oleh

Membangun Kembali Sumatera Barat: Saatnya Mitigasi Berbasis Budaya


Oleh: Dr. Sastra Munafri

BENCANA banjir besar, banjir bandang, dan tanah longsor yang melanda Sumatera Barat pada akhir November 2025 bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah peristiwa sosial, kultural, dan psikologis yang mengguncang sendi kehidupan masyarakat nagari. Ribuan rumah rusak, infrastruktur terputus, sekolah dan fasilitas kesehatan terdampak, serta aktivitas ekonomi lumpuh. Berdasarkan dokumen Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera Barat 2026–2028 , kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi mencapai puluhan triliun rupiah.

Pemerintah telah merespons melalui Instruksi Presiden Nomor 18 Tahun 2025 dan pembentukan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Prinsip yang diusung sangat tepat: Build Back Better, Safer, and Sustainable — membangun kembali dengan lebih baik, lebih aman, dan berkelanjutan.

Namun, membangun kembali tidak cukup hanya dengan beton, aspal, dan tanggul.

Luka yang Tak Terlihat

Bencana selalu meninggalkan dua jenis kerusakan: yang terlihat dan yang tidak terlihat. Kerusakan fisik bisa dihitung dalam angka. Tetapi kerusakan sosial dan psikologis sering kali tersembunyi: trauma anak-anak, ketakutan kolektif, hilangnya rasa aman, serta retaknya kohesi sosial.

Dalam konteks Minangkabau, nagari bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah ruang hidup budaya. Ketika banjir menghantam, yang terdampak bukan hanya rumah, tetapi juga sistem nilai, jaringan sosial, dan rasa kebersamaan.

Rehabilitasi sejati harus menyentuh dimensi ini.

Alam Takambang Jadi Guru

Falsafah Minangkabau mengajarkan, alam takambang jadi guru. Dalam sejarahnya, masyarakat Minang memiliki mekanisme sosial dan budaya untuk beradaptasi dengan perubahan dan krisis.

Randai, saluang, talempong, rabab, silek, dan tradisi kaba bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah media komunikasi sosial. Ia menyampaikan pesan, membangun solidaritas, dan memperkuat identitas kolektif.

Dalam situasi pascabencana, seni dapat berfungsi sebagai:

Pertama, media trauma healing. Musik dan teater komunitas membantu anak-anak dan kelompok rentan mengekspresikan pengalaman traumatisnya.

Kedua, media edukasi mitigasi. Simulasi kebencanaan dalam bentuk randai lebih membumi dan mudah dipahami dibandingkan sosialisasi formal yang kaku.

Ketiga, penggerak ekonomi kreatif. Aktivitas seni dan budaya dapat menjadi katalis pemulihan ekonomi lokal.

Peran Perguruan Tinggi Seni

Dalam konteks ini, Institut Seni Indonesia Padangpanjang memiliki peran strategis. Sebagai perguruan tinggi seni di Sumatera Barat, ISI Padangpanjang memiliki kapasitas riset, pengembangan model edukasi, serta pengalaman pengabdian masyarakat yang dapat mendukung rehabilitasi sosial berbasis budaya.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, BPBD, dinas kebudayaan, dan perguruan tinggi seni dapat memperkaya implementasi PRRP, khususnya dalam aspek pemulihan psikososial dan penguatan kohesi masyarakat.

Mengintegrasikan seni dalam rehabilitasi bukanlah tambahan kosmetik, melainkan investasi ketahanan sosial.

Dari Infrastruktur ke Ketahanan Budaya

Ketahanan bencana sering dipahami dalam konteks teknis: tanggul yang lebih tinggi, drainase yang lebih baik, sistem peringatan dini yang lebih canggih. Semua itu penting. Namun tanpa ketahanan budaya, masyarakat tetap rentan.

Ketahanan budaya berarti masyarakat memiliki:

– Kesadaran risiko
– Solidaritas sosial
– Mekanisme gotong royong
– Identitas kolektif yang memberi daya tahan psikologis

Sumatera Barat memiliki modal itu. Tantangannya adalah mengintegrasikannya dalam kebijakan secara sistematis.

Jika mitigasi berbasis budaya berhasil dikembangkan, Sumatera Barat dapat menjadi model nasional. Indonesia adalah negeri dengan kekayaan budaya yang luar biasa. Mengabaikan kekuatan budaya dalam strategi mitigasi berarti mengabaikan aset terbesar bangsa.

Bencana memang membawa duka. Tetapi ia juga membuka peluang transformasi. Renduk PRRP 2026–2028 adalah momentum untuk membangun kembali bukan hanya rumah dan jalan, tetapi juga jiwa dan solidaritas masyarakat.

Karena pada akhirnya, daerah yang tangguh bukan hanya yang infrastrukturnya kokoh, tetapi yang budayanya tetap hidup dan warganya saling menguatkan.


BIO SINGKAT UNTUK REDAKSI

Dr. Sastra Munafri, S.Sn., M.Sn. adalah dosen dan Associate Professor di Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Aktif dalam pengembangan seni pertunjukan, opera berbasis budaya Minangkabau, serta riset mitigasi bencana berbasis seni dan lingkungan.

Komentar