oleh

KISAH RAHARTI:Tragedi di Malam Isya “Memilih Mati Daripada Mengkhianati Bangsa”

“Tubuhnya Ditembus 28 Butir Timah Panas karena Menolak Bocorkan Rahasia”

MEDAN PERJUANGAN – Sejarah mencatat banyak pahlawan yang gugur di medan perang, namun sedikit yang kisahnya sepedih dan seheroik pejuang wanita bernama Raharti. Kisah penderitaannya di malam penangkapan, 21 April 1949, menjadi lambang pengorbanan paling puncak seorang ibu bagi bangsanya.

Raharti, istri seorang Letnan Dua, adalah “nadi” logistik dan kurir rahasia yang tak ternilai harganya bagi pasukan gerilya Republik. Dengan penyamaran sederhana sebagai wanita desa pembawa bahan pangan, ia menantang maut setiap hari, menyusuri garis demarkasi yang dijaga ketat oleh serdadu Belanda.

Pintu Didobrak, Kehormatan Terancam

Puncak tragedi terjadi di malam yang hening. Ketika Azan Isya berkumandang, yang seharusnya membawa kedamaian, rumah Raharti justru diterjang oleh satu peleton tentara Belanda.

Raharti yang sedang menunaikan salatnya, terkejut mendapati komandan penjajah dengan mata buas telah berdiri di hadapannya.

Tidak hanya menggeledah mencari rahasia militer, laporan menyebutkan bahwa Komandan Belanda yang gelap mata oleh nafsu berencana melakukan tindakan tidak senonoh terhadap kehormatan Raharti.

Dalam keputusasaan yang mencekik, Raharti mengeluarkan seluruh sisa tenaganya, meronta, dan melawan balik dengan harga diri. Ia berhasil melepaskan diri sejenak dan berlari ke pintu, namun di luar telah menunggu laras-laras senj4ta siap menelan nyawanya.

Interogasi Yang Mengoyak Jiwa

Di bawah ancaman maut, Raharti diseret untuk diinterogasi. Pertanyaan-pertanyaan kejam itu mengarah pada satu hal: Dimana pejuang gerilya berada? Siapa yang memimpin mereka?

Di sinilah Raharti menunjukkan keteguhan yang melampaui batas kemanusiaan biasa. Raharti tahu, satu kata saja yang keluar dari mulutnya akan berarti kematian massal bagi ratusan rekan seperjuangan yang telah ia bantu hidupkan dengan logistik. Ia memilih untuk diam.

Wajahnya mungkin penuh air mata, tetapi lidahnya terkunci. Raharti, seorang ibu, seorang istri, seorang pejuang, memilih untuk menanggung sendiri semua siksa4n.

28 Butir Timah Panas dan Takbir Terakhir

Melihat Raharti yang tidak gentar, amarah serdadu Belanda mencapai puncaknya yang paling brutal. Dalam rentetan temb4kan yang memekakkan telinga, 28 butir peluru dihujamkan ke tubuh Raharti.

Jeritan kesakitan Raharti teredam oleh bunyi tembakan. Namun, sebelum tubuhnya ambruk bersimbah dar4h ke tanah, terdengar gumaman lirih yang terakhir dan lantang: “Allahu Akbar!”

Sungguh menakjubkan, Raharti tidak gugur di tempat. Ia berhasil selamat, namun tragedi itu merenggut kemampuan gerak kakinya dan meninggalkan luka batin yang dalam hingga akhir hayatnya pada tahun 1957.

Kisah 28 pluru yang bersarang di tubuhnya bukan sekadar cerita kej4m, melainkan bukti otentik betapa tingginya harga sebuah kata “merdeka” yang dibayar oleh seorang wanita Indonesia.

Raharti tidak hanya menerima Bintang Gerilya dari Presiden Soekarno pada tahun 1961, ia menerima tempat terhormat di samping Jenderal Soedirman sebagai simbol pengorbanan yang tak terhingga.

Sumber Data :Sejarah dan Referensi:

Arsip Surat Kabar Langka Salemba (SKALA-Team) – Perpustakaan Nasional RI, khususnya yang mengutip kisah dramatis Raharti dalam majalah Mutiara, edisi 2 Januari 1985.

Penganugerahan Tanda Kehormatan: Keputusan Presiden Soekarno yang menganugerahkan Bintang Gerilya pada 10 November 1961, sebagai pengakuan resmi negara atas pengorbanan jiwanya dalam perang gerilya (1945–1949).

Catatan Veteran dan Historiografi Wanita: Kisah Raharti sering diulas dalam konteks perjuangan wanita di Indonesia, menekankan peran logistik dan pengorbanan personal.

#sejarah#fakta#misteri#viral video #sejarahdunia#sejarah#bumipusaka#sejarah#fakta#misteri#viral video #sejarahdunia#sejarah#fakta#misteri#viral video #sejarahdunia#sejarah#bumipusaka#sejarah#fakta#misteri

Komentar