oleh

Mantan Kapolda Jawa Barat Minta Pemerintah Agar Mencari Dalang Munculnya “Kerajaan Abal-Abal” Karena Merongrong Keutuhan NKRI

Kota Tasik, LINTAS PENA

Belakangan ini masyarakat sempat dihebohkan dengan muncul fenomena “kerajaan abal-abal” yang sangat meresahkan, misalnya Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah dan kini keberadaan Sunda Empire (SE)-Empire Earth (EE) di Bandung yang viral di media sosial Facebook, mantan Kapolda Jawa Barat Irjen Pol (Purn) Dr.H.Anton Charliyan,MPKN pun angkat bicara.

“Jelas sekali, langkah mereka sudah bisa ditebak.Munculnya isu kerajaan kerajaan seperti Keraton Agung Sejagat di Purworejo atau Sunda Empire di Bandung seperti dipola sedemikian rupa oleh kelompok tertentu yang intoleransi, bertujuan untuk menggoyahkan kesatuan dan persatuan serta memecah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Juga adanya keterlibatan pihak asing agar Bumi Pertiwi goyah,”jelas Anton Charliyan.

Abah Anton panggilan akrab Anton Charliyan mengaku tidak heran, setelah isu isu terkait agama mereda dan tidak mampu menggoyang keutuhan NKRI, kelompok mereka kembali beraksi diranah budaya, munculkan isu kerajaan-kerajaan yang dihembuskan di kalangan masyarakat.

Dengan munculnya fenomena “kerajaan abal-abal” tersebut, Anton Charliyan menganalisa, bahwa waktu dan gerakan atau pola yang dilakukan kelompok intoleran itu hampir sama. Bahkan, pelaku dan dalang intelektualnya juga diduga yang  sama, hingga adanya keterlibatan pihak asing yang tidak ingin melihat kondisi Indonesia yang aman dan damai.“Jelasnya, isu seperti ini dinilai bertujuan untuk menggoyahkan kesatuan dan persatuan serta untuk memecah NKRI agar bergolak. Kelompok radikal atau intoleran tidak menginginkan Indonesia aman,kondusif,  damai, harmonis dan utuh. Padahal kita sudah sepakat, sejak tahun 1945 membangun sebuah system sebuah negara yakni NKRI, tidak ada lagi negara di atas negara apapun bentuknya. Isu sekarang ada upaya menggoyang tatanan pemerintahan ”tegasnya.

Karena itu, mantan Kapolda Jabar ini meminta kepada pemerintah agar mencari dalang intelektualnya.Tidak membiarkan kelompok intoleran berkembang, memanfaatkan budaya misalnya, kemudian merongrong keutuhan NKRI terutama meresahkan masyarakat yang saat ini sudah “adem ayem” kondusif. “Kami minta, pemerintah harus segera mencari dalang atau orang yang menghembuskan isu ini, termasuk kelompok yang menamakan dirinya    Sunda Empire(SE) – Empire Earth (EE), karena  tak sesuai sejarah Sunda. Seperti simbol yang dimunculkan oleh kelompok itu pun tak ada hubungan dan kaitannya dengan sejarah Sunda. Apalagi Sunda Empire atau Earth Empire tidak terdaftar sebagai ormas atau organisasi kepemudaan (OKP) di Kesbangpol Kota Bandung”

“Kalaupun akan dimunculkan soal budaya tentunya bisa ke arah yang lebih bermanfaat. Seperti melestarikan budaya tanpa memunculkan tatanan pemerintahan baru seperti yang muncul sekarang ini. Justru dengan keberagaman budaya,   akan memberikan keuntungan lebih besar bagi negara ini karena bisa dijadikan kekuatan destinasi wisata untuk menarik turis asing.

Selain meminta pemerintah untuk mencari aktor intelektual yang menghembuskan isu tersebut, Anton Charliyan pun meminta kepada masyarakat Indonesia untuk tak terpengaruh oleh isu munculnya kerajaan-kerajaan yang sekarang bermunculan. Bahkan dia memprediksi, isu isu tersebut akan muncul di sejumlah daerah, terutama yang rentan terhadap intoleransi yang tinggi.”Ini hanya untuk menghancurkan bangsa dan merongrong negara. Keutuhan NKRI yang saat ini kondusif. Motifnya bisa ekonomi diiming-imingi harta yang banyak, ada uang di luar negeri dalam jumlah besar warisan Bung Karno dan dan modus lainnya.  Namun ujung ujungnya ke arah penipuan dan ketertiban umum. Ini bisa dirumuskan secara signifikan oleh penegak hukum,” katanya.

“Jagalah keutuhan NKRI dan jangan mudah terprovokasi oleh pihak pihak tertentu yang tidak bertanggung-jawab. Karena kelompok radikalisme dan intoleransi ingin menghancurkan keutuhan negara kita yang cinta damai. Semoga Alloh SWT menjaga keutuhan negara tercinta ini,”pungkasnya. (REDI MULYADI)***

Komentar