Oleh: Abah Anton Charliyan (Ketua Dewan Pengasuh Ponpes Assyukandari Bhayangkara Singaparna dan Pembina Sejumlah Majelis Taklim di Jawa Barat-Banten serta Ketua Umum Gernas GNPP Prabowo Gibran)
PUJI dan syukur marilah kita sama-sama panjatkan ke hadirat Allah Swt. Alhamdulillah, di tengah padatnya kesibukan duniawi, kita masih diberikan kekuatan untuk mengimbanginya dengan kesibukan ukhrawi, seperti sholat Subuh yang sudah kita laksanakan hari ini.
Kekuatan itu tentu tidak akan lahir dari hati yang kosong tanpa mengingat bahwa hidup bukan sekedar amaliyah dunia, tetapi seimbang dengan amaliyah akhirat, seimbang antara hubungan vertikal dengan horizontal, begitu juga selaras antara habluminallah dengan habluminannas. Begitu Islam mengajarkan keseimbangan agar kita tidak berlebihan, tidak ekstrem, dan tidak terpaku pada satu orientasi semu.
Sholawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Baginda Nabi Besar Muhammad Saw, sosok yang gigih memperjuangkan keimanan umatnya. Alhamdulillah, berkat kegigihannya, kita masih punya secercah keimanan yang mudah-mudahan tetap kuat kita pertahankan hingga napas penghabisan.
Sebab, musibah paling besar bagi kita adalah kematian yang tidak membawa iman. Na‘udzu billah.
Sholawat dan salam juga semoga dilimpahkan pada keluarga dan para sahabatnya, dan mudah-mudahan kita kelak diakui sebagai umatnya dan mendapatkan syafaat darinya. Amin yarobbal ‘aalamiin.
Hingga saat ini, kita masih kerap disuguhi tayangan atau pemberitaan sejumlah aksi kekerasan, pembunuhan, dan permusuhan yang menimpa saudara – saudara kita.
Terlepas pihak mana yang salah dan benar, sebagai saudara, tentu kita perlu mengingatkan tentang pentingnya berjiwa besar dan menghentikan konflik yang terjadi.
Islam tidak mengajarkan kebencian dan tidak membenarkan aksi kekerasan terhadap sesama, baik sesama akidah maupun sesama anak bangsa.
Karena Islam adalah agama yang membawa ajaran damai dan kasih sayang kepada siapa pun, tak terkecuali kepada hewan dan alam disekitar.
Dalam kajian Al-Qur’an , Islam tidak setuju dengan segala tindak kejahatan, kekerasan, kekejaman, dan kebiadaban di mana pun, oleh siapa pun, dan atas nama apa pun.
Karena semua itu hanya akan menyebabkan korban sia-sia dan merusak peradaban yang sudah ada. Bayangkan, peradaban yang sudah dibangun puluhan bahkan ratusan tahun bisa hancur seketika akibat serangan bersenjata. Aksi-aksi tak berperikemanusiaan seperti yang saat ini dilakukan oleh zionis Israel terhadap warga muslim Palestina.
Itu semua mestinya tidak terjadi jika semuanya sadar dan memiliki pandangan yang seimbang antara orientasi dunia dan akhirat, antara hubungan vertikal dan sosial, atau habluminallah dan habluminannas.
Hal yang tak kalah penting, semuanya bisa menyadari bahwa Allah Swt telah menciptakan manusia dengan aneka ragam suku bangsa, warna kulit, dan keyakinan.
Allah SWT menjadikannya demikian agar bisa saling mengenal satu sama lain, bukan untuk saling memaksakan dan memerangi.
Tugas kita adalah menjaga dan merawat kondusifitas, terutama di negeri yang kita cintai ini, serta tidak terpancing dengan ajaran dan ujaran yang menuai kebencian, permusuhan, apalagi perpecahan, terlebih saat ini kita akan menghadapi pesta demokrasi lima tahunan di tahun 2024.
Hal yang harus diwaspadai adalah adanya pihak-pihak tertentu yang mau mengusik keutuhan bangsa dan kerukunan hidup beragama. Tampaknya, di tengah keragaman dan kekayaan suku, agama, dan etnis yang ada, masih ada saja yang belum menyadari arti keragaman itu.
Kita kerap mendengar ungkapan-ungkapan provokatif, menghasut, mengklaim diri paling benar dan menganggap pihak lain salah.
Dalam pandangan Islam, istilah- istilah itu tidak saja bersifat konseptual, tetapi juga bermuatan negatif bahkan memantik kebencian yang bermuara pada konflik horizontal.
Sejarah sudah membuktikan, terjadinya konflik antar saudara banyak dilatari kebencian akibat kata-kata provokatif.
Istilah munafik dan kafir misalnya, selain dijadikan cacian, juga dijadikan klaim pembenaran dan batas hitam-putih untuk menyalahkan dan memerangi pihak yang tidak seakidah.
Ini yang tidak bisa kita terima dalam konteks bangsa Indonesia yang plural alias memiliki keragaman, suku, budaya, begitu pula agama.
Hal yang lebih bahaya lagi jika label-label itu tak saja dilontarkan kepada pihak yang tidak seakidah, tetapi juga kepada saudara seiman yang tidak seideologi.
Hal ini tentu harus diwaspadai karena dapat memantik kebencian, kekerasan, dan perseteruan antarsaudara, sekaligus merusak kerukunan hidup beragama dan keutuhan bangsa.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah, Banyak ayat dan hadits yang menyatakan Islam justru agama yang menjunjung tinggi kedamaian dan keselamatan umat manusia. Bahkan, nama islam itu sendiri sejatinya berasal dari kata ‘salima’ yang berarti ‘damai’ atau ‘selamat’.
Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 208: “Masuklah kalian ke dalam Islam secara utuh atau keseluruhan,”
Kemudian dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim juga ada sebuah hadits yang menyatakan: “Muslim sejati adalah muslim yang orang-orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.”
Jika kita mengacu kepada Islam yang berarti ‘damai’ atau ‘selamat’, maka ayat tersebut sesungguhnya ingin mengatakan, “Masuklah kalian ke dalam kedamaian secara totalitas” atau “Masuklah kalian ke dalam keselamatan secara utuh.”
Ini artinya bahwa tatkala seseorang mendeklarasikan diri untuk memeluk Islam, maka dia harus siap dengan konsekuensi keislamannya, yaitu menciptakan kedamaian dan keselamatan, baik dalam konteks individu maupun kolektif sesama umat Islam bahkan dengan non-muslim.
Selain itu juga selamat dari segala bentuk kekerasan, penindasan, dan penganiayaan, termasuk penghinaan yang menyakitkan dan memantik perpecahan. Ayat di atas juga dengan sangat jelas mengisyaratkan bahwa umat Islam harus totalitas menjaga kedamaian dan keselamatan sesama.
Bukan saja memberikan rasa damai kepada kelompok atau orang yang seakidah atau seideologi dengannya, melainkan juga kepada seluruh umat manusia, bahkan seluruh alam atas dasar kasih sayang dan kecintaan.
Allah berfirman dalam Surat Al-Anbiya ayat 107: “Kami tidak mengutus engkau Nabi Muhammad, kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Dengan demikian, tidak mungkin Islam menyuruh tindakan keras dan kejam, Islam justru menyuruh umatnya menyayangi sesama.
Tatkala terjadi perselisihan, umat Islam hendaknya bersikap lebih arif, mengambil cara damai, dan humanis, bukan jalan kekerasan dan kekejaman, apalagi kekerasan itu dinisbatkan pada agama, sebab kekerasan justru malah akan melahirkan kekerasan baru.
Membuka jalan damai dan berlapang dada untuk memaafkan merupakan hal yang diutamakan.
Allah berfirman dalam Surat Asy-Syura ayat 42-43, yang menyebutkan: “Sesungguhnya alasan untuk menyalahkan itu hanya ada pada orang-orang yang menganiaya manusia dan melampaui batas di bumi tanpa hak alasan yang benar.
Mereka itu mendapat siksa yang sangat pedih (42).
Akan tetapi, sungguh siapa yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.(43)”
Intinya, sebagai agama paripurna, Islam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menjaga kedamaian dan keselamatan sesama, menjauhi segala bentuk kejahatan, kekerasan, kebencian, dan itu tak terhalang oleh sekat-sekat perbedaan dan keyakinan.
Allah berfirman dalam Surat Al-Mumtahanah ayat 8: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang – orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
Walhasil, sebagai agama rahmatan lilalamin, tidaklah benar jika Islam mengajarkan kekerasan dan kekejaman.
Sebagai penutup ada sebuah pepatah mengatakan ilmu tanpa agama seperti orang buta, sedangkan agama tanpa ilmu seperti orang lumpuh.
Oleh karena itu, mari kita perdalam agama dengan ilmu pengetahuan, membentengi ilmu pengetahuan dengan ketaqwaan. Imbangi habluminallah dengan habluminannas, imbangi hubungan vertikal dengan hubungan horizontal.
Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta bisa menjadi penyebab kita untuk meningkatkan ibadah, ketaqwaan, keimanan, dan menjauhi segala larangan.
Wa billahit taufik wal hidayah. Wassalamual
aikum warahmatullahi wa barokatuh.








Komentar