Oleh: Guru Kita Bukan Malaikat
(Majlis Zikir Tauhid Padepokan Sadar Bumi Alif Kabupaten Sumenep)
خذ من علومي ولا تنظر إلى عملي
واقصد بذلك وجه الواحد الباري
وإن مررت بأشجار لها ثمر
فاجن الثمار وخل العود للنار
______
Arti syair:
خذ من علومي ولا تنظر إلى عملي
“Ambillah ilmu dariku, tetapi jangan melihat amal perbuatanku.”
واقصد بذلك وجه الواحد الباري
“Niatkanlah (dalam mengambil ilmu itu) hanya untuk mencari ridha Allah Yang Maha Pencipta.”
وإن مررت بأشجار لها ثمر
“Jika engkau melewati pohon-pohon yang berbuah.”
فاجن الثمار وخل العود للنار
“Petiklah buah-buahnya, dan biarkan kayunya (yang tidak bermanfaat) untuk api.”
Ilmu tetap berharga walaupun datang dari orang yang amalnya kurang sempurna.
Jangan menolak kebenaran hanya karena melihat aib atau kekurangan pengajarnya.
Ambil ilmunya yang bermanfaat, tinggalkan perbuatannya yang salah..!
Belajar bukan untuk semata-mata agar kita kagum pada guru² kita, tapi untuk semakin dekat kepada Allah.
Syair diatas mengajarkan kepada kita tentang adab menuntut ilmu, bahwa seorang Thalibul Ilmi, seorang murid:
- Jangan terlalu sibuk menilai pribadi seorang guru sampai menghalangi kita dari ilmunya.
- Ambil kebaikan yang ada, buang keburukannya.
- Ilmu harus diamalkan ikhlas untuk Allah, bukan untuk dunia.
Kata sebagian Ulama’:
أخذتُ العلمَ عن شيخي لا لأني أعتقدُ أنَّه معصومٌ من الذنوب، بل لأني أعلم أنَّ الحقَّ يجري على لسانه.
“Aku mengambil ilmu dari guruku bukan karena aku percaya beliau suci dari dosa, tetapi karena aku tahu kebenaran itu berjalan di lisannya.”
So, guru-guru kita itu bukan para malaikat, beliau² adalah manusia biasa yg bisa saja berbuat salah dan lupa. Jangan lihat kesalahan²nya tapi lihatlah betapa telah banyak pengorbanan yang beliau lakukan untuk membimbing kita dg ilmunya. Dan pengorbanan beliau tidak akan pernah bisa kita bayar dg apapun yg kita miliki. Kata imam Ali Karramallahu Wajhahu:
أنا عبد من علمنى حرفا واحدا، إن شاء باع، وإن شاء استرق.
“Aku adalah hamba sahaya orang yang telah mengajariku ilmu walaupun hanya satu huruf, maka apabila ia berkehendak untuk menjualku, aku siap dijualnya, dan apabila ia berkehendak untuk tetap menjadikanku budak, akupun siap berkhidmat kepadanya.”
Lalu beliau menggubah syair:
رَأَيْتُ أَحَقَّ الْحَقِّ حَقَّ الْمُعَلِّمِ
وَأَوْجَبَهُ حِفْظًا عَلَى كُلِّ مُسْلِمِ
لَقَدْ حَقَّ أَنْ يُهْدَى إِلَيْهِ كَرَامَةً
لِتَعْلِيْمِ حَرْفٍ وَاحِدٍ أَلْفُ دِرْهَمِ
“Menurut pendapatku, bahwa hak seorang guru harus lebih diperhatikan daripada hak² yg lainnya, dan lebih wajib dijaga oleh setiap muslim.
Sehingga sangat layaklah sebagai tanda memuliakan guru; andaikata ia diberi 1000 dirham dalam mengajar satu huruf saja.”
_____
1000 dirham itu setara dengan Rp. 4.482.153,38.
Bayangkan saja, 1 huruf setara dg 1000 dirham, padahal guru² kita bukan hanya mengajarkan satu huruf tapi mengajarkan berbagai disiplin ilmu yg tentu terdiri dari miliaran huruf atau bahkan triliunan huruf .
Kalau pendapat Imam Ali Karramallahu Wajhahu ini kita amalkan dg baik, maka di negeri ini saya yakin para guru hidupnya pasti sejahtera, tidak akan hidup luntang lantung lagi. Namun sayang, kadang banyak murid yg hidupnya lebih kaya daripada gurunya lantas lupa kepada gurunya. Muridnya sudah naik mobil mewah, gurunya masih naik sepeda motor butut keluaran tahun kemerdekaan.
Selama menuntut ilmu, Imam Nawawi selalu berdoa:
اللَّهُمَّ اُسْتُرْ عَيْوبَ مُعَلِّمِي عَنِّي وَلَا تُذْهِبْ بَرَكَةَ عِلْمِهِ مِنِّي
“Ya Allah tutupilah aib²/keburukan² guruku dariku dan janganlah Engkau hilangkan keberkahan ilmunya dariku.”
@sorotan
