oleh

Ketum DPP KNPI : Tragedi Affan Momentum Reformasi Polisi dan Pergantian Kapolri

JAKARTA—-Tragedi Affan Kurniawan, di mana seorang pengemudi ojek online tewas terlindas kendaraan taktis Barracuda Brimob saat demonstrasi di Jakarta, telah menjadi sorotan publik yang memicu gelombang tuntutan reformasi internal Polri. Insiden ini bukan hanya tragedikemanusiaan, tetapi juga pengingat atas perlunya perubahan mendalam di tubuh kepolisian, termasuk desakan untuk pergantian Kapolri.

Tragedi Affan adalah Refleksi Kegagalan Sistemis, Peristiwa ini mencerminkan beberapa masalah mendasar seperti

  • Penggunaan Kekuatan yang Berlebihan: Kendaraan taktis seperti Barracuda, yang dirancang untuk situasi perang atau konflik berat, digunakan di tengah kerumunan warga sipil. Ini menunjukkan ketidakproporsionalan dalam manajemen kerusuhan.
  • Minimnya Akuntabilitas di Lapangan: Meski tujuh anggota Brimob telah diamankan, publik masih meragukan transparansi penanganan kasus ini. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa sanksi sering kali hanya menyentuh pelaku di lapangan tanpa menyentuh rantai komando di atasnya
  • Krisis Kepercayaan Publik: Insiden ini memperparah persepsi negatif masyarakat terhadap Polri, yang sebelumnya juga tercoreng oleh Tragedi Kanjuruhan dan berbagai kasus lainnya

tragedi ini memunculkan kembali urgensi reformasi internal Polri, yang selama ini dianggap berjalan lambat. Beberapa langkah yang harus diambil meliputi:

  1. Evaluasi Penggunaan Kendaraan Taktis: Harus ada pedoman yang jelas tentang kapan dan bagaimana kendaraan seperti Barracuda digunakan agar tidak membahayakan warga sipil.
  2. Peningkatan Pelatihan HAM: Anggota Polri, terutama yang bertugas di lapangan, perlu pelatihan intensif tentang hak asasi manusia dan teknik pengendalian massa yang humanis.
  3. Transparansi dan Akuntabilitas: Polri harus menunjukkan komitmen nyata dengan membuka penyelidikan internal secara transparan. Proses hukum terhadap pelaku harus berjalan tanpa pandang bulu.
  4. Reformasi Budaya Institusi: Polri perlu mengubah budaya represif menjadi pendekatan berbasis pelayanan dan perlindungan masyarakat.

Tragedi ini juga memunculkan desakan dari berbagai pihak untuk mengganti Kapolri sebagai bentuk penyegaran institusi. Beberapa argumentasi dan alasan yang mendukung pergantian Kapolri adalah urgensi

  • Regenerasi dan Penyegaran Kepemimpinan: Kapolri baru diharapkan membawa energi dan visi baru untuk mempercepat reformasi internal
  • Memulihkan Kepercayaan Publik: Pergantian Kapolri dapat menjadi simbol komitmen Polri untuk berubah dan memperbaiki citra institusi di mata masyarakat
  • Tuntutan Responsibilitas Moral: Sebagai pemimpin tertinggi, Kapolri dianggap bertanggung jawab atas kegagalan sistemik yang mengakibatkan tragedi ini.

Namun, pemerintah melalui Presiden Prabowo Subianto sejauh ini masih mempertahankan Kapolri saat ini, meski tekanan publik semakin kuat. Presiden juga telah menjanjikan dukungan kepada keluarga korban sebagai bentuk tanggung jawab negara

Tragedi Affan adalah cermin buram dari masalah mendalam di tubuh Polri, sekaligus momentum untuk mendorong reformasi yang lebih serius. Pergantian Kapolri mungkin menjadi solusi simbolis, tetapi yang jauh lebih penting adalah langkah konkret untuk memperbaiki sistem dan budaya di institusi kepolisian. Jika perubahan ini tidak segera dilakukan, tragedi serupa hanya akan menjadi luka baru dalam sejarah penegakan hukum di Indonesia. #JusticeForAffan.

Komentar