Oleh: Rangga Saptya Mohamad Permana, M.I.Kom., Ph.D.
DI TENGAH derasnya arus globalisasi dan digitalisasi, bahasa daerah di Indonesia menghadapi tantangan besar untuk tetap lestari. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai warisan budaya yang menyimpan sejarah dan jati diri suatu komunitas. Salah satu media yang semakin diperhitungkan sebagai sarana pelestarian bahasa daerah adalah film berbahasa daerah.
Film menawarkan medium visual dan audio yang efektif dan mudah diterima berbagai kalangan masyarakat. Film yang menggunakan bahasa daerah mampu menjembatani generasi muda dan penutur asli untuk lebih mengenal dan menyayangi bahasa leluhur mereka. Karakter, dialog, dan cerita yang kaya akan nilai lokal menghidupkan kembali bahasa yang mulai jarang dipergunakan. Lebih jauh, keberadaan film berbahasa daerah mampu memperkuat rasa bangga dan identitas kultural suatu komunitas. Masyarakat dapat melihat representasi diri mereka di layar, yang memacu kesadaran akan pentingnya menjaga kelangsungan bahasa dan budaya.
Salah satu contoh menarik dalam konteks ini adalah film Kabayan. Meskipun film-film Kabayan tidak sepenuhnya memakai bahasa Sunda secara konsisten, film ini tetap sangat kuat merepresentasikan kebudayaan Sunda. Melalui cerita tokoh legendaris Kabayan, film ini mengangkat kearifan lokal, tradisi, dan nuansa budaya Sunda yang khas. Film Kabayan berhasil menjadi jembatan budaya yang menghibur sekaligus mendidik. Tidak hanya mengangkat cerita rakyat, film ini juga mendorong regenerasi kecintaan terhadap bahasa Sunda dan budaya daerah mereka, sekalipun dengan penggunaan bahasa campuran. Jadi, meskipun tidak murni berbahasa Sunda, keberadaan Kabayan sebagai representasi budaya Sunda tetap sangat berarti dalam upaya pelestarian bahasa daerah.
Produksi film berbahasa daerah tidak mudah. Kendala seperti dana yang terbatas, sumber daya manusia yang belum optimal, hingga distribusi yang kurang luas menjadi hambatan utama. Film berbahasa daerah sering kali hanya mampu dinikmati oleh komunitas lokal, sehingga dampak pelestariannya belum maksimal secara nasional. Selain itu, penulisan naskah dan dialog yang autentik dan berkualitas menjadi keharusan agar bahasa daerah yang digunakan dalam film terasa hidup dan dapat diterima berbagai kalangan, tidak hanya penutur asli.
Pemerintah Indonesia mulai menginisiasi berbagai kebijakan dan program dukungan untuk pelestarian bahasa daerah, termasuk melalui seni perfilman. Festival film daerah, penghargaan bagi pembuat film lokal, dan insentif kreatif merupakan contoh upaya yang sudah berjalan. Selain itu, komunitas lokal berperan aktif dalam menciptakan dan mengembangkan film berbahasa daerah melalui pelatihan, workshop, dan kolaborasi antar generasi. Peran ini penting untuk memastikan film-film daerah mampu bertahan dan berkembang di era modern.
Kemajuan teknologi digital membuka berbagai kesempatan baru bagi film berbahasa daerah. Platform streaming dan media sosial memungkinkan film lokal berbahasa daerah dapat menjangkau penonton lebih luas, bahkan lintas negara. Digitalisasi juga mendorong kreasi film pendek, animasi, dan dokumenter yang semakin beragam dan inovatif. Hal ini sangat penting untuk menarik perhatian generasi muda agar semakin tertarik dan berperan dalam menjaga bahasa daerah.
Melestarikan bahasa daerah adalah kewajiban bersama agar kekayaan budaya Indonesia terjaga. Film berbahasa daerah terbukti menjadi media efektif dalam menyampaikan pesan budaya, menghidupkan bahasa lokal, dan memperkenalkan keunikan budaya kepada dunia. Peran sinergis pemerintah, komunitas, pelaku seni, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk memastikan bahasa daerah tetap hidup dinamis di tengah perubahan zaman. Dengan contoh inspiratif seperti film Kabayan dan berbagai film daerah lainnya, berharap kekayaan bahasa dan budaya lokal terus tumbuh dan lestari untuk generasi mendatang.
- BIODATA: Rangga Saptya Mohamad Permana adalah dosen tetap di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, dan baru saja menyelesaikan studi doktoralnya di Program S-3 Film, Media, Communications and Journalism Monash University, Australia. Penulis biasa berkorespondensi melalui alamat email ranggasaptyamp@gmail.com.








Komentar