Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong bandung dan Tokoh Budaya Sunda)
Ya ‘Ali , engkau bersama orang kaucintai , dan mereka mencintaimu dalam keadaan ridho bersamamu. Begitu kalimat pujian Kanjeng Rasul SAW kepada Bagenda Ali bin Abu Thalib as. Suatu saat, Bagenda Ali menyampaikan pesan pada para pengikutnya, wahai para mu’minin, Aku meminta besok hari, kepala kalian untuk dipotong rambut dalam keadaan gundul.
Esok harinya, mereka datang dalam keadaan gundul berjumlah 40 orang (Arbain), dari ribuan pengikut yang hadir dan mendengar seruan Baginda.
Bagenda ‘Ali as, membuktikan kalimat Kanjeng Rasul saw. Bahwa Pecinta dan yg dicintai dalam keadaan ridho. Mengapa kata Cinta bergandengan dengan Ridho?. Karena bentuk mahabbah, berwujud kesetiaan, loyalitas, ketaatan, kepatuhan, soliditas, berat sama dipikul ringan sama dijinjing, tetap satu komando, tegak lurus.Cinta dan Ridho, laksana dua sisi mata uang, tak terpisahkan, satu kesatuan.Kalimat Kanjeng Rasul saw yg dilaksanakan Bagenda Ali as, di atas menjadi model dalam satuan komando pada organisasi militer yang efektif dan efisien.
Ternyata pada praktek lain, angka 40 (arbain) menjadi simbol yg memiliki muatan mistis.
Dalam sebuah riwayat, Imam Khomeini qs, menukil 40 Hadits yang berkaitan dengan mahabbah, dalam kitab tersebut ada Kalimat Kanjeng Rasul SAW, ” Barang siapa yang menghapal dan mengamalkan habar dariku, maka kedudukan, derajatnya akan mencapai Mujtahid ( yang memiliki kedudukan akal sempurna)”.
Angka 40 pada kondisi Ritual Hajj, Kanjeng perintahkan untuk shalat sunat 40 rakaat (tiap dua rakaat satu salam), sebagai penyempurna Ritual Hajj.
Angka 40 pada saat mayit, telah dikubur, dihantarkan Tahlil, dari malam pertama hingga malam ke 40.
Angka 40 hingga saat ini, bagi para pecinta al Husein bin ‘Ali bin Abu Thalib as , menjadi ritual khusus setelah peristiwa 10 Muharram (Asyura), yang dikenal Arba’in.
Angka 40 dipakai pada praktek ritual lain, shalat hajat sebagai bentuk permohonan pada Rabul Alamin dan berwasilah pada Syayyidah Fathimah az Zahra as, agar dibukakan pintu rizqi yang penuh berkah dilaksanakan selama 40 hari tidak terputus, setiap hari dua rakaat.
Angka 40 pada ritual disaat shalat witir, shalat lail (Tahajud), membacakan doa kunut sebelum ruku, mendoakan berupa ampunan untuk 40 orang mu’min , yang dikenal dalam kehidupan masanya.
Angka 40 pada ritual, ketika seseorang menghendaki berjumpa dengan Imam Muhammad al Mahdi af, mengamalkan do’a ‘Ahdi setiap selesai shalat subuh selama 40 subuh dan tidak boleh putus, dan dan kalau putus diulang lagi dari nol.
Angka 40 diriwayatkan pula bahwa dalam menata masyarakat, Kanjeng Rasul SAW menyampaikan bahwa tetanggamu adalah 40 rumah, ke samping , ke depan, ke belakang, barang siapa tetangga dirumahnya mendapat keberkahan , maka tetangganya yang lain akan mendapat limpahan berkahnya. Dan bila dalam satu rumah ada seseorang yg bermaksiat pada Allah, maka tetangga lainnya akan terkena bala’nya.
Angka 40 dalam bertetangga, dijadikan patok oleh warga Adat, pada setiap Kabuyutan terbangun 40 Suhunan (40 rumah). Bila ada lagi satu keluaraga maka , mereka keluar dari kampung dengan jarak 3 hingga 5 Km jaraknya dari kampung asal.
Sebagai bukti, pada warga Adat Baduy- Baduy Dalam, dan Baduy Luar- ; Dari Kabuyutan Cipta Rasa ke Kabuyutan Cipta
Resmi dilanjutkan ke Kabuyutan Cipta Gelar; atau warga Adat Dayak dengan Rumah Panjang yg memiliki 40 Bilik (kamar); Rumah Gadang; Imah Gede.
Ada rahasia apa dengan angka 40???
Kembali pada kata Mahabbah dan Ridho.
Ternyata pada prakteknya, tidak mudah, tidak sederhana.
Kunci Mahabbah dan Ridha adalah ketaatan (Tha’at) Pada Rabul Alamin, Kanjeng Rasul saw, Ka Bagenda Ali as, Ka Para Pemimpin Keadilan, Keadaban, dan Kemanusiaan , Pada Para ‘Ulama Mujtahidin, Pada Pemangku Adat (bagi warga Adat), yang berupa ketentuan untuk menjaga kemanusiaan dan harmonitas sosial.
Cag!@Abah Yusuf-Doct// Kabuyutan
5 Jumadil Akhir 1447 H – 24 November 2025 M
