Padangpanjang–Pahang,LINTAS PENA 3–6 Januari 2026 —Pelestarian seni budaya serumpun Indonesia–Malaysia diwujudkan melalui kegiatan kolaborasi internasional bertajuk “Lestari Seni Warisan Nusantara: Harmony of the Highlands – Minangkabau Meets Malaysia”. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa Seni Tari Institut Seni Indonesia Padangpanjang dan Universiti Teknologi MARA Pahang sebagai ruang perjumpaan kreatif lintas budaya.
Program yang berlangsung selama empat hari tersebut diikuti oleh 28 mahasiswa seni tari dan 4 orang dosen pendamping, salah satunya Dr. Sastra Munafri, S.Sn., M.Sn. Kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai pertukaran pertunjukan, tetapi juga sebagai proses pembelajaran bersama melalui praktik, diskusi, dan eksplorasi seni tradisi Nusantara.
Rangkaian kegiatan diawali dengan workshop Tari Piring Minangkabau yang diikuti oleh para mahasiswa. Dalam workshop ini, peserta mempelajari teknik dasar, kekuatan ritme, keseimbangan, serta makna filosofis Tari Piring sebagai identitas budaya Minangkabau. Antusiasme mahasiswa terlihat dari keterlibatan aktif mereka dalam setiap sesi latihan hingga persiapan pertunjukan.
Selain itu, peserta juga mengikuti workshop pembuatan Tikuluak Tanduak Minangkabau yang dipandu langsung oleh Mak Boy, perajin dan pelaku budaya Minangkabau. Mahasiswa diperkenalkan pada fungsi adat, nilai simbolik, serta proses kreatif pembuatan tikuluak tanduak sebagai penutup kepala tradisional perempuan Minangkabau. Hasil workshop tersebut langsung diaplikasikan dalam pertunjukan, di mana mahasiswa menari dengan mengenakan tikuluak tanduak yang mereka buat sendiri.
Kolaborasi ini semakin lengkap dengan pertunjukan Tari Melayu “Ngajat Tampi” yang dibawakan oleh mahasiswa kelompok estetika budaya UiTM Pahang dan mahasiswa ISI Padangpanjang. Tari ini menampilkan karakter gerak Melayu yang komunikatif, dinamis, dan sarat nilai kebersamaan, sekaligus menjadi simbol dialog estetika antara budaya Melayu Malaysia dan Minangkabau Indonesia dalam satu panggung seni.
Dalam sambutannya, Ketua Program Studi Seni Tari ISI Padangpanjang Yan Stevensen, yang akrab disapa Aak Cecep, menekankan pentingnya penguatan kajian budaya di perguruan tinggi. Ia menyampaikan harapannya agar UiTM Pahang ke depan dapat mengembangkan atau mendirikan studi budaya secara lebih khusus, mengingat masih banyak seni tradisional dan kekayaan budaya yang belum dipelajari dan dipahami secara mendalam oleh generasi muda.
Tema “Harmony of the Highlands – Minangkabau Meets Malaysia” menjadi benang merah karya mahasiswa Seni Tari ISI Padangpanjang. Tema ini merepresentasikan pertemuan harmonis budaya dataran tinggi Minangkabau dengan estetika Tari Melayu Malaysia sebagai simbol persaudaraan, saling belajar, dan penguatan identitas budaya serumpun.
Melalui kegiatan Lestari Seni Warisan Nusantara, kolaborasi ISI Padangpanjang dan UiTM Pahang diharapkan dapat berlanjut secara berkesinambungan, tidak hanya dalam bentuk pertunjukan, tetapi juga riset, pendidikan, dan penciptaan karya seni. Program ini menjadi bukti bahwa seni tradisi mampu menjadi media diplomasi budaya sekaligus sarana edukasi bagi generasi muda dalam menjaga dan merawat warisan Nusantara di tengah arus globalisasi.(DA SAS)
