot, dan media sintetis. Teknologi digital telah menyelamatkan KKKK selama pandemi 2020, ketika RKM fisik tidak mungkin dijalankan. Teknologi memungkinkan koordinasi antar tiga belas kabupaten tanpa harus menempuh perjalanan darat berjam-jam. Teknologi, dalam batas tertentu, adalah teleportasi fonon yang mempercepat dan memperluas jangkauan kepercayaan.

Yang menjadi pertanyaan bukanlah: digital atau tidak? Pertanyaannya adalah: *bagaimana mendesain ulang interaksi digital agar ia memperkuat, bukan melemahkan, parameter-parameter kepercayaan? *

KKKK, sebagai laboratorium sosial yang hidup, mulai meraba-raba jawaban terhadap pertanyaan ini. Beberapa prinsip mulai muncul:

Prinsip pertama: digital sebagai jembatan, bukan pengganti. RKM daring bisa digunakan untuk menjaga koherensi di antara pertemuan fisik, tetapi ia tidak bisa sepenuhnya menggantikan RKM tatap muka. Sama seperti fonon dalam kristal merambat lebih efisien ketika atom-atom berdekatan, kepercayaan merambat lebih kuat ketika tubuh-tubuh hadir dalam ruang yang sama. Penelitian yang membandingkan secara sistematis pola interaksi online vs offline di era digital menunjukkan bahwa meskipun interaksi online dapat memberikan jangkauan yang lebih luas, interaksi offline tetap memberikan kontribusi unik yang tidak tergantikan untuk membangun social trust. Teknologi harus diposisikan sebagai suplemen, bukan substitusi.

Prinsip kedua: menciptakan batas sakral di ruang digital. Jika ruang sakral tidak bisa diciptakan secara fisik, ia harus diciptakan secara ritualistik. Penelitian tentang Jama’ah Tablih di Indonesia mengamati bagaimana ritual komunikasi yang sebelumnya terpusat di markaz dan khuruj fisik kini meluas mencakup khotbah digital, podcast, dan kutipan visual, menghasilkan bentuk-bentuk kesalehan hibrida yang menggabungkan nilai-nilai tradisional dengan logika media sosial. RKM daring tidak bisa dimulai begitu saja seperti obrolan biasa. Ia harus memiliki pembukaan yang menandai perpindahan: doa, hening sejenak, atau sapaan adat yang diucapkan dengan penuh kesadaran. Peserta harus diajak untuk secara sadar menutup aplikasi lain, menyingkirkan gangguan, dan “memasuki ruang”.

Prinsip ketiga: melawan fragmentasi dengan ν yang diperkuat. Di dunia digital, narasi terpecah menjadi serpihan-serpihan kecil—potongan video, meme, utas pendek. Untuk melawan fragmentasi ini, ν (koherensi naratif) harus justru diperkuat. Kisah Keling dan Kumang harus diceritakan tidak hanya dalam RKM, tetapi juga dalam format-format digital yang relevan: animasi pendek, podcast, atau bahkan komik web. Bukan untuk menggantikan penuturan lisan, tetapi untuk memastikan bahwa ketika generasi digital membuka layar, mereka juga bisa menemukan frekuensi handep di sana. Jika algoritma bisa digunakan untuk menyebarkan kebencian dan ketakutan, ia juga bisa—dan harus—digunakan untuk menyebarkan solidaritas.

Prinsip keempat: fonon tubuh tidak tergantikan. Pada akhirnya, tidak ada kompresi digital yang bisa menyampaikan getaran suara pengurus tua yang bergetar karena haru. Tidak ada kamera yang bisa menangkap kehangatan tangan yang menggenggam tangan lain. Kepercayaan, dalam bentuknya yang paling dalam, adalah peristiwa fisik. Ia terjadi dalam ruang dan waktu yang sama, di antara tubuh-tubuh yang berbagi udara yang sama. Sebuah studi lintas generasi tahun 2024 menegaskan bahwa individu yang merasa mahir dalam interaksi tatap muka lebih cenderung mempercayai orang lain, sementara kompetensi komunikasi digital juga dapat berkontribusi pada kepercayaan, tetapi secara tidak langsung melalui kompetensi interpersonal yang mendasarinya. Dengan kata lain, fondasi kepercayaan tetaplah offline; teknologi hanyalah perantaranya. Teknologi harus dirancang untuk membawa orang kembali ke ruang fisik itu, bukan untuk menjauhkan mereka darinya.

Apa yang kita saksikan sekarang adalah sebuah pertarungan diam-diam antara dua kekuatan. Di satu sisi, ada algoritma—dirancang oleh perusahaan teknologi dengan tujuan maksimalisasi keterlibatan, yang secara tidak sengaja (atau sengaja) mendorong konten yang memecah belah, memancing amarah, dan mengikis kepercayaan. Di sisi lain, ada ritual—diwariskan oleh tradisi, diperbarui oleh komunitas, yang menarik manusia kembali ke dalam lingkaran di mana wajah bisa dilihat, suara bisa didengar, dan luka bisa disembuhkan.

KKKK adalah benteng ritual di tengah tsunami algoritma. Ia bertahan bukan karena menolak perubahan, tetapi karena tahu apa yang tidak boleh diubah. RKM tidak boleh hilang. Tubuh tidak boleh digantikan oleh avatar. Kepercayaan tidak boleh direduksi menjadi kode verifikasi dua langkah.

Generasi digital KKKK akan menjadi penentu akhir. Merekalah yang hidup dalam dualitas paling tajam: tangan kanan memegang ponsel, tangan kiri menggenggam tangan sesama anggota RKM. Jika mereka berhasil menemukan sintesis—jika mereka bisa menjadi digital natives yang juga handep natives —maka KKKK tidak hanya akan bertahan di abad ke-21. Ia akan menjadi model bagi dunia yang sedang kehausan akan kepercayaan otentik di tengah lautan koneksi palsu.

Layar adalah alat. Jiwa adalah esensi. Alat harus melayani esensi, bukan sebaliknya.


Daftar Pustaka

  1. Dwiraharjo, Susanto, and Bobby Kurnia Putrawan. 2026. “From Sacred Space to Cyberspace: Digital Spirituality and Millennial Social Relations.” Verbum et Ecclesia 47 (1).
  2. Ryan, Emily. 2025. The Digital Decline of Social Capital: How Social Media Amplifies Political Polarization and Why Better Tech Is Not the Answer. Master’s thesis, Harvard University Division of Continuing Education.
  3. Sondern, D., and G. Hertel. 2023. “Building Negotiator Trust Through Social Presence – Effects of Communication Media and Information Reprocessability on Trust in Negotiations.” Negotiation and Conflict Management Research 16 (4): 290-319.
  4. Taqwa, Ria Hayatunnur, and Ali Akhbar Abaib Mas Rabbani Lubis. 2025. “Digital Religion and Hybrid Practices: Negotiating Ritual and Authority Within Jama’ah Tabligh in Indonesia.” Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam 25 (2).
  5. Triyani, Triyani, and Samsuri Samsuri. 2026. “Internalization of Handep Hapakat Values in Civic Education as the Basis for National Character Building: A Response to the Challenges of the 21st Century.” In Proceedings of the 3rd International Conference on Education (ICE-3 2025). Atlantis Press.
  6. Turkle, Sherry. 2011. Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other. Basic Books.
  7. Valori, Irene, et al. 2023. “Social Touch to Build Trust: A Systematic Review of Technology-Mediated and Unmediated Interactions.” Computers in Human Behavior. DOI: 10.1016/j.chb.2023.108121.
  8. Yang, Kai, et al. 2024. “Retrospecting Digital Media Use, Negative Emotions, and Trust Gaps During the COVID-19 Pandemic in China: Cross-Sectional Web-Based Survey.” JMIR.
  9. Zhang, Yuchen, et al. 2024. “The Changing Importance of Competence Generationally: Developing Trust, Online and Offline.” Wiley Online Library.
  10. Zhou, Yi, et al. 2024. “Social Trust Reshaping in the Mobile Social Era: A Dual Examination of Social Interaction and Information Dissemination.” Systems Engineering.
  11. “Social Interaction Patterns in the Digital Age: A Comparative Study between Online and Offline.” 2023. Zhejiang Social Sciences (12): 84-92.
  12. “The Potential of Digital: Optimising Trustworthy Digital Contact (PODTRUST).” 2025. Agence Nationale de la Recherche (ANR).
  13. “Alone Together”, Ketika Kita Sendiri di Tengah Keramaian Digital. 2025. Kompasiana.
  14. Kekeluargaan Kuantum: Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi (21). 2026. Gemari.id.