oleh

Kabayan Digital: Tokoh Budaya Lokal dalam Komunikasi Pembangunan Berkelanjutan

Oleh: Rangga Saptya Mohamad Permana, S.I.Kom., M.I.Kom.[1]

TOKOH Kabayan telah lama dikenal sebagai karakter legendaris dalam budaya Sunda. Dengan gaya jenaka dan polosnya, Kabayan telah menjadi bagian dari cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun sejak abad ke-19. Karakter ini bukan hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga merepresentasikan kebijaksanaan lokal masyarakat Sunda dalam menghadapi realitas sosial dengan cara yang unik.

Di era digital saat ini, sosok Kabayan mengalami transformasi penting. Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama rumah produksi/production house (PH) Aria Production menghidupkan kembali karakter Kabayan melalui media film televisi (FTV). FTV-FTV ini sempat ditayangkan di TVRI dan kanal YouTube milik Aria Production, menjadikan akses terhadap tokoh Kabayan semakin luas dan inklusif. Ini adalah bentuk inovasi komunikasi publik yang berupaya menjangkau lapisan masyarakat dengan pendekatan kultural dan media digital. Media FTV tersebut tidak hanya mengangkat kisah hiburan semata, melainkan berfungsi sebagai media strategis dalam menyampaikan pesan-pesan pembangunan. Dalam konteks ini, Kabayan menjadi representasi dari jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Dua FTV berjudul Kabayan Milenial Bersinar dan Kabayan Petani Milenial merupakan manifestasi dari upaya menyosialisasikan program-program Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang sejalan dengan agenda pembangunan global, yakni Sustainable Development Goals (SDGs).

FTV Kabayan Milenial Bersinar mengangkat isu penyalahgunaan narkoba dan pentingnya menjaga kesehatan generasi muda—tema yang mendukung SDG nomor 3 tentang Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan. Sementara itu, Kabayan Petani Milenial menggambarkan pentingnya keterlibatan anak muda dalam dunia pertanian yang lebih modern dan berkelanjutan, yang selaras dengan SDG nomor 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Dalam ranah komunikasi pembangunan, pendekatan melalui film dan tokoh budaya lokal seperti Kabayan menawarkan keunggulan tersendiri. Film memiliki kekuatan untuk menyampaikan narasi kompleks secara visual, emosional, dan mudah dipahami oleh khalayak luas. Hal ini sangat penting dalam era informasi saat ini, di mana masyarakat lebih responsif terhadap pesan-pesan yang dikemas dalam format yang ringan dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, kehadiran tokoh budaya lokal dalam media pembangunan juga memperkuat identitas daerah. Kabayan bukan sekadar figur nostalgia, tetapi juga menjadi simbol dari pendekatan pembangunan yang berbasis kearifan lokal. Ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu harus disampaikan dalam bahasa birokratis dan teknokratis, melainkan dapat dikomunikasikan secara efektif melalui cerita, humor, dan representasi yang dekat dengan masyarakat.

Pemerintah daerah lain dapat meniru langkah inovatif ini dengan memanfaatkan tokoh lokal dan media kreatif untuk menyampaikan kebijakan dan program strategis. Dengan demikian, komunikasi pembangunan tidak hanya akan bersifat informatif, tetapi juga partisipatif dan transformatif. Transformasi Kabayan menjadi medium komunikasi pembangunan menandai pentingnya integrasi antara budaya lokal dan media modern. Kabayan kini tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan menginspirasi. Ia adalah bukti bahwa komunikasi publik yang kreatif dan berbasis budaya memiliki potensi besar dalam membentuk kesadaran, sikap, dan tindakan masyarakat menuju pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.(***

BIODATA:

Rangga Saptya Mohamad Permana adalah dosen tetap di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral di Program S-3 Film, Media, Communications and Journalism Monash University, Australia. Penulis biasa berkorespondensi melalui alamat email ranggasaptyamp@gmail.com.


[1] Rangga Saptya Mohamad Permana adalah dosen tetap di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral di Program S-3 Film, Media, Communications and Journalism Monash University, Australia. Penulis biasa berkorespondensi melalui alamat email ranggasaptyamp@gmail.com.

Komentar