Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan gegerkalong Bandung dan Tokoh Budaya Sunda)
KEYAKINAN Sunda Wiwitan merupakan sistem kepercayaan asli masyarakat Sunda yang berakar dari tradisi leluhur dan telah berkembang dari masa ke masa. Berdasarkan dokumen dan manuskrip, berikut adalah perjalanan dan inti dari kepercayaan Sunda Wiwitan:
1. Awal Mula dan Filosofi
Sunda Wiwitan berasal dari kata “wiwitan”, yang berarti awal, pokok, atau asal. Ajaran ini memadukan unsur monoteisme purba dengan penghormatan terhadap alam dan leluhur. Konsep utama kepercayaannya adalah keyakinan kepada Sang Hyang Kersa (Yang Maha Kuasa), juga dikenal sebagai Batara Tunggal atau Batara Seda Niskala .
2. Manuskrip dan Tradisi Leluhur
Ajaran Sunda Wiwitan tercatat dalam berbagai naskah kuno, seperti:
- Sanghyang Siksa Kandang Karesian (Kropak 630): Sebuah kitab dari masa Kerajaan Sunda yang mengajarkan moral, budi pekerti, dan panduan hidup selaras dengan alam .
- Carita Parahyangan: Mengisahkan hubungan spiritual antara manusia dengan leluhur dan alam semesta.
- Naskah Jatiniskala dan Bujangga Manik: Mengandung ajaran tentang harmoni manusia dengan alam dan konsep kehidupan yang berkesinambungan .
3. Kepercayaan dan Praktik
Sunda Wiwitan menekankan konsep tiga buana (tiga alam):
- Buana Nyungcung: Tempat Sang Hyang Kersa.
- Buana Pancatengah: Dunia manusia.
- Buana Larang: Alam neraka atau dunia bawah.
Praktik keagamaan Sunda Wiwitan juga mencakup penghormatan terhadap alam melalui ritual seperti Seren Taun, yaitu perayaan panen padi sebagai ungkapan rasa syukur kepada alam.
4. Perkembangan dan Tantangan
Pada masa Kerajaan Sunda dan Galuh, Sunda Wiwitan menjadi agama resmi. Namun, seiring masuknya agama Hindu, Budha, dan Islam, ajaran ini mulai beradaptasi. Misalnya, penggunaan istilah baru seperti Adam Tunggal untuk menyelaraskan dengan tradisi Islam.Saat ini, komunitas seperti masyarakat Baduy dan Kanekes tetap mempraktikkan ajaran ini dengan menjaga tradisi leluhur mereka.
5. Nilai Kehidupan dan Keberlanjutan
Ajaran Sunda Wiwitan menanamkan nilai-nilai hidup berdampingan dengan alam, gotong-royong, dan rasa syukur. Prinsip ini bertujuan menjaga keseimbangan ekologi dan spiritual, menjadikannya relevan bahkan dalam konteks modern .
Manuskrip dan tradisi Sunda Wiwitan menjadi bukti nyata bagaimana ajaran ini tidak hanya bertahan, tetapi juga terus beradaptasi dengan perubahan zaman.
SUNDA WIWITAN CIGUGUR
Ki Madrais, atau lengkapnya Pangeran Madrais Sadewa Alibasa Kusumah Wijayaningrat (1822–1939), adalah tokoh penting sekaligus peletak dasar ajaran Sunda Wiwitan di Cigugur, Kuningan. Beliau dikenal sebagai pemimpin spiritual dan nasionalis yang memperjuangkan nilai-nilai leluhur Sunda, khususnya melalui ajaran yang disebut Djalan Karuhun Urang (DKU). Ajaran ini menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan, serta nilai-nilai kemanusiaan, kebangsaan, dan kearifan lokal .
Madrais membangun Paseban Tri Panca Tunggal, sebagai pusat spiritual dan budaya Sunda Wiwitan. Ia mengajarkan pentingnya hidup mandiri, menghormati leluhur, dan menjaga lingkungan. Salah satu ajarannya yang terkenal adalah bahwa manusia harus hidup dari hasil keringat sendiri dan menjaga keseimbangan dengan alam. Selain itu, ia juga mencatat nilai-nilai ini dalam manuskrip yang diwariskan kepada generasi penerus, sehingga ajarannya tetap hidup hingga kini .
Meskipun sering dianggap kontroversial pada masanya, bahkan dituduh menyebarkan ajaran sesat oleh kolonial Belanda, Madrais terus memperjuangkan hak-hak komunitas adat Sunda Wiwitan, terutama di tengah diskriminasi. Ia juga menjadi simbol keberanian dalam melestarikan tradisi leluhur di tengah tekanan modernisasi dan penjajahan.
Keyakinan Sunda Wiwitan di Cigugur, Kuningan, merupakan salah satu bentuk kepercayaan tradisional yang masih dianut oleh sebagian masyarakat Sunda hingga saat ini. Ajaran ini berakar pada nilai-nilai spiritual, budaya, dan harmoni dengan alam yang diwariskan oleh leluhur. Sunda Wiwitan di Cigugur memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan komunitas Sunda Wiwitan lainnya, seperti di Baduy.
Pokok Ajaran Sunda Wiwitan Cigugur
1. Kepercayaan kepada Sang Hyang Tunggal
Sunda Wiwitan Cigugur meyakini Sang Hyang Tunggal sebagai Tuhan Yang Maha Esa, yang menjadi sumber segala kehidupan. Nama-nama lain yang digunakan untuk menyebut Tuhan adalah Sang Hyang Kersa atau Gusti Nu Maha Agung.
2. Tri Tangtu di Buana
Konsep ini menekankan tiga harmoni utama dalam kehidupan manusia, yaitu:
- Manusia dengan Tuhan (hubungan spiritual/ibadah).
- Manusia dengan alam (melestarikan lingkungan dan hidup selaras dengan alam).
- Manusia dengan sesama manusia (hidup dalam harmoni sosial, gotong-royong, dan toleransi).
3. Penghormatan terhadap Leluhur dan Alam
Sunda Wiwitan menempatkan leluhur sebagai bagian penting dalam kehidupan spiritual. Selain itu, mereka sangat menjaga hubungan dengan alam, yang dianggap sebagai manifestasi dari kekuasaan Tuhan.
4. Nilai-nilai Kebajikan
Penganut Sunda Wiwitan di Cigugur menjalankan nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap kehidupan. Mereka percaya bahwa hidup harus dijalani dengan penuh rasa syukur dan tanggung jawab.
Ritual dan Tradisi
Sunda Wiwitan di Cigugur dikenal dengan pelaksanaan tradisi dan ritual yang khas, seperti:
- Seren Taun: Ritual tahunan sebagai ungkapan rasa syukur atas panen padi. Acara ini melibatkan doa, upacara adat, dan seni tradisional.
- Ngadiukeun: Ritual untuk memohon keselamatan dan keberkahan.
- Penghormatan Paseban: Tempat suci di Paseban Tri Panca Tunggal, yang menjadi pusat spiritual dan budaya komunitas Sunda Wiwitan di Cigugur.
Mama Mei Karta Winata adalah salah satu tokoh dalam dunia aliran kepercayaan di Indonesia, yang berkaitan dengan ajaran Sunda Wiwitan. Beliau dikenal sebagai pemimpin spiritual dan tokoh adat yang melestarikan nilai-nilai kepercayaan leluhur masyarakat Sunda. Mama Mei Karta Winata berasal dari Cigugur, Kuningan, sebuah wilayah yang menjadi pusat penting bagi masyarakat Sunda Wiwitan di Jawa Barat.
Peran dan Ajaran
Mama Mei Karta Winata meneruskan ajaran leluhur Sunda Wiwitan yang berlandaskan pada Tri Tangtu di Buana (tiga harmoni kehidupan), yaitu:
- Manusia dengan Tuhan: (Sang Hyang Tunggal atau Gusti Nu Maha Agung).
- Manusia dengan Alam: (menjaga kelestarian lingkungan dan hidup selaras dengan alam).
- Manusia dengan Sesama: (hidup dalam gotong-royong, harmoni, dan toleransi).
Ajaran yang dibawa oleh Mama Mei Karta Winata menekankan nilai-nilai universal, seperti cinta kasih, keadilan, dan penghormatan terhadap keberagaman. Selain itu, beliau juga berperan dalam menghidupkan kembali tradisi Sunda Wiwitan, seperti Seren Taun, yaitu upacara adat tahunan sebagai bentuk syukur atas hasil panen.
Perjuangan dan Tantangan
Sebagai tokoh aliran kepercayaan, Mama Mei Karta Winata juga menghadapi tantangan, terutama terkait pengakuan aliran kepercayaan di Indonesia. Sebelum perubahan hukum pada 2017 (putusan Mahkamah Konstitusi terkait aliran kepercayaan), penganut aliran kepercayaan seperti Sunda Wiwitan sering mengalami diskriminasi, terutama dalam hal administrasi kependudukan. Meski demikian, Mama Mei Karta Winata terus memperjuangkan hak-hak komunitasnya untuk diakui sebagai bagian dari keragaman budaya dan spiritual Indonesia.
Paseban Tri Panca Tunggal
Di bawah kepemimpinan spiritualnya, Paseban Tri Panca Tunggal* di Cigugur menjadi pusat kegiatan adat dan spiritual Sunda Wiwitan. Paseban ini menjadi tempat pelaksanaan ritual, pelestarian budaya, dan pendidikan nilai-nilai leluhur kepada generasi muda.
Mama Mei Karta Winata adalah simbol penting dari upaya menjaga tradisi dan memperjuangkan eksistensi aliran kepercayaan Sunda Wiwitan dalam konteks modern.
Sejarah Sunda Wiwitan di Cigugur
Sunda Wiwitan di Cigugur memiliki akar sejarah yang kuat, terutama sejak masa Pangeran Djatikusumah, seorang tokoh penting yang memperjuangkan hak-hak komunitas Sunda Wiwitan. Ia juga mendirikan *Paseban Tri Panca Tunggal pada tahun 1840-an sebagai pusat spiritual dan budaya. Cigugur menjadi simbol perlawanan damai terhadap diskriminasi, terutama karena penganut Sunda Wiwitan sering menghadapi tantangan sosial dan politik akibat keyakinan mereka .
Tantangan dan Keberlanjutan
Komunitas Sunda Wiwitan di Cigugur sering mengalami diskriminasi, baik dalam hal administrasi kependudukan maupun dalam menjalankan tradisi mereka. Namun, mereka tetap menjaga eksistensi dengan mempromosikan toleransi, dialog antaragama, dan pelestarian budaya melalui seni tradisional dan festival.
Sunda Wiwitan di Cigugur bukan hanya sebuah keyakinan, tetapi juga cara hidup yang mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal dan harmoni dengan alam.
Ramajati Kusumah adalah salah satu tokoh penting yang melanjutkan ajaran Sunda Wiwitan di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Sebagai bagian dari keluarga pewaris ajaran Pangeran Madrais, Ramajati Kusumah dikenal aktif dalam melestarikan tradisi dan nilai-nilai spiritual Sunda Wiwitan yang diwariskan dari leluhur. Ia berperan menjaga keberlangsungan ajaran ini di tengah tantangan modernisasi dan diskriminasi terhadap penganut kepercayaan lokal.
Ramajati Kusumah juga terlibat dalam berbagai kegiatan adat, seperti penyelenggaraan Seren Taun, sebuah upacara tahunan sebagai wujud syukur atas hasil panen dan perayaan pergantian tahun menurut penanggalan Sunda. Selain itu, ia turut mendukung pelestarian manuskrip peninggalan Madrais, yang berisi ajaran moral, etika, dan panduan kehidupan yang menjadi dasar kepercayaan Sunda Wiwitan .
SLAM SUNDA WIWITAN BADUY
Slam Sunda Wiwitan adalah keyakinan spiritual yang dijalankan oleh masyarakat Baduy, yang mencerminkan ajaran leluhur dan harmoni dengan alam. Ajaran ini berpusat pada kepercayaan kepada Sang Hyang Karesa (Tuhan Yang Maha Kuasa) dan diwujudkan melalui prinsip pikukuh karuhun, yaitu aturan adat yang mengatur seluruh aspek kehidupan mereka. Pikukuh ini menekankan kesederhanaan, ketaatan pada adat, dan keseimbangan hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan
Masyarakat Baduy membagi diri menjadi dua kelompok, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar, yang keduanya mempraktikkan adat Sunda Wiwitan, meskipun dengan tingkat ketaatan yang berbeda. Ritual seperti Kawalu (puasa adat), Ngalaksa (upacara panen padi), dan Seba (persembahan hasil bumi kepada pemerintah) menjadi bagian penting dari tradisi mereka. Upacara-upacara ini bukan hanya wujud syukur, tetapi juga cara menjaga hubungan harmonis dengan alam dan pihak luar .
Sunda Wiwitan juga mengajarkan larangan-larangan seperti “gunung ulah dilebur, lebak ulah diruksak,” yang berarti menjaga kelestarian lingkungan adalah kewajiban utama. Prinsip ini menjadi landasan identitas budaya dan spiritual masyarakat Baduy, yang diwariskan secara konsisten dari generasi ke generasi.
Islam memandang keyakinan seperti Sunda Wiwitan, baik di Cigugur maupun Baduy, dengan prinsip toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman. Dalam Islam, ajaran yang berbeda dianggap sebagai bagian dari kehendak Allah untuk menciptakan keberagaman di muka bumi, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, Surah Al-Kafirun: “Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.” Pendekatan ini mendorong umat Islam untuk tidak memaksakan keyakinan mereka kepada orang lain, tetapi tetap menjaga hubungan damai dan saling menghormati .
Dalam kasus Sunda Wiwitan, hubungan antara Islam dan keyakinan lokal ini sering kali menunjukkan harmoni. Misalnya, masyarakat Baduy memandang umat Islam sebagai “saudara muda” karena mereka percaya bahwa ajaran Islam datang setelah keyakinan Sunda Wiwitan. Mereka menghormati Nabi Muhammad SAW sebagai nabi umat Islam, sementara mereka sendiri menganggap Nabi Adam sebagai nabi leluhur mereka. Hal ini menciptakan hubungan yang damai antara kedua komunitas, meskipun terdapat perbedaan keyakinan.
Namun, beberapa ulama Islam memandang ajaran Sunda Wiwitan, terutama yang terkait dengan ritual atau kepercayaan tertentu, sebagai sesuatu yang bertentangan dengan akidah Islam. Sebagai contoh, ajaran Sunda Wiwitan yang melibatkan penghormatan kepada leluhur atau situs keramat kadang dipandang sebagai bentuk syirik dalam Islam. Meski begitu, banyak tokoh Islam dan masyarakat Sunda Wiwitan yang menekankan pentingnya dialog dan saling memahami untuk menciptakan kerukunan ¹
Pandangan Islam terhadap keyakinan ini, pada dasarnya, berakar pada nilai-nilai utama Islam: rahmat, keadilan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Syekh Siti Jenar adalah salah satu tokoh kontroversial dalam sejarah spiritual Islam di Nusantara, terutama karena ajarannya tentang konsep kemenyatuan Tuhan dengan makhluk-Nya. Pemikirannya sering dikaitkan dengan ajaran tasawuf tingkat tinggi yang dikenal sebagai wahdatul wujud (kesatuan wujud). Menurut ajaran ini, Tuhan (Al-Haq) dan makhluk pada hakikatnya tidak terpisah, karena segala sesuatu yang ada adalah manifestasi dari Tuhan. Dalam pandangan Syekh Siti Jenar, manusia dapat menyadari kemenyatuannya dengan Tuhan melalui penyucian jiwa dan kesadaran spiritual yang mendalam.
Syekh Siti Jenar menggambarkan bahwa manusia, sebagai ciptaan Tuhan, memiliki percikan ilahi (nur ilahi) dalam dirinya. Oleh karena itu, ketika seseorang mencapai tingkat spiritual tertinggi, ia dapat menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari Tuhan. Konsep ini sering disalahpahami sebagai ajaran yang menyatakan bahwa manusia “adalah Tuhan,” padahal dalam konteks tasawuf, itu lebih merujuk pada kesadaran akan hubungan yang sangat mendalam antara makhluk dan Pencipta.
Namun, ajaran ini menuai banyak kritik dari ulama pada zamannya, termasuk Wali Songo, yang menilai bahwa pemikiran Syekh Siti Jenar berpotensi menyesatkan masyarakat awam. Konsep wahdatul wujud sering dianggap sulit dipahami oleh mereka yang belum mendalami tasawuf, sehingga dikhawatirkan dapat disalahartikan menjadi pembenaran untuk mengabaikan syariat atau bahkan meniadakan Tuhan sebagai entitas yang transenden.
Meski demikian, pemikiran Syekh Siti Jenar tetap menjadi bagian penting dari sejarah spiritual Islam di Nusantara. Pemikirannya mengundang diskusi mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan, serta bagaimana seseorang dapat mencapai kesadaran spiritual tertinggi.
BEBERAPA CATATAN PENTING.
Bahwa Sunda Wiwitan baik yang disampaikan oleh Ki Madrais (Muhammad Rais), Mama Mei Karta, dan Rama Jati Kusumah , hingga Slam Sunda Wiwitan Baduy, ada benang merah dengan prinsip ajaran Islam, yang disampaikan Syekh Siti Jenar/Abdul Jalil/Lemah Abang.
Cag!@Abah Yusuf ,Dict/Kabuyutan
2 Jumadil Awal 1447 H – 24 Oktober 2025 M
