oleh

Jimat Kalimasada

JIMAT KALIMASADA merupakan lakon pewayangan yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga mengarang lakon wayang dan menyelenggarakan pergelaran wayang dalam pesta peringatan dengan upah baginya berupa ucapan Jimat Kalimasada atau Kalimat Syahadat dari warga yang mengundang dan penonton pagelaran wayang.

“Kalimasada adalah berasal dari Kalimat Syahadat (Aku bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali hanya Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Jimat Kalimasada ini apabila “diagem” (digunakan/diyakini) kemudian diimplementasikan aturan yang terpancar darinya maka akan menjadikan diri, komunitas, masyarakat dan negara menjadi hebat dan kuat. Bila dilaksanakan untuk menata masyarakat dan negara maka akan menjadikannya gemah ripah loh jinawi, tata tentram, kerta raharja, baldatun thoyyibatun warobbun ghofur.” (Agung Wisnu Wardhana, 2017)

Dalam lakon pewayangan tersebut, Jamus Kalimasada atau yang dikenal dengan sebutan Jimat Kalimasada sendiri merupakan nama sebuah pusaka yang dimiliki oleh Prabu Puntadewa (alias Yudistira), pemimpin para Pandawa. Pusaka ini berwujud kitab, dan merupakan benda yang sangat dikeramatkan dalam Kerajaan Amarta.

Dalam pagelaranya, Sunan Kalijaga menyampaikan syariat pertama untuk masuk Islam, yaitu dengan mengucap Kalimat Syahadat. Selanjutnya, Sunan Kalijaga mengajak melaksanakan ibadah-ibadah dan menyampaikan syiar Islam melalui pergelaran wayang. Menurut beliau, apabila ajaran Islam sudah difahami, kebiasaan lama yang buruk akan ditinggalkan dengan sendirinya.

Sunan Kalijaga mendalang dengan sangat memikat. Sehingga beliau di kenal dengan banyak nama samaran di berbagai daerah. Selain menciptakan lakon wayang, Sunan Kalijaga juga menambahkan tembang Jawa pada pertunjukannya seperti kidung wahyu kolosebo, kidung Linglung, Lir-ilir, dll yang dimaksudkan sebagai media hiburan, dakwah, pendidikan, dan sarana penghayatan falsafah hidup.

#SenimanNU #JimatKalimasada #SunanKalijaga #Seni #Aswaja #Ahlussunnahwaljamaah #IslamNusantara #Nahdliyin