Oleh: Gus Qusyairi Zaini (Majlis Zikir Tauhid Padepokan Sadar Bumi Alif Kabupaten Sumenep)
BEBERAPA waktu terakhir ini ada beberapa akun yag gak jelas mengkritisi konten konten dakwah saya, baik itu di YouTube ataupun di TikTok. Katanya saya ini riya’, pamer, terlalu sombong, cari panggung, dan ingin dipuji serta bla bla bla lainnya. Hehehe…
Saya tidak tahu, mengapa pemilik akun akun tersebut sepertinya resek banget dan begitu sentimennya ke saya. Mirisnya lagi, mereka sok tahu dg isi hati saya. Setingkat wali saja gak bisa nebak ataupun membaca isi hati saya, kecuali mereka yg sok wali dan sok tahu dengan isi hati saya, apalagi kalian yang kewaliannya masih 10 spasi dibawah Kakanda Gus Abu Zaady Al-Qusyairi
Nih, saya sampaikan pendapat Imam Al-Qarafiy tentang bolehnya mempublish diri demi untuk menyebarkan ilmu. Dalam salah satu karya kitabnya beliau menjelaskan sebagai berikut:
واعلم أنه ليس من الرياء قصدُ اشتهار النفس بالعلم لطلب الاقتداء، بل هو من أعظم القربات، فإنه سعيٌ في تكثير الطاعات وتقليل المخالفات،
Ketahuilah bahwa tidak termasuk riya’ (pamer dalam amal kebaikan) apabila seseorang bermaksud agar dirinya dikenal karena ilmunya dengan tujuan supaya orang lain mengikutinya dalam kebaikan. Bahkan hal itu merupakan salah satu bentuk ibadah yang paling mulia, karena itu berarti berusaha memperbanyak ketaatan dan mengurangi pelanggaran-pelanggaran.
وكذلك قال إبراهيم عليه السلام: وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِين
Sebagaimana Nabi Ibrahim عليه السلام berdoa:
“Dan jadikanlah aku buah tutur (kisah) yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS. asy-Syu‘arā: 84)
قال العلماء: “معناه
يقتدي بي من بعدي”
Para ulama menjelaskan: “Maksudnya, agar orang-orang setelah beliau meneladani dirinya.”
ولهذا المعنى أشار عليه السلام بقوله: “إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاثٍ: علمٍ ينتفع به”
Makna yang sama juga ditunjukkan oleh sabda Nabi ﷺ:
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka amalnya terputus kecuali dari tiga hal: ilmu yang bermanfaat…”
حضا على نشر العلم ليبقى بعد الإنسان لتكثير النفع،
Hadis ini mendorong untuk menyebarkan ilmu agar manfaatnya terus berlangsung setelah kematian, sehingga pahala kebaikan terus bertambah dan bertambah.
وقال العلماء بالله: “ينبغي للعابد السعيُ في الخمول والعزلة لأنهما أقربُ إلى السلامة، وللعالمِ السعيُ في الشهرة والظهور تحصيلا للإفادة”
Para ulama (Arif) Billah berkata: ”Seorang ahli ibadah sebaiknya berusaha hidup tersembunyi dan menyendiri, karena itu lebih dekat pada keselamatan; sedangkan seorang alim (orang yg berilmu) sebaiknya berusaha terkenal dan tampil di masyarakat agar dapat memberikan manfaat dg ilmunya.”
ولكنه مقامٌ كثيرُ الخطر، فربما غلبت النفسُ وانتقل الإنسانُ من هذا المعنى إلى طلب الرئاسة وتحصيل أغراض الرياء، والله المستعان، وهو حسبُنا في الأمرِ كلِّه.
Namun tetap perlu diwaspadai, bahwa kedudukan ini sangat berbahaya, sebab kadang hawa nafsu bisa menguasai diri seseorang sehingga ia kemudian bergeser dari niat yang benar —dari mencari manfaat dan dakwah— menjadi mencari kedudukan dan kemuliaan diri, yaitu riya’ yang tercela. Semoga Allah menolong kita, dan Dialah yang mencukupi kita dalam segala urusan.
Jadi, apabila seorang alim (karena ilmu dan dakwahnya) mempublish dirinya dg membuat konten² dakwah dan konten² lainnya yg bermanfaat bagi orang lain, itu bukan termasuk riya’, selama niatnya untuk memberi manfaat dan menjadi teladan.
Sebaliknya, popularitas seorang ahli ibadah tanpa ilmu berpotensi menimbulkan fitnah, maka lebih utama bagi mereka untuk menyembunyikan diri.
Namun dalam hal ini, niat tetap menjadi kunci, bila niatnya berubah menjadi mencari pujian atau kedudukan, maka jatuhlah ke dalam riya’.
Wallahu A’lam Bisshowab…
Dikutip dari kitab “Adz-Dzakhiroh” karya Syaikh Syihabuddin Ahmad bin Idris al-Qarafiy, Daru al-Gharab al-Islamiy juz 1 hal 49.
@sorotan
