Oleh: Redi Mulyadi
RABU pagi 22 Juli 2026,penulis sempat tertegun di depan komputer, karena di beranda media sosial berseliweran berita hangat bahwa “Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang mundur dari jabatannya.”
Benarkah berita ini ?
Jika ini benar, berarti prediksi awal penulis benar, bahwa Nanik Sudaryati Deyang yang dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala BGN pada Senin 08 Juni 2026 , menggantikan Dadan Hindayana dicopot pada Selasa 02 Juni 2026, rasanya dia tak akan kuat/bertahan lama menghadapi “GORILA” para koruptor bersama jaringannya yang berada di program strategis nasional. Nanik akan menghadapi tekanan berat dari depan,belakang, kiri, kanan, atas dan bawah.
Karena saking penasarannya, penulis mencari tahu di google melalui media mainstream maupun media sosial,dan ternyata informasi itu diumumkan sendiri olehnya melalui status di akun Facebook Naniek Sudaryati Deyang hari ini 22 Juli 2026. Artinya, Nanik S.Deyang hanya mampu bertahan 45 hari saja sebagai Kepala BGN…?! Ada apa gerangan ???
Kalau lihat status di akun facebook , Naniek Sudaryati Deyang mengungkap alasannya mundur sebagai Kepala BGN terkait masalah kesehatan. Sakit jantung….! Dia pun pamit kepada Presiden Prabowo Subianto untuk menjalani pengobatan di luar negeri.”Saya sampaikan ke Presiden juga dengan beribu maaf sepertinya saya harus mundur sebagai Kepala BGN, demi kesehatan saya, dan karena presiden prihatin dan kasihan dengan saya, presiden menyetujui,” tulisnya.
Meski direstui mundur oleh Prabowo, Nanik mengaku diminta tetap ikut mengawasi BGN. Dia akan memegang amanat di Dewan Pengawas BGN guna mengawasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). .”Kemungkinan presiden akan membentuk dewan pengawas di mana saya disuruh menjadi ketua dewan pengawasnya (kalau mencereweti kayaknya masih bisa yang penting tidak berhubungan dengan pegang uang, sumpah trauma akut,” tulisnya lagi/
Satu bocoran dan satu langkah yang bagus. Program nasional yang begitu besar dan masif serta bersifat harian, mustahil tanpa Badan Pengawas.
Naniek juga mengaku senang dengan posisi barunya nanti. Ia merasa pusing dengan posisinya selama ini berkaitan soal uang. Mungkin itu memicu sakitnya juga.
Kemunduran Naniek Sudaryati Deyang ini mengejutkan. Tapi mungkin dinantikan banyak orang, karena dinilai tak cocok berada di posisi itu. Ia ‘die hard’ Presiden Prabowo Subianto .
Semoga saja mundurnya Naniek ini memang karena persoalan sakit. Tidak ada persoalan lain di balik itu, seperti isu yang masih berseliweran di BGN tersebut.Semoga berobatnya sukses di luar negeri Mbak Naniek dan bisa kembali pulih seperti sediakala, serta kembali berteriak terkait penyimpangan di program MBG ini. Penggantinya katanya adalah adiknya. Tapi entah siapa adik Naniek Sudaryati Deyang itu? Kita lihat saja beberapa hari ke depan. “Insyallah pengganti saya adalah adik saya di mana saya bisa menjewer kalau misalnya terjadi hal-hal yg menyimpang. Saya konsentrasi di kesehatan dulu ya prens,” ungkapnya.
Presiden RI Prabowo Subianto melantik Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada 8 Juni 2026.Nanik diangkat menjadi Kepala BGN menggantikan Dadan Hindayana yang sebelumnya telah dicopot Prabowo. Saat itu Dadan tersangkut dugaan korupsi MBG dan kini berstatus tersangka.Pengangkatan Nanik berdasarkan Keppres nomor 18/M tahun 2026 pemberhentian dan pengangkatan kepala dan wakil kepala BGN dan pemberhentian Wakil Kepala BPKP.
Sejauh ini menurut Nanik seperti dilansir media mainstream , perbaikan sudah dilakukan BGN. Termasuk membuat 11 tim untuk melakukan reformasi total.”Mulai tim refocusing yang memastikan apakah 62 juta lebih penerima manfaat saat ini tepat sasaran… Pak Presiden sudah menyetujui agar program MBG lebih ditujukan ke 3B (balita, busui dan bumil), anak-anak SD-SMP serta siswa semua tingkatan sekolah di kawasan 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar),” tegasnya.
“Ada juga tim evaluasi untuk 27.877 (dapur) SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang sudah operasional, karena tidak semua SPPG memenuhi syarat sesuai juknis. Kemudian juga ada tim program MBG di kawasan 3T… yang sebagian besar masih sulit dijangkau dengan transportasi umum. Ada juga tim efisiensi dan lain-lain,” lanjutnya.(****
